Selasa, 01 Februari 2011

Fokus 1

MENELADANI SIFAT WAJIB RASUL

Merajalelanya kemaksiatan dan kriminalitas adalah bukti bahwa bangsa ini mengidap dekadensi moral akut. Parahnya, gejala ini bukan hanya menimpa masyarakat kalangan bawah, tetapi juga meliputi berbagai kalangan yang menjadi panutan masyarakat kita. Tingginya tingkat korupsi dan kolusi, baik yang dilakukan birokrat maupun tokoh lainnya, membuat masyarakat kehilangan panutan yang pada gilirannya melahirkan krisis keteladanan.

Selain itu, banyak umat Islam (terutama generasi muda) yang mengidolakan bahkan hingga meniru perilaku tokoh-tokoh populer tertentu. Ada kalanya, umat memang mengidolakan tokoh-tokoh yang memiliki prestasi positif; misalnya atlet, ilmuwan, dai, atau seniman. Tetapi sering pula kita melihat bahwa tokoh-tokoh yang dijadikan panutan tersebut adalah manusia-manusia yang sesungguhnya memiliki perilaku yang jauh dari konsepsi islami.

Contoh yang paling sederhana adalah mengikuti cara berpakaian artis-artis populer mancanegara yang memiliki kecenderungan membuka aurat. Belum lagi gaya hidup artis-artis tersebut yang dekat dengan minuman keras, seks bebas, dan perilaku negatif lainnya. Inilah yang menjadikan bangsa kita semakin terpuruk.

Sungguh sangat menyedihkan! Bangsa kita yang mayoritas muslim, kerap mengingkari ketauladanan Rasulullah Saw. Padahal, Rasulullah diutus untuk menyempurnakan akhlak mulia sebagaimana sabdanya, Innama bu‘itstu liutammima makaarimal akhlaqi (Bahwasanya aku diutus hanyalah untuk menyempurnakan akhlak mulia).

Para ahli menyebutkan bahwa salah satu penyebab krisis moral adalah krisis keteladanan. Para pemimpin seharusnya menjadi tauladan bagi rakyat, akan tetapi justru mereka memberikan andil yang lebih besar terhadap kondisi seperti sekarang ini. Kerusakan moral seharusnya tidak terjadi seperti sekarang ini. Bukankah kita (umat Islam) telah memiliki suri tauladan yang sempurna? Sebagaimana firman Allah Swt. “Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” (Q.S. Al-Ahzab [33]: 21)

Bulan ini, kita kembali memasuki bulan Rabiul Awwal yang di dalamnya terdapat hari dilahirkannya seorang manusia pilihan penyempurna risalah yang dibawa sejak nabi Adam a.s. Rasanya tepat bagi kita untuk bermuhasabah sejenak, kembali merenungi sosok agung tersebut agar kita dapat kembali ke jalan yang diridhai Allah Swt.

Ya, Muhammad bin Abdullah adalah sosok yang begitu indah akhlaknya, sangat santun perangainya, halus tutur katanya, serta bersikap lemah lembut terhadap sesama dan tegas (keras) terhadap orang-orang kafir. Sebelum diangkat sebagai nabi, Muhammad mendapatkan gelar Al-Amin (sosok yang kredibel) dari masyarakat kota Mekkah sebagai bukti akan kejujurannya.

Ia adalah seorang penyabar yang mau menyuapi musuhnya yang buta dengan tangannya sendiri setiap hari, menjenguk seorang kafir ketika sakit padahal orang itu kerap meludahi dan menimpuki Rasul dengan kotoran hewan. Dialah sosok dermawan yang selalu menafkahkan rezekinya meski untuk kehidupan sehari-harinya dalam kefakiran. Hamba yang kakinya menjadi bengkak karena bersujud dan Tahajud sebagai tanda syukur, padahal beliau adalah manusia yang telah dijamin masuk surga oleh Rabbnya. Pemimpin yang adil terhadap keluarga dan masyarakat yang dipimpinnya. Namanya disandingkan oleh Allah Swt. dalam syahadat dan senantiasa kita baca dalam shalat. Ia bukan saja sosok yang dikagumi oleh manusia (muslim maupun non-muslim), bahkan malaikat pun malu jika berada di dekatnya.

Ini hanyalah contoh sebagian kecil dari keagungan perilaku Rasulullah Saw. Tentu saja, keagungan ini tidaklah muncul begitu saja dengan sendirinya, tapi berkat kedekatan beliau kepada Allah Swt. Semua perilaku agung yang beliau tampikan tersebut semata-mata karena ketaatan kepada Sang Pemilik Keagungan yang hakiki.
Oleh sebab itu, Rasulullah adalah cahaya Ilahi yang menerangi kehidupan, rahmat Allah yang meliputi alam semesta dan kekasih Allah yang senantiasa siap melayani umat. Karenanya, siapa pun yang ingin hidup dalam cahaya, tenang dan tenteram, dicintai rakyat dan Allah, hendaknya meneladani perilaku Rasulullah Saw. [Ali]

Fokus 2

MARI BELAJAR SIDDIQ, AMANAH, TABLIG, DAN FATHANAH

Mencontoh kepribadian Rasul adalah sebuah keharusan bagi umat Islam. Namun demian, hal tersebut sepertinya sudah mulai ditinggalkan. Hal ini terbukti dengan generasi muda Islam yang lebih mengenal kehidupan artis atau bintang olahraga tertentu dibandingkan dengan keseharian Rasulullah Saw. Ya, mereka lebih senang tampil seperti tokoh idola tersebut dibandingkan dengan mengaplikasikan tata cara hidup ala Rasul.

Untuk direnungkan, mari kita perhatikan dua ayat berikut.
“Sungguh, telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan banyak mengingat Allah.” (Q.S. Al-Ahzab [33]: 21)

“Katakanlah (Muhammad), ‘Jika kamu mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mencintaimu dan mengampuni dosa dosamu’. Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.” (Q.S. Ali Imran [3]: 31)

Beberapa karakter atau sifat yang dirasa sudah mulai luntur - kalau disebut hilang sangat berlebihan - dalam diri umat Islam saat ini adalah kejujuran, kemampuan memegang kepercayaan, keterampilan menyampaikan kebenaran, serta kecerdasan. Dalam kaitannya dengan sifat wajib Rasul, keempat hal tersebut di atas diterjemahkan sebagai siddiq, amanah, tablig, dan fathanah.

Siddiq artinya benar atau jujur. Segala sesuatu yang diterima oleh rasul dari Allah wajib dikatakan dengan benar dan jujur, baik dalam tutur kata maupun perbuatannya. Dalam sebuah firman-Nya, Allah Swt. menyatakan, “Dan Kami menganugerahkan kepada mereka sebagian rahmat Kami, dan Kami jadikan mereka buah tutur yang baik lagi mulia.” (Q.S. Maryam [19]: 50)

Menyaksikan terkuaknya satu per satu skandal korupsi para pejabat negeri berpenduduk mayoritas muslim ini membuat kita bertanya, “Apakah kebenaran dan kejujuran sudah sedemikikan langka di Tanah Air ini?” Memang benar pepatah yang menyatakan bahwa dunia dan segala gemerlapnya dapat membutkan mata hati dan pikiran manusia. Manusia pun kemudian rela berbuat apa saja demi dapat menggenggam gemerlap dunia tersebut di kedua tangannya meski hal tersebut harus berarti mengesampingkan bisikan nurani untuk berbuat benar dan jujur.

Amanah artinya dapat dipercaya. Seorang Rasul harus dapat dipercaya untuk menyampaikan seluruh pesan yang diperintahkan oleh Allah Swt. persis seperti yang dikehendaki-Nya, tanpa ditambahi atau dikurangi sedikit pun. Hal ini dimaksudkan tidak lain agar umat manusia memahami dengan saksama wahyu yang diturunkan melalui Rasul-Nya tersebut.
Pada dasarnya, modal utama hubungan antar personal adalah kepercayaan. Bayangkan kalau jalinan relasi sosial didasari oleh saling curiga. Kalau sudah begini, yang akan mudah muncul adalah konflik, mulai dari yang bersifat ringan sampai yang mengakibatkan kekerasan fisik. Tentu kita masih ingat betapa tawuran kerap terjadi pada generasi muda kita. Hal sepele seperti kalah dalam pertandingan olahraga antarsekolah atau memperebutkan perhatian wanita menjadi penyebab tawuran yang menyebabkan kerusakan yang tidak ringan.

Tablig artinya menyampaikan. Seorang Rasul diperintahkan untuk menyampaikan semua wahyu yang diterima dari Allah walaupun ia harus menghadapi halangan dan rintangan yang berat. Rasul harus menyampaikan seluruh ajaran Allah Swt. sekalipun mengakibatkan jiwanya terancam. Allah Swt. berfirman, “…Dan katakanlah kepada orang-orang yang telah diberi Al-Kitab dan orang-orang yang ummi (buta huruf), sudahkah kamu masuk Islam? Jika mereka telah masuk Islam niscaya mereka mendapat petunjuk, dan jika mereka berpaling, maka kewajibanmu hanyalah menyampaikan (ayat-ayat Allah Swt.) Dan Allah Maha Melihat akan hamba-hamba-Nya.” (QS. Ali Imran [3]: 20)

Ini ditujukan untuk para wakil rakyat yang duduk di kursi dewan. Setelah sebelumnya mereka mengumbar janji manis selama kampanye, ketika terpilih sudah saatnya mereka merealisasikan ucapannya tersebut. Sudah seyogianya anggota dewan bekerja sebenar-benarnya untuk kepentingan rakyat dan bukan kepentingan parpol atau golongan tertentu. Kalau diistilahkan bahwa suara rakyat adalah suara Tuhan, maka bukankah para anggota dewan yang terhormat adalah utusan ‘Tuhan’ yang harus bekerja sesuai dengan kehendak-‘Nya’?

Fatanah artinya cerdik dan bijaksana. Seorang Rasul haruslah cerdik dan bijaksana karena hanya kedua hal tersebutlah ia dapat memimpin dan membimbing umat dengan baik. Fatanah juga diartikan sebagai bijaksana dalam semua sikap, perkataan, dan perbuatannya atas dasar kecerdasan.

Kita tentu sangat mendambakan hadirnya seorang pemimpin yang cerdik dan bijaksana seperti disebutkan di atas. Sudah terlalu lama umat Islam berada di belakang kemajuan umat lain. Saatnya kita mengembalikan masa keemasan Islam dan untuk menggapai hal tersebut, diperlukan sosok pemimpin yang fatanah.

Jadi, sudah saatnya umat Islam kembali mempelajari empat karakter utama Rasul yang kemudian harus diimplementasikan dalam permasalahan hidupnya. Insya Allah, hal tersebut akan menjadi solusi atas permasalahan umat saat ini. [Muslik]

Fokus 3

MENELADANI RASUL DIAWALI DARI KELUARGA
Prof. Dr. Didin Saefudin, MA
(Ustadz & Dosen Pasca Sarjana)

Muhammad Saw. diutus untuk menjadi rahmat bagi semesta alam. Untuk mendapatkan rahmat itu, seorang mukmin harus senantiasa meneladani Rasul. Banyak hal yang dapat diteladani dari beliau dan yang paling sederhana adalah meneladani pribadi dan akhlak Rasul. Ust. Didin Saefudin dalam kesempatan wawancara dengan MaPI bahkan berkata, “Dengan meneladani pribadi dan akhlak Rasul sehari-hari secara istiqamah, insya Allah kita tidak akan merasa berat dalam meneladani Rasul di aspek lainnya seperti ibadah dan segala aspek kehidupan lainnya sebagaimana yang diabadikan dalam Al-Quran dan hadits.” Lebih lengkap, berikut wawancara MaPI dengan Wakil Direktur Program Pascasarjana Universitas Ibn Khaldun Bogor ini.

Bagaimana seharusnya kita meneladani akhlak Rasulullah Saw.?

Salah satu nikmat terbesar yang Allah Swt. berikan kepada manusia adalah diutusnya Rasulullah Saw. Mari kita perhatikan ayat berikut. “Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat, dan dia banyak menyebut Allah” (Q.S. Al-Ahzab [33]: 21).

Dalam ayat tersebut dijelaskan bahwa Rasul adalah sosok pribadi yang santun dan peduli terhadap permasalahan umatnya. Saat kita bersyahadat (memberi kesaksian) bahwa Muhammad Saw. benar-benar seorang utusan Allah dengan kalimat asyhadu anna Muhammadar Rasulullah, maka di sinilah awal kita meyakini Nabi Saw. adalah Rasul terakhir.
Tidak cukup hanya bersaksi, kita juga perlu meyakini dan membenarkan segala yang datang dari beliau. Kita tidak boleh menyimpan keraguan untuk melaksanakan segala perintahnya dan menjauhi segala larangannya, serta tidak menyembah Allah kecuali dengan cara yang disyariatkan kepadanya. Dengan meneladani sifat dan pribadi Rasulullah Saw. secara bersungguh-sungguh dan hanya karena Allah Swt., maka kita akan termasuk pada golongan hamba-Nya yang mendapat rahmat.

Mengapa kita harus meneladani akhlak Rasulullah Saw.?

Semua orang pasti akan merasakan betapa indah dan tenteramnya kepribadian dan perilaku Rasul apabila orang tersebut berusaha mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari. Dengan meneladani segala hal tentang Rasul, kita akan dicintai Allah Swt. dan tentunya juga akan mendapat rahmat, baik di dunia maupun di akhirat.

Namun begitu, Rasul hanyalah seorang hamba yang tidak boleh disembah. Meski ia adalah seorang Rasul yang tidak boleh didustakan, Muhammad Saw. adalah seorang hamba yang tidak mampu mendatangkan manfaat atau mudharat bagi dirinya ataupun orang lain, kecuali atas izin dan kehendak-Nya.

Allah Swt. berfirman, “Katakanlah (Muhammad): ‘Aku tidak mengatakan kepadamu, bahwa perbendaharan Allah ada padaku, dan tidak (pula) aku mengetahui yang gaib dan tidak (pula) aku mengatakan kepadamu bahwa aku seorang malaikat. Aku tidak mengikuti kecuali apa yang diwahyukan kepadaku….” (Q.S. Al-An’am [6]: 50)

Sifat apa saja yang perlu kita teladani dari sosok Rasulullah Saw.?

Pertama, shidiq yang artinya benar atau jujur dalam perkataan maupun perbuatan. Kebenaran dan kejujuran adalah pilar utama kehidupan bermasyarakat. Allah Swt. sendiri menyandingkan perintah bertakwa dengan perintah mengikuti orang-orang yang bersifat shidq. Disebutkan dalam salah satu firman-Nya,“Hai orang-orang yang beriman bertakwalah kepada Allah, dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar.” (Q.S. At-Taubah [9]: 119)

Kejujuran mengantarkan seseorang kepada kebaikan dan kebaikan mengantarkan kita pada amal yang saleh. Sebaliknya, dusta mengantarkan kepada kejahatan dan kejahatan mengantarkan kita pada kemudharatan. Orang beriman memang sudah semestinya berkata benar atau (jika tidak dapat) lebih baik diam. Begitu nasihat Rasul dalam hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim.

Kedua, amanah atau dapat dipercaya. Allah Swt. berfirman: “Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya…” (Q.S. An-Nisa’ [4]: 58). Amanah adalah ciri utama orang beriman. Sebaliknya, dusta dan khianat adalah sifat orang munafik. Sifat amanah niscaya penting dan menjadi tuntutan utama setiap profesi.
Ketiga, tabligh yang artinya menyampaikan hal yang diperintahkan untuk disampaikan dan tidak menyembunyikannya). Perhatikan ayat berikut. “Hai Rasul, sampaikanlah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu…” (Q.S. Al-Maidah [5]: 67)

Keempat, fathanah yang tidak lain adalah cerdas, cerdik, dan pandai. Kecerdasan dan kepadaian (pencapaian derajat ilmiah) itu niscaya diperlukan, bahkan terpuji. Allah Swt. berfirman, “…Niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat…” (Q.S. Al-Mujadilah [58]: 11). Hanya saja, ilmu tersebut haruslah bermanfaat, terutama untuk membangun bangsa dan negara yang baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur (aman, damai, sejahtera, adil, dan beradab).

Bagaimana seharusnya kita memulai program meneladani Rasulullah Saw. tersebut?
Sebelumnya, kita harus benar-benar paham tujuan meneladani Rasulullah Saw. Ditekankan sekali lagi bahwa tujuan pengutusan beliau adalah innama bu’itstu li utammima makarima al-akhlaq (untuk menyempurnakan akhlak yang mulia). Berikutnya adalah mendalami makna terdalam dari ajaran agama Islam, yaitu iman, Islam, dan ihsan sebagaimana yang dicontohkan Nabi Saw.

Meneladani Rasul tidak cukup hanya dengan kata-kata. Meneladani Rasul harus tecermin dalam kehidupan sehari-hari, di mana pun kita berada dan dengan siapa pun kita berinteraksi. Allah Swt. memerintahkan kepada kita untuk mengikuti yang telah dicontohkan oleh Rasul, mulai dari kegiatan di pagi hari hingga malam hari. Mengapa? Tidak lain karena waktu adalah ibadah. Bagi seorang mukmin, tidak ada sedetik waktu pun yang tidak memiliki nilai ibadah. Tidak mudah memang untuk bisa meneladani Rasul secara utuh, tetapi bukan berarti kita putus asa. Teladani Rasul mulai dari hal sederhana. Untuk menambah kecintaan dan kerinduan kepada Rasul, kita perlu membaca risalah dan kisah perjuangan dakwah beliau. Kita juga dianjurkan untuk membaca risalah keluarga dan para sahabat Rasul.

Untuk mewujudkan semua itu, kita haru memulainya dari lingkungan rumah saat berinteraksi dengan suami atau istri, anak-anak, serta faimili lainnya. Ya, dari rumahlah kita berangkat menampilkan pribadi Rasul.

Apa pesan Ustadz untuk pembaca setia MaPI?

Mari kita bermuhasabah, apakah kita sudah benar-benar mengenal dan merasa dekat dengan Rasul dengan meneladani semua yang beliau contohkan. Apabila jawabnya belum, maka kinilah saatnya menggali semua aspek kehidupan yang pernah Rasul lakukan untuk keselamatan umat-Nya. Sungguh indah dan betapa tenteramnya hidup kita bila dapat senantiasa meneladani pribadi Rasul. [Ahmad]

Fokus 4

TANAMKAN PRIBADI RASULULLAH DALAM KEHIDUPAN ANAK
Astri Ivo
(Artis & Public Speaker)

Kecintaan kepada Rasul akan tumbuh manakala kita mengenal. Untuk mengenal Rasulullah Saw., kita harus mulai menggali dan membaca riwayat hidup beliau. Sejarah Rasulullah Saw. dalam berbagai aspek kehidupan mengandung pelajaran berharga untuk kita teladani. Itulah prolog yang disampaikan Astri Ivo ketika diwawancara oleh MaPI beberapa waktu yang lalu. Ibu dari Kevin Arighi (17 tahun), Adrio Faresi (13 tahun), dan Riedo Devara (12 tahun) ini mengakui betapa pentingnya sosok Nabi dalam kehidupan ketiga anaknya. Dengan menghadirkan pribadi Rasul dalam keseharian anak-anaknya, Astri Ivo berharap agar mereka lebih mudah mempraktikkan perilaku dan akhlak islami.

“Bebasnya arus informasi dan teknologi seperti sekarang ini memungkinkan anak tumbuh dengan didikan berbagai media yang tidak berbasis tauladan Nabi Muhammad Saw. Untuk membentenginya, anak-anak harus dibiasakan meneladani akhlak dan kepribadian Rasulullah Saw. sedari kecil,” kata Astri Ivo di kediamannya di kawasan Bintaro, Jakarta.

Menurut public speaker yang sering dipanggil Acie ini, banyak cara untuk menghadirkan sosok Rasul di rumah. Misalnya adalah dengan mengisahkan pribadi Rasul yang penyayang kepada sesama manusia, santun, pemberani dalam membela kebenaran, serta sangat taat kepada Allah Swt. dengan giat menjalankan ibadah dan mengerjakan amal kebaikan lainnya.
Kepada sesama orangtua, Astri Ivo berpesan agar ayah dan bunda dapat memperkenalkan Rasul kepada anak-anak sesuai dengan usia mereka. Bahkan, kata ibu yang sering menjadi narasumber di berbagai seminar ini, anak yang masih belum mampu membaca pun berhak mengenal Rasul melalui cerita ibunya. “Berbeda dengan anak yang sudah bisa membaca sendiri, kita dapat memperkenalkan Rasul dengan cara mendongengkan kisah hidup beliau kepada anak yang masih belum bias membaca,” ungkap istri dari D. Yusharyahya ini.

Astri Ivo berpendapat ada dua manfaat bagi anak yang dibiasakan mengenal kisah Rasul melalui kegiatan membaca. Pertama, anak dilatih berbahasa dan yang kedua, anak akan mendapatkan pelajaran akhlak dan perilaku Rasul. “Untuk lebih memaksimalkannya, orangtua harus mendampingi dan memberikan penerangan kepada anak atas yang dibacanya,” tambah Astri Ivo. Lanjutnya, “Pada prinsipnya, anak harus menikmati pendidikan yang kita berikan. Anak harus diberi kemudahan dalam mengakses segala hal yang ingin kita sampaikan. Sebagai contoh, kalau media buku ensiklopedi tidak disukai oleh anak, maka kita bisa memberikan media lain seperti buku cerita, novel, atau jenis buku lainnya yang memang disukai oleh anak sehingga mereka akan lebih mudah menyerap kisah-kisah Rasul yang ingin kita sampaikan.”

Astri Ivo berkeyakinan bahwa dengan mengamalkan ajaran Rasulullah secara utuh dan istiqamah, kita akan dimasukkan ke dalam golongan orang yang dirahmati oleh Allah Swt. Apabila kita akan menganjurkan anak untuk mengenal Rasul, maka kita harus sudah mengenal dan mengikuti apa yang telah Rasul perintahkan. “Tidak hanya dalam segi berperilaku dan berakhlak, tetapi juga dalam hal pelaksanaan amalan ibadah dan muamalah,” ungkap Astri Ivo.

Menurut Astri Ivo, hal terpenting dalam menanamkan kecintaan kepada Rasul adalah dengan keteladanan. Aspek inilah yang paling awal dan utama harus kita lakukan sehingga anak akan benar-benar mencontoh Rasul sebagaimana dipraktikkan oleh kedua orangtuanya dalam kehidupan sehari-hari. Kita harus berusaha menjadi orangtua yang lebih dahulu membuktikan telah meneladani Rasul dan hal tersebut dipraktikkan dalam bentuk yang nyata.

“Mengenalkan Rasul kepada anak harus dimulai dari hal yang sederhana, semisal dengan menjelaskan bahwa Rasul itu rendah hati, lemah lembut, jujur, sabar, tidak angkuh, sopan, serta selalu berusaha dan tidak pernah berputus asa dalam berusaha,” ungkap Astri. Seiring dengan hal itu, orangtua juga harus mengajak anak untuk mengidolakan pribadi Rasulullah Saw. dengan menanamkan pemahaman bahwa beliau adalah manusia pilihan dan pembawa wahyu Allah Swt. di muka bumi ini. Pemahaman ini akan menjadikan anak memahami kemuliaan Rasul dan senantiasa berusaha meneladaninya.

Kemuliaan yang dimaksud tidak lain adalah akhlak Rasulullah Saw. Astri Ivo menegaskan bahwa harus diajak untuk mencontoh kegiatan Rasul sehari-hari, mulai dari cara tidur, makan, minum, berjalan, tersenyum, berbicara, marah, tertawa, beribadah kepada-Nya, dan lain sebagainya. “Ketika kita mengaku mengidolakan Rasul, konsekuensinya tentu saja harus menghidupkan sunnah-sunnahnya, baik berupa perbuatan, perkataan, maupun segala hal yang diajarkan beliau,” pungkasnya. [Ahmad]

Fokus 5

TIPS: MENGHADIRKAN AKHLAK RASUL DALAM KEHIDUPAN SEHARI-HARI

Jika kita mempelajari sejarah kehidupan Rasulullah Saw. secara mendalam, kita akan temukan bahwa beliau adalah pribadi besar dari semua sisi, baik individu, kepala rumah tangga, anggota masyarkat, guru, pemimpin, maupun panglima perang. Kebesaran ini tentunya sangat erat kaitanya dengan kedekatan beliau kepada Allah Swt. Sebab tidak mungkin seseorang bisa mencapai kebesaran sedemikian sempurna tanpa ada ikatan kuat dengan Yang Maha Besar.

Beliau hidup di tengah masyarakat, bergaul, makan, dan minum tak ubahnya manusia lainnya. Akan tetapi, kepribadian dan perilakunya berbeda dengan manusia lainnya. Tidak ada yang bisa memahami hakikat kedalaman pribadi orang seperti Muhammad Saw. kecuali penciptanya dan orang yang memiliki kesamaan karakter dengannya. Sebagai umatnya, kesamaan karakter tersebutlah yang harus senantiasa kita usahakan agar dicintai Allah Swt. sebagaimana Dia mencintai Rasul kita. Berikut beberapat tips yang dapat kita ikuti.
1. Kerjakan shalat malam. Ya, pada sepertiga malam terakhir, bangun dan berwudhulah untuk kemudian shalat Tahajud. Sebagai sahabat terdekat Rasul, Umar bin Khatab (semoga Allah meridhainya) selalu minta disediakan secawan air di sebelah tempat tidurnya. Begitu terbangun, tangannya dibasahi dan diusapkannya ke wajahnya, sebelum kemudian bangkit berwudhu dan shalat.

2. Lakukan shalat Subuh berjamaah. Bagi laki-laki, shalat Subuh di masjid hampir-hampir wajib hukumnya, sampai-sampai Rasulullah berkata bahwa untuk orang munafik, shalat berjamaah di masjid yang paling berat adalah ‘Isya dan Subuh. Bagi perempuan, shalat berjamaah di rumah adalah lebih baik.

3. Kunjungi orang saleh. Ini merupakan faktor penyemangat berbuat baik. Ya, sering-seringlah mengadakan kunjungan, bermajelis, berteman, mencintai orang-orang baik serta meminta mereka agar mau mengunjungi kita, dan mendoakan mereka. Faktor yang satu ini akan melahirkan banyak maslahat. Nabi bersabda, “Barangsiapa mengunjungi orang sakit atau mengunjungi saudaranya (yang ia cintai) karena Allah, ia akan dipanggil oleh seorang penyeru dengan mengatakan, ‘Engkau adalah orang baik, langkahmu adalah langkah yang baik dan engkau telah mengambil jatah tempatmu di surga.’” (H.R. Tirmidzi)

4. Bacalah sirah/sejarah Nabi. Usahakan membaca satu atau dua halaman sirah Rasulullah di pagi hari untuk menambah kecintaan kepada beliau yang namanya kita sebut dalam syahadat.

5. Kunjungi lembaga dakwah. Ini sangat penting untuk dilakukan sebagai sarana pemberi motivasi berbuat kebaikan. Jangan lewatkan kesempatan untuk mengunjungi lembaga sosial kebaikan dan yayasan-yayasan dakwah yang padanya telah Allah berikan banyak sekali kebaikan dan manfaat. Mengunjungi lembaga-lembaga sosial seperti ini akan memotivasi seorang muslim untuk mencintai kebaikan, mengamalkannya, dan berlomba-lomba di dalamnya.

6. Sadari pentingnya berbuat baik. Hendaklah kita menyadari bahwa berlomba dalam kebaikan adalah karakter orang-orang mukmin. Dalam salah satu ayat-Nya, Allah memuji sebagian Nabi-Nya, “..Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang selalu bersegera dalam (mengerjakan) perbuatan-perbuatan yang baik dan mereka berdoa kepada Kami dengan harap dan cemas. Dan mereka adalah orang-orang yang khusyuk kepada Kami.” (Q.S. Al-Anbiya [21]: 90). Maka kesadaran akan hal itu akan memberikan motivasi dan dorongan kepada seorang muslim untuk berbuat baik.

7. Hadiri majelis keimanan. Menghadiri pertemuan antar ikhwan dan majelis yang bernuansa keimanan sangatlah penting. Memperbanyak berkumpul dengan orang-orang baik dan saleh merupakan sebab yang memotivasi untuk berbuat baik. Demikian pula halnya dengan berjumpa dengan orang-orang saleh dan bermajelis dengan mereka akan mempermudah membiasakan diri dalam berbagai ketaatan. Hal tersebut juga akan mengingatkan seorang muslim akan rabb-nya, membangkitkan semangat untuk saling berlomba dalam kebaikan di antara para anggota majelis, dan menyibukkan hati dengan betikan-betikan yang baik. Seorang muslim akan merasa sedikit ketika ia sendirian dan akan merasa banyak ketika bertemu dengan teman-temannya yang saleh. Maka, bergaul dengan pribadi-pribadi yang baik akan membangkitkan semangat dan menggelorakan gairah memanfaatkan usia dalam rangka ketaatan kepada Allah.

8. Berinfak dan bersedekahlah. Apa pun bentuk harta yang kita miliki, itu sepenuhnya hak Allah. Gunakan harta itu sesuai kehendak pemiliknya yang sejati. Perbanyak sedekah dan infak untuk menunjukkan kepada Allah bahwa harta yang ada pada kita sama sekali tidak mengganggu keimanan kita.

9. Senantiasa berdoa kepada Allah. Berdoalah kepada Allah agar dimudahkan melakukan kebaikan. Hidayah taufik untuk bisa berbuat baik adalah karunia Allah dan pemberian dari Dzat Yang Maha Pengasih. Allah menganugerahkannya kepada siapa yang Dia kehendaki. Oleh sebab itu, bersandarlah kepada Rabb-mu agar berkenan memberikan taufik, memudahkan diri kita berbuat baik, dan bisa bergegas menuju kebaikan. Allah telah menjanjikan kepada kita bahwa Dia pasti akan mengabulkan permohonan itu sebagaimana firman-Nya, “Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah) bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.” (Q.S. Al-Baqarah [2]: 186). [Ali]

Editorial

VONIS YANG MELUKAI RASA KEADILAN

Rasa keadilan rakyat Indonesia kembali terkoyak ketika majelis hakim yang dipimpin oleh Albertina Ho memvonis tujuh tahun penjara dan denda Rp 300 juta kepada Gayus Tambunan dalam sidang di PN Jakarta Selatan, Rabu (18/1) lalu. Vonis ini jauh lebih ringan dari tuntutan jaksa yang menginginkan Gayus diganjar 20 tahun penjara dan denda Rp 500 juta. Pertanyaannya, adakah yang salah dengan keputusan tersebut?

Memang, yang benar dan yang salah bisa berbeda menurut kepentingan pihak yang terlibat. Dalam kasus Gayus, ada rujukan yang bisa jadi yurisprudensi. Hakim Muhtadi Asnun yang mendapat suap 20.000 dollar AS dari Gayus hanya divonis dua tahun penjara. Sementara itu, Gubernur Aceh, Abdullah Puteh, yang korup Rp 13,8 miliar hanya divonis 10 tahun. Dari yurisprudensi ini, mungkin majelis hakim merasa pantas memvonis Gayus tujuh tahun. Soalnya, perkara yang diusut Polri dan dilimpahkan jaksa ke pengadilan sebatas keterlibatan Gayus dalam kasus pajak PT Surya Alam Tunggal yang merugikan negara Rp 570 juta. Di sini, hakim hanya berkutat pada batas-batas regulasi yang bisa dikenakan secara pantas dan benar. Ia tidak bisa memaksakan menyamakan hukuman korupsi Rp 13,8 miliar dan korupsi Rp 570 juta.

Pertanyaannya sekarang diubah, “Adilkah vonis tujuh tahun untuk Gayus?” Tentu saja tidak. Rasa keadilan publik tercabik-cabik oleh vonis itu. Secara hukum formal, vonis itu bisa saja benar. Namun bagi publik, vonis itu sungguh melukai rasa keadilan. Hukum telah diporakporandakan oleh Gayus Tambunan dan hal itu telah membuat rakyat Indonesia miris.

Selama proses persidangan, status Gayus adalah tahanan. Salah satu syarat subyektif penahanan adalah agar tersangka tidak mengulangi tindak pidana yang disangkakan. Fakta ironis justru terjadi pada Gayus. Meskipun dalam status tahanan, dia tetap mengulangi kejahatan yang disangkakan dengan menyuap aparat sehingga bebas bertamasya ke Bali, Kuala Lumpur, serta Makau dan hal itu belum termasuk pemalsuan paspor. Jangan heran jika setelah vonis ini Gayus akan lebih banyak lagi berleha-leha di luar penjara. Masa hukuman itu akan sangat sedikit dijalaninya di balik jeruji besi sebab mafia pajak pun akan beramai-ramai menyiapkan remisi untuknya.

Untuk Gayus, Anda boleh mendapat hukuman yang ringan di dunia tapi tidak di akahirat kelak. Ingatlah bahwa harta negara itu dipungut dari semua lapisan masyarakat, termasuk pula warga miskin dan buta huruf yang mencari uang dengan susah payah. Untuk kezaliman seperti itu, Allah akan membalasnya dengan siksaan yang pedih (Q.S. Az-Zukruf [43]: 65). [Ali]

Bedah Hadits

PENGHAMBAT PERTOLONGAN ALLAH
Tate Qomarudin

Rasulullah Saw. bersabda, “Akan senantiasa ada sekelompok dari umatku yang menegakkan kebenaran. Mereka tidak terganggu oleh orang yang menghinakan mereka hingga datang kemenangan Allah dan mereka tetap dalam keadaan demikian.” (H.R. Muslim)
Yang disampaikan oleh Rasulullah Saw. dalam hadits di atas tidak lain adalah janji Allah Swt. yang menyatakan bahwa niscaya Dia akan menolong orang-orang yang menegakkan kebenaran. Perhatikan dua firman-Nya berikut ini.

“Dia-lah yang mengutus Rasulnya dengan membawa petunjuk dan agama yang benar agar Dia memenangkannya di atas segala agama-agama meskipun orang-orang musyrik benci.” (QS. Ash-Shaff [61]: 9)

“Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi, sebagaimana Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan mengubah (keadaan) mereka, sesudah mereka berada dalam ketakutan menjadi aman sentausa. Mereka tetap menyembah-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apa pun dengan Aku. Dan barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang yang fasik.” (Q.S. An-Nuur [24]: 55)
Di samping janji-janji itu, fasilitas atau potensi kemenangan al-haq (kebenaran) sudah Allah sediakan secara lengkap. Di antara potensi-potensi itu adalah pertama, keabadian syari’ah Islam. Islam telah terbukti mampu bertahan dan keluar sebagai pemenang dalam pertarungan berbagai ideologi sepanjang kehidupan manusia. Kedua, sumber daya manusia muslim amat dahsyat. Hari ini tercatat 1,57 miliar penduduk dunia adalah muslim. Ketiga, potensi sumber daya alam. Seorang ulama mengatakan, “Tidak ada sejengkal pun tanah yang di atasnya diproklamirkan tauhid melainkan di bawahnya terkandung kekauatan alam.”

Jadi, tidak ada alasan bagi penggiat dakwah untuk pesimis dan putus asa. Jangan sisakan ruang dalam jiwa kita bagi keraguan tentang keniscayaan datangnya pertolongan Allah Swt. Peluang kemenangan dakwah itu bertaburan di mana-mana.
Akan tetapi, janji kemenangan itu tidak serta merta turun dengan dengan begitu saja tanpa pergerakan dan perjuangan dari kaum mukmin. Boleh jadi, kemenangan yang Allah janjikan itu datang tidak pada waktu yang diharapkan oleh para penegak kebenaran. Tentu saja, dalam ‘keterlambatan’ datangnya kemenangan itu pun ada pesan dan nilai tarbiyah (pendidikan) dari Allah Swt. dan kita harus mampu meresponsnya secara tepat.

Ada beberapa faktor yang dapat memperlambat tibanya pertolongan Allah, antara lain:
1. Kurang atau Tidak Adanya Keikhlasan
Boleh jadi, kemenangan ditangguhkan karena dalam perjuangan kita masih ada tujuan-tujuan selain ridha Allah Swt. Perjuangan belum sepenuhnya menuju kepada Allah, belum utuh lillahi ta’ala. Padahal, Allah Swt. menginginkan kita agar berdakwah dan berjuang semata-mata ikhlas karena-Nya.

Rasulullah Saw. pernah ditanya, “Ada orang yang berjuang karena fanatisme kesukuan, ada orang yang berjuang karena (ingin menunjukkan) keberanian, dan ada orang yang berjuang karena ingin dilihat (riya). Siapakah di antara mereka yang termasuk fi sibilillah (berjuang di jalan Allah)?” Rasulullah Saw. menjawab, “Siapa yang berperang karena ingin meninggikan kalimat (agama) Allah maka dialah yang (berjuang) di jalan Allah.” (H.R. Bukhari dan Muslim)

2. Dha’fut-takhthith
Dha’fut-takhthith (lemah perencanaan) adalah penyumbang terhambatnya kemenangan dari Allah. Orang mengatakan, gagal merencanakan berarti merencanakan kegagalan. Bagi kita, melakukan perencanaan dalam perjuangan adalah bagian dari pelaksanaan perintah Allah. Firman-Nya, “Dan persiapkanlah oleh kalian untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang bisa dan dari kuda-kuda yang ditambat, yang dengannya kamu menggentarkan musuh Allah dan musuh kalian.” (Q.S. Al-Anfal [8]: 60)

Mari sejenak kita tengok siroh Rasulullah Saw. Sesampainya di Madinah, beliau langsung melakukan pendataan orang-orang yang telah menyatakan masuk Islam. Saat itu tercatat 1.500 orang. Strategi besar dakwah yang telah digariskan oleh Rasulullah Saw. sebagaimana yang terserap dari sirahnya adalah tahapan-tahapan berikut: pembentukan individu muslim, pembentukan keluarga muslim, pembentukan masyarakat islami, serta pembentukan pemerintahan islami.

Tanpa perencanaan yang konprehensif dan integral, tahapan-tahapan itu mustahil bisa teracapai. Untuk pembentukan pribadi muslim saja, diperlukan langkah-langkah yang tertata dan terencana sehingga terbentuk pribadi yang memiliki karakter muslim paripurna. Karakter-karakter itu adalah: mempunyai aqidah yang lurus, melaksanakan ibadah yang benar, berakhlak mulia, memiliki intelektualitas yang baik, tubuhnya sehat dan kuat, mampu berusaha untuk mencari rezeki, mampu mengendalikan hawa nafsu, segala urusannya tertata rapi, memanfaatkan waktunya dengan sangat baik, dan berguna bagi orang lain. Bagaimana pula halnya dengan membentuk sebuah masyarakat, pemerintahan, dan khilafah? Tanpa perencanaan yang matang, hal tersebut hanya akan muncul aktivitas reaksioner dan sporadis.

3. Isti’jal
Isiti’jal adalah terburu nafsu atau tidak sabar dalam meraih hasil perjuangan. Ini merupakan salah satu penyakit buruk para pejuang kebenaran. Rasulullah Saw. telah memberi pelajaran kepada kita tentang itu. Khabbab Bin Al-Arat mengatakan, “Kami mengadu kepada Rasulullah Saw. sementara beliau saat itu sedang (duduk) beralaskan selendang di bawah baying-bayang Ka’bah. Kami katakan kepada beliau, ‘Ya Rasulullah, tidakkah engkau meminta tolong kepada Allah untuk kami? Tidakkah engkau berdoa untuk (kemenangan) kami?’ Rasulullah Saw. menjawab, ‘Telah terjadi pada orang-orang (beriman) sebelum kalian, seseorang disiksa dengan cara ditanam di dalam tanah lalu digergaji dari kepalanya hingga terbelah dua dan disisir dengan sisir besi hingga terkelupaslah daging dari tulangnya. Namun hal itu tidaklah menghalangi mereka dari agamanya. Demi Allah, Dia akan menyempurnakan urusan ini hingga pengendara berjalan dari Shan’a ke Hadramaut dalam keadaan tidak takut selain oleh Allah dan selain takut serigala memangsa kambing-kambingnya. Akan tetapi kalian suka terburu-buru’.” (H.R. Bukhari)

4. Mengabaikan Patokan Syari’ah
Kemenangan dan pertolongan Allah boleh jadi tertahan manakala para pejuang dakwah mengabaikan dhawabith syar’iyyah (patokan-patokan syar’i). Allah Swt. menegaskan,

“Dan taatlah kepada Allah dan Rasulnya dan janganlah kamu berbantah-bantahan, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu dan bersabarlah. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.” (Q.S. Al-Anfaal [8]: 46)

Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq (semoga Allah meridhainya) menasihati pasukan yang diberangkatkannya seraya berkata, “Aku berpesan kepada kalian agar bertakwa kepada Allah, berperanglah di jalan Allah, perangilah orang yang kufur kepada agama Allah karena sesungguhnya Allah pasti membela agama-Nya. Janganlah berlaku curang, jangan berkhianat, jangan menjadi penakut, jangan merusak di muka bumi, janganlah kalian membantah apa yang diperintahkan kepada kalian.”

Abu Bakar Ash-Shiddiq juga menyurati Khalid Bin Walid yang isinya antara lain: “Segala puji bagi Allah Yang telah menunaikan janji-Nya, menolong hamba-Nya, memuliakan wali-Nya, menghinakan musuh-Nya, mengalahkan kelompok-kelompok (kafir) sendirian. Sesungguhnya Allah Yang tiada tuhan selain Dia berfirman, (beliau kemudian membacakan ayat ke-55 surat An-Nur). Itu adalah janji Allah yang tidak akan diingkari, dan perkataan yang tidak mengandung keraguan. Dan Dia telah mewajibkan jihad kepada orang-orang beriman dengan firman-Nya (seraya membaca ayat ke-216 surat Al-Baqarah). Maka sempurnakanlah dirimu untuk mendapatkan janji Allah itu. Taatilah segala yang diwajibkan kepada kalian, meskipun beban demikian besar, musibah merajalela, jarak begitu jauh, dan kalian merasakan penderitaan dalam harta dan jiwa. Karena sesungguhnya itu semua adalah kecil dibandingkan dengan keagungan pahala Allah. Maka berperanglah kalian (semoga Allah merahmati kalian) di jalan Allah baik dalam keadaan merasa ringan maupun merasa berat dan berjihadlah dengan harta dan jiwa kalian.” (Hayatush-Shahabah, Yusuf Kandahlawi, Juz III hal. 676)

5. Tanazu’
Tanazu’ (pertikaian) adalah penyakit yang melumpuhkan tubuh umat Islam. Tidaklah salah pepatah yang mengatakan, bersatu kita teguh bercerai kita runtuh. Bukankah Rasulullah Saw. pernah bersabda, “Janganlah kalian saling membenci, janganlah kalian saling mendengki, janganlah kalian saling meninggalkan, dan jadilah kalian hamba-hamba Allah yang bersaudara. Dan tidak halal bagi kalian meninggalkan (bertengkar dengan) saudaranya lebih dari tiga malam.” (H.R. Bukhari)

Karenanya, Rasulullah Saw. selalu sigap mengantisipasi dan menyelesaikan bibit-bibit pertikaian di kalangan kaum muslim. Pernah suatu kali Abu Dzar Al-Ghifari, keseleo lidah dengan mengatakan kepada Bilal, “Wahai anak perempuan hitam!” Rasulullah Saw. tidak tinggal diam. Beliau mengingatkan Abu Dzar seraya mengatakan, “Wahai Abu Dzar, sesungguhnya engkau adalah orang yang mempunyai sifat-sifat jahiliah.”

Bila demikian, maka jadilah kita seperti yang disebutkan dalam hadits di atas, yakni orang-orang yang menegakkan kebenaran dengan konsisten dan berperilaku sebagai orang yang layak menerima pertolongan dan dukungan Allah Swt. Insya Allah.

An-Nisa

BAHAYA AKIDAH VALENTINE
Sasa Esa Agustiana

Teh Sasa, saya punya adik perempuan yang duduk di kelas 1 SMP. Saya ingin memberi tahu adik saya bahwa Valentine’s Day tidak ada dalam Islam dan itu adalah budaya dari agama Nasrani. Saya kesulitan menasihatinya. Bahkan dia berkata, “Tidak apa-apa kok. Kan aku cuma senang dengan warna pink dan pernak-pernik Valentine yang lucu-lucu.” Memang, adik saya ini senang sekali mengoleksi boneka dan baju serba pink. Ketika tiba hari Valentine, adik saya juga suka memborong dan membagi-bagikan coklat berbentuk hati ke teman-temannya. Buat seru-seruan saja, katanya. Mohon solusinya, Teh. Jazakillah.

Kakak yang baik... Memang betul selama bulan Februari dan puncaknya nanti 14 Februari, banyak hal bernuansa pink serta beragam produk berbentuk hati (love) dijual di pasaran. Beragam produk tersebut dikemas dan dikait-kaitkan dengan event perayaan hari kasih sayang atau Valentine’s Day. Masyarakat umum bayak yang terpengaruh oleh momen ini. Memang sangat disayangkan, masih banyak umat Islam yang belum tahu atau belum menyadari bahaya akidah Valentine’s Day dan dengan senang hati merayakannya.

Perlu diketahui bahwa perayaan Valentine’s Day lahir dari keyakinan bangsa Romawi Kuno yang setiap 14 Februari mengadakan upacara persembahan kepada Dewi Cinta, Juno Februata. Selanjutnya, pada 14 Februari 270 M, terjadi peristiwa pembunuhan seorang pendeta bernama Santa Valentine. Ia digantung karena menentang larangan Raja Romawi Calidius II. Pasalnya, sang raja menetapkan bahwa syarat bagi setiap tentara kerajaan adalah para pemuda yang tidak boleh menikah. Nah, pendeta Santa Valentine ini justru membantu menikahkan mereka. Pada 496 M, Paus Gelasius II memperingati 14 Februari sebagai hari Valentine untuk mengenang kematian pendeta Santa Valentine ini. Kesimpulannya, budaya perayaan Valentine’s Day yang berkembang saat ini adalah akulturasi peribadatan kaum Nasrani dan keyakinan orang Romawi.

Dalam ajaran Rasulullah Saw., kita dilarang meniru ritual suatu kaum karena kita bakal disamakan dengan kaum yang ditiru tersebut. Dalam sebuah hadits diterangkan, “Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk bagian dari mereka.” (H.R. Ahmad dan Abu Daud)

Dalam firman-Nya, Allah Swt. mengingatkan kita. “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpinmu, sebagian mereka adalah pemimpin bagi sebagian yang lain. Barangsiapa di antara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.” (Q.S. Al-Maidah [5]: 51)

Ada sebuah pernyataan yang perlu diperhatikan oleh kaum muslimin dari seorang tokoh Yahudi bernama Zwemmer pada 1935. Dalam konferensi Missi di Yerussalem, ia menyatakan, “Misi utama kita bukanlah menjadikan kaum muslim beralih agama menjadi Kristen atau Yahudi, tetapi cukup dengan menjauhkan mereka dari Islam. Kita jadikan mereka sebagai generasi muda yang jauh dari ajaran Islam dengan berorientasi hidup demi kesenangan dunia.”

Oleh karenanya, sebagai kakak, tindakan Anda sudah tepat. Ya, Anda berkewajiban mengajak dan memberi tahu adik dengan pendekatan persuasif dan komprehensif mengenai apa dan bagaimana Valentine’s Day itu sebenarnya. Katakan pula bahwa perayaan Valantine’s Day tidak semata-mata seru-seruan atau menyalurkan koleksi barang (berwarna pink dan berbentuk hati) tertentu. Tanamkan di benak adik Anda agar berhati-hati dalam mengungkapan rasa care atau peduli kepada teman-temannya. Sudah saatnya dia mampu memilah mana yang hanya sekadar hobi (mengoleksi barang tertentu) dan mana yang termasuk mengikuti ritual budaya dan agama orang lain. Dengan demikian, sang adik tidak dilarang berburu merchadise kesukaannya, asalkan tidak dalam rangka saling berbagi hadiah Valentine karena hukumnya haram. Namun jika ia menyukai warna pink dan membeli berbagai pernik berwarna pink sebatas sebagai benda koleksi, tentu tidak dilarang selama tidak diniatkan untuk merayakan Valentine’s Day dan tidak ada simbol (baik gambar maupun tulisan Valentine) di dalamnya.

Ajaran Islam penuh dengan Rahmat-Nya. Berkasih sayang dalam wujud silaturahmi, shadaqah, bahkan saling berbagi hadiah sebenarnya dianjurkan oleh Nabi Saw. tanpa harus ada momen tertentu. Karena sesama mukmin itu bersaudara, maka saling menjaga adab pergaulan sesuai syariat tentu dianjurkan. Dengan non-muslim pun sebenarnya kita bisa berbagi, asal di luar koridor ritual agama dan keyakinan aqidah. Wallaahu a’lam bishawab.

Resensi Buku

FIQIH WANITA EMPAT MADZHAB; MENUNTUN WANITA MENUJU SURGA

Menjadi wanita penghuni surga adalah keinginan setiap muslimah. Namun demikian, tidak semua muslimah mengetahui tata cara untuk menggapai impiannya tersebut. Sebagian besar muslimah sudah merasa cukup apabila telah dapat menjalankan ibadahnya sesuai standar amaliah pada umumnya. Tidak banyak muslimah yang tahu bahwa Islam telah menggariskan beberapa peraturan yang memang khusus dibuat bagi wanita. Ya, Islam telah menetapkan tata cara bersuci khusus untuk wanita, batasan aurat bagi wanita, melaksanakan shalat serta shaum bagi wanita, berdandan, hak dan kewajiban wanita dalam berumah tangga, serta peranan wanita dalam ranah publik yang kesemuanya itu berbeda dengan aturan bagi kaum pria.

Karenanya, kebutuhan akan buku fiqih wanita menjadi sesuatu yang tidak bisa ditawar lagi. Kalau hanya buku fiqih wanita, tentu dengan mudah kaum muslimah mendapatkannya di berbagai toko buku. Namun demikian, apakah buku-buku tersebut dapat menuntaskan dahaga akan aturan fiqih wanita yang selama ini mengganjal dalam benak muslimah? Jawabannya adalah tidak semua buku fiqih wanita tersebut menjelaskan secara gamblang mengenai problematika wanita. Mengapa? Tidak lain karena buku-buku tersebut hanya bersandar pada satu atau dua madzhab saja. Tidak heran bila kemudian pembahasannya dirasa kurang tuntas atau dinilai kurang menyentuh permasalahan yang mendasar.
Untuk itulah buku Fiqih Wanita Empat Madzhab ini hadir. Buku yang ada di tangan pembaca ini dinilai dapat memberikan solusi secara komprehensif (karena menggunakan pendekatan empat madzhab) terhadap berbagai permasalahan fiqih kaum wanita. A sampai Z permasalahan wanita dibahas di sini tanpa meninggalkan satu pun celah ketidakpuasan karena memang setiap permasalahan dibahas secara mendalam dengan menyertakan keterangan ayat Al-Quran dan hadits yang sahih. Karenanya, tak perlu ada lagi keraguan untuk mengamalkan yang diungkapkan dalam buku ini.

Kalau perhiasan diklaim sebagai teman terbaik wanita, maka buku Fiqih Wanita Empat Madzhab adalah karib wanita yang akan selalu ada untuk menuntun mereka ke jalan surga-Nya. Insya Allah. [Muslik]

Judul:
Fiqih Wanita Empat Madzhab

Penulis:
Dr. Muhammad Utsman Al-Khasyt

ISBN:
978-979-1348-99-7

Ukuran:
16.5 cm x 24 cm

Halaman:
468 hlm

Terbit:
Januari 2011

Penerbit:
Khazanah Intelektual

Kontak Pemasaran:
022. 70780148

Opini 1

DIBUTUHKAN, POLA PENGASUHAN YANG BERORIENTASI PENDIDIKAN
Irwan Rinaldi
(Konselor Anak Remaja, Pendamping, & Fathering Skill Trainer)

Anak-anak membutuhkan pendidikan dan pengasuhan, baik di rumah maupun di sekolah. Idealnya, anak-anak tidak hanya mendapatkan pendidikan, tetapi juga pengasuhan yang berorientasi pendidikan. Pendidikan dan pengasuhan tersebut harus didapatkan dari sosok ayah dan ibu sebagai orangtua. Dalam hal ini, orangtua tidak bisa menyerahkan tanggung jawab pendidikan dan pengasuhan anak kepada pembantu, babby-sitter, atau anggota keluarga lain di rumah.

Apa yang membedakan pendidikan tok dengan pengasuhan yang berorientasi pendidikan? Ketika anak belajar matematika, dia akan diajarkan bahwa satu ditambah satu sama dengan dua. Titik. Dengan pola pengasuhan yang berorientasi pendidikan, konsep perhitungan tersebut dikemas dalam bentuk lain yang memiliki nilai tambah. Misalnya, orangtua dapat memberikan ilustrasi tentang tokoh A yang memiliki satu buku dan tokoh B yang juga memiliki satu buku. Ketika tokoh C (dalam hal ini dianalogikan sebagai sang anak) meminjam buku dari kedua sahabatnya (tokoh A dan tokoh B), maka tokoh C akan memperoleh dua buku. Dari sini, orangtua bisa mengajarkan konseep menghargai kepemilikan dan menghormati hak milik orang lain selain pelajaran berhitung.

Sangat disayangkan, pola pengasuhan yang berorientasi pada pendidikan ini belum banyak diterapkan di rumah maupun di sekolah di Indonesia. Saat ini, anak hanya diberi pendidikan sebatas pengajaran bidang keilmuan yang belum berorientasi pada konsep pengasuhan. Padahal, anak pada usia 0 -14 tahun sangat membutuhkan pengasuhan. Di negara kita, belum ada satu lembaga pun, baik pemerintah maupun swasta, yang memberikan pengarahan kepada orangtua agar memperhatikan pengasuhan yang berorientasi pada pendidikan ini.

Pengasuhan memang harus diberikan oleh ayah dan ibu dan bukan salah satunya saja yang dalam hal ini tanggung jawab tersebut biasanya diserahkan pada sosok ibu. Bagaimana pun juga, konsep parenting memang juga harus melibatkan ayah (fatherhood) selain peran ibu (motherhood). Orangtua, telah di beri amanah besar untuk memberikan pengasuhan dan pendidikan langsung kepada anak. Namun begitu, kenyataan hidup saat ini membuat hal tersebut susah terwujud.

Kebutuhan hidup yang kecenderungannya semakin meningkat, mengharuskan ayah bekerja esktra sehingga berkuranglah waktu yang tersisa untuk mengasuk anak-anaknya. Masih dengan alasan ekonomi pula ibu yang menjadi harapan dapat memberikan pengasuhan dan pendidikan kepada anak akhirnya mengambil peran mencari uang tambahan penghasulan untuk menutupi biaya hidup. Di sinilah mulai muncul malapateka bagi anak-anak. Anak-anak tidak hanya kehilangan fatherhood (sosok ayah) tapi juga motherhood (sosok ibu) dan akhirnya satu-satunya yang tersisa untuk memberikan pengasuhan adalah mbak-hood (pembantu rumah tangga) atau mbah-hood (nenek).

Dalam kacamata Islam, anak usia 0-12 atau 14 tahun tidak boleh dititipkan kepada orang lain. Semua hal yang berkaitan dengan pengasuhan dan pendidikan (yang inti) tidak boleh dimandatkan kepada orang lain. Hal ini dikarenakan anak masih berada dalam usia yang rentan. Dalam rentang usia tersebut, pembinaan spiritual dan emosional oleh orangtua sangat dibutuhkan oleh anak.

Bersama teman-teman di Yayasan Kita dan Buah Hati, kami pernah melakukan sebuah penelitian di 20 kota secara online. Hasil penelitian membuktikan bahwa rata-rata anak menghabiskan delapan jam waktunya berada di sekolah. Sepulang sekolah, mereka mamiliki waktu dua jam untuk mengerjakan PR tanpa ayah dan ibu dan dua jam pula untuk melakukan sesuatu (bermain), juga tanpa ayah dan ibu. Praktis selama 12 jam mereka beraktivitas tanpa kehadiran sosok ayah dan ibu. Ketika orangtua (ayah dan ibu) sampai di rumah sepulang kerja, mereka sudah terlalu capek untuk diajak bermain atau dijadikan teman curhat berbagai permasalahan anak-anaknya. Kalau sudah begini, bagaimana mereka akan menerapkan konsep pengasuhan yang berorientasi pendidikan kepada anak-anaknya?

Demikianlah realitas pendidikan dan pengasuhan di negara kita saat ini. Sungguh sebuah kenyataan yang kalau tidak segera mendapatkan penanganan yang tepat, maka akan berakibat bencana bagi masa depan mereka. Ya, ketika anak tidak mendapatkan sosok orangtua dalam hidupnya, maka mereka akan mencari sosok lain sebagai panutan. Beruntung kalau mereka mendapatkannya pada orang atau sesuatu yang benar dan positif. Bagaimana kalau tidak? Akhirnya, marilah kita sebagai orangtua membenahi pola asuh yang selama ini kita praktikkan. Luangkan waktu yang berkualitas dengan anak-anak agar mereka merasakan kehadiran sosok orangtua dalam diri mereka. [Ahmad]

Opini 2

AYO JADI EKSPORTIR ISLAMI!
Arifin Indra S.
(Direktur Pelaksana Senior Indonesia Eximbank)

Di samping sebagai juru dakwah handal, Rasul kita adalah seorang pebisnis ulung. Kita tentu masih ingat dengan kisah ludes terjualnya barang dagangan Mumammad (kala itu belum diangkat menjadi Rasul) ketika melakukan ekspansi pasar ke negeri Syam. Rahasianya tentu saja kejujuran sehingga beliau mampu merebut hati customer, bukan hanya uangnya saja. Berkaca pada hal itu, sebagian umat Islam kemudian menerjemahkan secara bebas (bukan perintah syari) bahwa berbisnis (yang jujur tentu saja) adalah mata pencaharian yang direkomendasikan oleh Rasulullah Saw.

Berbekal tafsiran tersebut, saat ini di Indonesia mulai bermunculan pebisnis muslim yang handal yang mencoba mempraktekkan rahasia bisnis Rasulullah. Tantangan muncul ketika kejujuran saja tidak cukup untuk mendongkrak penjualan. Kemasan produk, promosi, serta pangsa pasar mau tidak mau harus juga dikelola secara profesional agar dapat bersaing dalam dunia bisnis saat ini. Mengenai pangsa pasar, sebagian pengusaha muslim yang menilai bahwa pangsa pasar dalam negeri sudah terlalu penuh dengan beragam produk, mulai melirik pangsa pasar luar negeri sebagai lahan pemasaran produk.

Apakah kemudian permasalahan selesai? Ternyata tidak. Persoalan yang sering dialami para eksportir adalah sulitnya mendapatkan izin pengiriman barang ke luar negeri. Hal ini berkaitan dengan aturan birokrasi yang terkesan berbelit dan rumit. Selain itu, urusan bea keluar (ekspor) pun kerap menjadi kendala. Hal ini berkaitan dengan sistem pembayaran bea keluar yang diatur melalui perbankan konvesional. Nah, saat ini telah hadir layanan pembiayaan ekspor dengan prinsip syariah yang diharapkan dapat menentramkan hati eksportir muslim di Indonesia.

Pembiayaan Ekspor Syariah (PEN) ini merupakan salah satu produk yang diperuntukkan bagi badan usaha maupun perorangan yang diharapkan dapat mendorong ekspor nasional. PEN sendiri dikelola oleh lembaga keuangan yang didirikan khusus, yaitu Indonesia Eximbank yang dibentuk berdasarkan UU tentang Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI). Secara spesifik, Indonesia Eximbank bertugas melaksanakan permbiayaan ekspor nasional, penjaminan, dan asuransi. Indonesia Eximbank dapat memberikan pembiayaan ekspor nasional, baik secara konvensional maupun berdasarkan prinsip syariah.

Di samping itu, Indonesia Eximbank melakukan bimbingan dan jasa konsulasi kepada bank, lembaga keuangan, eksportir berskala kecil, menengah, dan koperasi. Hal ini dijelaskan dalam pasal 4, Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 2 Tahun 2009, tentang Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia. Bahwasannya menetapkan kebijakan dasar Pembiayaan Ekspor Nasional untuk: mendorong terciptanya iklim usaha yang kondusif bagi peningkatan ekspor nasional; mempercepat peningkatan ekspor nasional; membantu peningkatan kemampuan produksi nasional yang berdaya saing tinggi dan memiliki keunggulan untuk ekspor; dan mendorong pengembangan usaha mikro, kecil, menengah, dan koperasi untuk mengembangkan produk yang berorientasi ekspor.

Sebagai pengetahuan, pembiayaan yang dilakukan Indonesia Eximbank ini meliputi pertama, prinsip murabahah, yaitu menjual suatu barang dengan menegaskan harga belinya kepada pembeli dan pembeli membayar sebesar harga beli ditambah biaya-biaya yang harus dikeluarkan dan imbalan (margin). Dalam hal ini, Divisi Syariah Indonesia Eximbank membiayai nasabah yang akan membeli barang (investasi). Pembayaran nasabah eksportir kepada Bank dilakukan dengan cara cicilan.

Kedua, prinsip ijarah, yaitu transaksi sewa menyewa atas suatu barang dalam waktu tertentu melalui pembayaran sewa atau imbalan jasa. Dalam hal ini, Divisi Syariah Indonesia Eximbank sebagai pihak yang menyediakan barang untuk disewa. Nasabah eksportir bertindak sebagai pihak yang menyewa barang.

Ketiga, prinsip istishna, yaitu jual beli barang (barang modal) dalam bentuk pemesanan pembuatan barang dengan kriteria dan persyaratan serta pembayarannya dilakukan sesuai dengan kesepakatan. Dalam hal ini, Divisi Syariah Indonesia Eximbank membiayai pembelian barang dengan pesanan yang diperlukan nasabah eksportir dari pihak ketiga (produsen/kontraktor) sebesar harga pokok ditambah imbalan (margin) yang disepakati. Spesifikasi dan harga barang pesanan disepakati di awal dengan pembayaran dilakukan secara bertahap sesuai kesepakatan.

Untuk mempercepat akselerasi ekspor nasional, pemerintah melakukan kegiatan promosi, pameran, serta misi dagang dan pengembangan kemitraan dengan sejumlah negara yang telah menandatangani kesepakatan ekspor impor. Selain untuk mencari pembeli asing, kegiatan tersebut juga dimaksudkan sebagai pembelajaran untuk meningkatkan daya saing terhadap produk negara lain.

Perlu diketahui bahwa menurut catatan Depdagri periode Januari sampai Juli 2010, lima negara utama tujuan ekspor Indonesia terdiri dari Jepang (12,87 %), Amerika Serikat (10,75 %), China (9,96 %), Singapura (7,6%), dan India 7,07%). Sisanya sebesar 51,75% tersebar ke negara-negara lainnya. Hal ini membuktikan bahwa peluang ekspor Indonesia masih terbuka lebar.

Sekarang sudah tidak ada alasan yang menyebutkan bahwa pedagang muslim tidak mampu bersaing di pasar internasional. Ingat, kita mempunyai rahasia dagang ala Rasul, prosedur pembiayaan ekspor sesuai syariah, serta dorongan pemerintah. Jadi, ayo kita menjadi eksportir muslim yang berdaya saing tinggi! Tunggu apa lagi? [Ahmad & Muslik]

Tafakur

THINGS THAT MONEY CAN’T BUY

Money can’t buy real friendship,
Friendship must be earned.
Money can’t buy a clear conscience,
Square dealing is the price tag.
Money can’t buy the glow of good health,
Right living is the secret.
Money can’t buy happiness,
Happiness is a mental condition and one may be as happy in a cottage as in a mansion.
Money can’t buy sunsets, songs of wild birds and the music of the wind in the trees,
These are as free as the air we breathe.
Money can’t buy inward peace,
Peace is the result of a constructive philosophy in life.
Money can’t buy a good character,
Good character is achieved through decent habits of private living and wholesome dealings in our open contacts with our fellow men.

***

HAL-HAL YANG TIDAK BISA DIBELI DENGAN UANG

Uang tidak bisa membeli persahabatan,
Persahabatan adalah sesuatu yang harus diusahakan.
Uang tidak bisa membeli kejernihan nurani,
Berbuat jujur adalah harga untuk membayarnya.
Uang tidak dapat membeli kesehatan,
Hidup dengan baik dan benar adalah rahasianya.
Uang tidak bisa membeli kebahagiaan,
Kebahagiaan adalah kondisi kejiwaan dan seseorang dapat saja hidup bahagia layaknya di istana meski ia tinggal di rumah biasa.
Uang tidak dapat membeli keindahan panorama matahari tenggelam, kicauan burung, serta suara gemerisik angin yang membelai dedaunan,
Semua itu telah disediakan secara gratis sebagaimana udara yang kita hirup.
Uang tidak dapat membeli kedamaian batin,
Kedamaian adalah hasil pemahaman berbagai filosofi dalam hidup.
Uang tidak dapat membeli karakter yang baik,
Karakter yang baik diraih melalui perilaku sopan, baik dalam kehidupan pribadi maupun ketika berinteraksi dengan orang-orang di sekitar.

[Puisi anonim diterjemahkan oleh Sly]

Resensi Musik

THANK YOU ALLAH
Terima Kasih Telah Menghadirkan Maher Zein

Nasyid tanah air memang tidak hanya dihuni oleh munsyid dalam negeri. Grup maupun soloist nasyid dari luar negeri pun banyak yang sukses meraup penggemar di Indonesia. Contoh paling dekat adalah grup nasyid asal negeri jiran yang bukan hanya sukses menjual albumnya tapi juga konsernya di sejumlah kota di tanah air selalu dipadati penonton. Ya, grup Raihan memang sempat menjadi fenomena pada akhir 90-an sampai awal 2000-an.

Setelah Raihan, sejumlah musyid impor mencoba peruntungannya. Satu dari sekian munsyid impor tersebut adalah Maher Zein. Pria 29 tahun kelahiran Libanon ini menelurkan album perdananya pada November 2009. Album yang diberi judul Thank You Allah ini berisi 13 track plus dua bonus track. Sebagian besar lagu-lagu dalam album tersebut diciptakan sendiri oleh Maher dibantu oleh Bilal Hajji, Hamza Namira, dan Bara Kherigi.

Tiga buah single-nya yang berjudul Palestine Will Be Free, Insha Allah, dan The Chosen One dapat Anda simak di Youtube mengingat stasiun televisi tanah air masih enggan memutar videoklip nasyid. Di Youtube, Anda akan bergabung dengan empat juta lebih penggemar yang sudah terlebih dahulu melihat video-video Maher. Bukan hanya nasyidnya yang easy listening, ketiga video Maher tersebut di atas juga dikemas dalam format yang syarat akan pesan moral. Di video Palestine Will Be Free yang menghadirkan konsep animasi, kita akan diajak untuk melihat perjuangan rakyat Palestina dari sudut pandang optimisme beberapa bocah. Di video Insha Allah, kita disuguhi adegan teatrikal yang syarat dengan simbol-simbol. Misalnya ada adegan sejumlah tentara yang kejam, seorang laki-laki yang suka menyiksa, serta seorang pengguna narkoba. Secara simbolis, Maher seperti berusaha menasehati mereka agar bertobat dari semua dosa tersebut karena insya Allah pintu maaf-Nya senantiasa terbuka lebar. Di video The Chosen One kita disuguhi pemandangan yang menggambarkan betapa Islam dan dunia Barat dapat hidup berdampingan dengan harmonis.

Sarjana Aeronautical Engineering ini memiliki bakat bermusik yang diwariskan oleh sang ayah (Mustapha Maher) yang juga seorang musisi handal di kota Tripoli (Libanon). Bakat musik Maher terlihat semenjak ia masih muda dengan menjadi produser musik di Swedia. Namun demikian, dunia musik yang digeluti yang menawarkan banyak kemewahan membuatnya merasa ada yang kurang. Bahkan, ia merasa ada yang salah. “Saya sangat mencintai dunia musik, namun saya tidak menyukai hal-hal yang ada di sekelilingnya,” ungkap Maher di salah satu fans blog. Maher pun kemudian menemukan jawaban dari keraguannya dalam bermusik setelah bertemu dan tergabung dalam komunitas muslim yang ada di Stockholm. Maher bersyukur, “Sangatlah mudah untuk melihat jalan yang benar jika kita membuka mata dan melihat dengan benar. Itu yang terjadi padaku.”

Sebagai seorang musisi, konser adalah rutinitas Maher. Konser musim semi di Universitas Amerika di Kairo (Mesir) adalah bukti pertanggung jawaban karya-karyanya serta sarana bertemu langsung dengan para fans yang telah mendukungnya selama ini. Ada kabar baik bagi penggemar Maher di Indonesia. Pada tanggal 25 dan 26 Februari mendatang, Maher akan menggelar konser di Malawati Stadium, Shah Alam (Malaysia). Dalam konser yang rencananya akan menghadirkan Irfan Makki, Mesut Kurtis, dan Inteam tersebut, Maher akan memperdengarkan lagu terbarunya yang berjudul Mother yang merupakan single dari album selanjutnya.

Jadi sambil menunggu album rampung dan masuk ke Indonesia, tidak ada salahnya Anda melepas rindu pada alunan merdu suara Maher dengan hadir pada konsernya tersebut. Insya Allah, Anda akan terhibur sekaligus tercerahkan. Selamat menonton! Muslik & Sevi

Tracklist Album Thank You Allah:
01. Always Be There
02. Ya Nabi Salam Alayka
03. Inshallah
04. Palestine Will Be Free
05. Thank You Allah
06. Allah Allah Kiya Karo (Feat. Irfan Makki)
07. The Chosen One
08. Baraka Allahu Lakuma
09. For The Rest Of My Life
10. Hold My Hand
11. Awaken
12. Subhana Allah (Feat. Mesut Kurtis)
13. Open Your Eyes
14. Ya Nabi (Arabic Version – Bonus Track)
15. Thank You Allah (Acoustic Version – Bonus Track)

Profil

Meyda Sefira
(Bintang Film & Sinetron)
DUTA AGAMA BAGI GENERASI MUDA

Ramah, lembut, dan enak diajak bicara. Itulah kesan pertama yang hadir ketika bertemu akhwat 22 tahun ini. Dalam beberapa perannya, baik di film maupun sinetron, mojang Bandung ini kerap dipercaya memerankan karakter yang tidak jauh dari kepribadiannya tersebut. Alhasil, karakter tersebut berhasil dimainkan dengan baik dan sosok muslimah anggun pun melekat kuat dalam dirinya. Ya, dia adalah Meyda Sefira yang kita kenal sebagai Husna di film dan sinetron Ketika Cinta Bertasbih (KCB).

Di tengah bermunculannya gadis belia yang tidak segan membuka aurat dengan alasan tuntutan peran dalam film atau sinetron, sosok muslimah berjilbab seperti Meyda (demikian dia akrab disapa) tampil menyita perhatian. Kita pun dibuat bertanya, apa motivasi Meyda menekuni dunia film dan sinetron di tanah air? Apakah benar, Meyda ingin menampilkan sosok tokoh muslimah idola yang tetap kuat memegang nilai-nilai agama meski berada di tengah kepungan gaya hidup hedonisme? Ditemui di kediamannya di daerah Antapani, Meyda menuturkan banyak hal mengenai keistiqamahannya memegang nilai-nilai Islam di dunia entertain.

Diakui Meyda, meniti karier di dunia modeling dan seni peran bukanlah pekerjaan mudah, apalagi bagi muslimah yang kesehariannya mengenakan penutup aurat. Namun sejak maraknya film dan sinetron bernuansa religi, karier entertain wanita berjilbab cukup mendapatkan tempat. Meski terbilang pendatang baru di dunia seni peran tanah air, Meyda sepertinya mulai menemukan tempatnya sendiri. Kariernya secara perlahan tapi pasti terus mengalami perkembangan positif. Debutnya dalam film dan sinetron KCB banyak diapresiasi pencinta perfilman dan persinetronan tanah air.

Capaian yang diraih Meyda pun seolah menepis anggapan bahwa muslimah berjilbab sulit meniti karier di dunia hiburan. Diakui Meyda, wanita tidak perlu jor-joran untuk bisa berkarier di dunia intertainmen. Ya, Meyda tidak sepakat kalau seorang wanita ingin sukses menjadi artis maka ia harus berpakaian minim atau hanya mengeksploitasi keseksian tubuhnya. Sebagai muslimah yang memiliki prinsip, berjilbab adalah identitas dan Meyda cukup bangga mampu menunjukkan identitas tersebut.

“Insya Allah. Sedari awal, tekad saya dalam berkarier di dunia seni peran bukanlah untuk meraih sesuatu yang muluk-muluk. Saya mengalir saja meniti karier di bidang ini. Yang penting saya bisa menjaga diri, melakukan pekerjaan dengan maksimal, mencari pengalaman hidup, serta menggali terus potensi diri. Selebihnya, kita serahkan kepada Allah Swt. dan berdoa dibukakan jalan yang terbaik untuk masa depan,” ujar muslimah kelahiran 20 Mei 1988 ini.

Diyakini Meyda, wanita berjilbab dapat sukses berkarier di dunia intertain selama berada di jalan yang halal dan dibarengi niat yang positif. “Dunia entertain ini kan kecenderungan lebih dapat dilihat banyak orang sehingga hal tersebut bisa kita jadikan ladang ibadah dengan memberikan contoh yang baik,” jelas Meyda. “Justru, kalau muslimah hanya di rumah saja dan enggan berkarier, dia kan tidak bisa mengembangkan diri dan tidak bisa menjadi figur yang dapat dicontoh orang lain,” lanjutnya.

Ditanya mengenai masa depan muslimah berjilbab di industri seni peran, Meyda optimis. “Memang tidak dipungkiri bahwa dunia intertain identik dengan hedonisme. Tapi tidak semua begitu, kok. Selama menjalani proses pembuatan film dan sinetron religi, saya merasa selalu dilindungi oleh lingkungan, baik sutradara, sesamapemain, maupun semua kru,” aku Meyda.

Menurut mahasiswi semester tujuh Teknik Lingkungan ini, skenario film dan sinetro yang dibintanginya dia konsultasikan dengan para ulama agar tidak keluar dari segi tuntutan syar’i. “Dalam prektiknya, kami sangat menjaga hijab antara laki-laki dan perempuan. Misalnya ketika memerankan pasangan suami istri, kita menjaga agar tidak ada adegan bersentuhan. Sebisa mungkin sutradara membuat blocking yang pas agar tidak melanggar syariat,” ungkapnya.

Diakui atau tidak, kesempatan muslimah berjilbab di industri perfilm akan terus terbuka lebar di masa depan. Betapa tidak, diperkirakan perkembangan industri perfilman yang melibatkan wanita berjilbab akan akan terus meningkat, apalagi kalau ditambah dengan fenomena sinetron religi. Putri pasangan H. Irvin Murad dan Hj. Annie Maryani ini pun berpendapat bahwa tidak ada alasan lagi bagi perempuan yang kesehariannya berhijab untuk tidak bisa berkiprah di dunia intertain.

Meyda mengakui bahwa memang banyak sekali godaan atau tawaran yang dipandang tidak pantas yang dapat melancarkan jalan memasuki gerbang dunia entertain. “Di sinilah kita harus mempunyai keyakinan kepada Allah Swt. atas segala jalan hidup kita. Bermodal keyakinan kepada-Nya, Alhamdulillah saya bisa masuk ke dunia entertain ini tanpa melakukan hal-hal negatif,” ungkap anak ketiga dari lima bersaudara ini.

Diakui pemeran tokoh Zizi dalam film Dalam Mihrab Cinta yang diputar di bioskop tanah air beberapa waktu yang lalu, aktris berjilbab masih menjadi kaum minoritas. Agar banyak bermunculan aktris berjilbab di masa yang akan datang, Meyda mengharapkan agar publik mendukung dan menonton film atau sinetron islami. “Perkembangan industri perfilman selalu mengikuti minat pasar. Bukan sesuatu yang mustahil bahwa di masa depan, tren aktris berjilbab akan semakin bermunculan seiring minat masyarakat menikmati film dan sinetron yang bernuansa religi,” jawab Meyda mengakhiri pembicaraan.
Kita doakan agar tujuan Meyda menjadi sosok tauladan para remaja sekaligus duta agama yang memiliki tugas menyiarkan nilai-nilai Islam di tengah masyarakat dapat berjalan mulus dan senantiasa dimudahkan. Amin. [Ahmad]

Resensi Situs

BELAJAR HADITS DI DUNIA MAYA
Yudha Yudhanto

Hadits secara harfiah berarti perkataan atau percakapan. Dalam terminologi Islam, perkataan yang dimaksud tersebut adalah perkataan dari Nabi Muhammad Saw. Dalam perkembangannya, hadits kerap mengalami perluasan makna sehingga disinonimkan dengan sunnah. Sehingga, artinya pun mencakup segala perkataan (sabda), perbuatan, ketetapan, maupun persetujuan dari Nabi Muhammad Saw. yang dijadikan ketetapan ataupun hukum dalam agama. Hadits sebagai sumber hukum dalam agama Islam menempati posisi kedua setelah Al-Quran.

Sangatlah penting bagi seorang juru dakwah untuk menguasai berbagai buku atau kitab hadits. Beberapa judul kitab hadits yang direkomendasikan antara lain:
1. Al-Jami’ush Shahih Bukhari oleh Bukhari.
2. Al-Jami’ush Shahih Muslim oleh Muslim.
3. As-Sunan Ibnu Majah oleh Ibnu Majah.
4. As-Sunan Abu Dawud oleh Abu Dawud.
5. As-Sunan At Tirmidzi oleh At Tirmidzi.
6. As-Sunan Nasai oleh An Nasai.
7. As-Sunan Darimi oleh Darimi.
8. Al Muwaththa oleh Malik bin Anas.
9. Al-Musnad oleh As-Syafi’i.
10. Mukhtaliful Hadist oleh As-Syafi’i.
11. Al-Mu’jamul Kabir oleh Ath-Thabarani.
12. Al-Mu’jamul Ausath oleh Ath-Thabarani.
13. Al-Mu’jamush Shaghir oleh Ath-Thabarani.
14. Al-Mustadrak oleh Al-Hakim.
15. Ash-Shahih oleh Ibnu Khuzaimah.
16. At-Taqasim wal Anwa’ oleh Abu Awwanah.
17. As-Shahih oleh Abu Hatim bin Hibban.
18. Al-Muntaqa oleh Ibnu Sakan.
19. As-Sunan oleh Ad-Daruquthni.
20. Al-Mushannaf oleh Ath-Thahawi.
21. Al-Musnad oleh Ibnu Nashar Ar-Razi.

Kalau pada zaman dahulu hadits-hadits dirangkum dalam kemasan buku-buku (kitab) yang tebal, maka seiring perkembangan teknologi informasi saat ini, hadits-hadits tersebut tampil dalam kemasan digital. Ya, saat ini kita mengenal banyak sekali situs-situs yang menyajikan berbagai hadits secara on-line atau tampil dalam format e-book. Di internet, kita akan menemukan banyak sekali situs yang memuat konten hadits secara on-line meski jumlahnya tidak sebanyak Al-Quran on-line, apalagi yang dilengkapi dengan terjemah bahasa Indonesia. Sebagai referensi, berikut disampaikan beberapa link yang memuat hadist dengan terjemahan bahasa Indonesia dan bahasa lainnya.
1. ummulhadist.org. Berisi 7.194 hadits Shahih Bukhari dan 7.000 hadits shahih Muslim. Dapat diakses dengan cepat walaupun teks arabnya berupa gambar (image).

2. Hadits Arba’in An-Nawawi dengan Syarah Ibnu Daqiqil ‘Ied. E-book ini bisa diunduh di http://percikaniman.org/download/arbain.zip. Berisi 42 hadits Arba’in beserta syarahnya. Selain mudah dipahami, teks arabnya juga bisa di copy-paste.

3. Situs Al-Islam milik Kementerian Urusan Keislaman, Wakaf, Dakwah, dan Penyuluhan Kerajaan Arab Saudi. Situs ini dianggap cukup lengkap memuat kitab kutubuttis’ah (sembilan kitab, yakni Shahih Bukhari, Shahih Muslim, Sunan At-Tirmizi, Sunan An-Nasa’i, Sunan Abu Daud, Sunan Ibnu Majah, Sunan Ahmad, Al-Muwaththa, dan Sunan Ad-Darimi) berikut kitab-kitab penjelasnya (syarah). Anda dapat mengunjungi http://hadith.al-Islam.com.

4. Download Hadits. Selain dalam bentuk online, ada juga situs Islam yang menyediakan kitab hadits dalam format soft-copy yang bisa diunduh secara gratis. Anda bisa mendapatkannya di http://www.saaid.net.

5. Hadist Online di http://www.al-eman.com. Berisi Shahih Bukhari, Muslim, Ibnu Khusaimah, An-Nasa’i, Abu Daud, Ibnu Majah, Ad-Darimi, dan masih banyak lagi yang lainnya.

6. Untuk mengetahui secara singkat perihal hadits, silahkan buka link http://id.wikipedia.org/wiki/hadits

Selain beberapa referensi tersebut, masih banyak hadits yang tersebar dalam berbagai kitab lainnya, baik yang disusun secara tematis atau sebagai pelengkap dasar (hujjah) dalam berbagai pokok bahasan Islam. Banyak sekali e-book hadits yang beredar di internet, baik berupa PDF, CHM, DOC, HLP, MHT, HTM, PPS, PPT, dan lain sebagainya. Anda dapat dengan mudah memperolehnya melalui google.com, box.net, 4shared.com, docstoc.com, scribd.com, dan berbagai situs sharing file lainnya.

Nah, sekarang amunisi Anda sebagai juru dakwah sudah lengkap. Setelah pada edisi sebelumnya Anda diperkenalkan dengan Al-Quran on-line, maka pengenalan hadits on-line di edisi ini diharapkan dapat membuat Anda lebih percaya diri dalam menyampaikan pesan-pesan dakwah. Insya Allah.

Bedah Al-Quran

AKHLAK BERTANYA
Tafsir Surat Al-Baqarah [2]: 67-73
Aam Amiruddin

(67) Dan (ingatlah), ketika Musa berkata kepada kaumnya: “Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyembelih seekor sapi betina.” Mereka berkata: “Apakah kamu hendak menjadikan kami buah ejekan?” Musa menjawab: “Aku berlindung kepada Allah agar tidak menjadi salah seorang dari orang-orang yang jahil.”
(68) Mereka menjawab: “Mohonkanlah kepada Tuhanmu untuk kami, agar Dia menerangkan kepada kami, sapi betina apakah itu.” Musa menjawab: “Sesungguhnya Allah berfirman bahwa sapi betina itu adalah sapi betina yang tidak tua dan tidak muda; pertengahan antara itu; maka kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu.”
(69)Mereka berkata: “Mohonkanlah kepada Tuhanmu untuk kami agar Dia menerangkan kepada kami apa warnanya.” Musa menjawab: “Sesungguhnya Allah berfirman bahwa sapi betina itu adalah sapi betina yang kuning, yang kuning tua warnanya, lagi menyenangkan orang-orang yang memandangnya.”
(70) Mereka berkata: “Mohonkanlah kepada Tuhanmu untuk kami agar Dia menerangkan kepada kami bagaimana hakikat sapi betina itu, karena sesungguhnya sapi itu (masih) samar bagi kami dan sesungguhnya kami insya Allah akan mendapat petunjuk (untuk memperoleh sapi itu).”
(71) Musa berkata: “Sesungguhnya Allah berfirman bahwa sapi betina itu adalah sapi betina yang belum pernah dipakai untuk membajak tanah dan tidak pula untuk mengairi tanaman, tidak bercacat, tidak ada belangnya.” Mereka berkata: “Sekarang barulah kamu menerangkan hakikat sapi betina yang sebenarnya.” Kemudian mereka menyembelihnya dan hampir saja mereka tidak melaksanakan perintah itu.
(72) Dan (ingatlah), ketika kamu membunuh seorang manusia lalu kamu saling tuduh menuduh tentang itu. Dan Allah hendak menyingkapkan apa yang selama ini kamu sembunyikan.
(73) Lalu Kami berfirman: “Pukullah mayit itu dengan sebahagian anggota sapi betina itu!” Demikianlah Allah menghidupkan kembali orang-orang yang telah mati, dan memperlihatkan padamu tanda-tanda kekuasaan-Nya agar kamu mengerti.

***

Ayat-ayat yang akan dibahas di sini masih menceritakan tentang kedurhakaan Bani Israil. Sejumlah riwayat mengungkapkan bahwa pada zaman Nabi Musa a.s., ada seorang yang terbunuh tapi tidak diketahui siapa pembunuhnya sehingga terjadilah saling tuduh di antara Bani Israil. Akhirnya mereka datang menemui Nabi Musa untuk meminta petunjuk mengenai pembunuh yang sebenarnya. Lalu, atas wahyu Allah Swt., Nabi Musa a.s. memerintahkan agar mereka menyembelih sapi. Kaum Bani Israil menganggap perintah Nabi Musa a.s. itu sebagai bentuk ejekan kepada mereka. Hal ini dijelaskan dalam ayat berikut.

“Dan ingatlah, ketika Musa berkata kepada kaumnya: ‘Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyembelih seekor sapi betina.’ Mereka berkata: ‘Apakah kamu hendak menjadikan kami buah ejekan?’ Musa menjawab: ‘Aku berlindung kepada Allah agar tidak menjadi salah seorang dari orang-orang yang jahil.’”

Pada ayat ini diungkapkan bahwa Nabi Musa a.s. memerintahkan mereka untuk menyembelih seekor sapi untuk mengungkap sang pembunuh. “Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyembelih seekor sapi betina.” Bani Israil tersinggung dengan perintah ini dan menganggap bahwa perintah menyembelih sapi itu merupakan bentuk ejekan pada mereka, “Apakah kamu hendak menjadikan kami buah ejekan?” Mengapa perintah menyembelih sapi dianggap ejekan? Tidak lain adalah karena kaum Bani Israil pernah menyembah anak sapi saat Nabi Musa a.s. meninggalkan mereka selama empat puluh malam untuk menerima Taurat. Kasus ini dijelaskan dalam Al-Baqarah ayat 51. “Dan ingatlah, ketika Kami berjanji kepada Musa memberikan Taurat, namun sesudah empat puluh malam, kamu menjadikan anak sapi sembahanmu sepeninggalnya dan kamu adalah orang-orang yang zalim.”
Tuduhan Bani Israil dijawab oleh Nabi Musa a.s. dengan berlindung diri pada Allah Swt. “Aku berlindung kepada Allah agar tidak menjadi salah seorang dari orang-orang yang jahil.” Ini pelajaran bahwa kalau suatu saat kita menyampaikan nilai-nilai kebenaran kepada orang lain (misalnya kepada anak, istri, suami, teman, ataupun masyarakat umum) namun diejek atau diolok-olok, maka kita tidak perlu membalas dengan ejekan lagi. Kita cukup berlindung diri kepada Allah agar tidak terpancing pada perbuatan-perbuatan yang tidak elegan dan tidak sopan.

“Mereka menjawab: ‘Mohonkanlah kepada Tuhanmu untuk kami, agar Dia menerangkan kepada kami, sapi betina apakah itu.’ Musa menjawab: ‘Sesungguhnya Allah berfirman bahwa sapi betina itu adalah sapi betina yang tidak tua dan tidak muda; pertengahan antara itu; maka kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu.’”

Sesudah Bani Israil bisa diyakinkan oleh Nabi Musa a.s. bawa perintah menyembelih sapi itu bukan ejekan tetapi cara untuk bisa mengetahui pelaku pembunuhan, mereka mengajukan permintaan kepada Nabi Musa a.s. “Mohonkanlah kepada Tuhanmu untuk kami, agar Dia menerangkan kepada kami, sapi betina apakah itu.” Sekiranya langsung melaksanakan perintah Nabi Musa a.s., tentu mereka tidak akan mendapatkan kesulitan. Toh perintahnya sederhana, hanya menyembelih seekor sapi. Jadi, sapi macam apa pun sebenarnya bisa disembelih. Namun karena Bani Israil cerewet dan banyak bertanya untuk hal yang tidak perlu, perintah yang tadinya sederhana menjadi makin sulit.

“Musa menjawab: ‘Sesungguhnya Allah berfirman bahwa sapi betina itu adalah sapi betina yang tidak tua dan tidak muda; pertengahan antara itu.’” Ayat ini menggambarkan bahwa sapi yang harus disembelih memiliki ciri khusus, yaitu tidak terlalu tua namun juga tidak terlalu muda atau sapi pada usia pertengahan. Coba kita cermati, bukanlah tingkat kesulitan pemilihan sapi yang harus disembelih menjadi bertambah? Tadinya simpel, cukup sembarang sapi saja. Boleh yang muda dan yang tua pun tidak mengapa. Namun sekali lagi, karena Bani Israil banyak bertanya pada hal yang tidak perlu, maka tingkat kesulitannya pun ditambah, yaitu sapi yang usianya pertengahan (tidak terlalu tua dan tidak terlalu muda).

Ayat ini harus menjadi pelajaran bagi kita bahwa kalau mendapatkan perintah yang sederhana, lakukan saja sesuai perintah tersebut. Jangan mempersulit diri dengan pertanyaan-pertanyaan yang tidak perlu. Misalnya, ada dosen yang memerintahkan agar mahasiswa membuat paper atau makalah. Perintah ini simpel, yaitu membuat makalah. Tetapi kadang ada mahasiswa yang suka mempersulit diri dengan mengajukan pertanyaan yang tidak prinsipil, “Pak, sampul makalahnya warna apa?” “Pak, logo universitasnya perlu dicantumkan atau tidak?” Dan lain sebagainya. Sekiranya mahasiswa tersebut tidak banyak mempertanyakan hal-hal yang bukan prinsipil, tentu tugas tersebut menjadi sangat sederhana. Sampul warna apa pun bisa dipakai dan logo universitas bisa dicantumkan tetapi bisa juga tidak. Namun karena banyak bertanya untuk hal yang tidak perlu, akhirnya sang dosen pun berkata, “Sampul makalahnya berwarna ungu yang tidak terlalu tua tetapi jangan terlalu muda dan harus mencantumkan logo universitas ukuran 5 X 5 cm dan harus proporsional dengan ukuran kertasnya.

“Mereka berkata: ‘Mohonkanlah kepada Tuhanmu untuk kami agar Dia menerangkan kepada kami apa warnanya.’ Musa menjawab: ‘Sesungguhnya Allah berfirman bahwa sapi betina itu adalah sapi betina yang kuning, yang kuning tua warnanya, lagi menyenangkan orang-orang yang memandangnya.’”

Ayat ini menegaskan bahwa saat Bani Israil diperintah menyembelih sapi, mereka bertanya mengenai warna yang sepebetulnya hal tersebut tidak penting dan akhirnya mereka pun mendapat kesulitan. Bahkan mereka masih berkelit dari perintah Allah dengan cara menganggap gambaran tentang sapi itu samar alias masih belum jelas.

“Mereka berkata: ‘Mohonkanlah kepada Tuhanmu untuk kami agar Dia menerangkan kepada kami bagaimana hakikat sapi betina itu, karena sesungguhnya sapi itu masih samar bagi kami dan sesungguhnya kami insya Allah akan mendapat petunjuk untuk memperoleh sapi itu.’”

Pertanyaan Bani Israil semakin mempersulit mereka sendiri karena sapi yang harus disembelih itu sifat-sifatnya menjadi lebih spesifik.

“Musa berkata: ‘Sesungguhnya Allah berfirman bahwa sapi betina itu adalah sapi betina yang belum pernah dipakai untuk membajak tanah dan tidak pula untuk mengairi tanaman, tidak bercacat, tidak ada belangnya.’ Mereka berkata: ‘Sekarang barulah kamu menerangkan hakikat sapi betina yang sebenarnya.’ Kemudian mereka menyembelihnya dan hampir saja mereka tidak melaksanakan perintah itu.”

Sekali lagi mari kita cermati. Perintah dari Allah yang semula sangat sederhana menjadi sangat sulit karena Bani Isral bertanya mengenai sesuatu yang tidak prinsipil, lagi dan lagi. Kali ini, kriteria sapi yang harus disembelih ditambah menjadi “sapi betina yang belum pernah dipakai untuk membajak tanah dan tidak pula untuk mengairi tanaman, tidak bercacat, tidak ada belangnya.” Seandainya Bani Israil langsung melaksanakan perintah yang simpel tersebut, maka sapi jenis apapun bisa disembelih. Namun karena mereka mengajukan sejumlah pertanyaan yang tidak perlu, akhirnya mereka sendiri mendapatkan kesulitan dengan sifat-sifat sapi yang makin spesifik meski pada akhir ayat tersebut di atas, “hampir saja mereka tidak melaksanakan perintah itu.”

“Dan ingatlah, ketika kamu membunuh seorang manusia lalu kamu saling tuduh menuduh tentang itu. Dan Allah hendak menyingkapkan apa yang selama ini kamu sembunyikan. Lalu Kami berfirman: ‘Pukullah mayit itu dengan sebahagian anggota sapi betina itu!’ Demikianlah Allah menghidupkan kembali orang-orang yang telah mati, dan memperlihatkan padamu tanda-tanda kekuasaan-Nya agar kamu mengerti.”

Kedua ayat di atas menjelaskan latar belakang mengapa Bani Israil diperintah untuk menyembelih sapi. Yaitu untuk mengungkap peristiwa pembunuhan. Allah menunjukkan kekuasaan-Nya kepada Bani Israil melalui Nabi Musa a.s. bahwa orang yang sudah mati bisa dihidupkan kembali dalam sekejap. Karena itu peristiwa ini diakhiri dengan tanda seru (!). “Demikianlah Allah menghidupkan kembali orang-orang yang telah mati, dan memperlihatkan padamu tanda-tanda kekuasaan-Nya agar kamu mengerti.”

Mudah-mudahan kita termasuk orang-orang yang mampu mengambil pelajaran dari setiap peristiwa dan meyakini bahwa Allah Maha Berkuasa atas segala sesuatu. Amin. Wallaahu a’lam.

Bedah masalah

MELEPAS JILBAB UNTUK MENJAGA CITRA
Aam amiruddin

Menurut Ustadz, lebih baik yang mana; memakai jilbab tapi setengah-setengah (pakaian ketat dan masih suka clubbing/dugem) atau tidak memakai jilbab tetapi berkelakuan baik. Secara pribadi, saya lebih memilih tidak memakai jilbab kalau belum benar-benar yakin bisa menjaga citra wanita berjilbab. Teman saya bahkan ada yang suka membuka jilbab kalau imannya sedang tidak stabil. Mohon pendapat Ustadz.

Saya setuju dengan Anda bahwa busana muslimah merupakan identitas takwa, baju yang harus menggambarkan kesalehan dan keimanan. Berjilbab bagi seorang muslimah adalah sebuah kewajiban sebagaimana diperintahkan Allah melalui ayat berikut.

“Hai Nabi katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mukmin: ‘Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka’. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Q.S. Al-Ahzab [33]: 59)

Citra wanita berjilbab hendaknya jangan sampai menjadi buruk hanya karena kelakukan segelintir orang yang tidak bertanggung jawab. Seharuasnya atau idealnya, seorang wanita yang berbusana muslimah itu kelakuannya, perbuatannya, omongannya, dan perilakunya mencerminkan orang yang bertakwa.

Menurut pendapat saya, sikap Anda sudah bagus karena tidak mau merusak citra (pakaian muslimah). Saya menghargai ikhtiar Anda untuk menjaga citra jilbab. Namun saya perlu ingatkan, bagaimana jika kematian terlebih dahulu menjemput sebelum Anda benar-benar melaksanakan niat berjilbab? Tentu Anda akan menyesalinya, bukan?

Dalam sebuah hadits disebutkan, “Apabila engkau berada di sore hari, maka janganlah menunggu hingga pagi hari. Dan apabila engkau berada di pagi hari maka janganlah menunggu hingga sore hari. Pergunakanlah waktu sehatmu sebelum datang waktu sakitmu. Dan pergunakanlah hidupmu sebelum datang kematianmu.” (H.R. Bukhari)

Oleh sebab itu, alangkah lebih baiknya kalau akselerasi niat berjilbab tersebut dipercepat. Hendaknya kaum wanita tidak menunggu menjadi shalehah terlebih dahulu untuk memakai jilbab, tetapi sebaliknya, memakai jilbab supaya menjadi wanita yang shalehah. Ya, kalau boleh saya sarankan, sebaiknya paradigma berpikir Anda diubah. Katakan pada diri sendiri, “Saya akan berjilbab supaya jilbab itu membimbing dan mendorong saya menjadi lebih salehah dan saya harus mampu menjaga citra wanita berjilbab.” Dengan kerangka fikir seperti ini, kita berharap agar ajaran-ajaran Islam (khususnya berjilbab) semakin membawa pada perubahan hidup yang lebih baik.

Adapun mengenai perilaku teman Anda yang melepas jilbab dengan alasan kondisi keimanannya sedang tidak stabil, menurut hemat saya ini adalah perilaku dan cara berpikir yang kurang tepat. Justru perilaku ini akan semakin menurunkan kadar keimanan orang yang bersangkutan. Kalau kondisi keimanan menurun, hal tersebut justru harus dilawan dengan semakin meningkatkan kesalehan. Seperti orang yang sedang sakit tapi malas makan, kalau ingin cepat sembuh maka dia harus harus memaksakan diri untuk makan sehingga daya tahan tubuhnya meningkat dan bukan malah meninggalkan makan yang justru akan semakin menurunkan daya tahan tubuhnya.

Jadi, bagi Anda yang sedang mencoba untuk istiqamah berjilbab, kalau merasa iman sedang menurun justru harus semakin rajin memakainya sehingga diharapkan kondisi keimanan menjadi semakin pulih dan sehat kembali. Kalau Anda menyengaja melepas jilbab dengan alasan iman sedang turun, perilaku ini justru akan membuat iman semakin rapuh.Wallaahu a’lam.

***

KEDUDUKAN DOSA SETELAH TAUBAT

Dalam Al-Quran disebutkan bahwa, “Barang siapa yang mengerjakan kebaikan sebesar zarah niscaya dia akan melihat balasannya dan barang siapa yang mengerjakan kejahatan sebesar zarah niscaya akan melihat balasannya.” Yang saya tanyakan, kalau orang sudah bertaubat, apakah perbuatan buruknya masih tetap diperhitungkan atau dihapuskan?
Ayat yang Anda tanyakan termaktub dalam surat Az-Zalzalah ayat 7-8.

“Barang siapa yang mengerjakan kebaikan seberat zarah pun, niscaya dia akan melihat balasannya. Dan barang siapa yang mengerjakan kejahatan seberat zarah pun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula.” (Q.S. Al-Zalzalah [99]: 7-8)

Ayat ini mengingatkan kita agar tidak menyepelekan kebaikan ataupun keburukan, sebab sekecil apa pun hal tersebut akan diperhitungkan. Sekecil apa pun kita berbuat keburukan pasti ada balasannya dan sekecil apa pun kita berbuat kebaikan pasti ada imbalannya pula. Karena itu, Nabi Saw. bersabda, “Janganlah kamu menyepelekan kebaikan sekalipun hanya menunjukkan wajah yang ramah pada saudaramu.” (H.R. Muslim). Jadi, senyuman dan keramahan saja akan diperhitungkan sebagai ibadah kalau kita melakukannya dengan tulus ikhlas.

Pertanyaannya, bagaimana dengan dosa-dosa yang telah kita lakukan; apakah tetap akan diperhitungkan padahal kita sudah bertaubat? Untuk menjawab masalah ini, silakan cermati ayat-ayat berikut.

“Kecuali orang-orang yang bertaubat, beriman dan mengerjakan amal saleh; maka kejahatan mereka diganti Allah dengan kebajikan. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Dan orang yang bertaubat dan mengerjakan amal saleh, maka sesungguhnya dia bertaubat kepada Allah dengan taubat yang sebenar-benarnya.” (Q.S. Al-Furqaan [25]: 70-71).

Ayat tersebut menegaskan bahwa jika ada orang yang berbuat dosa dan bertaubat dengan sungguh-sungguh, maka Allah akan ganti kejahatan itu dengan kebaikan. Ini mengandung makna bahwa yang akan ditampakkan pada hari kiamat bukan keburukannya, tetapi kebaikannya. Hal ini dikuatkan lagi dengan ayat berikut,

“Katakanlah: ‘Hai hamba-hamba-Ku yang pernah terjerumus dosa, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang’.” (Q.S. Az-Zumar [39]: 53)

Dan masih banyak lagi ayat yang menggambarkan bahwa sebesar apa pun dosa kita kalau kita memohon ampun kepada Allah dengan sungguh-sungguh maka dosa-dosa tersebut akan dihapuskan. Tentu saja, hal tersebut disertai dengan catatan bahwa taubat dilakukan secara bersungguh-sungguh, penuh keseriusan, dan tidak main-main. Adapun ukuran bersungguh-sungguh yang dimaksud adalah dengan benar-benar meninggalkan dosa tersebut, tidak mengulanginya lagi, dan dibarengi dengan meningkatkan amalan-amalan shaleh. Dari sini akan tampak jelas perubahan perilaku dari buruk menjadi lebih baik. Wallaahu a’lam.

***

USTADZ MENJADI PENYELAMAT DI AKHIRAT

Paman saya mengatakan bahwa kita harus memiliki ustadz khusus yang dapat mempertanggungjawabkan atau menyelamatkan kita di akhirat. Menurutnya, ustadz itu pun harus tahu bahwa kita menjadi muridnya. Apakah pendapat paman saya itu benar? Sampai saat ini saya tidak punya ustadz khusus dan saya belajar dari banyak ustadz. Mohon penjelasannya.

Semua manusia, secara individual akan mempertanggungjawabkan seluruh perbuatan sendiri-sendiri di hadapan Allah Swt. sebagaimana firman-Nya berikut ini.

“Dan tiap-tiap mereka akan datang kepada Allah pada hari kiamat dengan sendiri-sendiri.” (Q.S Maryam [19]: 95)

Merujuk pada ayat di atas, jelaslah bahwa kalau ada yang mengatakan bahwa guru, ustadz, atau kyai akan mempertanggungjawabkan murid-muridnya di akhirat, maka hal tersebut bertentangan dengan syariat Islam. Pada dasarnya, posisi guru, ustadz, kyai, atau pembimbing spiritual hanyalah menyampaikan ajaran-ajaran Islam. Sedangkan pengamalan dan pertanggungjawaban di akhirat, tentu saja oleh masing-masing individu. Bisa saja orang yang mendengar (murid) lebih taat dan saleh dari yang menyampaikan (ustadz). Bisa saja Anda yang bertanya jauh lebih saleh dari pada guru yang menyampaikan tausyiah kepada Anda.

Nah, realitas di masyarakat menunjukkan masih adanya pengkultusan guru, ustdaz, atau kyai secara berlebihan, sampai bekas minumnya pun diburu oleh para santri untuk mendapat berkah. Rambut gurunya dijadikan jimat, bahkan di daerah tetentu masih ada yang memperlakukan ustadz atau kyai itu seperti malaikat. Jelas ini merupakan perbuatan haram karena masuk dalam kategori pengkultusan yang merupakan bagian dari kemusyrikan.

Guru, ustadz, kyai, dan dai adalah manusia biasa yang mungkin saja berbuat salah, keliru, dan bahkan berbuat dosa. Mereka bukanlah malaikat. Jadi tidak benar kalau kyai atau ustadz akan mempertanggungjawabkan amalan-amalan muridnya di akhirat. Seperti murid-muridnya, mereka juga akan dimintai pertanggungjawaban di akhirat. Seorang yang menyampaikan kebenaran akan dimintai pertanggungjawaban mengenai seberapa benar yang disampaikannya dan bukan mempertangungjawabkan amala murid-muridnya.

Dengan demikian, Anda tidak perlu kahwatir kalau tidak mempunyai guru khusus. Menurut hemat saya, justru hal itu lebih bagus karena Anda dapat belajar dari banyak narasumber sehingga bisa melakukan studi komparatif (perbandingan) karena setiap penceramah, ustadz, atau dai pasti memiliki kekurangan dan ada kelebihannya masing-masing. Saya pribadi menyarankan agar belajar agama jangan hanya pada satu guru, ustadz, atau kyai. Akan lebih baik bila kita belajar dari banyak narasumber supaya wawasan kita lebih luas dan ilmu kita lebih variatif. Wallaahu a’lam.

***

CERAMAH DENGAN IMING-IMING PAHALA

Ustadz, saya pernah mengikuti pengajian yang ustadz-nya itu banyak menerangkan pahala. Misalnya, apabila kita Tahajud, maka pahalanya 1.000 derajat. Kalau baca (surat) Yaasin, maka akan terhapuskan dosa sebesar gunung Uhud. Apakah benar bahwa untuk giat beribadah itu harus selalu diming-imingi pahala?

Ustadz, kyai, atau penceramah yang menyampaikan materi keislaman mempunyai gaya, cara, dan metode yang berbeda. Ada yang bergaya pedagang yang cenderung berbicara untung rugi sehingga ibadah selalu dikaitkan dengan pahala atau derajat (kebaikan) yang akan diperoleh. Misalnya, satu kali Tahajud pahalanya 1.000 derajat. Jadi, kalau melakukan dua kali Tahajud kita akan mendapatkan 2.000 derajat dan kalau sebulan Tahajud 30 kali maka kita akan mendapatkan 30.000 derajat. Contoh lain, keutamaan atau pahala satu kali shaum Senin-Kamis adalah menghapuskan dosa sebesar Gunung Uhud. Kalau shaum tersebut dilakukan sampai dua tahun, kita dapat membayangkan berapa kira-kira dosa yang akan terampuni. Inilah ustadz yang bergaya pedagang yang dalam ceramahnya selalu berbicara pahala dan fadhilah atau keutamaan. Secara tidak sadar, ustadz seperti ini telah mendidik umat menjadi manusia-manusia pamrih, segala ibadah dihubungkan dengan pamrih atau imbalan.

Ada juga jenis ustadz yang menjelaskan amal saleh dengan berorientasi bukan pamrih, tetapi lebih menekankan pemahaman akan kesadaran perlunya manusia mengekspresikan syukur kepada Allah. Ketika menyampaikan masalah tahajud, yang ditekankan bukan pahalanya tetapi digambarkan bahwa Tahajud merupakan sarana untuk berterima kasih atas segala nikmat yang telah diberikan oleh Allah Swt. Beliau juga akan menerangkan bahwa Tahajud merupakan sarana introspeksi dan perbaikan diri. Inilah ustadz atau narasumber yang inspiratif yang lebih menekankan pada pencerahan. Ustadz atau penceramah model ini akan melahirkan manusia-manusia yang berkesadaran tinggi dalam beribadah, bukan manusia-manusia pamrih.

Menurut hemat saya, ceramah dengan gaya pedagang harus diubah. Bukan zamannya lagi ceramah dengan terlalu banyak berbicara pahala dan lebih baik pembahasan ditekankan pada pencerahan hidup. Ya, dalam ceramah alangkah lebih baik bila disampaikan mengenai bagaimana menjadi manusia-manusia beragama yang mempunyai pencerahan pemikiran sehingga apa pun profesinya, kita bisa menempatkan diri secara proporsional.
Agama Islam bukan hanya mengurusi pahala. Pahala hanyalah bagian kecil dari agama. Pahala hanyalah sebuah motivasi dan bukan merupakan substansi. Inti dari kehidupan beragama adalah menjadi manusia yang benar-benar menjadi hamba Allah yang harus selalu berada pada koridor kebenaran Ilahi. Wallaahu a’lam.

***

BEDA PENDAPAT DENGAN ORANGTUA

Saya mempunyai calon istri yang taat beragama, akhlaknya baik dan santun. Namun orangtua saya tidak menyetujui hubungan kamu dengan alasan berbeda suku sehingga saya diancam dicap sebagai anak durhaka kalau memaksa menikahi wanita tersebut. Apakah kalau saya tetap menikahi calon istri tersebut maka saya dapat dikategorikan durhaka pada orangtua?

Perbedaan pemahaman antara anak dan orangtua bisa terjadi dalam hal apa pun. Memperhatikan kasus yang Anda ceritakan, menurut hemat saya, hal tersebut bukanlah perbedaan pendapat yang bisa melahirkan kedurhakaan. Anda disebut durhaka apabila terlibat perbedaan pendapat dalam hal perilaku atau sikap yang benar-benar bertentangan dengan ajaran Islam. Misalnya, Anda mengajukan calon istri yang berbeda agama dan ketika orangtua tidak setuju, Anda tetap ngotot menikahi wanita tersebut. Dalam contoh ini, Anda dikatakan durhaka karena alasan larangan orangtua tersebut dibenarkan oleh agama. Tetapi kalau orangtua marah dan melarang Anda menikah dengan alasan perbedaan suku meski wanita tersebut relatif salehah, santun, dan taat menjalankan agama, maka kasus ini bukanlah sebuah kedurhakaan. Ini hanyalah perbedaan pendapat biasa.

Tugas Anda adalah melakukan pendekatan pada orangtua dengan santun. Upayakan agar mereka menerima calon istri sekalipun berbeda suku. Kita boleh berbeda pendapat dengan orangtua, tetapi sebagai anak, kita tetap harus memperlakukan mereka secara baik dan hormat. Silakan perhatikan ayat berikut.

“Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku, kemudian hanya kepada-Kulah kembalimu, maka Kuberitakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.” (Q.S. Lukman [31]:15)

Pada ayat di atas ada penegasan “dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik.” Jadi, walaupun pendapat orangtua salah, kita harus tetap memperlakukan mereka dengan hormat dan santun. Wallaahu a’lam.

MaPIklopedi

TAKZIYAH;
RINGANKAN BEBAN KELUARGA YANG DITINGGALKAN

Kullu nafsin dzaaiqatul maut. Setiap yang bernyawa pasti akan mati dan tidak ada seorang pun yang tahu kapan hal tersebut akan terjadi. Hari ini mungkin kita yang bertakziyah kepada teman atau kerabat, tapi suatu hari nanti (mungkin tahun depan, bulan depan, minggu depan, atau bahkan esok atau lusa) pasti kita akan ditakziyahi. Ya, takziyah atau melayat adalah salah satu kewajiban kita sebagai manusia yang masih diberi kesempatan hidup kepada saudara atau kolega yang telah meninggal dunia.
Sebagai sebuah ibadah, takziyah memiliki beberapa etika yang harus kita indahkan. Pertama, takziyah harus dijadikan sebagai sarana untuk merenungi kematian. Kita harus sadar bahwa suatu saat, akan tiba giliran kita untuk meninggalkan dunia ini dan mempertanggungjawabkan semua yang telah diperbuat di hadapan Allah. Saatnyalah kita bertanya pada diri sendiri, apakah amal kita sudah cukup?

Kedua, kabarkan berita duka yang kita terima kepada sanak kerabat, teman, dan handai taulan yang memang pernah mengenal almarhum. Hal ini dimaksudkan agar mereka turut mendoakan agar amalan ibadah almarhum diterima di sisi Allah Swt.
Ketiga, membantu mengurus jezanah (mulai dari memandikan, mengafani, menyalatkan, serta menguburkan) agar keluarga yang tengah berduka tidak terlalu terbebani. Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah r.a., Rasulullah Saw. pernah bersabda, “Segerakanlah jenazah tersebut, sebab jika dia saleh maka kalian telah menyegerakannya kepada kebaikan, namun jika selain itu, maka kalian telah melepaskan beban keburukan dari diri kalian.”

Disebutkan oleh Ibnul Qayyim bahwa Rasulullah memberi petunjuk kepada kita agar tidak menguburkan mayit saat terbit dan terbenamnya matahari serta tidak pula saat matahari berada di tengah langit. Rasulullah Saw. menegaskan bahwa menguburkan mayit pada waktu malam tidak dianjurkan kecuali dalam keadaan darurat atau demi kemaslahatan yang lebih kuat. Masih menurut Ibnul Qayyim, Rasulullah Saw. menerangkan beberapa adab ketika mengantarkan jenazah ke peristirahatan terakhirnya, yaitu:
• Jika seseorang berjalan, maka hendaklah berada di depan jenazah.
• Jika berkendaraan, maka hendaklah berada di belakang jenazah.
• Mempercepat jalan dan tidak diperkenankan berjalan dengan pelan.
• Tidak mendahului duduk sampai jenazah tersebut diletakkan di atas tanah.

Kita dibolehkan mendahulukan shalat jenazah jika tidak dikhawatirkan habisnya waktu shalat fardhu. Kita juga dianjurkan mengantarkan jenazah sampai jenazah tersebut dikuburkan. Berkaitan dengan liang lahat, kita diperintahkan untuk memperdalam serta memperluasnya dari sisi kepala dan kedua kaki mayit.

Keempat, tidak menangisi mayit dengan suara yang tinggi, meratapinya, menyesali kematiannya, meratapi jasa-jasanya, bahkan sampai melakukan sesuatu di luar kendali seperti merobek-robek kantong baju.

Kelima, memuji mayit dengan menyebut-nyebut perbuatan dan sifat baiknya dan tidak menyebut keburukannya, sebagaimana Rasul bersabda, “Janganlah engkau mencaci orang yang telah meninggal sebab mereka telah digiring kepada apa yang telah mereka perbuat.”
Keenam, memintakan ampun bagi orang yang telah meninggal setelah dikuburkan. Ibnu Umar r.a. menceritakan bahwa apabila Rasulullah Saw. selesai menguburkan jenazah, beliau berdiri di atas kuburnya kemudian bersabda, “Mintakanlah ampun bagi saudaramu dan berdoalah baginya agar diteguhkan sebab dia sekarang sedang ditanya.”

Ketujuh, takziah tidak memiliki hari dan waktu yang khusus. Namun demikian, takziyah disyariatkan dari sejak kematian seseorang, baik sebelum shalat atau sesudahnya, sebelum dikuburkan atau setelahnya, dan menyegerakannya lebih baik.

Kedelapan, dianjurkan meringankan beban keluarga orang yang telah meninggal dan membuatkan makanan bagi mereka dan bukan malah sebaliknya (keluarga yang sedang berduka menghidangkan makanan bagi tamu yang melayat). Hal ini sesuai sabda Nabi, “Buatlah makanan bagi kelurga Ja’far sebab telah datang kepada mereka perkara yang menyibukkan mereka.”

Kesembilan, kita dianjurkan bersedekah untuk mayit, baik berupa harta atau pun doa. [Sevi & Muslik]