Selasa, 01 Mei 2012

Editorial

BANGSA PEMARAH

Ibarat api, amarah dapat membakar benda-benda di sekitarnya. Karena dibakar oleh api amarah inilah segerombolan geng motor berambut cepak menyerbu geng motor Y-Gen yang diduga mengeroyok dan menewaskan rekan mereka, Kelasi Satu Arifin Sirih, pada 31 Maret 2012. Dilansir dari tempo.co, kematian Arifin berawal dari cekcok sopir truk dan pengemudi minibus yang berdekatan dengan arena balap liar di Kemayoran. Kesal dengan kelakuan kedua sopir yang mengganggu jalannya balapan, peserta dan penonton balap liar memarahinya. Saat itulah Arifin datang berboncengan dengan temannya, Kelasi Satu Albert Tabra, mencoba melerai. Tapi, kedatangan Arifin yang membawa sangkur menambah panas suasana. Arifin pun tewas dikeroyok sementara rekannya dapat melarikan diri. Kesal karena polisi sangat lamban mengusut kasus tersebut, geng motor rambut cepak dan berpita kuning ini pun menyerang geng motor Y-Gen pada 7, 8, dan 13 April lalu. Penyerangan yang membabi buta ini pun memakan korban jiwa dan luka-luka serta mengakibatkan kerusakan sejumlah fasilitas umum.

Ini tentu saja menambah panjang daftar pertikaian antar-geng yang terjadi di Tanah Air. Sebelum ini, kita disuguhi aksi pengeroyokan geng preman serta aksti tawuran yang dilakukan oleh siswa dan mahasiswa kita yang kerap tersulut api amarahnya gara-gara persoalan sepele. Ya, solidaritas buta dan kobaran api amarah menjadi kombinasi berbahaya yang membuat siapa saja yang terpengaruh dapat melakukan tindakan di luar akal sehatnya, bahkan hingga membunuh. Dikiranya, tindakan menghilangkan nyawa orang lain akan dibenarkan selama hal itu dilakukan demi membalaskan perlakuan serupa pada teman satu gengnya.

Dikiranya, akan disebut sebagai pahlawan jika bisa membalaskan dendam teman satu geng. Dikiranya, akan disebut jagoan kalau sudah dapat menghujamkan pukulan atau menyabetkan parang kepada korban.

Begitulah amarah. Ia dapat dengan mudah membutakan. Sehingga, kita diperintahkan untuk menahan amarah sebagaimana sebuah hadits menyatakan, “Orang kuat itu bukanlah yang menang dalam gulat, tetapi orang kuat adalah yang mampu menahan nafsu amarahnya.” (H.R. Bukhari dan Muslim)

Ya, tahanlah amarah kalian wahai bangsaku kalau tidak mau dicap sebagai bangsa pemarah, terlebih lagi bangsa barbar yang menyelesaikan berbagai permasalahan dengan jalan kekerasan. Kepada aparat yang bertanggung jawab menjaga dan memelihara keamanan di negeri ini, saatnya bapak ibu bekerja dengan lebih sigap agar kekerasan serupa tidak terjadi lagi. Bersama mari kita pulihkan nama bangsa yang dulu dikenal ramah. Insya Allah, kita pasti bisa! [Muslik]

Tafsir Tematis

WASIAT ALLAH SEPANJANG MASA (BAGIAN 2)
(Tafsir Al-Quran surat al-An’am ayat 151-153 )
Dr. Aam Amiruddin

“Katakan (Muhammad), ‘Marilah aku bacakan apa yang diharamkan Tuhan kepadamu. Jangan mempersekutukan-Nya dengan apa pun, hendaklah berbuat baik kepada ibu bapak, dan janganlah membunuh anak-anakmu karena takut miskin. Kamilah yang memberi rezeki kepadamu dan kepada mereka. Janganlah kamu mendekati perbuatan keji, baik yang terlihat maupun yang tersembunyi. Janganlah kamu membunuh orang yang diharamkan Allah kecuali dengan alasan yang benar. Demikianlah Dia memerintahkan kepadamu agar kamu mengerti. Janganlah kamu mendekati harta anak yatim kecuali dengan cara yang lebih bermanfaat sampai dia dewasa. Sempurnakanlah takaran dan timbangan dengan adil. Kami tidak membebani seseorang melainkan menurut kesanggupannya. Apabila kamu berbicara, maka bicaralah dengan adil sekalipun dia adalah kerabatmu dan penuhilah janji Allah. Demikianlah Allah memerintahkanmu agar kamu ingat.’ Sungguh, inilah jalan-Ku yang lurus. Maka, ikutilah! Jangan kamu ikuti jalan-jalan lain yang akan menceraiberaikanmu dari jalan-Nya. Demikianlah Dia memerintahkanmu agar kamu bertakwa.” (Q.S. Al-An‘am [6]: 151-153)

***

Melanjutkan pembahasan sebelumnya, berikut lima lagi wasiat yang akan menjamin keberadaan takwa dalam diri manusia sehingga akan membuat kita terjauh dari jalan kesesatan dan perpecahan.  

6. Tidak mendekati harta anak yatim kecuali dengan cara yang lebih bermanfaat hingga dia dewasa.
Merujuk pada pengertian secara bahasa, yatim artinya anak yang ditinggal ayahnya—baik karena meninggal atau alasan lainnya—yang perlu disantuni mengingat ayahnya merupakan sosok yang bertanggung jawab terhadap nafkah anak tersebut. Ada juga yang mengatakan bahwa yatim artinya anak yang ditinggal ibunya dan karenanya perlu diasuh mengingat ibu adalah sosok yang menjamin asupan ASI dan pendidikannya.

Bertolak dari pengertian secara bahasa tersebut, boleh disimpulkan bahwa kategori yatim adalah seorang anak (belum dewasa) yang kehilangan orang yang menjamin masa depan hidupnya, baik berupa biaya hidup atau pendidikannya. Dengan demikian, tidak selamanya anak yatim adalah mereka yang semata kehilangan salah satu atau kedua orangtuanya karena meninggal. Namun, termasuk juga anak telantar masa depannya karena orangtuanya tidak sanggup mengurus kebutuhan hidupnya.

Meski demikian, tidak sedikit anak yatim yang saat ditinggal orangtuanya mendapatkan sejumlah warisan. Karena usia mereka yang masih anak-anak dan belum bisa mengelola harta warisan tersebut, beberapa orang (biasanya kerabat terdekat) diserahi tanggung jawab atau dengan suka rela mengurus harta warisan itu. Dalam hal ini, mereka yang bertanggung jawab menangani pengurusan harta anak yatim hendaknya berhati-hati agar tidak memakan atau menggunakan harta tersebut secara tidak sah. Sebaliknya, jagalah harta tersebut sebaik-baiknya untuk menjadi bekal hidup mereka di masa yang akan datang.

Mengenai hal ini, Allah Swt. berfirman, “Yaitu berpikir tentang dunia dan akhirat. Mereka pun bertanya kepadamu tentang anak-anak yatim. Jawablahlah, ‘Mengurus mereka dengan baik adalah suatu kebaikan!’ Jika kamu bergaul dengan mereka, hal itu baik karena mereka adalah saudara-saudaramu. Allah mengetahui orang yang berbuat kerusakan dan orang yang berbuat kebaikan. Jika Allah menghendaki, pasti Dia mendatangkan kesulitan kepadamu. Sesungguhnya, Allah Mahaperkasa lagi Mahabijaksana.” (Q.S. Al-Baqarah [2]: 220)

Satu hal yang harus menjadi perhatian kita bahwa mengurus anak yatim tidak selalu dalam bentuk pemberian materi. Namun, bisa juga dalam bentuk tenaga dan pikiran. Hendaknya, mereka yang mengurus anak yatim menghindari hal-hal yang berbau eksploitasi. Allah Swt. memperingatkan secara tegas kepada kaum muslim pada umumnya dan para wali anak yatim pada khususnya agar tidak menyelewengkan sedikit pun harta titipan tersebut, sebagaimana firman-Nya, “Sesungguhnya orang-orang yang memakan harta anak yatim secara zalim, mereka itu menelan api dalam perutnya dan mereka akan masuk ke dalam neraka yang menyala-nyala.” (Q.S. An-Nisaa’ [4]: 10)  

7. Menyempurnakan takaran dan timbangan dengan adil.
Menyempurnakan takaran atau timbangan pada saat membeli atau menjual adalah suatu hal yang diwajibkan dalam agama. Abdullah bin ‘Abbas r.a. berkata, “Bila telah tampak pada suatu kaum kecurangan dalam mengambil harta rampasan perang, niscaya Allah Swt. akan mewariskan dalam hati mereka perasaan takut. Bila perzinaan telah merebak pada sebuah kaum, niscaya Allah Swt. akan mempertinggi tingkat kematian pada kaum tersebut. Bila suatu kaum mengurangi takaran atau timbangan, niscaya Allah Swt. akan memutuskan rezeki-Nya bagi kaum tersebut.” Selain itu, Allah Swt. juga berfirman, “Sungguh celaka orang-orang yang curang dalam menakar dan menimbang! Yaitu orang-orang yang apabila menerima takaran dari orang lain mereka minta dicukupkan, dan apabila mereka menakar atau menimbang untuk orang lain, mereka menguranginya. Tidakkah mereka itu yakin bahwa mereka pasti akan dibangkitkan? Pada suatu hari yang besar, pada hari ketika semua orang bangkit menghadap Tuhan seluruh alam.” (Q.S. Al-Muthaffifiin [83]: 1-6)

8. Berkata adil kepada setiap orang (dalam menetapkan hukum di antara mereka).
Berlaku adil dalam segala keadaan kepada setiap orang merupakan perkara wajib. Berlaku adil dalam menetapkan hukum di antara manusia merupakan kewajiban yang tidak bisa ditawar serta tidak ada dispensasi maupun uzur. Tentunya, perlakuan adil di sini adalah secara zahir dan dalam batas-batas kemanusiaan. Allah Swt. berfirman, “Hai orang-orang beriman! Jadilah kamu sebagai penegak keadilan karena Allah ketika menjadi saksi dengan adil. Janganlah kebencianmu terhadap suatu kaum mendorongmu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah karena adil itu lebih dekat pada takwa. Bertakwalah kepada Allah. Sesunguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (Q.S. Al-Maa’idah [5]: 8)

Namun, tidak berarti keadilan selalu identik dengan hukum. Sehingga, hanya mereka yang bersangkutan dengan hukum saja seolah yang wajib berkata dan berlaku adil. Perlakuan adil semestinya menjadi perhiasan dalam setiap sikap dan tindakan manusia. Suami berlaku adil kepada istri dan sebaliknya, orangtua kepada anaknya dan sebaliknya, dan seterusnya. “Hai orang-orang beriman! Jadilah kamu penegak keadilan, menjadi saksi karena Allah, walaupun terhadap dirimu sendiri, ibu bapakmu, dan kerabatmu. Jika terdakwa itu kaya atau miskin, Allah lebih mengetahui kemaslahatannya. Karenanya, jangan kamu mengikuti hawa nafsu karena ingin menyimpang dari kebenaran. Jika kamu memutarbalikkan kata-kata atau enggan menjadi saksi, ketahuilah Allah Mengetahui segala hal yang kamu kerjakan.” (Q.S. An-Nisaa’ [4]: 135)

9. Memenuhi janji kepada Allah Swt. Memenuhi janji kepada Allah Swt. diwujudkan dengan melaksanakan segala perintah-Nya (baik yang wajib maupun yang sunah) serta meninggalkan segala larangan-Nya. Barangsiapa telah memenuhi hak Allah Swt. atasnya, niscaya Allah akan memberikan ganjaran yang setimpal akan usahanya itu. Dan, barangsiapa yang menyia-nyiakannya, niscaya Allah Swt. pun akan menyia-nyiakan dirinya.

Allah Swt. berfirman, “Sungguh, Allah telah mengambil perjanjian dari Bani Israil dan Kami telah mengangkat dua belas orang pemimpin di antara mereka. Allah berfirman, ‘Aku bersamamu.’ Sungguh, jika kamu melaksanakan salat dan menunaikan zakat serta beriman kepada rasul-rasul-Ku dan kamu bantu mereka dan kamu pinjamkan kepada Allah pinjaman yang baik, pasti akan Aku hapus kesalahan-kesalahanmu, dan pasti akan Aku masukkan ke dalam surga yang di bawahnya mengalir sungai-sungai. Namun, siapa pun yang kafir setelah itu, maka sesungguhnya dia telah tersesat dari jalan yang lurus.” (Q.S.Al-Maa’idah [5]: 12)  

10. Mengikuti jalan Allah Swt. yang lurus. Abdullah bin Mas‘ud r.a. berkata, “Rasulullah Saw. pernah menggambar sebuah garis lurus, kemudian beliau berkata, ‘Ini adalah jalan Allah Swt.’ Setelah itu, beliau (kembali) menggambar beberapa garis melenceng di sebelah kanan dan kiri garis lurus tersebut. Beliau berkata, ‘Ini adalah jalan-jalan melenceng. Tidak satu pun dari jalan tersebut, melainkan padanya ada setan yang senantiasa memanggil.’ Selanjutnya, beliau membaca ayat Allah Swt. ‘Dan bahwa (yang Kami perintahkan) ini adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah ia; dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu menceraiberaikan kamu dari jalan-Nya. Yang demikian itu diperintahkan Allah kepadamu agar kamu bertakwa.’” Wallahu a‘lam.

Bedah Hadits

“MUAKHAH” DAN KESEIMBANGAN MENUNAIKAN HAK
(Bagian Satu)
Tate Qomaruddin

Dari Abi Juhfah (Wahb bin Abdillah)—semoga Allah meridhoinya— dia mengatakan, Nabi Muhammad Saw. mempersaudarakan antara Salman dan Abu Darda—semoga Allah meridhoi keduanya. Maka, Salman mengunjungi Abu Darda. Salman melihat Ummu Darda berpenampilan lusuh. Berkatalah Salman, “Bagaimana keadaanmu?” Ummu Darda menjawab, “Saudaramu (Abu Darda) tidak punya kebutuhan apa pun terhadap dunia.” Lalu datanglah Abu Darda kemudian menghidangkan makanan untuknya seraya mengatakan, “Makanlah, aku sedang berpuasa.” Salman menjawab, “Aku tidak akan makan kecuali jika engkau makan.” Maka, Abu Darda pun makan. Di waktu malam bangunlah Abu Darda (untuk Shalat Malam). Salman mengatakan kepadanya, “Tidurlah.” Maka, Abu Darda pun tidur kembali. Kemudian Abu Darda bangkit kembali. Lalu, Salman mengatakan, “Tidurlah.” Maka, Abu Darda pun tidur kembali. Ketika memasuki akhir malam, berkatalah Salman, “Bangunlah sekarang.” Lalu mereka pun shalat berdua. Salman mengatakan kepada Abu Darda, “Sesungguhnya Tuhanmu mempunyai hak atasmu yang harus kautunaikan, dirimu punya hak atasmu yang harus kautunaikan, dan keluargamu punya hak atasmu yang harus kautunaikan. Maka, tunaikanlah hak kepada setiap pemiliknya.” Salman lalu mendatangi Rasulullah Saw. dan menceritakan yang terjadi. Berkatalah Nabi Saw., “Salman benar.” (H.R. Bukhari)

Ada banyak pelajaran yang dapat kita petik dari hadits sahih tersebut. Di antara perlajaran-pelajaran itu adalah:

Pertama, betapa pentingya persaudaraan (ukhuwah) atas dasar iman sehingga Rasulullah Saw. menjalankan program muakhah atau ta’akhi. Muakhah atau ta’akhi bermakna mempersaudarakan. Inilah yang dilakukan Rasulullah Saw. dalam membangun masyarakat Islam di Madinah Al-Munawwarah setelah membangun masjid. Beliau menginstruksikan kepada kaum Muhajirin dan Anshar, “Bersaudaralah kalian dua orang dua orang.” Maka, bersaudaralah satu orang Muhajirin dengan satu orang Anshar. Abu Bakar Ash-Shiddiq dengan Kharijah bin Zuhair, Umar bin Khattab dan ‘Utban bin Malik, Utsman bin ‘Affan dengan Aus bin Tsabit, Abu Dzar dengan Mundzir bin ‘Amr, Salman Al-Farisi dengan Abu Darda, dan seterusnya.

Hadits tersebut menggambarkan bagaimana interaksi antara dua orang sahabat yang dipersaudarakan oleh Rasulullah Saw., yakni Salman Al-Farisi dan Abu Darda—semoga Allah meridhoi keduanya. Sebetulnya, kisah persaudaraan antara Salman Al-Farisi dan Abu Darda sebagaimana yang dimuat dalam hadits tersebut bukanlah satu-satunya. Sebelum kejadian itu, ada peristiwa menarik sebagaimana diriwayatkan oleh Thabarani berikut ini.

Bahwa Abu Darda pergi bersama Salman untuk melamar seorang gadis dari Bani Laits (untuk Salman). Masuklah Abu Darda (ke rumah orangtua sang gadis) seraya menyebutkan kelebihan-kelebihan, kesenioran dan keislaman Salman. Abu Darda juga menyebutkan bahwa dia melamar putri mereka untuk Salman. Mereka (orangtua si gadis) mengatakan, “Adapun Salman, kami tidak akan menikahkannya dengan anak kami. Tapi kami akan menikahkan engkau.” Akhirnya Abu Darda menikahi gadis itu. Dia mengatakan kepada Salman, “Ada sesuatu yang aku malu mengatakannya kepadamu.” Salman menyahut, “Apa itu?” Abu Darda pun menyampaikan apa yang terjadi. Salman mengatakan, “Saya yang seharusnya malu padamu. Karena saya melamar dia padahal Allah sudah menetapkan dia untukmu.” (H.R. Thabarani)

Muakhah yang dilakukan Rasulullah Saw. paling tidak mempunyai tujuan-tujuan berikut:
  1. Untuk menghilangkan rasa keterasingan dan kesendirian dalam hati para Muhajirin dengan keberadaan mereka di negeri orang. Sementara mereka hadir di negeri itu dengan meninggalkan tanah kelahiran, harta, bahkan sanak famili. 
  2. Untuk merealisasikan atau mewujudkan nilai-nilai al-wala (kesetiaan) dan al-bara (pemutusan hubungan kesetiaan atau berlepas diri). 
  3. Setia dan cinta kepada orang-orang beriman dan menolak kepatuhan dalam kemaksiatan dan kemungkaran.
  4. Menanamkan ruh senasib sepenanggungan, saling meringankan beban, dan saling berempati kepada sesama. 
  5. Muakhah juga dimaksudkan untuk menjadi solusi bagi persoalan ekonomi kaum Muhajirin. Mereka datang hanya membawa keiman dan kecintaan kepada Allah serta Rasul-Nya. Sedangkan harta, bisnis, ladang, dan ternak mereka tinggalkan di Mekkah. 
  6. Muakhah merupakan sarana teramat penting bagi upaya konsolidasi umat Rasulullah Saw. dengan segala potensi dan kekuatannya. Ini adalah upaya Rasulullah Saw. untuk memastikan bahwa orang-orang beriman benar-benar bagaikan satu tubuh atau satu bangunan. 
Lebih dari itu semua, konsep ta’akhi tidak lain adalah upaya praktik dan implementasi nilai-nilai yang diajarkan Rasulullah Saw. kepada para pengikutnya dalam kehidupan sosial secara nyata setelah mereka mendapatkan berbagai nilai kebaikan di dalam masjid. Rasulullah Saw. tidak menghendaki ajaran-ajarannya hanya sebatas teori di benak para sahabat. Dan ternyata, tarbiyah Rasulullah Saw. berhasil!

Sampai-sampai orang-orang Muhajirin sendiri, sebagai pendatang yang mendapatkan segala kebaikan orang Anshar, mengatakan kepada Rasulullah Saw, “Wahai Rasulullah, kami belum pernah mendapati seperti kaum yang kami datangi ini (yakni kaum Anshar). Mereka pandai menghibur saat kesulitan dan paling baik berkorban saat bercukupan. Mereka telah mencukupi kebutuhan hidup kami dan berbagi kepada kami dalam hal tempat tinggal. Sampai-sampai kami khawatir mereka memborong pahala semuanya.” Rasulullah Saw menjawab, “Tidak (kalian tidak akan kehilangan pahala), selama kalian memuji mereka dan mendoakan kebaikan untuk mereka.”

Tentang muakhah ini, Ustadz Munir Muhammad Ghadban dalam bukunya Fiqhus-Sirah An-Nabawiyyah memberikan catatan antara lain, “Konsep muakhah yang dilakukan Rasulullah Saw. adalah yang pertama dalam sejarah kemanusiaan. Bahwa Rasulullah Saw. memerintahkan dan memantau langsung program muakhah ini, tidak mengandalkan orang lain dan tidak hanya memberikan taujih (arahan) dengan kata-kata. Dengan muakhah, maka hiduplah jiwa kasih sayang dan kesiapan berkorban.”

Dengan kedekatan dan persaudaran itu, maka terjadilah proses saling menasihati dan memperbaiki diri masing-masing. Seorang saudara bisa mendapat pengingatan dari saudaranya atau sebaliknya mengingatkan saudaranya jika melihat terjadinya penyimpangan atau kekeliruan.

Setiap manusia selalu butuh pihak lain yang memberikan motivasi di saat lesu dalam beramal dan berjuang, atau menenangkan jiwa di kala galau, atau meneguhkan hati agar tetap sabar saat berhadapan dengan segala ujian, rintangan, dan tantangan. Dan, semua itu dapat kita peroleh manakala ada sebuah lingkaran persudaraaan yang erat dan solid yang setiap orang bertanggung jawab tentang kondisi saudaranya.

Perhatikanlah, sebagaimana dituturkan dalam hadits tersebut, Salman Al-Farisi berkunjung ke rumah Abu Darda untuk bersilaturahim dan menginap (mabit). Dalam kunjungan itu, Salman menangkap ada sesuatu yang “tidak beres” pada keluarga itu. Ketidakberesan itu mulai terindentifikasi dari penampilan Ummu Darda, istri Abu Darda, yang dalam hadits tersebut disebutkan “mutabadzdzilah”. Dalam kitab Riyadhush-Shalihin karya Imam An-Nawawi disebutkan arti “mutabadzdzilah” adalah: “Mengenakan pakaian kerja, bukan pakaian perhiasan.”

Dalam bahasa sederhanya, maknanya “lusuh”. Pemandangan itu mendorong Salman untuk bertanya tentang apa yang terjadi pada Ummu Darda. Pertanyaan yang menyiratkan kekhawatiran. Dan di luar dugaan, Ummu Darda menjawab pertanyaan itu dengan menjelaskan secara implisit tentang keadaan keluarganya dan cara pandang sang suami tentang kehidupan, “Saudaramu (Abu Darda) tidak punya kebutuhan apa pun terhadap dunia.” Saat itu, saat melihat keadaan Ummu Darda dan saat mendengar jawabannya, Salman tidak berkomentar apa pun. Dia hanya diam. Tapi pemandangan dan kata-kata tadi disimpannya dalam memori untuk digunakan pada saatnya. Itulah wujud kepedulian kepada saudara seiman dan keluarganya sekaligus.

Tindaklanjutnya adalah upaya menasihati dan meluruskan persepsi yang salah yang dimiliki oleh Abu Darda. Pada saat dihidangkan makanan oleh Abu Darda sebagai tuan rumah, dan Salman dipersilakan makan, dia menolak makan jika tuan rumah tidak ikut makan. Sedangkan Abu Darda tidak mau makan karena sedang puasa (sunah).

Salman menolak makan kecuali jika tuan rumah membatalkan puasanya dan makan bersama dengannya. Bukan karena Salman ingin menghalang-halangi Abu Darda dari ibadah, melainkan karena Salman ingin meluruskan pemahaman tentang ibadah dan kasalehan yang dimiliki oleh Abu Darda. Dan, Salman sudah memperoleh informasi yang cukup tentang adanya salah paham pada saudaranya itu, tentang dunia, tentang ibadah, dan tentang hak orang lain. Dari mana dia memperoleh informasi tersebut? Dari tampilan dan pernyataan istrinya.

Belum selesai sampai di situ. Salman bermalam di rumah Abu Darda. Malam belumlah larut. Namun, Abu Darda sudah bangun dari tidurnya dan bangkit untuk melaksanakan Qiyamullail. Segera saja Salman menghentikan langkahnya dengan menyuruhnya untuk tidur. Abu Darda menurutinya. Memasuki tengah malam, Abu Darda bangun lagi dan bangkit untuk Shalat Malam. Lagi-lagi, Salman menghentikan dia dan menyuruhnya untuk kembali tidur.

Saat memasuki bagian akhir malam, Salmanlah yang bangun lebih dahulu dan membangunkan Abu Darda seraya mengajak Qiyamullail bersama. Dan, mereka pun shalat. Usai shalat, Salman menasihati saudaranya itu dengan mengatakan, “Sesungguhnya Tuhanmu mempunyai hak atasmu yang harus kautunaikan, dirimu punya hak atasmu yang harus kautunaikan, dan keluargamu punya hak atasmu yang harus kautunaikan. Maka, tunaikanlah hak kepada setiap pemiliknya.”

Begitulah proses saling menasihati itu terjadi. Nasihat yang didasarkan pada kecintaan dan kasih sayang. Nasihat yang membangun dan mencerahkan. Bukan nasihat yang menjatuhkan dan membuat seseorang terpuruk. Mereka saling mendukung dalam menapaki jalan Islam secara benar.

Lalu, apa makna penting lain dari nasihat yang disampaikan Salman Al-Farisi kepada Abu Darda itu? Ikuti uraiannya pada edisi mendatang, Insya Allah.

Hikmah

KISAH TIGA PENYELAM

Tersebutlah tiga orang lelaki di tengah lautan. Mereka menumpang sebuah perahu sederhana. Mereka berada di sana bukan sedang tersesat. Mereka menyengaja datang untuk mencari kerang mutiara. Mereka membawa peralatan menyelam dan tabung oksigen yang hanya berkapasitas tiga jam. Karena tabung oksigen hanya satu, mereka tidak bisa menyelam bersama-sama. Mereka sepakat menyelam satu per satu dengan jatah waktu masing-masing selama satu jam.

Setelah menurunkan jangkar sederhana, turunlah orang pertama dengan peralatan selam. Begitu menyelam, penyelam pertama begitu terpesona dengan pemandangan bawah laut. Dia terus berdecak kagum dengan karang-karang serta ikan-ikan yang berenang ke sana kemari. Saking asyiknya, tanpa terasa, waktu satu jam sudah habis. Karena sudah sepakat, penyelam pertama pun kembali ke permukaan tanpa membawa satu pun kerang mutiara.

Kini giliran penyelam kedua. Setelah mengenakan peralatan, dia langsung menceburkan diri ke laut. Begitu menyelam, dia tidak tergoda dengan panorama bawah laut yang memesona. Dia sibukkan diri dengan misi semula, yakni mencari dan mengumpulkan kerang mutiara sebanyak-banyaknya. Begitu waktu satu jam habis, penyelam kedua segera timbul ke permukaan dengan kerang mutiara yang banyak.

Sekarang giliran penyelam ketiga. Dia langsung menyelam ketika peralatan sudah dikenakannya. Begitu sampai di bawah laut, dia begitu terpesona dengan pemandangan laut. Namun, dia juga tidak lupa dengan misinya mencari kerang mutiara. Maka, yang dia lakukan adalah berusaha mencari kerang mutiara sembari menikmati pemandangan laut yang sayang untuk dilewatkan. Satu jam kemudian, dia sudah timbul di permukaan dengan kerang mutiara yang cukup, serta pengalaman mengasyikkan di bawah laut dengan panoramanya yang indah. [Fatih]

Percik Sains

YANG MATI LEBIH BANYAK
Ir.H. Bambang Pranggono, MBA

“Sebagaimana orang-orang sebelum kamu, mereka lebih hebat kekuatannya dari padamu dan lebih banyak hartanya dan anak-anaknya.” (Q.S. At-Taubah [9]: 69)

Pada Oktober 2011 yang lalu, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menyatakan bahwa jumlah penduduk dunia persis mencapai tujuh miliar jiwa. Orang-orang mengira bahwa angka itu sangat besar. Mereka berpikir bahwa jumlah manusia yang hidup saat ini jauh lebih banyak dari manusia pada zaman dahulu. Namun, ayat Al-Quran yang menjadi pembuka tulisan ini memberi informasi yang berbeda.

Abu Laits As-Samarqandi dalam tafsirnya Bahrul Ulum menguraikan bahwa ayat tersebut merupakan ancaman kepada orang kafir dan munafik. Mereka tetap akan diazab oleh Allah Swt. walaupun memiliki banyak harta dan keturunan sebagaimana orang-orang sebelum mereka yang notabene lebih banyak memiliki harta dan keturunan. Nah, penghitungan oleh Biro Referensi Kependudukan PBB di Washington menunjukkan fakta yang justru memperkuat sinyalemen Al-Quran tersebut. Wendy Baldwin dari biro tersebut mengatakan bahwa di abad ke-20, angka kelahiran menurun dari 40 kelahiran setiap tahun per 1.000 orang menjadi 31 pada 1995 dan sekarang turun lagi menjadi 23.

Ya, tren angka kelahiran manusia terus menurun. Saat ini, usia rata-rata manusia adalah 75-85 tahun. Dugaan para ilmuwan menyatakan bahwa usia manusia zaman dahulu lebih pendek. Logikanya, perlu angka kelahiran yang tinggi, 80 per 1.000 orang setahun demi menjaga kelanjutan hidup spesies manusia. Di abad pertengahan, usia rata-rata manusia hanya mencapai belasan tahun karena wabah. Artinya, walaupun angka kelahiran banyak, tetapi jarang yang sempat mencapai usia dewasa.
Tahun//Jumlah Manusia//Kelahiran/Tahun/1.000 Orang//Jumlah yang Lahir Sejak Data Sebelumnya
8000 SM//5.000.000//80//1 miliar
1 M//300.000.000//80//46 miliar
1200 M//450.000.000//60//26 miliar
1800 M//1.000.000.000//50//15 miliar
1900 M//1.700.000.000//40//7 miliar
2011 M//7.000.000.000//23//11 miliar

Apabila disepakati penghitungan dimulai pada 50.000 SM, yakni ketika homo sapiens mulai muncul, dan dilanjutkan sampai sekarang, maka jumlah manusia yang pernah hidup mencapai 106 miliar orang. Ini jauh di atas jumlah orang yang hidup sekarang. Bila informasi ayat Al-Quran yang menyatakan bahwa orang-orang terdahulu lebih kuat tersebut dipakai, artinya usia mereka lebih panjang dan bisa mencapai ratusan tahun. Akibatnya, masa memproduksi anak lebih lama dan estimasi jumlah manusia yang pernah hidup di bumi menjadi berpuluh kali lipat dan bisa mencapai triliunan orang dibanding dengan “hanya” tujuh miliar orang yang hidup sekarang.

Walhasil, dengan skenario pesimis maupun optimis, jumlah orang mati tetap jauh lebih banyak, selaras dengan informasi dari ayat suci Al-Quran tersebut. Wallahu a‘lam.

Bedah Masalah

BOLEHKAH MENAMAI ANAK DENGAN “ASMAUL HUSNA”?
Dr. Aam Amiruddin  

Saya pernah mendengar ada ulama yang tidak membolehkan kita menamai anak dengan menggunakan asmaul husna semisal Malik atau Rahman karena dianggap menantang kebesaran nama Allah. Benarkah hal tersebut, ustadz?

Memberi nama yang baik merupakan anjuran Rasulullah Saw. bagi orangtua sebagai doa dan harapan untuk masa depan anak tersebut. Hal ini sesuai dengan dua hadits berikut, “Kewajiban orangtua pada anaknya adalah memberinya nama yang baik dan mendidiknya dengan baik.” (H.R. Baihaqi)

Dari Samurah r.a., Rasulullah Saw. bersabda, “Setiap anak tergadaikan dengan aqiqahnya, dia disembelih hari ketujuh (dari kelahirannya), dicukur, dan diberi nama.’” (H.R. Ahmad dan Imam Empat. Hadits ini sahih menurut Tirmidzi)

Memberi nama yang baik untuk anak tentu harus memperhatikan berbagai ketentuannya, misalnya nama tersebut mengandung makna yang baik, seperti saleh, syukur, sabar, dan lain-lain. Selain itu, nama yang dipilih dapat pula disandarkan pada orang-orang saleh, seperti para nabi, sahabat, dan lain sebagainya.

Meskipun demikian, sebagian ulama menganjurkan agar tidak memakai nama-nama Allah yang disebut asmaul husna secara langsung karena nama itu dipandang hanya milik Allah Swt. Penggunaan asmaul husna untuk nama anak, seperti Aziz, Muhaimim, dan yang lainnya sama saja dengan mencantumkan nama Allah pada nama tersebut.

Namun, hal tersebut tidak berarti bahwa asmaul husna tidak bisa dipakai untuk penamaan anak sama sekali. Untuk tidak mengesankan “mencatut” nama Allah, maka sebaiknya memakai kata “abdu” di depannya. Misalnya Abdullah, Abdurrahman, Abdul-‘Aziz dan lain sebagainya.

Kemudian, tidak jarang pula akhirnya nama yang memakai asmaul husna menjadi nama panggilan, seperti Aziz, Ghafar, dan lain sebagainya. Sejauh ini, menurut saya tidak ada masalah selama nama asli yang bersangkutan memakai kata “abdu” di depannya. Wallahu a‘lam  

***

KETIKA SHALAT KITA TIDAK DITERIMA  

Sepengetahuan saya, dosa yang tidak diterima shalatnya selama 40 hari hanya minum minuman keras alias khamr dan pergi ke dukun. Adakah perbuatan lain yang bernilai dosa serupa? Lalu, selama shalat kita tidak diterima pahalanya tersebut, apakah kita tetap menjalankan shalat atau tidak?

Memang betul yang diungkapkan beberapa hadits Rasulullah bahwa seseorang yang melakukan perbuatan seperti yang Anda sebutkan akan mendapat balasan berupa tidak diterimanya shalat selama 40 hari. Logikanya, satu kali saja shalat ditinggalkan akan mendapat siksa, apalagi selama 40 hari yang setiap harinya shalat dikerjakan 5 kali. Jika dihitung berarti 40 dikali 5 sama dengan 200 kali shalat. Ini menunjukkan betapa besarnya dosa pergi ke dukun dan meminum minuman keras.

Tentunya, logika yang salah jika selama hukuman 40 hari shalat tidak diterima lantas tidak melakukan shalat sama sekali. Ini berarti kita mendapatkan dobel siksa, satu siksa karena pergi ke dukun atau mabuk dan satu dosa lagi karena meninggalkan shalat. Wallahu a’lam  

***

KALAU IMAM TIDAK FASIH BACA AL-QURAN  

Bagaimana hukum menjadi makmum shalat yang imamnya kurang fasih melafalkan ayat Al-Quran? Apakah pahala shalat kita berkurang kalau imam tersebut salah makhraj atau tajwid ketika membaca ayat Al-Quran? Lantas, bagaimana pula cara kita memberi tahu kesalahan bacaan imam tersebut? Apakah setiap dia salah baca kita diperbolehkan mengoreksinya secara langsung (saat shalat) atau setelah selesai shalat?

Sebelumnya, mari kita perhatikan hadits berikut ini. Amar Ibnu Salamah berkata, ayahku berkata, “Aku sampaikan sesuatu yang benar-benar dari Rasulullah Saw. Beliau bersabda, ‘Bila waktu shalat telah datang, maka hendaknya seorang di antara kamu berazan dan hendaknya orang yang paling banyak menghafal Quran di antara kamu menjadi imam.’ Amar berkata, lalu mereka mencari-cari dan tidak ada seorang pun yang lebih banyak menghafal Quran melebihi diriku, maka mereka memajukan aku (untuk menjadi imam) padahal aku baru berumur enam atau tujuh tahun.” (H.R. Bukhari, Abu Dawud, dan Nasa’i)

Ada anjuran bahwa untuk meminimalisasi kesalahan saat shalat berjamaah, kita memilih imam dengan kompetensi yang memadai seperti dinyatakan dalam hadits tersebut, terutama dalam hal tilawatil-quran. Kenyataannya, sering terjadi penunjukkan imam lebih dilatarbelakangi oleh status sosial atau jabatan, sementara kemampuan intinya (tilawatil-quran ) tidak diperhatikan. Dan, inilah yang umum menyebabkan makmum dibuat bingung dengan kondisi imam.

Ketika memang kondisi sudah terjadi dan imam melakukan sejumlah kesalahan dalam bacaan Al-Qurannya, maka petunjuk Rasulullah mengenai hal tersebut diungkap dalam riwayat Muslim yang menyatakan, “mengucapkan tasbih untuk laki-laki dan tepuk tangan untuk perempuan”. Hanya itu cara memberi tahu imam manakala dia melakukan kesalahan, baik gerakan ataupun bacaan. Khusus mengenai bacaan Al-Quran, sebagian ulama menyarankan agar kita melakukan cara di luar yang ditentukan hadits tersebut, yaitu dengan mengoreksi langsung terkait bacaan yang sedang dilafazkan. Cara tersebut tidak dipermasalahkan. Hanya saja, akan lebih selamat jika kita terlebih dahulu mengikuti cara yang ditetapkan hadits, yaitu dengan mengucapkan subhanallah bagi laki-laki dan tepuk tangan (sekali saja) bagi perempuan. Jika ternyata cara tersebut telah dilakukan namun imam tetap melakukan kesalahan, maka tanggung jawab sepenuhnya ada pada imam. Wallahu a’lam  

***

CIRI AHLI SHALAT  

Saya ingin mengetahui makna ayat yang artinya, “Muhammad adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersamanya bersikap tegas terhadap orang-orang kafir, tetapi penuh kasih sayang sesama mereka. Kamu melihat mereka ruku dan sujud mencari karunia Allah dan keridhoan-Nya. Pada wajah mereka tampak tanda-tanda bekas sujud.” (Q.S. Al-Fath [48]: 29). Sebagian orang menerjemahkan ayat ini menjadi dahi yang menghitam karena keseriusan dan seringnya kita shalat (wajib dan sunah). Pertanyaan saya, apakah memang harus seperti itu (dahi menghitam) untuk membuktikan diri kita sebagai ahli shalat?

Bila kita buka sejumlah kitab tafsir Al-Quran, maka akan didapati bahwa pengertian atsar pada wajah yang disebutkan dalam hadits tersebut umumnya merujuk pada kualitas yang dipancarkan wajah. Ibnu Abbas menafsirkannya sebagai “perangai yang baik” dan Mujahid menafsirkannya sebagai “kekhusuan dan ketawadhuan”. Dan, seperti itu pula penafsiran dari ahli tafsir lainnya. Atsar pada wajah bukan pada kondisi fisik (kulit) wajah karena dihawatirkan ada sebab lain (hal tersebut terjadi) selain karena rajinnya dalam shalat. Boleh jadi karena kualitas sajadahnya (yang kasar), kulitnya (yang sensitif), atau yang lainnya. Bukankah untuk kalangan perempuan, tanda hitam pada kening cukup jarang terjadi? Padahal, cukup banyak perempuan yang rajin shalat. Sementara, ayat di atas berlaku bagi bagi laki-laki dan perempuan. Wallahu a’lam  

***

BAGAIMANA MENDETEKSI PENGAJIANMENYIMPANG?  

Anak saya yang baru saja masuk kuliah tengah getol-getolnya ikut pengajian di kampusnya. Meski senang, saya agak khawatir juga dia terbawa berbagai aliran ekstrem yang dulu sempat marak. Nah, tindakan apa yang harus saya lakukan agar anak saya tidak terjerumus pada kelompok ekstremis. Apa saja ciri-ciri gerakan atau pengajian tersebut sehingga saya bisa menasihati anak saya kalau terindikasi pengajian yang diikutinya menyimpang dari ajaran Islam? Mohon penjelasannya, Ustadz.

Sikap Anda dalam memperhatikan pendidikan agama anak Anda saya nilai sudah tepat. Sebagai orangtua, selayaknya kita berbangga manakala anak memiliki kecenderungan untuk banyak beraktivitas dalam bidang keagamaan. Mudah-mudahan, di kemudian hari anak-anak kita menjadi anak yang saleh. Amin.

Namun, di balik kebanggaan itu, perlu kiranya kita mewaspadai adanya sejumlah kelompok yang ingin memanfaatkan semangat beragama anak-anak kita demi kepentingan tertentu yang belum tentu benar. Salah satu cara pengawasan terhadap aktivitas anak dalam bidang keislaman adalah mengetahui sumber ajaran yang diterima, baik gurunya atau buku-buku sumber yang dipakai. Lebih baik lagi bila Anda selaku orangtua dapat menganalisis sumber tersebut secara langsung. Kalaupun tidak, Anda bisa berkonsultasi dengan orang yang lebih tahu.

Memang tidak mudah mendeteksi keberadaan pengajian yang dapat menyesatkan akidah putra-putri kita karena sifat gerakannya yang bisa dibilang underground. Tapi, paling tidak, beberapa ciri khas yang dapat kita deteksi adalah sebagai berikut.
  1. Pengajian dilakukan secara sembunyi-sembunyi, umumnya dilakukan tengah malam.
  2. Doktrin yang disampaikan umumnya selalu dirahasiakan. 
  3. Peserta pengajian selalu diminta untuk tidak mengumumkan siapa gurunya. 
  4. Sumber rujukannya eksklusif dan jarang ditemukan. 
  5. Perubahan yang tidak biasa terkait hubungan dengan keluarga. 
  6. Perubahan cara pandang secara drastis terhadap jalan dan pandangan hidup. 
Banyaknya aliran pengajian yang menyesatkan yang berkembang saat ini tentu saja menyulitkan kita mendeteksinya satu persatu. Di sinilah pentingnya komunikasi antara Anda dan anak sehingga Anda dapat memantau perkembangan pemahaman buah hati. Wallahu a‘lam.  
BAGAIMANA MENASIHATI ORANGTUA AGAR LEKAS BERHAJI?  

Bagaimana cara menasihati orangtua yang sebenarnya sudah mampu berhaji tapi masih enggan melaksanakannya dan bahkan lebih memilih menggunakan uang yang dimilikinya untuk membeli mobil baru?

Sebelumnya, kita harus memahami terlebih dahulu mengenai yang dimaksud dengan istitha‘ah (mampu) yang menjadi syarat datangnya kewajiban haji. Dan, ketika istitha‘ah itu betul-betul sudah ada, apa yang harus segera dilakukan dan apa akibat dari melalaikan kewajiban haji yang sudah saatnya.

Istitha‘ah dalam haji dimaknai lengkap oleh para ulama, bukan hanya pada masalah finansial, namun juga masalah kekuatan fisik, kendaraan, bekal, keamanan dalam perjalanan, dan keseluruhan aspek pendukungnya. Jika keseluruhan sarana itu sudah ada, termasuk finansial, maka yang harus segera dilakukan adalah memproses persyaratan untuk keberangkatan haji.

Menunda berhaji bagi yang telah mampu melaksanakannya tentu saja menyalahi perintah agama dan bisa berakibat dosa dan hilangnya keberkahan harta yang dimiliki. Kecuali, jika penundaan tersebut karena dana yang ada digunakan untuk memenuhi kebutuhan yang tidak bisa ditawar-tawar, misalnya pembelian mobil karena menunjang usaha yang memang tengah dirintis atau ada kepentingan bersama yang bisa dirasakan manfaatnya. Maka, sepanjang tetap pada niatan haji yang kuat, insya Allah hal tersebut tidak menjadi masalah.  

***

CURHAT ATAU BONGKAR AIB?  

Saya seorang muslimah yang memiliki teman dekat (muslimah juga) sejak kecil. Kedekatan kami sejak kecil membuat kami terbiasa curhat semua permasalahan yang dihadapi masing-masing. Pun ketika kami sudah sama-sama menikah, kebiasaan tersebut masih sering kami lakukan. Akhir-akhir ini, curhatan teman saya tersebut membuat saya agak risi karena dia kerap membicarakan keburukan suaminya karena memang rumah tangganya tengah bermasalah. Yang ingin saya tanyakan, apakah hal tersebut masuk dalam kriteria membongkar aib rumah tangga orang lain, mengingat saya juga kurang bisa memberi masukan yang berarti atas permasalahan teman saya tersebut. Mohon penjelasannya, Ustadz.

Membuka aib orang lain merupakan perbuatan tercela, apalagi objeknya adalah pasangan suami-istri atau keluarga lain. Kalau memang sudah terpaksa, para ulama membolehkan kita membuka permasalahan yang sedang dihadapi selama hal tersebut dilakukan dalam rangka mencari solusi terbaik. Berbeda dengan kondisi seperti yang Anda tanyakan. Saya melihat tidak ada kebutuhan dan kepentingan ke arah yang lebih baik, mengingat yang dilakukan sebatas curhat sesama teman yang belum tentu memberi kebaikan kepada kedua belah pihak. Wallahu a’lam.

Smart Parenting

DUH… ANAKKU KOK TIDAK MAU PATUH?
Ihsan Baihaqi Ibnu Bukhari

Ibu Lena kerap dibuat bingung ketika anak semata wayangnya susah disuruh mandi. Setiap pagi dan sore hari, dia harus membujuk Rio agar mau mandi dengan beragam iming-iming. Dari dibelikan mobil-mobilan baru, sampai diajak ke pasar karnaval minggu depan. Namun, semua itu tidak serta merta membuat Rio bergegas ke kamar mandi. Kalaupun akhirnya Rio beranjak ke kamar mandi, dia asyik berendam di ember besar beserta bebek-bebek plastik kesayangannya.

Kisah ibu Maya beda lagi. Anak bungsunya hanya mau taat pada perintahnya jika suaminya ada di rumah. Dengan kata lain, sang anak lebih patuh pada perintah ayahnya daripada aturan ibunya. Satu dua kali, hal tersebut tidak mendatangkan masalah. Tetapi, lama kelamaan, ibu Maya merasa seperti dimanipulasi oleh anaknya tersebut. Bagaimana tidak? Setiap curhat tentang kelakuan anaknya, sang suami seolah tidak percaya karena memang di depannya, anaknya selalu tampil “manis”.

Ya, mendisiplinkan anak adalah tantangan tersendiri bagi orangtua. Beragam cara dan metode banyak dikemukakan para ahli, tetapi toh pada kenyataannya, mendisiplinkan anak tidak semudah seperti yang didiskusikan dalam seminar parenting. Pertanyaannya, di mana letak kesalahannya? Teorinya ataukah implementasinya?

Tanpa bermaksud menyalahkan salah satu pihak, penulis sampai pada satu kesimpulan bahwa mengajarkan kepatuhan kepada anak tidak perlu dengan cara kekerasan dan paksaan. Untuk mendisiplinkan anak, kita bisa memulainya dengan rumus 4K.

Keakraban. Ciptakan keakraban dalam interaksi dengan anak. Dua sarana yang dapat menciptakan keakraban antara anak dan orangtua adalah curhat dan lebih banyak meluangkan waktu bersama mereka. Dalam forum curhat, jadilah teman yang dapat menampung segala unek-unek dan isi hati anak. Ini akan meningkatkan kepercayaan anak terhadap orangtua yang pada gilirannya akan membuatnya terbuka mengenai alasannya tidak taat atau kerap mengabaikan perintah orangtua. Disarankan pula agar kita meluangkan waktu bersama anak, paling tidak setengah jam per hari. Tentu saja, meluangkan waktu di sini lebih pada kualitas dan bukan ditentukan oleh kuantitasnya. Saat bersama anak, berinteraksilah dengan mereka secara intens dan bukannya sekadar hadir, tetapi pikiran dan perhatian Anda terfokus pada pekerjaan atau yang lainnya.  

Konsistensi. Definisinya adalah tegas kepada anak (tapi bukan keras) dan adanya penerapan aturan dan konsekuensi yang tegas. Jika anak berbuat salah yang mengharuskannya menerima konsekuensi atas perbuatan tersebut, lakukan hal tersebut secara tegas. Sekali bilang ya, maka kita jangan pernah bilang tidak, demikian pula sebaliknya. Jangan pernah membuat konsekuensi spontan yang pada gilirannya hanya akan membuat anak bingung karena menilai kita tidak konsisten.  

Kepahaman. Maksudnya adalah kepahaman kita pada anak. Jika kita menghormati anak, maka dia akan menghormati kita. Jika berbuat salah, jangan langsung menyalahkan anak. Pasti ada alasan pada setiap tindakan anak dan sudah menjadi tugas kita sebagai orangtua untuk memahami hal itu dan bukannya main tuduh. Jika menyuruh, lihatlah terlebih dahulu kondisi anak. Sangat mungkin, mereka tidak melaksanakan perintah kita bukan karena sengaja mengabaikan perintah tersebut.

Adanya Keterlibatan anak dalam menetapkan solusi. Dengan mengajak anak berunding dalam menyelesaikan masalahnya, kita memberi ruang kepada anak untuk mengeluarkan pendapat dan mungkin juga solusinya. Tampung dan diskusikan pendapat anak tersebut sebelum akhirnya kita sampai pada sebuah solusi bersama. Perlu diketahui bahwa anak akan lebih bertanggung jawab bila ide atau solusi permasalahan yang dihadapinya muncul dari dirinya sendiri.