Selasa, 01 Juni 2010

Fokus 1

BERSHALAWATLAH SEBAGAIMANA RASUL MENCONTOHKANNYA

Rindu kami padamu, ya Rasul
Rindu tiada terperi
Berabad jarak darimu, ya Rasul
Serasa dikau di sini

Cinta ikhlasmu pada manusia
Bagai cahaya suarga
Dapatkah kami membalas cintamu
Secara bersahaja

Rindu kami padamu, ya Rasul
Rindu tiada terperi
Berabad jarak darimu, ya Rasul
Serasa dikau di sini

Hati muslim mana yang tidak tergugah mendengar syair lagi Rindu Kami Padamu yang dipopulerkan oleh grup musik Bimbo? Lagu tersebut menggambarkan betapa kita (sebagai umat Islam) sangat merindukan sosok pemimpin yang sangat mencintai umatnya ini. Bagaimana tidak, hingga di akhir hayatnya pun, kalimat terakhir yang keluar dari mulut Rasulullah Saw. adalah “Ummatii, ummatii, ummatiii…” Ketika pemimpin lain sibuk mempersiapkan warisan untuk sanak keluarga di penghujung hayatnya, Rasulullah malah memikirkan umatnya yang membuktikan betapa besar cintanya kepada kita.

Lantas, apa yang dapat kita lakukan untuk menunjutkkan rasa cinta kepada Rasulullah Saw.? Membaca sirah, meneladani perilaku, serta melaksanakan ajaran yang dibawa Rasul adalah tiga dari sekian banyak cara yang dapat kita lakukan untuk menunjukkan rasa cinta kepada beliau Namun demikian, belum lengkap rasanya berkata cinta tanpa mendoakan agar orang yang kita cinta senantiasa berada dalam rahmat dan lindungan-Nya. Berkaitan dengan hal ini, kita diperintahkan untuk mengucapkan shalawat kepada Rasulullah Saw.

Bershalawat kepada Rasulullah Saw. bukan merupakan pertanda lemahnya beliau sebagaimana disangkakan oleh kaum misionaris. Bershalawat kepada Rasulullah Saw. merupakan bukti cinta seorang hamba kepada nabinya. Lebih dari itu, shalawat juga merupakan perintah agama yang harus kita laksanakan demi mendapatkan sejumlah kemuliaan. Perintah bershalawat kepada Nabi Muhammad Saw. dapat kita lihat pada beberapa keterangan berikut.

“Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bersalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya.” (Q.S. Al-Ahzab [33]: 56)

“Apabila kalian mendengar seorang muazin melantunkan azan, maka ucapkanlah apa yang diucapkan muazin itu, kemudian bershalawatlah kepadaku, karena sesungguhnya siapa saja yang shalawat kepadaku, Allah akan bershalawat kepadanya sepuluh kali.” (H.R. Muslim)

“Tak seorang pun dari seorang msulim yang bershalawat kepadaku, kecuali malaikat akan memberinya shalawat sesuai shalawatnya padaku. Untuk itu bershalawatlah wahai hambaku, baik sedikit apalagi banyak.” (H.R. Ibnu Majah)

Jadi, balaslah cinta Rasulmu dengan senantiasa bershalawat kepadanya. [Muslik]

Fokus 2

MAKNA, HUKUM, DAN FADHILAH SHALAWAT

“Secara bahasa, shalawat merupakan jamak dari kata shalat yang berarti doa. Sementara secara istilah, shalawat diartikan sebagai rahmat (jika datangnya dari Allah untuk Nabi), istighfar atau permohonan ampun (jika datangnya dari para malaikat), dan doa (jika datangnya dari orang-orang beriman). Dengan demikian, perintah shalawat yang ditujukan kepada kaum mukmin berarti mendoakan Nabi Muhammad Saw. agar senantiasa bertambah keagungan dan kemuliannya,” demikian yang ditulis oleh tim asatid Percikan Iman dalam makalah berjudul Menyingkap Keajaiban Shalawat.

Dalam makalah setebal 15 halaman tersebut disebutkan bahwa shalawat memiliki dua dimensi hukum, wajib dan sunah. Membaca shalawat memiliki hukum wajib bila dikaitkan dengan amaliah yang mengharuskan kita melafazkannya seperti dalam bacaan tasyahud. Sementara itu, jika shalawat dikaitkan dengan perwujudan cinta kasih kita kepada Rasul, maka ia bersifat wajib untuk kali pertama dan bersifat sunnah untuk kali selanjutnya.

Lebih lanjut, tim asatid merumuskan lima manfaat shalawat bagi yang beristiqamah mengamalkannya. Kelima manfaat tersebut adalah:
1. Mendapatkan Rahmat Allah Swt.
2. Akan mendapatkan balasan shalawat dari para malaikat.
3. Derajatnya akan diangkat di sisi Allah Swt.
4. Akan mendapatkan syafaat.
5. Akan dimudahkan jalannya ke surga.

Dalam Islam, tak satu ibadahpun diajarkan tanpa ada keutamaan atau fadhilah di dalamnya. Demikian pula halnya dengan perintah ber-shalawat. Paling tidak ada empat keutamaan yang akan kita dapatkan apabila kita istiqamah melafazkan shalawat.

Pertama, menumbuhkan rasa cinta kepada Rasulullah Saw. Cinta dapat tumbuh kalau kita berusaha untuk menumbuhkannya. Demikian pula halnya dengan rasa cinta kepada Rasulullah Saw. yang hanya akan tumbuh bila dibarengi dengan usaha. Selain dengan membaca sirah (kisah) perjuangan Nabi Saw. dalam menegakkan kalimat Islam, men-dawam-kan shalawat merupakan salah satu cara menumbuhkan benih cinta kepada Rasulullah Saw. Dalam Al-Quran disebutkan,

“Katakanlah: ‘Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.’ Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Q.S. Ali Imran [3]: 31)

Kedua, menjadi syarat terkabulnya doa. Shalawat seorang mukmin kepada Rasulullah Saw. dapat mendatangkan shalawat dari Allah sepuluh kali. Shalawat dari Allah dapat diinterpretasikan dalam berbagai kebaikan dan rahmat-Nya. Kebaikan Allah yang diberikan kepada hamba-Nya yang istimewa adalah dikabulkannya doa. Perhatikan keterangan berikut.

“Apabila kalian mendengar seorang muazin melantunkan azan, maka ucapkanlah apa yang diucapkan muzin itu, kemudian bershalawatlah kepadaku, karena sesungguhnya siapa saja yang shalawat kepadaku, Allah akan bershalawat kepadanya sepuluh kali.” (H.R. Muslim)

Ketiga, menghapuskan dosa. Kelanjutan dari hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim tersebut di atas menyebutkan tentang syafaat Rasulullah Saw.

“Kemudian sesudah itu, mohonlah kepada Allah wasilah untukku, karena wasilah itu merupakan kedudukan yang paling tinggi dalam surga. Dia tidak dapat diperoleh, kecuali oleh seorang saja dari hamba-hamba Allah. Aku berharap, semoga akulah yang mendapatkan kedudukan itu. Karena itu, barangsiapa memohonkan wasilah untukku, wajiblah baginya syafaatku.” (H.R. Muslim)

Dan yang keempat, shalawat dapat melunakkan hati. Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Baihaqi, Rasulullah Saw. menjelaskan bahwa “Termasuk beku hati seseorang jika namaku disebut di hadapannya, ia tidak mau bershalawat kepadaku.”

Semoga empat fadhilah tersebut di atas dapat membuat kita semakin istiqamah dalam memanjatkan shalawat kepada Nabi Muhammad Saw. Amin. [Muslik]

Fokus 3

BERSHALAWAT SESUAI CONTOH RASULULLAH SAW.

Bagaimanakah Al-Quran dan hadits (shahih) mengajarkan tata cara shalawat yang benar? Ayat ke-56 surat Al-Ahzab menyatakan bahwa Allah memerintahkan hamba-hamba-Nya untuk bershalawat kepada Nabi Saw. Namun demikian, dalam ayat tersebut tidak secara rinci disebutkan tata cara shalawat yang diperintahkan tersebut. Inilah kemudian yang membuat para sahabat bertanya langsung kepada Nabi Saw. Salah seorang sahabat yang bernama Abu Hamid As-Said bertanya, “Ya Rasulullah, bagaimana cara kami bershalawat kepadamu?” Beliau menjawab, “Katakanlah:

“Ya Allah! Berilah shalawat untuk Muhammad dan keluarganya, sebagaimana Engkau memberi shalawat untuk Ibrahim dan keluarganya. Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Pemurah. Dan berilah keberkahan kepada Muhammad dan keluarganya, sebagaimana Engkau berikan keberkahan kepada Ibrahim dan keluarganya. Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Pemurah.” (H.R. Bukhari Muslim)

Dalam banyak riwayat, tekstual hadits tersebut menjadi dalil bacaan shalawat saat menunaikan shalat, khususnya sebagai bacaan tasyahhud. Pada sejumlah riwayat yang mengungkap perkara tata cara shalawat, ditemukan bahwa praktik shalawat mengacu pada tata cara shalawat ketika shalat. Hal ini menunjukkan bahwa tata cara shalawat sebenarnya cukup sederhana. Bahkan dengan membaca shalawat ketika tasyahhud (dalam shalat), hal itu sudah cukup untuk memenuhi kewajiban kita bershalawat kepada Rasul Saw. Meski begitu, Rasulullah Saw. menganjurkan agar kita tetap memanjatkan shalawat pada sejumlah waktu dan tempat selain shalat, antara lain:

1. Ketika shalat Jenazah.
Sunah Nabi Saw. menyatakan bahwa dalam menshalati jenazah dianjurkan agar imam bertakbir kemudian membaca surah Al-Fatihah dengan pelan sesudah takbir pertama, kemudian membaca shalawat kepada Nabi Saw., dan mengikhlaskan doa untuk jenazah pada tiga takbir berikutnya. (H.R. Baihaqi)

2. Ketika pelaksanaan shalat Jumat.
Sebuah hadits menyatakan, “Sesungguhnya di antara hari-hari yang paling afdol adalah hari Jumat, maka perbanyaklah shalawat untukku pada hari itu, karena shalawat kalian akan sampai kepadaku……” (H.R. Abu Daud)

3. Setiap mengadakan majelis taklim.
“Tidaklah suatu kaum berada pada suatu majelis yang tidak menyebut nama Allah dan tidak bershalawat kepada Nabi kecuali akan menderita kekurangan, sehingga jika Allah menghendaki akan mengazabnya atau jika menghendaki Allah akan mengampuninya.” (H.R. Tirmidzi)

4. Sebelum berdoa.
“Bila salah seorang di antara kalian shalat (berdoa), maka hendaklah ia memulainya dengan pujian dan sanjungan kepada Allah lalu bershalawat untuk Nabi, kemudian berdoa setelah itu dengan apa saja yang ia inginkan.” (H.R. Abu Daud)

(Untuk keempat waktu dan tempat membaca shalawat di atas, redaksi shalawat yang dibaca adalah seperti yang telah dijelaskan dalam hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim di atas.)

5. Setelah adzan.
Rasulullah Saw. memberi teks khusus untuk bershalawat setelah adzan dan cukup diucapkan sekali saja, yaitu:

“Ya Allah Tuhan yang mempunyai seruan yang sempurna ini dan shalat yang aku dirikan ini. Berikanlah kepada junjungan kami Nabi Muhammad Saw. wasilah dan keutamaan dan tempatkanlah dia di tempat yang terpuji yang telah Engkau janjikan kepadanya”
(H.R. Bukhari)

6. Ketika menyebut, mendengar, dan menulis nama beliau.
“Termasuk orang yang kikir, jika namaku disebutkan di sisinya lalu ia tidak bershalawat untukku.” (H.R. Tirmidzi). Shalawat yang disampaikan cukup dengan mengucapkan:
“Semoga Allah memberinya (Nabi Muhammad) shalawat dan salam.”

7. Ketika masuk dan keluar masjid.
Diriwayatkan oleh Ibnu Majah bahwa Rasulullah Saw. bila masuk dan keluar masjid terlebih dahulu mengucapkan shalawat dan salam sebelum mengucapkan doa (masuk dan keluar masjid). Redaksi shalawat yang dibaca boleh lengkap seperti saat tasyahhud dan boleh pula dengan redaksi yang ringan seperti berikut:
“Semoga Allah memberinya (Nabi Muhammad) shalawat dan salam serta keberkahan.”

Anjuran Rasulullah Saw. untuk bershalawat sebagaimana disebutkan pada keterangan di atas disimpulkan berbeda (dari hukum fiqihnya) oleh para ulama. Sebagian mewajibkannya pada kesempatan pertama saja dan mensunahkannya pada kesempatan berikutnya. Ada juga yang mensunahkannya baik di kesempatan pertama atau pun kedua.
Terlepas dari hukumnya, alangkah baiknya jika kita mengikuti aturan shalawat sebagaimana dijelaskan sebelumnya. Itulah yang merupakan jalan selamat dan insya Allah diridoi oleh-Nya sehingga tidak perlu memaksakan diri mencari bentuk dan modifikasi shalawat.

Selain beberapa keterangan di atas, dua buah redaksi shalawat yang dapat kita baca (yang bersumber pada hadits shahih) baik dalam shalat atau pun dalam kesempatan lain adalah sebagai berikut:

“Ya Allah! Berilah shalawat untuk Muhammad beserta istri dan keturunannya, sebagaimana Engkau memberi shalawat untuk Ibrahim dan keluarganya. Dan berilah keberkahan kepada Muhammad beserta istri dan keturunannya, sebagaimana Engkau berikan keberkahan kepada Ibrahim dan keluarganya. Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Pemurah.” (Muttafaqun ‘Alaihi)

“Ya Allah! Berilah shalawat untuk Muhammad hamba-Mu dan Rasul-Mu sebagaimana Engkau memberi shalawat untuk Ibrahim. Dan berilah keberkahan kepada Muhammad untuk Muhammad beserta keluarganya, sebagaimana Engkau berikan keberkahan kepada Ibrahim dan keluarganya.”

Karena shalawat termasuk doa, maka seyogianya kita memperhatikan adab atau etika berdoa, seperti memanjatkannya dengan ikhlas, sopan santun, dan penuh rendah hati. Berikut adab-adab yang harus dipenuhi ketika membaca shalawat. Karena shalawat termasuk doa, maka seyogianya kita memperhatikan adab atau etika berdoa, seperti memanjatkannya dengan ikhlas, sopan santun, dan penuh rendah hati. Berikut adab-adab yang harus dipenuhi ketika membaca shalawat.
1. Niat yang tulus dan ikhlas beribadah kepada Allah Swt. tanpa pamrih.
2. Rendah diri dihadapan-Nya didorong harapan untuk menerima syafaat Rasul kelak di akhirat.
3. Memperhatikan adab berdoa pada umumnya, seperti bersungguh-sungguh dalam memanjatkan shalawat, bershalawat dengan penuh kerendahan hati dan tidak terburu-buru, menghadirkan hati dalam mengucapkan shalawat, membaca shalawat baik dalam keadaan lapang maupun susah.

Dengan mengetahui adab yang benar, semoga kita terhindar dari praktik shalawat yang tidak dicontohkan oleh Rasulullah Saw. sehingga shalawat yang kita panjatkan tidak sia-sia adanya. Amin. [Dadang]

Fokus 4

KH. Deddy Rahman (Consultant of Islamic Law)
SHALAWAT YANG DIANJURKAN RASUL

Secara harfiah, shalawat dapat dimaknai sebagai bentuk jamak dari kata shalat yang berarti doa atau seruan kepada Allah. Membaca shalawat kepada Rasul Saw. memiliki maksud mendoakan atau memohonkan berkah kepada Allah Swt. dengan ucapan, pernyataan, serta pengharapan, semoga beliau sejahtera (beruntung, tak kurang suatu apa pun, serta tetap dalam keadaannya baik dan sehat).

Perintah untuk bershalawat kepada Rasulullah Saw. telah difirmankan dalam Surat Al Ahzab [33] ayat ke-56.
“Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya.”

Berbahagialah orang yang merasa nikmat bershalawat kepada Rasulullah Saw. Rasul Saw. pernah menyatakan bahwa orang yang paling dekat dengannya pada hari kiamat adalah orang yang paling banyak bershalawat kepada beliau. Namun demikian, tidak sedikit di antara kita yang masih mempertanyakan bagaimana Rasul mensyariatkan amalan shalawat tersebut.

Kita tahu bahwa shalawat Allah adalah pujian-Nya (terhadap Nabi Saw.) di sisi para malaikat dan shalawatnya malaikat berupa doa. Maka jelaslah bagi kita bahwa shalawat seorang mukmin adalah doa kepada Allah agar melimpahkan kesejahteraan dan keselamatan kepada Nabi Muhammad Saw. Karena shalawat merupakan doa, maka sudah seharusnya ia dilakukan sesuai dengan adab-adab yang telah diajarkan oleh syariat.

Menurut KH. Deddy Rahman (pengisi Dialog Islam di Garuda FM), shalawat yang disyariatkan adalah shalawat yang hanya dianjurkan oleh Nabi Saw. Shalawat yang mengarah kepada mengkultuskan Nabi (seakan-akan nabi yang memberi shafaat kepada kita) justru tidak dibenarkan dalam ajaran Islam. Lebih lanjut, Ust. Deddy mengemukakan bahwa seluruh amalan ibadah harus berada di jalur yang telah dituntukan oleh Rasul, tak terkecuali shalawat. “Shalawat dimaknai sebagai ashalat ashalatu yang artinya bisa identik dengan shalat wajib maupun shalat sunat. Sedangkan shalawat dalam pengertian adh-doa ialah shalawat kepada Nabi Saw. yang disyariatkan di berbagai waktu dan kesempatan seperti ketika tasyahhud dalam shalat, khuthbah, doa, istighfar, setelah adzan, serta ketika masuk dan keluar masjid,” imbuhnya.

Masih menurut Ust. Deddy, pada Sahih Bukhari Kitab 60 terdapat hadits 320 yang menjelaskan tentang shalawat. Dari Kaab bin Ujra, “Ya Rasulullah! Kami tahu bagaimana mengucapkan salam kepadamu, tetapi bagaimanakah bershalawat terhadapmu?” Rasulullah berkata, “Ucapkan: Allahumma shalli ala Muhammad wa’ala aali Muhammad, kama shallaita ‘ala ali Ibrahim. Innaka hamidun majid.”

Dalam hadits lain disebutkan, dari Abdur Rahman bin Abu Laila, dia berkata: “Kaab bin Ujrah bertemu aku, lalu dia berkata: ‘Maukah aku memberi hadiah kepadamu, yang aku mendengarnya dari Nabi Saw.?’ Aku menjawab: ‘Ya. Hadiahkanlah itu kepadaku.’ Ia berkata: ‘Kami bertanya kepada Rasulullah Saw. bagaimana cara membaca shalawat kepada belaiu dan ahlul bayt? Sesungguhnya Allah telah mengajarkan kepada kami bagaimana kami membaca salam. Beliaupun bersabda, ucapkanlah:

Allahumma shalli alaa Muhammad wa ala aali Muhammad, kamaa shalaita ala Ibraahiim wa ala aali Ibraahiim. Innaka hamiidun majiid. Allahumma baarik ala Muhammad wa ala aali Muhammad, kamaa baarokta ala Ibraahiim wa ala aali Ibraahiim. Innaka hamiidun majiid.
[Ya Allah, limpahkanlah shalawat kepada Muhammad dan kepada keluarga Muhammad, sebagaimana engkau melimpahkan shalawat kepada Ibrahim dan kepada keluarga Ibrahim. Sesungguhnya Engkau adalah Maha Terpuji lagi Maha Mulia. Ya Allah, berkatilah kepada Muhammad dan kepada keluarga Muhammad, sebagaimana Engkau memberkati kepada Ibrahim dan kepada keluarga Ibrahim. Sesungguhnya Engkau adalah Maha Terpuji lagi Maha Mulia.]

Sebagai seorang mukmin yang baik, niat ikhlas bershalawat juga harus dibarengi dengan tuntunan yang berujuk pada anjuran Rasul Saw. dalam bershalawat sehingga tetap berada dalam keistiqamahan dalam menjalankan Al-Quran dan hadits. Dengan demikian, shalawat yang kita panjatkan akan bernilai ibadah yang tentunya juga akan mendatangkan pahala.

Menanggapi berbagai macam praktik shalawat yang ada di masyarakat kita (seperti shalawat mohon syafaat di hari kiamat, shalawat agar diperkenankan berziarah ke makam Rasulullah Saw., shalawat tafrijiyah, shalawat munjiyah, shalawat badawiyah, shalawat badar/badriyah), Ust Deddy menyatakan bahwa shalawat semacam ini tidak ada dalam ajaran Islam karena tidak pernah diajarkan oleh Rasulullah Saw. Kalaupun ada, secara tegas Ust. Deddy mengemukakan bahwa shalawat semacam itu hanyalah produk ulama yang kemudian berkembang hingga sekarang. “Terlebih shalawat-shalawat itu dilakukan dengan cara berjamaah dan dalam bentuk nyanyian-nyayian khusus. Boleh dikatakan bahwa hal tersebut termasuk amalan yang tendensius dan mengarah kepada perbuatan musyrik karena lebih cenderung pada pengkultusan Nabi Saw. Praktik shalawat seperti itu seakan-akan memberi pengertian bahwa Nabi Saw. yang akan memberikan safaat kepada kita,” tegasnya.

“Jadi, jika tidak melakukan shalawat munjiyah, badawiyah, dan badar/badriyah, bukan berarti kita tidak pernah bershalawat kepada Rasul. Pada dasarnya, setiap shalat pun kita bershalawat kepada Rasulullah Saw. Dalam setiap ibadah, dalam hal ini shalawat, kita tidak boleh merekayasa atau membuatnya dengan mengkuti hawa nafsu,” imbuh Ust. Deddy.

Ketika ditanya mengapa banyak umat Islam di Indonesia yang mempraktikkan shalawat munjiyah, badawiyah, dan badar/badriyah, Ust. Deddy menjelaskan bahwa menurut mereka shalawat-shalawat tersebut bagus, enak, dan menyentuh hati. Selain itu, mereka juga beralasan bahwa shalawat-shalawat tersebut tidak dilarang dalam Al-Quran dan hadits. “Di sinilah tugas kita untuk memberikan pengertian bahwa sesuatu (ibadah mahdah) yang tidak pernah dicontohkan oleh Nabi tidak usah dipraktekkan. Kita juga perlu menyampaikan bahwa shalawat-shalawat tersebut tidak ada keterangannya dalam Al-Quran dan sunah,” pungkas Ust. Deddy. [Ahmad]

Fokus 5

SHALAWAT ITU PENTING

Donny Kesuma Hudaya atau yang lebih kita kenal dengan nama Donny Kusuma mengaku bahwa shalawat merupakan hal yang penting bagi umat Islam. Sholawat ia anggap sebagai salah satu bentuk kecintaan sekaligus ucapan terima kasih atas jasa Rasulullah Saw. yang telah memberikan pencerahan kepada umatnya. “Bukti bahwa shalawat itu penting dapat dilihat dalam pelaksanaan shalat dengan selalu dibacanya shalawat kepada Nabi Muhammad Saw. dan juga Nabi Ibrahim a.s. ketika tasyahud,” ujar pria yang lahir di Bandung pada 6 Juni 1968 ini.

Donny mengamini tidak diperlukannya majelis shalawat. Ia mengaku tidak pernah mengikuti majelis shalawat tertentu. Namun, jika dalam kegiatan islami yang ia ikuti diiringi pembacaan shalawat, dengan khusuk Donny akan mengikuti acara tersebut sampai selesai. [Dewi]

Fokus 6

Cece Kirani - Artis dan Presenter
SHALAWAT HARUS BISA CEGAH MAKSIAT

Anda pasti mengenal sosok Cece Kirani. Public-figure yang satu ini senantiasa istiqamah dalam berpenampilan sebagai muslimah. Pembawa acara Titian Kalbu ini sangat bangga atas pekerjaannya sebagai presenter. Dalam pengakuannya, Cece banyak mendapatkan pengalaman yang luar biasa ketika menjadi pemandu acara tausiah, apalagi ustadz yang menjadi narasumber selalu berbeda-beda. Baru-baru ini, MaPI berkesempatan menggali pandangan teteh Cece mengenai berbagai hal termasuk shalawat. Mari kita simak petikan wawancaranya berikut ini.

Apa makna shalawat menurut teteh?

Shalawat adalah bagian dari sunah Rasulullah Saw. Meski terkesan ringan, shalawat memiliki makna yang sangat besar. Shalawat merupakan penghormatan atau pemuliaan atas Rasulullah Saw. Sudah sepatutnya kita bershalawat bagi Nabi Muhammad Saw. yang telah begitu banyak pengorbanannya untuk kita, umatnya.

Menurut teteh, bagaimana seharusnya kita menyikapi perbedaan praktik shalawat yang ada di masyarakat?

Saya sepakat untuk tidak memperdebatkan suatu keyakinan dalam pemahaman praktik ibadah, terlebih jika hal tersebut dapat memecah belah umat. Kita harus menghargai semua perbedaan, baik dalam hal muamalah maupun ibadah. Saya mengakui banyak ragam amalan shalawat yang berkembang di masyarakat kita. Kita harus menghormati perbedaan tersebut karena tentunya mereka memiliki dasar dan rujukan masing-masing.

Bagaimana suami, sebagai imam, memberikan pemahaman shalawat kepada keluarga?

Alhamdulillah, saya dan suami memiliki pemahaman yang sama sehingga tidak begitu sulit mengamalkan suatu pemahaman ibadah, termasuk shalawat. Kami memaknai dan mengamalkan shalawat sebagai sesuatu yang akan mendatangkan pahala dan kebaikan bagi yang mengamalkannya.

Mengamalkan shalawat (sebagai bentuk kecintaan kita kepada Rasulullah Saw.) harus diikuti dengan perubahan dalam diri kita ke arah yang lebih baik. Selain itu, shalawat juga harus membuat kita lebih bisa meneladani akhlak Rasulullah Saw. Shalawat harus menjadi salah satu amalan yang akan menggugah ketaatan kita kepada Allah Swt.

Terakhir, adakah yang ingin disampaikan kepada pembaca MaPI?

Kita sama-sama mencintai dan ingin dicintai oleh Allah dan Rasul-Nya. Untuk meraih cinta tersebut tidak cukup hanya dengan melafazkan shalawat. Kita juga harus beribadah serta berperilaku seperti yang telah diajarkan oleh Rasulullah Saw. Kalau hal tersebut telah ada dalam diri kita semua, tinggal kita tingkatkan kualitas keimanan dan ketakwaan agar semuanya mendekati sempurna. [Ahmad]

Editorial

MARI LAWAN PENODAAN AGAMA

Belum kering ingatakan kita pada harian Jyllands-Posten Denmark yang beberapa waktu yang lalu memuat karikatur Nabi Muhammad Saw. Kini umat muslim digemparkan dengan lomba menggambar kartun Nabi Muhammd Saw. yang dimuat di salah satu laman jejaring sosial. Adalah Molly Norris (kartunis asal Seattle, AS) yang mempublikasikan poster lomba gambar Nabi Muhammad Saw. ini di situs pribadinya. Tujuannya adalah untuk membela film kartun South Park (khususnya episode ke-201) yang disensor stasiun televisi Comedy Central karena menampilkan adegan Nabi Muhammad Saw. yang memakai kostum beruang. Publikasinya ini kemudian disambut publik AS dengan membuat grup Facebook bertajuk Draw Mohammed Day. Grup yang tidak diketahui pembuatnya ini kemudian menuai protes dunia internasional, khususnya dari umat Islam.

Atas nama kebebasan berekspresi dan berpendapat, mereka melakukan serangkaian penghinaan. Dengan berlindung di balik jargon kebebasan berpendapat, mereka menyatakan bahwa setiap orang berhak menyampaikan apa saja, bahkan berhak untuk menghina orang lain. Padahal menurut prinsip-prinsip moral yang universal, penghinaan terhadap orang lain adalah perilaku yang jauh dari akal sehat dan hak asasi manusia. Segala penghinaan kepada Rasulullah Saw. ini merupakan mata rantai dari penghinaan terhadap kesucian, syiar, serta harga diri kaum muslim. Tentu saja, pihak-pihak yang ingin menghancurkan Islam akan mengabaikan hal tersebut. Ramalan Al-Quran sejak berabad-abad silam telah menyatakan bahwa musuh-musuh Islam tidak akan berhenti menyulut api permusuhan.

Di sinilah kita sebagai umat Islam harus melawan karena kasus semacam ini dapat memberikan pencitraan buruk terhadap Nabi Muhammad Saw. dan umat Islam. Pembelaan yang dapat kita lakukan antara lain dengan menulis opini pembanding, boikot produk, memberitahukan informasi yang benar kepada kawan, dan lain sebagainya. Lawan dan terus lawan! Jangan sampai hal seperti ini menjadi kebiasaan. Jangan sampai gairah perlawanan umat Islam atas penghinaan kepada simbol agama meredup di tengah derasnya kekuatan opini yang dibangun musuh. Selain itu, kita juga harus memberikan perlawanan dalam bentuk legal (hukum) dengan cara mensomasi media yang telah menyebarkan isu dan membawa permasalahan ini ke Mahkamah Internasional. Ya, kasus ini telah meresahkan publik di dunia, khususnya muslim.

Sepertinya, inilah buah dari pelaksanaan kebebasan berpendapat tanpa aturan. Masing-masing kelompok masyarakat akan berbuat seenaknya dengan saling melecehkan satu sama lain. Kalau sudah seperti ini, yang muncul kemudian adalah konflik agama yang dapat memicu perang dunia. [Ali]

Tren Teknologi

TRIK PINTAR MENERJEMAHKAN DOKUMEN

Kalau bisa dipermudah, kenapa harus yang dipersulit? Mungkin itulah jargon tepat untuk menggambarkan hadirnya teknologi di tengah-tengah umat manusia. Saat ini, percepatan ilmu pengetahun dan teknologi harus diakui sebagian besar masih berasal dari Barat (baca: luar negri). Buktinya adalah berbagai referensi keilmuan di dunia akademik dan ilmu praktis secara umum sering mengacu ke literatur buku, jurnal, ataupun dokumen lain yang datang dari Barat.

Bagi yang menguasai bahasa asing (misalnya Inggris), ‘menyantap’ dokumen dari luar negri sudah menjadi hal biasa. Bagi yang penguasaan bahasa asingnya berada di level pertengahan, biasanya memahami dokumen dengan mencermati poin-poin penting pembahasan sambil sesekali membuka kamus agar tidak salah mengartikan istilah atau kata-kata yang kurang popular.

Nah, sekarang bagaimana dengan mereka yang tidak mampu berbahasa asing? Di antara mereka ada yang lari ke jasa penerjemah, ada yang menerjemahkan perkata dengan bantuan kamus kesayangan, dan ada juga yang memanfaatkan software penerjemah yang banyak beredar di internet dan toko software. Marilah kita bahas cara yang terakhir dengan kata kunci Gratis & Cepat.

Google Translator Toolkit
Mendengar namanya saja mungkin Anda sudah tahu bahwa fasilitas ini digunakan untuk menerjemahkan bahasa. Seperti biasa, tampilannya sederhana sehingga loading-nya cepat, tetapi di balik itu fasilitasnya memang hebat. Google Translate memang bisa menerjemahkan beberapa bahasa dengan cara memasukkan langsung kalimat ke text-box yang disediakan atau bisa juga menerjemahkan halaman web-site dengan memasukkan alamat URL-nya. Cukup mudah, bukan? Selain bahasa Inggris, masih ada pilihan 56 bahasa lainnya. Selain menerjemahkan, di sini kita juga bisa mengunggah dokumen. Silahkan kunjungi http://translate.google.com untuk mendapatkan informasi lebih lengkap.

DocTranslator
Mungkin Anda telah mengenal dan mencoba layanan favorit Google Translate, namun demikian terkadang hasil terjemahannya (serta format dokumen yang turut berubah) kurang sesuai dengan naskah aslinya sehingga Anda perlu memeriksanya kembali. Salah satu layanan baru yang bisa menerjemahkan dokumen (word, excel, power point) dengan tetap mempertahankan tampilan dan layout adalah DocTranslator. Keunggulan DocTranslator dibandingkan dengan program dan situs penerjemah lain adalah sebagai berikut:
• Mempertahankan layout dokumen aslinya seperti font, tabel, kolom, spasi, dan lainnya.
• Mendukung terjemah dokumen lebih dari 50 bahasa (dari dan ke).
• Terjemahan menggunakan teknologi Google Translate.
• Tidak ada batasan ukuran file yang diterjemahkan.
• Tidak perlu instalasi software/program (kecuali plugins/aplikasi java runtime environment).
• Tidak perlu registrasi serta alamat e-mail.
• Privasi dari dokumen dan isinya tetap terjaga.

Cara praktis penggunaan DocTranslator adalah sebagai berikut:
• Buka website DocTranslator.
• Klik tombol di bawah Start Document Translator, selanjutnya akan di-download java applet dan tunggu sampai selesai. Sebelum aktif, Java applet akan meminta izin untuk dijalankan. Klik tombol Yes.
• Pilih salah satu dokumen yang akan diterjemahkan, baik dari word (doc, docx, xml), Excel (xls, xlsx), powerpoint (ppt, pptx), atau dari file lainnya.
• Klik salah satu untuk memulai upload.
• Selanjutnya kita memilih bahasa dokumen asli dan hasil terjemahan yang kita inginkan. Tinggal klik tanda panah untuk mulai menerjemahkan.
• Setelah selesai, maka akan muncul tampilan download dokumen yang sudah diterjemahkan dalam format sesuai aslinya.

Meski kadang ada beberapa format yang berubah, terutama jika formatnya cukup kompleks, tetapi hasilnya tetap memuaskan. Silahkan mengunjungi situs http://www.onlinedoctranslator.com untuk mencobanya.

Kamus Online
Kunjungi http://kamus.net. Konon, situs buatan putra bangsa ini merupakan favorit kamus online. Cara memakainya pun cukup mudah, tinggal memasukkan kata-kata yang akan dicari padanan Inggris-nya kemudian tekan Enter atau klik Search maka hasilnya akan muncul dengan segera.

Aplikasi Kamus 2.04
Ini merupakan aplikasi yang sangat mudah, ringan, dan juga merupakan karya anak bangsa. Sifatnya yang bukan online mengharuskan kita menginstal terlebih dahulu programnya di komputer. Sistem operasi yang dibutuhkan adalah Windows 9x/ME/NT/XP/2003/Vista/7 dengan spek minimum Pentium II dengan 32 MB RAM. Software ini telah menampung lebih dari 64.000 kata. Aplikasi ini cocok untuk PC atau laptop dan tidak perlu koneksi internet. Selain itu, kita juga bisa menambahkan sendiri kata/kalimat tertentu jika di dalam aplikasi tersebut belum tersedia.

Selain dapat di-download dengan gratis di alamat http://ebsoft.web.id/download/kamus, Anda juga bisa mengambilnya di http://percikaniman.org/data/ kamus_2.04.zip

Nah, sekarang menerjemahkan bukan lagi hal yang rumit bukan? Semoga ulasan tersebut di atas dapat lebih memotivasi Anda untuk senantiasa menimba ilmu dari berbagai sumber, termasuk dari literatur berbahasa asing sekali pun. Ini dikarenakan ilmu-Nya yang begitu luas menunggu untuk kita pelajari. Bukankah Allah telah berfirman,

“Dan seandainya pohon-pohon di bumi menjadi pena dan laut (menjadi tinta), ditambahkan kepadanya tujuh laut (lagi) sesudah (kering) nya, niscaya tidak akan habis-habisnya (dituliskan) kalimat Allah. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (Q.S. Lukman [31]: 27)

Profil

Sami Yusuf
LANTUNAN NASYID PENUH PESAN CINTA DAN PERDAMAIAN

Bagi penggemar nasyid, Anda tentu sudah tidak asing dengan penyanyi yang satu ini. Bagi yang kurang menggemari nasyid, Anda akan mengubah pendirian begitu mendengar lagu yang dibawakan penyanyi yang satu ini. Penyanyi bersuara merdu dan berwajah tampan, itu sudah biasa. Tapi kalau penyanyi berwajah tampan bersuara merdu yang shaleh dan kerap melantunkan melodi dakwah, itu baru luar biasa. Ya, Sami Yusuf memiliki semua kualifikasi tersebut hingga tidak heran kiprahnya di belantika musik (khususnya nasyid) internasional sudah tidak diragukan lagi.

Sami adalah penyanyi kelahiran Inggris (Juli 1980). Ia menunjukan bakat bermusiknya sejak kecil. Sami kecil dapat memainkan delapan hingga sembilan jenis alat musik. Ia bahkan dapat dengan mudah memahami musik abad pertengahan timur atau yang dikenal dengan istilah maqams. Bakat bermusiknya ditempa di Royal Academy of Music di London yang merupakan salah satu sekolah musik bergengsi di dunia.

Album Al-Mu’allim merupakan album pertama Sami yang dirilisnya pada bulan Juli 2003. Berisi single hits Al-Mu’allim dan Supplication, album ini sukses besar dengan total penjualan lebih dari 2 miliar. Dua tahun berselang (2005), Sami merilis album keduanya yang diberi judul My Ummah. Uniknya, album ini dibuat dalam dua versi; full (music) version dan acoustic version. Di album keduanya ini, popularitas Sami kian menanjak. Tiga single hitsnya yang berjudul Hasbi Rabbi, Mother, dan Munajat begitu diminati sehingga total penjualan album keduanya ini mencapai 4 miliar lebih.

Single Hasbi Rabbi yang dinyanyikan dalam tiga bahasa (Turki, Hindu, dan Inggris) dianggap berhasil memadukan antara musik Barat dan Timut. Berkat lagu tersebut pula, Sami berhasil menggelar konser keliling dunia. Popularitas Sami pada 2005 terlihat dari padatnya pengunjung yang menyambangi website pribadinya (www.samiyusuf.com). Tercatat lebih dari 2 juta orang terdaftar di buku tamu situs tersebut. Chat room yang disediakan pun dipakai dan dikunjungi oleh sekitar 4.000 penggemar.

Pada Januari 2009 yang lalu, Sami menelurkan album ketiganya yang diberi judul Without You yang berisi dua single hits Asma Allah dan Forever Palestine. Maret 2010, Sami mengadakan konser di kota Copenhagen (Denmark) setelah sebelumnya berhasil menghibur penggemar setianya di Jerman.

Apa rahasia kesuksesan Sami di jagat musik dunia? Selain karena rido Ilahi, lagu-lagu yang dinyanyikan Sami syarat dengan pesan cinta, kemurahan hati, toleransi, dan juga perdamaian. Liriknya mengingatkan umat Islam akan permasalahan kekinian. Selain itu, Sami juga menyisipkan masalah sosial dan isu kemanusiaan dalam lirik-lirik lagunya. Sami sangat mengharapkan lagu-lagunya dapat membuat kaum muda Islam bangga akan identitas dan agama mereka.

Sayang, tak semua orang beranggapan sama. Yvonne Ridley (wartawan Inggris yang pernah diculik oleh kelompok Taliban) beranggapan bahwa lagu-lagu Samy tersebut merupakan racun masyarakat jelata. Impian bahwa Islam dapat diterima oleh masyarakat Barat merupakan angan-angan (yang tidak akan pernah tercapai) semata meski Sami telah berhasil menggelar konser dan diterima oleh masyrakat Amerika. Yvonne tetap beranggapan bahwa mainstream masyarakat Barat terhadap Islam tak akan pernah berubah dan selamanya mereka akan memusuhi (Islam).

Walaupun demkian, Sami tetap mempunyai impian besar sebagai seorang selebriti muslim. Dalam salah satu wawancara, sambil tertawa Sami mengungkapkan keinginannya bahwa suatu hari nanti ia tampil di MTV atau memenangkan penghargaan internasional seperti Grammy dan di atas pentas ia akan berkata pada seluruh dunia, “Salam alaykum (salam damai), terima kasih banyak dan ini adalah Islam.”

Setelah Malcolm X, Muhammad Ali, dan Cat Stevens (Yusuf Islam) yang telah menggebrak dunia dengan kiprahnya di bidang masing-masing, sepertinya Islam membutuhkan tokoh-tokoh lain untuk menunjukkan pada dunia internasional bagaimana wajah Islam sesungguhnya yang penuh kedamaian dan jauh dari kekerasan dan terorisme. Semoga dengan kehadiran Sami Yusuf di belantika musik (nasyid) internasional ini dapat mencintrakan wajah damai Islam. Amin. [Dewi & Muslik]

Opini

HUJAN METEOR TANDA KIAMAT?
Meluruskan Fenomena Alam dengan Fakta Ilmiah
Dr. Thomas Djamaluddin (Peneliti Utama Astronomi dan Astrofisika LAPAN Bandung)

Belum lama ini kita digegerkan oleh fenomena jatuhnya dua batu meteor di Tanah Air. Meteorit (batu meteor) pertama jatuh di kawasan Duren Sawit (Jakarta) pada 29 April 2010 pukul 16.15 WIB. Diperkirakan meteorit ini jatuh dari arah Barat Daya menuju Timur Laut dan menumbuk sisi Barat rumah salah seorang warga. Besar meteorit yang menghantam dan menghancurkan rumah warga tersebut diperkirakan berukuran sebesar buah kelapa.

Meteorit kedua jatuh pada 3 Mei 2010 sekitar pukul 20.30 waktu setempat di Gunung Wawo, Bima (Nusa Tenggara Barat). Jika dilihat dari kerusakan dan arah lubangnya, meteorit yang menghantam Bina ini diduga berasal dari arah Barat. Ukurannya yang hanya sekepalan tangan orang dewasa memang lebih kecil dibanding dengan meteorit yang jatuh di Jakarta. Jenis batu meteor yang jatuh di Bima ini (diduga) dikategorikan ke dalam meteorit besi yang memiliki suhu lebih panas dibandingkan meteorit batuan.

Disayangkan, sejumlah media memberitakan fenomena alam ini secara salah kaprah. Media-media tersebut mengaitkan dua meteorit yang jatuh tersebut dengan fenomena hujan meteor yang sebelumnya ramai diberitakan. Sekali lagi penulis menegaskan bahwa meteorit yang jatuh di Duren Sawit dan Bima tidak terkait dengan hujan meteor yang terjadi pada April lalu. Dua buah batu meteor yang jatuh tersebut dikategorikan sebagai meteor sporadis. Meteor jenis itu memiliki waktu dan tempat jatuh yang tidak tentu. Sementara itu, hujan meteor yang terjadi April lalu memiliki waktu tertentu dan ukurannya lebih kecil.

Terkait dengan pemberitaan ini, sejumlah kalangan kemudian mempertanyakan kredibilitas LAPAN yang tidak bisa mendeteksi dini jatuhnya meteorit tersebut. Penulis menyayangkan opini seperti ini. Perlu dijelaskan di sini bahwa jangankan LAPAN, lembaga antariksa internasional pun belum mampu melakukan deteksi dini kejatuhan batu meteor. Hal ini dikarenakan biaya yang harus dikeluarkan untuk melakukan pendeteksian dini tersebut terbilang mahal, mencapai milyaran rupiah. Jumlah tersebut tidak lebih kecil dibandingkan dengan dampak yang ditimbulkan oleh jatuhnya meteorit ke bumi.

Fenomena jatuhnya meteorit ini sebenarnya merupakan hal biasa dan tidak perlu dimaknai berlebihan. Perhatian yang cukup besar pada kejatuhan meteor di Duren Sawit dan Bima tidak lebih dikarenakan lokasi jatuhnya meteor tersebut yang menimpa rumah warga. Perlu diketahui bahwa hampir setiap hari meteor jatuh (ke Bumi) dan tidak diketahui (dan di-blow-up oleh media) karena lokasinya di lahan terbuka. Hal tersebut tidak seharusnya membuat masyarakat takut. Terlebih jika jatuhnya meteor dikaitkan dengan akan datangnya hari kiamat. Ini tidak lebih dari isu yang coba dihembuskan oleh beberapa pihak yang tidak bertanggung jawab.

Lebih menyedihkan lagi ketika fenomena jatuhnya meteor dikaitkan dengan berbagai hal yang bersifat menyekutukan Allah (syirik). Ya, kita tidak bisa menutup mata pada kepercayaan sebagian orang yang memandang batu meteor memiliki kekuatan magis. Lebih miris lagi ketika penulis diwawancara oleh salah sebuah stasiun televisi. Dalam acara tersebut, gambar penulis disandingkan dengan gambar seorang paranormal. Tidak hanya itu, pendapat kami pun diadu yang sudah barang tentu tidak akan nyambung sama sekali.

Sepatutnya, fenomena alam seperti ini dapat membuat kita lebih yakin akan kekuatan Allah Swt. Jatuhnya meteor itu merupakan pertanda akan eksistensi Allah Swt. sebagai pencipta dan pengatur alam semesta. Di sinilah diperlukan sikap kritis dari berbagai kalangan (baik akademisi, media massa, maupun rohaniawan) untuk bersama-sama mewujudkan bangsa yang cerdas dalam menyikapi berbagai fenomena alam dan bukannya terjebak pada mistik dan syirik.

Bukankah Allah Swt. pernah berfirman,
“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barang siapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar.” (Q.S. An-Nisaa [4]: 48)

Semoga kita senantiasa dijauhkan dari perbuatan syirik yang dapat menodai kesucian akidah. Amin ya rabbal alamin. [Hanifah & Muslik]

Hikmah

JERITAN SEBATANGKARA
Ayat Priyatna Mukhlis

Di pagi hari yang cerah, Rasulullah Saw. bersama istrinya (Aisyah r.a.) hendak melaksanakan shalat Idul Fitri di lapangan. Di jalan, mereka melihat seorang bocah murung di tengah kerumunan anak-anak yang ceria merayakan datangnya Idul Fitri. Bocah murung tersebut terlihat termenung dengan penampilan kucel dan pakaian lusuh.

Rasulullah Saw. (yang tidak tega melihat bocah tersebut) mendekat seraya berkata (sambil mengusap kepala sang bocah), “Wahai bocah, kenapa wajahmu tampak bersedih padahal disekelilingmu banyak anak-anak yang begitu bahagia merayakan Idul Fitri?” Bocah tersebut diam sejenak dan meneteskan air matanya sebelum menjawab, “Wahai Rasulullah, bagaimana diriku tak bersedih? Ketika teman-temanku bergembira ria merayakan Idul Fitri, aku tidak punya siapa-siapa. Wahai Rasulullah, aku hanyalah sebatangkara. Aku tak memiliki ibu yang dijadikan tempat mengadu. Ayahku pun sudah tiada. Hidupku tak menentu. Aku hanya mengharapkan belas kasihan Allah sebagai Tuhan pemberi rezeki. Terkadang aku tak mendapatkan makanan satu atau dua hari. Aku hanya mengharapkan uluran tangan para dermawan untuk mendapatkan sesuap makanan.”

Mendengar rintihan hati sang bocah, Rasulullah berkata sambil meneteskan air mata, “Wahai anak yang malang, maukah engkau tinggal bersama kami? Maukah engkau aku jadikan sebagai anakku? Dan maukah engkau menjadikan Ummul Mukminin sebagai ibumu?” Mendengar jawaban Rasulullah, spontan bocah tersebut berubah wajahnya menjadi berseri-seri. Harapan hidupnya sudah terbuka. Dirinya tidak merasa sendiri lagi. Bergantilah air mata sedih menjadi air mata kegembiraan.

***

Sebagai agama yang mengusung nilai-nilai keadilan, Islam tidak menghendaki penganutnya mengabaikan keberadaan anak yatim. Ia adalah aset umat yang harus diselamatkan dan dipelihara agar tidak menderita. Allah telah menyiapkan kemuliaan di dunia dan kebahagiaan di akhirat bagi orang yang merawat anak-anak malang ini. Rasulullah Saw. pernah bersabda, “Aku dan orang-orang yang menanggung anak yatim, berada di surga seperti ini (lalu beliau mengacungkan jari telunjuk dan jari tengahnya, seraya memberi jarak keduanya).” (H.R. Bukhari, Abu Daud, dan Tirmidzi)

Dalam Al-Quran, banyak sekali ayat-ayat yang menganjurkan untuk memperhatikan anak yatim. Dari mulai anjuran untuk memperlakukan dengan lembut, menyisihkan harta, mendidik, hingga merawat serta membesarkan mereka.

Pada masa Rasulullah Saw, seperti yang diceritakan oleh Abu Daud, ada salah seorang sahabat yang memelihara anak yatim. Saking hati-hatinya, sahabat tersebut sampai-sampai memisahkan antara makanan dan minuman untuk keluarganya dengan makanan dan minuman untuk anak yatim yang diasuhnya karena khawatir kalau-kalau ada jatah (anak yatim) yang termakan oleh keluarganya. Jika makanan anak yatim asuhanya bersisa, dibiarkanya makanan tersebut sampai busuk karena ia takut akan ancaman Allah jika memakannya. Ia pun kemudian menghadap Rasulullah dan menanyakan masalah tersebut. Maka turunlah ayat ke-220 surat Al-Baqarah.

“...Dan mereka bertanya kepadamu tentang anak yatim, katakanlah: ‘Mengurus urusan mereka secara patut adalah baik, dan jika kamu menggauli mereka, maka mereka adalah saudaramu dan Allah mengetahui siapa yang membuat kerusakan dari yang mengadakan perbaikan. Dan jika Allah menghendaki, niscaya Dia dapat mendatangkan kesulitan kepadamu. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.’”

Ayat ini menjadi isyarat bahwa anak yatim harus diposisikan seperti halnya keluarga. Ketika anak-anak kita makan, maka ajaklah anak yatim (yang diasuh) untuk makan bersama. Mengenai larangan memakan harta anak yatim dalam Al-Quran, hal tersebut berlaku ketika kita mengasuh anak yatim yang diwarisi harta agar kita tidak mememanfaatkan harta tersebut untuk kepentingan pribadi. Inilah yang dimaksud memakan harta anak yatim secara zalim yang disebutkan Al-Quran surat An-Nisa ayat ke-10.

Kemudian muncul pertanyaan, bagaimana jika orang yang memelihara anak yatim itu hidupnya serba kekurangan alias miskin? Dalam sebuah hadits, seorang sahabat bertanya kepada Rasulullah. “Ya Rasulullah, aku ini orang yang miskin, dan di rumahku tinggal bersama kami seorang anak yatim, bolehkah aku makan harta dari anak itu?” Rasulullah Saw. menjawab, “Makanlah dari harta anak yatim itu secukupnya, jangan berlebih-lebihan, jangan memubazirkan, jangan hartamu dicampurkan dengan harta anak yatim itu.” (H.R. Abu Daud, Nisa’i, Ahmad, dan Ibnu Majah)

Pemeliharaan dan pembinaan anak yatim bukan hanya sebatas pada hal-hal yang bersifat fisik semata, seperti makanan, minuman, dan pakaian. Pembinaan yang dilakukan juga harus memperhatikan masalah psikisnya, seperti memberikan perhatian, kasih sayang, perlakuan lemah lembut, bimbingan akhlak, dan lain sebagainya. Dalam Al-Quran, Allah Swt. berfirman,
“Adapun terhadap anak yatim maka janganlah kamu berlaku sewenang-wenang.” (Q.S. Adh-Dhuha [93]: 9)

Dalam ayat lain ditegaskan,
“Tahukah kamu orang yang mendustakan agama? Itulah orang yang menghardik anak yatim.” (Q.S. Al-Maa’uun [107]: 1-2)

Artinya, kewajiban memberikan kasih sayang, pengajaran sopan santun, dan segala perlakuan yang baik berbanding lurus dengan kewajiban pemberian materi. Demikianlah Islam mengajarkan kepada kita tentang etika berinteraksi dengan anak yatim.

Berbahagialah orang-orang yang di rumahnya terdapat anak yatim karena Rasulullah memberikan jaminan pertama, memiliki pahala yang setaraf dengan jihad. Rasulullah Saw. pernah bersabda, “Barang siapa yang mengasuh tiga anak yatim, maka bagaikan bangun pada malam hari dan puasa pada siang harinya, dan bagaikan orang yang keluar setiap pagi dan sore menghunus pedangnya untuk berjihad di jalan Allah. Dan kelak di surga bersamaku bagaikan saudara, sebagaimana kedua jari ini, yaitu jari telunjuk dan jari tengah.” (H.R. Ibnu Majah)

Kedua, mendapat perlindungan di hari kiamat. Rasulullah Saw. bersabda, “Demi Allah yang mengutusku dengan kebenaran, di hari kiamat Allah Swt. tidak akan mengazab orang yang mengasihi anak yatim, dan bersikap ramah kepadanya, serta bertutur kata yang manis. Dia benar-benar menyayangi anak yatim dan memaklumi kelemahannya, dan tidak menyombongkan diri pada tetangganya atas kekayaan yang diberikan Allah kepadanya.” (H.R. Thabrani)

Ketiga, masuk surga dengan mudah. Rasulullah Saw. bersabda, “Barang siapa yang memelihara anak yatim di tengah kaum muslimin untuk memberi makan dan minum, maka pasti Allah memasukkannya ke dalam surga, kecuali jika ia telah berbuat dosa yang tidak dapat diampuni.” (H.R. Tirmidzi)

Itulah tiga keutamaan orang yang memelihara anak yatim. Semoga hal tersebut dapat membuat kita terus menerus termotivasi untuk selalu memelihara anak yatim. Amin.

Kilas 1

REKREASI ALA KELUARGA CERDAS

Rekreasi hendaknya dapat dijadikan sarana pendidikan selain bersenang-senang. Berekreasi sambil mendapatkan pengetahuan dan wawasan mengenai berbagai hal dipandang sangat penting bagi keluarga khususnya anak-anak. Inilah terjemahan “pendidikan yang dikemas dalam format menyenangkan” yang dimaksud Kak Seto (Ketua Komnas perlindungan Anak) dalam acara Launching & Bedah Buku EDUVACATION (Panduan Wisata Keluarga Cerdas) merupakan pada Ahad (09/05) dalam rangkaian Islamic Book Fair yang digelar di Landmark Convention Hall Bandung.

Selain Kak Seto, hadir pula Pratomodjati (Direktur PT. Dairygold Indonesia), Ir. H. Herdiawan, MM (Kepala Dinas Pariwisata & Kebudayaan Provinsi Jabar), serta Totong (General Manager Taman Wisata Matahari Bogor). Pada kesempatan tersebut, Herdiawan menyampaikan bahwa begitu banyak objek wisata di Jawa Barat ini yang syarat dengan pendidikan. “Bahkan, semua objek wisata tersebut mengandung nilai pendidikan apabila kita serius menggalinya,” tutur Herdiawan. Sementara itu, Totong menyatakan bahwa objek wisata yang dikelolanya memiliki visi dan misi berbasis rekreasi dan pendidikan. Hal ini sebagaimana diterapkan pada penyediaan fasilitas-fasilitas yang ada dan yang akan dikembangkan di masa yang akan datang. “Bukan hanya itu, taman wisata yang kami kelola pun memasang harga tiket masuk yang terjangkau demi memberi kesempatan lebih banyak lagi masyarakat yang dapat menikmati rekrasi perndidikan,” papar Totong dalam acara yang disponsori oleh PT. Dairygold Indonesia, Penerbit Khazanah Intelektual, dan Majalah Percikan Iman tersebut.

Melengkapi ketiga opini pembicara yang lain, Pratomodjati menekankan pentingnya asupan gizi di mana pun berada, tak terkecuali di wahana wisata. Menurutnya, asupan gizi yang terkandung dalam keju sangat dibutuhkan untuk proses tumbuh kembang anak dan CHEESY adalah pilihan merk utama untuk membangun keluarga cerdas. [Ahmad]

Kilas 2

MEMPERCAYAKAN ANAK PADA SUSU SAPI? PIKIR LAGI!

Hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2007 menunjukkan bahwa kejadian gizi buruk pada balita mencapai 5,4 % dan 13 % lainnya mengalami kurang gizi. Yang paling memprihatinkan, 11,7 % dari penderita gizi buruk adalah bayi berumur kurang dari 6 bulan. Data ini diungkap dr. Ariani dalam acara bedah buku Ibu Susui Aku! yang diselenggarakan pada Islamic Book Fair 2010, Rabu (12/09) di Landmark Convention Hall Bandung. Tingginya angka gizi buruk pada bayi, menurut dr. Ariani, sesungguhnya dapat dicegah bila setiap bayi mendapat asupan ASI pada 6 bulan pertama pertumbuhannya (ASI eksklusif). Selama 6 bulan tersebut, pemberian ASI saja sudah sangat cukup untuk memenuhi kebutuhan gizi bayi.

Dalam buku Ibu Susui Aku! yang ditulisnya, dr. Ariani menegaskan bahwa selain mampu mencukupi kebutuhan gizi bayi, ASI juga dapat menurunkan risiko bayi terkena berbagai penyakit infeksi (seperti diare dan infeksi saluran pernapasan akut), mencegah penyakit kanker, memenuhi kebutuhan tumbuh kembang anak, menurunkan kemungkinan terserang penyakit jantung dan kencing manis, serta meningkatkan kemampuan berpikir anak.

Sayangnya, serangkaian manfaat ASI tersebut tidak diiringi oleh kesadaran para orangtua dalam memenuhi hak anak atas ASI. “Tidak ada satu alasan pun yang bisa membuat seorang ibu mempercayakan anaknya pada sapi. Dia harus bisa menyusui anaknya meskipun harus bekerja. Bila seorang ibu mau dan bersungguh-sungguh, hal tersebut pasti bisa dilakukan walaupun ia berkarier di luar rumah,” terang Ulfatun Amanah, S.Pd., seorang pengajar di Pondok Pesantren Daarul Kalam yang juga menjadi pembicara dalam acara bedah buku tersebut.

“Susu formula, berdasarkan hasil penelitian, malah akan memberikan efek buruk seperti meningkatkan risiko berbagai penyakit (asma, alergi, kanker, kencing manis, dan obesitas), menurunkan tingkat kecerdasan, serta meningkatkan risiko kematian pada anak. Selain itu, mengurangi konsumsi susu formula tentunya akan berdampak ekonomis,” tutur dr. Ariani dalam acara yang dimoderatori oleh Dini Handayani tersebut.

Jadi, masihkah ibu mempercayakan kebutuhan ASI pada susu sapi? Sebaiknya dipikirkan lagi. [Wia]

Tafakur

IF ONLY I HAVE ONE MORE DAY

Let me tell you a sinner story
In judgment day, he got what he deserve
He feels terrible about what he done

“If only I have one more day,
I’ll pray and pray
No matter how tired my body.

If only I have one more day,
I’ll read Al-Quran more often
No matter how hard it is I will go on and on

If only I have one more day,
I’ll never hush them even once
I’ll obey them even though I have to disobey my self,”
He whispered to him self

Too bad, we have the whole day
And yet we’re still waste it.

***

JIKA AKU HIDUP SATU HARI LAGI

Mari aku ceritakan kisah seorang pendosa
Di hari pembalasan dia pun didera siksa
Sesal senantiasa mengisi relung hatinya

“Jika aku hidup satu hari lagi,
Aku akan beribadah tiada henti
Tak peduli betapa letihnya tubuh ini.

Jika aku hidup satu hari lagi,
Akan kubaca Al-Quran berkali-kali
Walaupun malas dan terbata aku akan terus mengaji.

Jika aku hidup satu hari lagi,
Tak kan pernah kubentak orangtuaku meski sekali
Aku akan berbakti meski untuk itu aku harus mengorbankan kebahagiaanku sendiri,”
Lirihnya pada diri sendiri

Sayang, kita yang masih diberi hari
Toh kita tetap memubazirkannya.

[Muslik]

Tahukah Anda

HEWAN-HEWAN BEROTAK CEMERLANG

Tahukah Anda bahwa lumba-lumba merupakan mamalia laut paling cerdas? Otak lumba-lumba memiliki ukuran Cerebral Cortex dan Lobus Frontalis lebih besar 40% dari pada otak manusia. Cerebral Cortex pada lumba-lumba merupakan bagian otak yang bertanggung jawab dalam hal kemampuan berkomunikasi, bersosialisasi, mengolah informasi, dan memecahkan masalah. Itulah sebabnya lumba-lumba mudah dilatih untuk berperilaku ramah terhadap manusia.

Tahukah Anda bahwa monyet Rhesus merupakan jenis monyet dengan daya ingat yang luar biasa? Monyet jenis ini memiliki kemampuan belajar yang lebih unggul dibandingkan dengan jenis lainnya. Selain memiliki memori yang sangat baik, monyet ini juga memiliki sistem komunikasi/vokal yang menyerupai manusia. Lebih istimewa lagi, monyet ini mampu menunjukkan emosinya melalui ekpresi wajah yang mudah dipahami manusia. Mengagumkan bukan? Atas kemampuannya ini, monyet Rhesus sering dipakai untuk penelitian biologi dan penelitian medis lainnya.

Tahukah Anda bahwa anjing jenis Border Ollie merupakan anjing paling cerdas di dunia? Anjing ini sering digunakan untuk menggembalakan ternak sehingga keberadaannya secara tidak lagsung memberikan dampak positif pada pergerakan industri pertanian dan peternakan di daerah asalnya, Skotlandia. Selain pandai menjaga ternak, hewan ini juga juara dalam berbagai kompetisi olahraga anjing seperti lompat tinggi, permainan bola terbang, bahkan kompetisi menari.

Selama ini, burung Beo memang terkenal dengan kemampuannya menirukan ucapan manusia. Akan tetapi tahukah Anda bahwa African Grey Parrot (nama lain burung Beo) tidak hanya mampu meniru ucapan tuannya tapi juga pandai merangkai kata-kata ke dalam bentuk kalimat sederhana? Burung yang berasal dari Afrika ini dapat dilatih dengan mudah sehingga mereka dapat meniru sekaligus menciptakan suara-suara dengan sempurna. Kecerdasan spesies ini terlihat melalui salah satu burung Beo Afrika bernama Alex yang mampu mengidentifikasi lebih dari 50 benda, tujuh warna, lima bentuk, dan bilangan numerik dari satu sampai enam. Lebih jauh lagi, burung ini juga mampu memahami perbedaan antara besar dan kecil, atas dan bawah, serta menyampaikan perasaannya dengan mengucapkan “Akan menjauh” apabila bosan melakukan pengujian.

Tahukah Anda bahwa gurita raksasa di pelataran utara samudra Pasifik merupakan invertebrata paling cerdas yang pernah ada? Hewan ini dianggap memiliki kemampuan pengamatan dan pemecahan masalah yang luar biasa. Selain itu, hewan ini juga memiliki penglihatan yang tajam dan sensitifitas yang sangat kuat.

Tahukah Anda bahwa The New Caledonian Crow merupakan spesies paling cerdas di antara jenis burung lainnya? Sebuah pengujian ilmiah menunjukkan bahwa burung ini memiliki IQ paling tinggi. Mereka dapat berhitung, membedakan bentuk bilangan kompleks, dan melakukan tugas-tugas observasional dengan baik. Salah satu kecerdasannya yang luar biasa istimewa adalah kemampuan menggunakan alat-alat dalam setiap pemburuan makanannya, misalnya dengan menciptakan pisau yang terbuat dari potongan daun dan batang rumput. Cerdas bukan?

Tahukah Anda bahwa Jumping Spider (Portia Labiata) merupakan jenis serangga tercerdas di dunia? Mereka berhasil memperlihatkan kepandaian melalui sebuah uji tes laboratorium yang menunjukkan bahwa mereka berhasil memecahkan berbagai permasalahan yang diberikan dengan baik. Ketrampilan mereka diperlihatkan melalui teknik pembuatan perangkap untuk menjebak mangsanya. Mereka akan membiarkan mangsanya datang dan pergi (ke sarangnya) serta menunggu sampai beram-jam sampai waktu penyerangan yang tepat tiba.

Tahukah Anda bahwa gajah Afrika, gajah Asia, dan gajah hutan Afrika merupakan jenis gajah yang jenius? Mereka mampu membuat mind mapping yang baik sehingga dapat mengunjungi tempat-tempat yang sudah lama tidak didatangi. Selain itu, mereka juga memiliki pendengaran yang luar biasa baik. Mereka berkomunikasi dengan mengaum (layaknya bunyi terompet) dan juga dapat mengirimkan suara dari jarak jauh dengan menggunakan media tanah. Yang menarik, gajah juga tercatat telah melakukan berbagai perilaku yang berkaitan dengan seni dan pelampiasan emosi seperti melukis sebuah gambar untuk mengekspresikan dirinya.

Subhanallah! Hewan-hewan yang selama ini dianggap hanya mampu berperilaku berdasarkan insting (hewani) saja ternyata juga diberi anugerah kecerdasan yang luar biasa. Kalau sudah begini, masihkah manusia berhak menyombongkan kecerdasan dan kepandaian yang dimilikinya? [Sarah, sumber kaskus.us]

Special Issue World Cup 2010 (1)

EUPHORIA PIALA DUNIA

Pentas akbar Piala Dunia 2010 yang digelar di Afrika Selatan sebentar lagi akan dimulai. Para penggemar bola akan disuguhi pertandingan akbar dari permainan bintang sepakbola internasional yang sudah hampir dapat dipastikan akan seru dan menegangkan. Masyarakat dunia pun akan larut dalam pesta yang diselenggarakan empat tahunan ini.

Banyak orang telah menyiapkan berbagai peralatan untuk menyaksikan ajang sepakbola bergensi ini jauh-jauh hari, seperti menyiapkan layar lebar untuk acara nonton bareng. Konon katanya, tidak akan afdol jika menyaksikan pertandingan Piala Dunia sendiri-sendiri di layar TV yang hanya berukuran 14 inchi. Media cetak dan elektronik pun ikut disibukkan oleh liputan Piala Dunia. Bagi mereka, ajang bergensi ini dapat menyedot perhatian masyarakat dan secara otomatis akan menaikan oplag atau rating media yang bersangkutan. Karenanya, tanpa segan media-media itu menyediakan slot halaman atau jam tayang ekstra, khsusus untuk liputan Piala Dunia.

Dalam hal ekonomi, sepakbola sudah menjadi industri yang sangat menggiurkan. Banyak sekali klub sepakbola berdiri dengan tujuan untuk mencetak pemain handal dan berkelas yang kelak diharapkan akan mendatangkan keuntungan bagi klub tersebut. Di luar negri, banyak sekolah sepakbola yang telah mencetak pemain kelas dunia. Pihak penyelenggara sekolah tersebut akan mendapat keuntungan yang sangat besar dengan modal ‘hanya’ membina dan melatih pemain kemudian ‘menjual’ pemain tersebut kepada klub yang membutuhkan yang tidak segan membayar dengan harga selangit. Contohnya adalah Cristiano Ronaldo yang dulu dibina oleh klub kecil Portugal dan kini menjelma menjadi pemain sepakbola terkenal, bahkan konon disebut sebagai pemain termahal di dunia saat ini.

Bagaimana dengan di Indonesia. Di negara yang berpenduduk muslim terbesar di dunia ini, pemain dan prestasi sepakbola Tanah Air masih belum bisa dibanggakan. Walaupun demikian, sepakbola tetap menjadi olahraga yang paling digemari di negri ini. Penduduk Indonesia tidak hanya hobby bermain, tapi juga untuk menyaksikan pertandingan sepakbola. Mereka rela menunda pekerjaan, merubah rutinitas bahkan meninggalkan makanan jika itu perlu dilakukan. Banyak orang rela menghabiskan sejumlah uang untuk sepakbola. Mereka juga melakukan perjalanan ke berbagai daerah lain untuk mendukung tim mereka, membayar tiket masuk stadion, membeli kostum sepakbola, bendera dan atribut-atribut tim idola, serta rela mencorat-coret muka dengan gambar tim kesayangan.

Jika tidak berkesempatan menonton langsung di stadion, mereka akan menghabiskan waktu berjam-jam untuk menonton di TV, mendengarkan semua komentar, atau menunggu siaran ulang. Mereka akan duduk berjam-jam untuk berdebat dan mendiskusikan formasi tim jagoan, strategi-taktik-kesalahan, serta mengamati pertandingan sebelumnya untuk memprediksi hasil pada pertandingan berikutnya. Jika digelar suatu pertandingan sepakbola, kita akan melihat suporter saling mengejek, saling melontarkan kata-kata kotor, saling memaki, bahkan tidak jarang saling baku hantam seusai pertandingan. Masa suporter fanatik tersebut kemudian menjelma menjadi kerumunan yang menakutkan. Masyarakat umum merasa tidak aman ketika berpapasan dengan mereka. Tidak jarang, suporter fanatik tersebut merampas dan menganiaya siapa saja yang mereka jumpai di jalan demi melampiaskan kekesalan setelah jagoannya dikalahkan.

Wajah buruk sepakbola Tanah Air turut pula dinodai oleh anggapan bahwa pahlawan sejati adalah para bintang sepakbola. Mereka pun melupakan para nabi, mujahid, serta ulama yang telah berjasa membela agama Islam dengan jiwa, raga, dan segala upaya. Yang lebih mengherankan, sepakbola menjadi salah satu cabang ilmu yang dianggap penting sehingga diajarkan sebagai materi pelajaran khusus dan diperhatikan melebihi perhatian mereka terhadap ilmu agama. Tidak hanya itu, lembaga-lembaga resmi pemerintahan pun memberikan perhatian kepada sepakbola lebih dari segala-galanya. Bayangkan, sekian persen APBD (katakanlah 10 %) dikeluarkan untuk membiayai olahraga ini. Sementara itu, di sisi lain kita masih menyaksikan banyak korban bencana alam yang tak terurus, pendidikan yang masih kocar-kacir, ekonomi yang morat-marit, tenaga kerja yang tidak terurus, dan seabrek persoalan sosial lain yang masih belum terselesaikan.

Jika demikian, dalam sepakbola banyak sekali penyimpangannya ajaran agama Islam. Sepakbola dianggap lebih penting, lebih berharga, dan lebih layak dibela, daripada agama (Islam). Ini artinya, sepakbola telah menjadi agama baru yang menjadi pesaing berat ajaran Islam. Kita tidak sadar bahwa kita telah diperalat oleh olahraga yang satu ini sehingga melupakan kewajiban-kewajiban yang telah Allah tentukan kepada kita.

Untuk itu, marilah kita kembali kepada jalan yang benar dengan cara mendalami agama Islam dengan baik. Jika kita terlanjur mencintai sepakbola, alangkah baiknya kalau tidak terlalu fanatik dengan tim yang kita banggakan karena hal itu akan merusak tatanan agama yang kita anut. Berlakulah sewajarnya dan jangan lupa kewajiban kita sebagai umat Islam. Ingatlah bahwa segala sesuatau yang kita kerjakan akan dicatat oleh Allah Swt. Dalam Al-Quran dikatakan, “Wa laa tamutunna illa wa antum muslimun! Janganlah kalian mati, melainkan sebagai seorang Muslim!” Maka kita harus berusaha serta memohon kepada Allah agar kelak mati di atas ajaran Islam, bukan fii sabili bola. [Ali]

Special Issue World Cup 2010 (2)

GILA BOLA JANGAN SAMPAI BENAR-BENAR MEMBUAT ‘GILA’

Meski sebagian besar orang menggilai bola, namun tidak berarti bahwa kontroversi (hukum syari) menonton pertandingan sepakbola tidak terjadi. Meski hembusannya tidak terlalu kencang, namun opini yang menyatakan bahwa menonton sepakbola dikatagorikan haram tidak dapat dipungkiri keberadaannya.

Lantas bagaimana hukum menonton pertandingan sepakbola itu sebenarnya? Pada dasarnya, menonton pertandingan sepakbola hukumnya adalah mubah (boleh). Namun demikian, menonton pertandingan sepakbola terkadang mendatangkan madharat sehingga sebagian ulama mengharamkannya. Beberapa ke-madharat-an tersebut antara lain:

1. Tidak memperhatikan waktu shalat. Hendaknya dalam bermain bola (termasuk menontonnya) kita tidak melupakan shalat, terutama Maghrib yang waktunya memang sangat singkat. Main bola atau menontonnya dengan meninggalkan shalat wajib yang fardhu hukumya haram dan berdosa besar. Tidak ada satu pun alasan yang dibenarkan untuk meninggalkan shalat termasuk menonton pertandingan sepakbola sekalipun. Karenanya, kalau Anda menonton pertandingan sepakbola yang digelar pada sore hari (berdekatan atau bahkan bersamaan dengan waktu shalat Maghrib), bersiap-siaplah mencari tempat shalat. Di lakukan di lapangan terbuka pun tidak mengapa. Toh, shalat tidak harus dilakukan di dalam masjid atau rumah, bukan?

2. Menyia-nyiakan waktu. Hal ini dikarenakan satu setengah jam lebih akan berlalu sia-sia (tanpa ada manfaat dunia, lebih-lebih akhirat) ketika menonton pertandingan sepakbola. Bukankah waktu lebih berharga dari harta? Setiap waktu berlalu dan tidak diisi dengan ketaatan kepada Allah, maka akan dihitung sebagai kerugian. Firman-Nya, “Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasihat menasihati supaya menaati kebenaran dan nasihat menasihati supaya menetapi kesabaran.” (Q.S. Al-‘Ashr [103] : 2-3)

3. Menyia-nyiakan harta dengan membeli tiket nonton sepakbola yang harganya sangat mahal. Banyak para penonton sepakbola yang rela menghabiskan uangnya hanya untuk menyaksikan pemain kesayangannya, tanpa mempedulikan keluarga yang lebih membutuhkan uang tersebut. Bukankah Nabi Saw. telah melarang kita menyia-nyiakan harta?

4. Enggan shalat berjamaah di masjid. Faktanya, di musim pertandingan sepakbola (luar negri), jamaah shalat Shubuh di masjid hanya segelintir orang karena jamaah lain yang biasa shalat Shubuh berjamaah tak mampu menahan kantuk setelah menonton pertandingan sepakbola atau bahkan masih menonton tim kesayangannya di TV. Miris, bukan?

5. Menyia-nyiakan kekuatan atau tenaga yang dimiliki (bahkan melemahkan kekuatan badan) karena begadang menonton pertandingan sepakbola sampai pagi hari. Fakta medis menyatakan bahwa begadang dapat melemahkan badan dan juga membahayakan kesehatan. Jika tidak terlihat efek buruknya sekarang, maka di waktu mendatang (cepat atau lambat) hal itu akan terjadi.

6. Kebanyakan para bintang sepakbola adalah orang kafir. Apabila mengagumi pemain kafir, bisa saja hati orang yang bersangkutan terpaut dan mencintai orang kafir tersebut. Hal ini terbukti pada sebagian pemuda muslim yang lebih senang memakai pakaian bertuliskan pemain sepakbola terkenal (padahal kafir) daripada mengenakan baju-baju yang identik dengan Islam. Ada juga di antara mereka yang terfitnah dengan penyakit panjang angan-angan. Sebagian dari mereka lebih tahu tentang seluk beluk pemain favoritnya yang kafir dibandingkan dengan Nabinya (Muhammad Saw.).

7. Kebanyakan pemain sepakbola membuka aurat ketika berlaga. Dalam Islam, melihat aurat orang lain hukumnya haram. Aurat laki-laki sudah jelas, yaitu bagian tubuh yang terletak antara pusar dan lutut. Pesepakbola yang memperlihatkan paha (di atas lutut) termasuk melanggar ketentuan syariah yang secara umum disepakati ulama. Meski ada sebagian pendapat yang menyatakan bahwa paha bukan termasuk aurat bagi laki-laki, namun hendaknya kita memilih untuk lebih berhati-hati.

8. Dampak negatif yang nyata dari permainan atau pertandingan sepak bola adalah judi dan taruhan. Bagi penggila bola, menonton pertandingan sepakbola tidak akan lengkap tanpa taruhan. Tidak harus dalam bentuk uang berjumlah besar, saling traktir makan pun kerap dijadikan hadiah taruhan. Faktanya, di Inggris, 40 % kaum laki-laki berjudi secara rutin dengan media pertandingan sepakbola. Sedangkan di Amerika Serikat, pada tahun 1968 M, sebanyak 63.000.000 (enam puluh tiga juta) warganya berjudi dengan media pertandingan sepakbola. Islam jelas menyatakan bahwa taruhan pada hakikatnya adalah sebuah perjudian yang notabene diharamkan!

Jadi, kalau Anda memang benar-benar menggilai sepakbola, jauhi delapan kegilaan tersebut di atas agar terhindar dari dosa dan ke-mudharat-an. [Ali]

Special Issue World Cup 2010 (3)

MUSLIM YANG TURUT BERLAGA DI PIALA DUNIA 2010

Anda mengidolakan pemain sepakbola? Boleh saja selama hal itu tidak sampai menodai akidah. Seperti kita ketahui bersama bahwa mayoritas bintang sepakbola yang berlaga di Piala Dunia 2010 adalah orang-orang non-muslim. Mengidolakan bintang sepakbola non-muslim dikhawatirkan akan membuat kita terjebak pada pengkultusan dan penodaan agama. Karena itulah, berikut ini kami tampilkan profil pesepakbola muslim yang akan berlaga di Piala Dunia 2010. Bagi penggila bola, tentu sudah hafal dengan sepak terjang mereka di lapangan hijau. Namun demikian, tidak semua tahu bahwa mereka adalah saudara kita yang seiman.

Khalid Boulahrouz:
The Cannibal
Bila Anda adalah penggemar Liga Jerman, pasti kenal dengan pria kelahiran Maassluis (Belanda) pada 28 Desember 1981 ini. Ya, dia adalah Khalid Boulahrouz, seorang pria Belanda keturunan Maroko. Pria yang berperawakan garang ini kini menjadi salah satu andalan tim nasional Belanda. Banyak klub telah dibelanya, di antaranya Chelsea yang telah membesarkan namanya di kancah sepakbola internasional.

Saat ini, Boulahrouz bermain di klub elit Bundesliga Jerman VfB Stuttgart dan dikenal degan sebutan “Khalid the Cannibal” karena kemampuannya ‘memakan’ lawan. Julukan yang seram di lapangan tersebut, ternyata tidak terbawa dalam pergaulan sehari-harinya yang terkesan lembut dan sangat taat pada agamanya. Dalam sebuah wawancara dengan harian De Volkskrant beberapa waktu lalu, Boulahrouz menyebutkan pengaruh Islam dalam dirinya. “Mengaji Al-Quran memberi saya kedamaian dan membuang stress yang ada. Kesabaran sangat penting di situasi yang penuh dengan tekanan dan Islam mengajarkan bagaimana seharusnya kita bersikap sabar,” ujar suami dari Sabia ini. Saat ini, Boulahrouz tengah mengembangkan pengetahuan tentang Islam. Ia rajin shalat lima waktu dan mengaji Al-Quran. “Saya belajar bahasa Arab agar bisa lebih mengerti ajaran Islam,” pungkasnya.

Eric Bilal Abidal:
Islam Adalah Sumber Inspirasi
Germelap kompetisi La Liga Spanyol yang penuh dengan hedonisme, konsumerisme, dan kemewahan lainnya, ternyata tidak mempengaruhi keimanan salah satu pilar klub elit Spanyol FC Barcelona ini. Dengan keterbatasan waktu dan atmosfir kehidupan yang sangat glamor, ia tetap bisa melaksanakan kewajibannya sebagai seorang muslim. Siapakah dia? Dia adalah Eric Abidal, putra kelahiran Lyon (Prancis) pada 11 September 1979. Abidal yang sebelumnya beragama Katolik kemudian pindah agama setelah menikah dengan Hayet Abidal, seorang perempuan asal Aljazair.

Kepada majalah Match yang terbit di Paris, Abidal mengatakan bahwa Islam telah mendorongnya untuk bekerja keras untuk memperkuat timnya. “Saya memeluk Islam dengan keyakinan penuh. Semua berlangsung alami. Pilihan memeluk agama Islam bukan karena faktor istriku, tapi sebuah hadiah yang tiba-tiba saja muncul. Itu benar-benar terjadi apa adanya. Mengalir begitu saja dan membuatku merasa bahagia,” ujar ayah dari Meliana dan Canelia ini. Sejak masuk Islam, Abidal yang biasa bermain di posisi sayap kiri ini berusaha menjadi muslim yang taat dengan tidak pernah melupakan shalat.

Kolo Habib Toure:
Ustadz yang Pandai Bermain Bola
Bek pekerja keras asal Pantai Gading yang bermain untuk klub kuda hitam di Premiere League Manchester City, Kolo Toure, resmi menjadi pemain inti tim nasional Pantai Gading bersama dengan adiknya, Yaya Toure. Mereka akan bergabung dengan Didier Drogba cs dalam menghadapi putaran final Piala Dunia yang akan dilaksanakan di Afrika Selatan pada Juni 2010. Terpilihnya Kolo Toure menjadi pemain inti merupakan berkah kerja kerasnya berlatih dan bermain dengan Manchester City.

Sikapnya yang low-profile, membuat banyak orang menyukai tindak tanduknya. Selain itu, Toure termasuk muslim yang taat. Terbukti, dia sering melakukan dakwah dan mengajar mengaji murid-muridnya di masjid London. Selain itu, pemain kelahiran Pantai Gading, 19 Maret 1981 ini rajin shaum walaupun sedang bertanding. Sebelum bergabung di Manchester City (klub terkaya di Inggris milik billioner asal Uni Emirat Arab, Syaikh Al-Mansoor), Toure merupakan pemain The Gunner Arsenal yang bermarkas di London. Saat bermain dengan Arsenal itulah, di waktu senggang ia berdakwah dan mengajarkan agama Islam pada anak-anak muslim di sana bersama sang adik (Yaya Toure) yang juga beragama Islam. Meskipun sekarang telah pindah ke Manchester, Toure tetap tidak melupakan anak-anak asuhnya. Dengan mengedarai mobil, di sela-sela kesibukannya bermain membela Manchester City, ia tetap meluangkan waktu untuk membagi ilmunya. Sebuah kepedulian yang patut dicontohkan oleh setiap muslim, bukan?

Sulley Ali Muntari:
Bersujud Setelah Mencetak Gol
Sulley Ali Muntari, lahir di Kongo (Ghana) pada 27 Agustus 1984. Sebagai pesepakbola handal, ia diberkahi talenta yang luar biasa yang membuat kepincut banyak klub di Eropa. Dari sekian banyak klub Eropa yang meminang, hanya Inter Milan yang membuat hatinya luluh. Ia mengagumi sosok pelatih Inter Milan, Jose Mourinho. Muntari pun langsung menjadi anak asuh kesayangan Mourinho.

Muntari menjadi pusat perhatian ketika dia merayakan gol layaknya muslim sejati. Ketika Inter Milan mengalahkan Juventus 1-0 di ajang Seri A lewat gol yang dicetaknya, Muntari langsung bersujud, menyentuhkan dahinya ke lapangan sebagai ucapan terima kasih kepada Allah Swt. Hal tersebut sama sekali tidak mendapat komplain dari tifosi (pendukung) garis keras Inter dan rekan satu timnya. Kebebasan menjalankan ibadah bagi Muntari adalah segalanya dan hal itu dihormati oleh manajemen Inter. Tidak heran jika kemudian Muntari mendapatkan sambutan positif dari muslim Italia setelah merayakan golnya dengan bersujud. Untuk memperlihatkan identitasnya sebagai seorang muslim, Muntari tetap keukeuh berpuasa meski harus memperkuat Inter Milan Nerazzurri.

Robin van Persie:
Goal-Getter Asal Arsenal
Robin Van Persie lahir di Rotterdam (Belanda) pada 6 Agustus 1983. Ia terlahir dari keluarga broken-home. Setelah orangtuanya bercerai, van Persie dibesarkan oleh ayahnya yang merupakan seorang seniman. Semasa kanak-kanak, van Persie kerap berulah dan mengalami masalah temperamen yang mengakibatkannya sering dikeluarkan dari kelas. Namun di balik sifat tempramennya, ternyata van Persie mempunyai bakat sepakbloa yang hebat. Ia pun dikenalkan oleh ayahnya ke klub sepak bola amatir Belanda SBV Excelsior. Di tahun ini, van Persie berhasil membawa Belanda lolos kualifikasi Piala Dunia di Afrika Selatan.

Di Arsenal, ia menemukan Islam sebagai agamanya setelah menikah dengan Bauchra, perempuan kelahiran Maroko. Kini ia telah dikaruniai seorang anak.

Franck Ribery:
“Islam Menjadi Sumber Kekuatan Saat Bermain”
Ada gunjingan menarik saat pembukaan Piala Dunia 2006. Franck Ribery yang saat itu memperkuat Tim Nasional Prancis berdoa dengan menengadahkan tangan seperti yang biasanya dilakukan seorang muslim. Banyak di antara penggemarnya yang menyayangkan hal tersebut. Ribery sendiri tidak menyangka bahwa yang dilakukannya (berdoa) akan dinilai negatif oleh sebagian orang. Bagi Ribery, kepercayaan dan keimanan barunya tersebut merupakan persoalan pribadi, bukan untuk konsumsi publik. Oleh sebab itu, ia selalu menolak ketika wawancara sudah mengarah pada persoalan keimanan. Ia bahkan pernah dengan agak keras memperingatkan para wartawan untuk tidak mempertanyakan hal-hal yang bersifat pribadi.

Siapakah sebenarnya Franck Ribery? Ia adalah seorang mualaf yang lahir pada tanggal 1 April 1983. Ribery menjadi mualaf setelah menikahi istrinya (Wahiba Belhami) yang berasal dari Maroko. Hizya adalah putri kecil buah pernikahan mereka berdua.
Ribery mengaku bahwa Islam adalah sumber kekuatannya, baik di dalam atau pun di luar lapangan bola. Ia telah menghadapi masa-masa sulit dalam membangun karier dan mencari kedamain jiwa. Dan akhirnya ia menemukan Islam sebagai jalan bagi kedamaian jiwanya. [Ali]

Bedah Al-Quran

MERETAS NIKMAT MENABUR SYUKUR
Tafsir Surat Al-Baqarah [2]: 47-48
Dr. Aam Amiruddin

“Hai Bani Israil, ingatlah akan nikmat-Ku yang telah aku anugerahkan kepadamu dan (ingatlah pula) bahwasanya aku telah melebihkan kamu atas segala umat.
Dan jagalah dirimu dari (azab) hari (kiamat, yang pada hari itu) seseorang tidak dapat membela orang lain, walau sedikitpun; dan (begitu pula) tidak diterima syafaat dan tebusan dari padanya, dan tidaklah mereka akan ditolong.”

***

"Hai Bani Israil, ingatlah akan nikmat-Ku yang telah aku anugerahkan kepadamu dan (ingatlah pula) bahwasanya aku telah melebihkan kamu atas segala umat.”

Ayat ini merupakan peringatan kedua bagi Bani Israil terkait sederet nikmat yang telah dilimpahkan Allah pada mereka. Sebelumnya (pada ayat ke-40 surat Al-Baqarah), Allah mengingatkan agar mereka memenuhi janji-janji yang telah diucapkan. Peringatan berulang ini menunjukkan betapa buruknya sifat yang melekat kuat dalam diri Bani Israil. Sifat buruk tersebut adalah kelalaian akan kewajiban bersyukur atas nikmat yang mengalir deras kepada mereka.

Kenikmatan pertama adalah diberikannya keutamaan kepada Bani Israil di antara bangsa-bangsa lainnya di dunia saat itu. Para ahli tafsir memberi penjelasan beragam mengenai keutamaan yang diberikan kepada Bani Israil tersebut. Abu Qatadah memberi pengertian bahwa keutamaan yang dimaksud adalah kualitas dan kuantitas sumber daya manusia (Bani Israil) dalam bidang keilmuan yang notabene menonjol bila dibandingkan dengan ilmuwan-ilmuwan lain di luar Bani Israil. Abu ‘Aliyah menjelaskan ayat ini dengan mengatakan bahwasannya Bani Israil diberi kelebihan dengan turunnya sejumlah nabi, kitab, dan raja yang berasal dari keturunan mereka. Ibnu Zaid menafsirkan keutamaan ayat tersebut dengan mengatakan bahwasannya Bani Israil memiliki kekuatan ilmu dibandingkan kaum yang lainnya sambil membacakan ayat berikut.
“Dan sesungguhnya telah Kami pilih mereka dengan pengetahuan (Kami) atas bangsa-bangsa.” (Q.S. Ad-Dukhaan [44]: 32)

Ibnu Zaid kemudian menambahkan bahwasannya keutamaan ilmu Bani Israil hanya berlaku selama mereka mengikuti ajaran Rasul yang diturunkan kepada mereka. Karena membangkang, meski memiliki kecerdasan luar biasa, Bani Israil tidak dapat dikatakan memiliki keutamaan dalam bidang keilmuan dan bahkan dalam Al-Quran mereka divonis tak lebih dari seekor kera yang hina.

Al-Maraghi mengomentari ayat ke-47 surat Al-Baqarah tersebut di atas dengan mengatakan bahwasannya kelebihan itu lebih bersifat kolektif dan bukan masing-masing personal Bani Israil. Al-Maraghi menambahkan bahwa keutamaan itu hanya berlaku untuk Bani Israil sebelum datangnya Islam. Dengan datangnya Nabi Muhammad Saw., predikat keutamaan suatu bangsa beralih kepada umat Rasulullah Saw. sesuai dengan firman-Nya berikut ini.

“Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang maruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya ahli kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik.” (Q.S. Ali Imran [3]: 110 )

Apapun namanya, ayat di atas sebenarnya ditujukan kepada kita sebagai umat Nabi Muhammad Saw. Keutamaan yang diberikan kepada kita sebagai umat akhir zaman tidak kalah banyaknya dengan keutamaan yang diberikan kepada Bani Israil. Jika tidak menjaga diri dari sikap dan perilaku seperti Bani Israil, apa bedanya kita dengan mereka? Apa yang bisa kita lakukan untuk menyelamatkan diri dari adzab Allah?

“Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; ‘Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.’”(Q.S. Ibrahim [14]: 7)

Sudah saatnya kita menyadari betul bahwa keutamaan suatu kaum adalah pemberian Allah Swt. semata. Kehadirannya adalah wujud kasih sayang Allah kepada hamba-Nya. Nikmat itu ada yang bersifat personal dan ada pula yang bersifat kolektif. Secara personal (kalau kita coba hitung nikmat yang diterima), kita tidak akan pernah mampu menghitungnya dengan alat secanggih apapun. Apalagi kalau kita mencoba melihat dan menghitung nikmat tersebut secara kolektif. Kita hidup di negara tercinta yang aman, damai, dan subur. Itu merupakan nikmat kolektif yang amat besar yang kita terima saat ini.

Kita patut mensyukuri setiap nikmat yang diterima karena kelak kita akan mempertanggungjawbakannya di hadapan Allah. Karena itu, pada ayat berikutnya Allah mengingatkan kita agar senantiasa takut terhadap hari pembalasan. Pada hari itu, setiap orang akan mempertanggungjawakan perbuatannya masing-masing tanpa sedikitpun ada campur tangan orang lain.


“Dan jagalah dirimu dari (azab) hari (kiamat, yang pada hari itu) seseorang tidak dapat membela orang lain, walau sedikitpun; dan (begitu pula) tidak diterima syafaat dan tebusan dari padanya, dan tidaklah mereka akan ditolong.”

Mari kita sadari bahwa setiap detik di sepanjang hidup di dunia tidak dapat lepas dari curahan nikmat yang diberikan Allah Swt. Dari setiap nikmat per detik itu, suatu hari Allah akan mempertanyakannya dari yang terkecil sampai yang terbesar. Tidak ada satu pun dari makhluk-Nya yang diberi kesempatan (barang sedikit) untuk mempengaruhi kebijakan-Nya dalam menetapkan sesuatu. Itulah hari akhir yang merupakan hari perhitungan dan hari pembalasan bagi segenap manusia dan jin dengan sistem hukum dan peradilan yang seadil-adilnya. Dalam ayat lain, Allah Swt. berfirman.

“(Yaitu) bahwasanya seorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain, dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya.” (Q.S. Al-Najm [53]: 38-39)

Berdasarkan ayat ke-48 surat Al-Baqarah di atas, sekurang-kurangnya ada empat gambaran umum kondisi hari akhir. Pertama, setiap manusia tidak diberi kesempatan sedikit pun untuk melakukan pembelaan satu sama lain meskipun di dunia sempat terjadi hubungan yang sangat erat secara kekerabatan, jawatan, persahabatan, dan lain sebagainya. Pada hari itu, setiap orangtua lari dari anaknya (dan begitu pula sebaliknya), suami lari dari istrinya (dan begitu pula sebaliknya), kakak lari dari adiknya (dan begitu pula sebaliknya), dan demikian seterusnya. Allah Swt. berfirman.

“Pada hari ketika manusia lari dari saudaranya, dari ibu dan bapaknya, dari istri dan anak-anaknya. Setiap orang dari mereka pada hari itu mempunyai urusan yang cukup menyibukkannya.” (Q.S. ‘Abasa [80]: 34-37)

Kedua, tidak berlaku syafaat dari siapa pun sehingga tidak ada kebijakan yang diberikan pada seorang hamba yang keluar dari ketentuan (yang seharusnya). Pada hari itu, mustahil ada tindakan seseorang (dengan alasan apa pun) yang dapat menjadi jaminan hukum. Perlu diketahui bahwa proses syafaat hanya berlaku sebelum hari akhir, itupun ketentuan diterima dan tidaknya tidak diketahui oleh siapa pun kecuali Allah Swt. Ketika hari akhir tiba, syafaat hanya berupa keputusan akhir atas izin Allah. Dalam ayat lain Allah Swt. berfirman.

“Maka tidak berguna lagi bagi mereka syafaat dari orang-orang yang memberikan syafaat. Maka mengapa mereka (orang-orang kafir) berpaling dari peringatan (Allah)?” (Q.S. Al-Muddatsir [74]: 48-49)

Peristilahan syafaat seringkali diartikan sebagai doa atau permohonan untuk menolong seseorang kelak di akhirat agar diringankan atau dihapuskan dari beban dosa yang dipikulnya. Dengan demikian, syafaat dalam hal ini berfungsi sebagai upaya pengurangan atau penghentian status hukum seseorang karena adanya permohonan dari orang lain. Namun demikian, hal tersebut tidak berarti bahwa keputusan Allah bisa dipengaruhi tindakan makhluk-Nya karena syafaat berlaku justru atas izin-Nya.

Perkara syafaat ini cukup hangat diperbincangkan di kalangan ulama. Sebagian tidak menerima atau meniadakan perkara syafaat ini dengan merujuk pada beberapa ayat yang menafikkan syafaat. Sebagian yang lain tetap menerima dan meyakini adanya syafaat kelak di hari kiamat dalam batasan tertentu. Sebagian ulama yang lain menerima dan meyakini syafaat secara sangat longgar.

Tentunya sikap kedua (menerima dan meyakini adanya syafaat kelak di hari kiamat dalam batasan tertentu) lebih proporsional dalam menyikapi syafaat karena peniadaan syafaat dalam sejumlah ayat lebih dimaknai sebagai pengkhususan bagi sebagain kelompok manusia yang kelak (di hari akhir) tidak akan mendapat syafaat. Mereka adalah kaum kufar beserta kroni-kroninya. Memaknai syafaat secara sangat longgar pastinya sangat tidak tepat. Pemahaman ini tidak secara ketat membedakan siapa saja yang berhak memberi syafaat serta mengesampingkan rasionalitas dalam memahami syafaat. Hal ini memberi peluang pada keyakinan mudahnya dosa terampuni tanpa usaha sebagaimana keharusannya.

Ketiga, tidak diterimanya tebusan. Bila kita berkaca pada sistem peradilan di dunia, maka kita akan menyaksikan betapa hukum bisa diperjualbelikan, bahkan dipermainkan. Hukum yang berat dapat menjadi ringan karena ada jaminan atau tebusan. Sebaliknya, hukum yang seharusnya ringan menjadi berat karena tidak adanya jaminan materi. Di akhirat nanti, keadaan yang menyesakkan dada seperti itu sama sekali tidak akan terjadi. Selain memang tidak ada yang bisa dijadikan tebusan, kekuatan peradilan hari akhir yang maha adil tidak akan memberikan peluang pembelaan hukum di luar ketentuan.

Keempat, tidak ada katagori saling tolong menolong antara satu dengan yang lainnya. Satu hal yang mesti kita ketahui bahwa di akhirat (sebelum berlaku kehidupan surga atau neraka) manusia tidak saling mengenal. Alasannya sederhana, saat itu semua manusia hanya sibuk memikirkan nasib masing-masing dan sibuk mempersiapkan diri menghadapi dakwaan atas yang telah dilakukannya di dunia. Wajar kalau kemudian banyak kalangan frustasi dan mengangankan dirinya bukan manusia atau merengek-rengek ingin dikembalikan ke dunia barang sehari saja untuk memperbaiki yang dulu pernah diperbuatnya seperti digambarkan dalam ayat berikut ini.

“Sesungguhnya Kami telah memperingatkan kepadamu (hai orang kafir) siksa yang dekat, pada hari manusia melihat apa yang telah diperbuat oleh kedua tangannya; dan orang kafir berkata: ‘Alangkah baiknya sekiranya aku dahulu adalah tanah.’” (Q.S. An-Naba [78]: 40)

“Tiadalah mereka menunggu-nunggu kecuali (terlaksananya kebenaran) Al-Quran itu. Pada hari datangnya kebenaran pemberitaan Al-Quran itu, berkatalah orang-orang yang melupakannya sebelum itu: ‘Sesungguhnya telah datang rasul-rasul Tuhan kami membawa yang hak, maka adakah bagi kami pemberi syafaat yang akan memberi syafaat bagi kami, atau dapatkah kami dikembalikan (ke dunia) sehingga kami dapat beramal yang lain dari yang pernah kami amalkan?’ Sungguh mereka telah merugikan diri mereka sendiri dan telah lenyaplah dari mereka tuhan-tuhan yang mereka ada-adakan.” (Q.S. Al-Araaf [7]: 53)

Begitulah hari akhir. Pada hari itu semua ikatan yang merekatkan hubungan manusia terputus. Pada hari itu pula dinamika kehidupan dunia tidak lagi berlaku. Tidak ada perkara jamin menjamin, tebus menebus, dan tolong menolong. Masing-masing hanya bisa bersandar pada kekuatan iman dan keikhlasan amalnya. Karena itu, keyakinan akan adanya proses penjaminan dari seseorang terhadap dosa yang dilakukan banyak orang atau mekanisme penebusan dosa dengan menyerahkan sejumlah uang adalah kesesatan yang nyata. Karenanya, marilah kita berusaha dan berikhtiar semaksimal mungkin meraih rido Allah dengan iman, ilmu, dan amal. Itulah tiga pilar utama untuk meraih kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat. Wallahu a’lam.

Bedah Hadits

KEWAJIBAN MUSLIM DALAM MENGHADAPI UJIAN
(Bagian Satu)
Tate Qomaruddin

Rasulullah Saw. bersabda:
“Bersegeralah beramal sebelum ujian-ujian datang bagaikan gulita malam. Seseorang di pagi hari beriman dan di sore hari menjadi kafir serta di sore hari beriman dan di pagi hari menjadi kafir. Dia menjual agamanya dengan secuil dunia.” (H.R. Muslim)
“Sesungguhnya dunia ini manis dan menghijau. Dan sesungguhnya Allah mengangkat kalian sebagai khalifah di dalamnya. Maka hendaknya dia memperhatikan bagaimana seharusnya dia bekerja. Maka berhati-hatilah menghadapi dunia dan berhati-hatilah menghadapi wanita. Karena sesungguhnya awal bencana pada Bani Israil adalah urusan wanita.” (H.R. Muslim)

Dua hadits di atas menegaskan bahwa setiap muslim akan dihadapkan pada ujian. Tidak ada seorang muslim pun yang luput dari ketentuan Allah (sunnatullah) ini. Hadits pertama menjelaskan bahwa ujian yang menghadang manusia bisa berbentuk kenestapaan. Sedangkan hadits kedua menggambarkan bahwa ujian juga bisa berupa kebahagiaan dan keberhasilan duniawi.

Hadits-hadits tersebut sesuai dengan firman Allah Swt.,
“Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: ‘Kami telah beriman,’ sedang mereka tidak diuji lagi? Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta.” (Q.S Al-‘Ankabuut [29]: 2-3)

“…Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). Dan hanya kepada Kami lah kamu dikembalikan.” (Q.S. Al-Anbiyaa [21]: 35)

Hadits-hadits dan ayat-ayat di atas memberikan gambaran tentang tabiat dan hakikat kehidupan. Informasi ini amat penting bagi seorang muslim karena akan membantu dalam menyiapkan perbekalan untuk perjalanan menuju kebahagiaan akhirat. Orang yang akan berlayar di lautan, berbeda perbekalannya dengan orang yang akan melintasi gurun pasir atau pun merambah hutan belantara.

Kedua bentuk ujian (kenestapaan dan kebahaigaan) tersebut lebih konkrit disebutkan dalam firman-Nya,
“Dan ingatlah (hai para muhajirin), ketika kamu masih berjumlah sedikit, lagi tertindas di bumi (Mekah), kamu takut orang-orang (Mekah) akan menculik kamu, maka Allah memberi kamu tempat menetap (Medinah) dan dijadikan-Nya kamu kuat dengan pertolongan-Nya dan diberi-Nya kamu rezki dari yang baik-baik agar kamu bersyukur.” (QS. Al-Anfaal [8]:26)

Pada ayat di atas, Allah Swt. menggambarkan kaum muslim mula-mula diuji dengan intimidasi (ujian pertama) yang dilakukan oleh orang-orang kafir. Allah kemudian menolong dan memberikan kemenangan kepada mereka. Allah pun memberi mereka rezeki. Kemenangan dan rezeki (ujian kedua) itu adalah ujian untuk menakar kemampuan syukur kaum muslim.

Hadits di atas menyebut kata fitan yang artinya banyak ujian. Di antara ujian yang dihadapai seorang mukmin dalam beribadah, beramal saleh, menegakkan kebenaran, dan menyebarkan kebajikan adalah sebagai berikut.

Makar Orang-orang yang Tidak Beriman
Sejak awal, sejarah dakwah yang digulirkan oleh nabi-nabi sebelum Rasulullah Saw., selalu di hadang oleh orang-orang kafir. Untuk menghentikan laju dakwah itu, mereka melakukan berbagai upaya mulai dari rayuan hingga pembunuhan. Dalam Al-Quran, Allah Swt. banyak mengingatkan kita (kaum mukminin) tentang makar orang-orang kafir ini. Salah satu hikmahnya adalah agar kita senantiasa memiliki kesiapan mental saat menghadapinya.

“Dan Kami tidak mengutus kepada suatu negri seorang pemberi peringatan pun, melainkan orang-orang yang hidup mewah di negri itu berkata: ‘Sesungguhnya kami mengingkari apa yang kamu diutus untuk menyampaikannya.’” (Q.S. Saba’ [34]:34)
Khusus untuk Rasulullah Saw., Allah Swt. menggambarkan ujian dalam bentuk makar orang-orang kafir dalam firman-Nya,

“Dan (ingatlah), ketika orang-orang kafir (Quraisy) memikirkan daya upaya terhadapmu untuk menangkap dan memenjarakanmu, atau membunuhmu, atau mengusirmu. Mereka memikirkan tipu daya dan Allah menggagalkan tipu daya itu. Dan Allah sebaik-baik Pembalas tipu daya.” (Q.S. Al-Anfaal [8]:30)

Allah Swt. menegaskan bahwa orang-orang kafir tidak akan pernah berhenti memusuhi dakwah. Firman-Nya,
“…Mereka tidak henti-hentinya memerangi kamu sampai mereka (dapat) mengembalikan kamu dari agamamu (kepada kekafiran), seandainya mereka sanggup. Barangsiapa yang murtad di antara kamu dari agamanya, lalu dia mati dalam kekafiran, maka mereka itulah yang sia-sia amalannya di dunia dan di akhirat, dan mereka itulah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya.” (Q.S. Al-Baqarah [2]:217)

Harus diingat bahwa pemurtadan yang paling ampuh bukanlah pemaksaan (agar mukmin keluar dari agama), melainkan rayuan budaya, gaya hidup, ideologi, dan bentuk serbuan pemikiran (al-ghazwul-fikri) lainnya.

Kezaliman Penguasa
Kekuasaan yang dijalankan dengan kezaliman mempunyai peran penting dalam merintangi tegaknya kebenaran dan dilaksanakannya ibadah serta perjalanan dakwah. Dalam sejarah, tercatat para ulama yang menjadi korban kekejaman penguasa zalim. Sebut saja Sa’id Bin Zubair, Imam Ahmad, dan Imam Ibnu Taimiyyah yang tatap istiqamah menegakkan kalimat Islam meski mereka harus berhadapan dengan penguasa yang kejam. Tidak perlu jauh-jauh, di negri kita sendiri, hal itu (kekejaman penguasa) pernah kita saksikan dan rasakan. Di tahun 80-an, tidak sedikit para dai yang dijebloskan ke bui dan diintimidasi hanya gara-gara bersikap kritis dan melakukan amar makruf nahyi munkar. Para siswi dan mahasiswi pun dilarang mengenakan jilbab di sekolah dan kampus negri. Wajar jika Rasulullah Saw. mengajarkan kepada kita sebuah doa yang penggalannya berbunyi, “Dan jangan engkau berikan kekuasaan kepada orang yang tidak mengasihi kami.”

Kedengkian Sesama Muslim
‘Batu sandungan’ juga bisa datang dari sesama muslim atau bahkan dai. Bentuknya bisa bermacam-macam semisal sikap iri dan dengki atas keberhasilan yang dicapai orang lain. Kata ‘batu sandungan’ sengaja saya beri tanda kutip karena hal itu tidak selalu berakibat buruk bagi orang yang didengki. Sebaliknya, bagi si pendengki belum tentu hal itu menjadi sesuatu yang produktif dan mengantarkan ia pada keinginannya.

Rasulullah Saw. menegaskan, “Tidak ada seorang pun yang menghinakan seorang muslim di satu tempat di mana ia dinodai harga dirinya dan dirusak kehormatannya melainkan Allah akan menghinakan orang (yang menghina) itu di tempat yang ia inginkan pertolongan-Nya. Dan tidak seorang pun yang membela seorang muslim di tempat di mana ia dinodai harga dirinya dan dirusak kehormatannya melainkan Allah akan membela orang (yang membela) itu di tempat yang ia menginginkan pembelaan-Nya.” (H.R. Ahmad, Abu Dawud, Ath-Thabrani)

Rongrongan Keluarga
Tidak kalah seriusnya, rintangan justru bisa juga datang dari orang-orang terdekat dan tercinta. Anak, istri, suami, serta ayah atau ibu bisa menjadi aspirasi atau penambah semangat beribadah dan menegakkan kebenaran. Tapi dalam waktu yang sama, mereka juga dapat menjadi penghalang serta pemaling jalan kebenaran, kejujuran, dan ketaatan kepada Allah. Bisikan, tuntutan, atau ambisi-ambisi keluarga boleh jadi menyebabkan seseorang berat untuk melangkahkan kaki dalam melaksanakan perintah-perintah Allah Swt. Oleh karen itu, Allah Swt. mengingatkan orang-orang beriman dalam firmannya,

“Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya di antara istri-istrimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu, maka berhati-hatilah kamu terhadap mereka; dan jika kamu memaafkan dan tidak memarahi serta mengampuni (mereka) maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu hanyalah cobaan (bagimu); dan di sisi Allah-lah pahala yang besar.” (Q.S. At-Taghaabuun [64]:14-15)

Peran Setan
Yang disebutkan di atas hanyalah penyebutan beberapa contoh ujian kehidupan bagi orang beriman. Tentu saja, setan wajib kita posisikan sebagai musuh nyata dan tantangan abadi bagi orang beriman. Bagi setan, semua ujian yang disebutkan di atas bisa dijadikan senjata untuk menembus jantung pertahanan orang beriman. Senjata-senjata itu akan efektif bila setan berhasil mengendalikan, menggalang kekuatan, dan melakukan kerjasama dengan musuh dalam selimut yang ada pada setiap manusia, yakni hawa nafsu.

Jangan khawatir, kita semua bisa selamat menghadapi berbagai ujian tersebut dan bertahan dari provokasi setan dengan ikhtiar yang optimal. Nah, apa sajakah ikhtiar yang wajib kita lakukan? Dapatkan jawabannya pada tulisan mendatang.

Bedah Masalah

BACAAN SEBELUM SHALAT, SAHIHKAH?
Dr. Aam Amiruddin

Pak Ustadz yang saya hormati, di daerah saya banyak muslim yang ketika hendak shalat terlebih dahulu membaca bacaan-bacaan tertentu seperti taawwudz atau surat Al-Falaq dan An-Nas. Mereka beranggapan bahwa shalat itu diawali dengan takbir dan diakhiri dengan salam sehingga apa pun yang dilaksanakan sebelum shalat boleh dikerjakan karena tidak akan mengganggu makna shalat tersebut. Bagaimanakah sebetulnya yang harus dilakukan (atau dibaca) sebelum menunaikan shalat menurut Al-Quran dan hadits? Terima kasih.

Saudari yang dirahmati Allah, acuan yang semestinya digunakan dalam memahami tata cara shalat secara keseluruhan adalah Al-Quran dan hadits yang shahih. Artinya, pemecahan permasalahan yang saudari tanyakan memang seharusnya dikembalikan pada contoh yang diberikan oleh Rasulullah Saw. Saya yakin, semua umat Islam sadar betul akan kewajibannya meneladani Rasulullah Saw. secara total sebagaimana diamanatkan dalam ayat Al-Quran berikut ini.

“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” (Q.S. Al-Ahzab [33]: 21)

Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari yang diterimanya dari Malik, Rasulullah Saw. bersabda:
“Shalatlah kalian sebagaimana kalian melihat aku shalat.”

Mengenai adanya sebagian kalangan yang menganggap membaca bacaan-bacaan tertentu sebelum shalat adalah sesuatu yang diperbolehkan, hal tersebut perlu dikaji ulang. Memang betul bahwa ta’rif shalat yang dikemukakan para ulama adalah ucapan dan gerakan yang diawali takbir dan diakhiri salam dengan tata cara yang khusus diatur oleh syariat. Hal tersebut mengacu pada hadits berikut, “Dari Ali r.a. dia berkata, Rasulullah Saw. bersabda, ‘Kunci shalat adalah bersuci, yang mengharamkannya (dari segala ucapan dan gerakan di laur shalat) adalah takbir, dan yang menghalalkannya kembali adalah salam.’” (H.R. Abu Daud)

Hadits ini boleh dikata cukup untuk menjawab kebingungan Saudari penanya. Jika aktivitas (bacaan) sebelum shalat merupakan sesuatu yang bebas sesuai kreativitas masing-masing, maka tentunya Rasul Saw. tidak akan menyebut wudu sebagai kunci (pembuka) shalat. Secara lebih rinci, mari kita cermati hadits berikut ini.

“Dari Abu Hurairah r.a. bahwa seorang laki-laki memasuki masjid, sementara Rasulullah Saw. tengah duduk di pojok masjid, kemudian laki-laki itu mengerjakan shalat. Seusai shalat, ia datang menemui beliau sambil mengucapkan salam, dan Rasulullah Saw. bersabda kepadanya: ‘Wa’alikas salam. Kembalilah dan ulangi shalatmu karena kamu belum mengerjakan shalat!’ Lalu ia kembali lagi dan mengulangi shalatnya. Seusai shalat ia datang lagi sambil mengucapkan salam dan beliau bersabda: ‘Wa’alaikas-salam. Kembali dan ulangi lagi shalatmu karena kamu belum mengerjakan shalat!’ Lalu orang tersebut berkata ketika disuruh mengulangi yang kedua kali atau setelahnya; ‘Ajarilah aku wahai Rasulullah!’ Selanjutnya beliau bersabda: ‘Jika kamu hendak mengerjakan shalat, maka sempurnakanlah wudu, lalu menghadap ke arah Kiblat, setelah itu bertakbirlah, kemudian bacalah Al-Quran yang mudah bagimu…’” (H.R. Bukhari)

Logikanya cukup sederhana, jika Rasulullah Saw. memandang penting bacaan tertentu sebelum shalat, maka sudah barang tentu beliau tidak akan melewatkan (menempatkan bacaan tersebut di antara wudu, menghadap Kiblat, dan takbiratul ihram) begitu saja. Karena Rasulullah tidak menyebutkannya, maka sudah dapat dipastikan kalau dengan wudu dan menghadap Kiblat saja sudah cukup untuk memenuhi keharusan-keharusan sebelum shalat. Wallahu a’lam.


BOLEHKAH MENGAJUKAN PERJANJIAN PRA-NIKAH?

Pak Ustadz yang saya hormati, bolehkah seorang (wanita) yang hendak menikah melakukan perjanjian dengan calon pasangannya sebelum menikah, misalnya dengan memberi syarat agar suami tidak berpoligami atau yang lainnya? Mohon penjelasannya.

Saudara yang dirahmati Allah, Islam membolehkan beberapa tindakan dilakukan sebelum pernikahan dengan tujuan agar pernikahan tersebut benar-benar diridoi oleh Allah Swt. selama hal itu tidak melanggar aturan-aturan yang telah ditetapkan oleh Islam. Perjanjian pra-nikah diperbolehkan selama hal tersebut ditujukan untuk kebaikan bersama. Perjanjian seperti permintaan calon istri agar calon suaminya meninggalkan hobi yang kurang baik (seperti mancing sampai lupa waktu) atau permintaan calon istri untuk keluar dari pekerjaanya agar bisa berkonsentrasi mengurus rumah tangga tentu boleh saja dilakukan.

Namun demikian, perjanjian untuk tidak berpoligami tentu tidak bisa dilakukan karena ada perkara yang tidak sesuai dengan ketentuan syariat Islam. Hal ini sama persis seperti suami yang siap menikah tapi tidak akan memberi nafkah secara maksimal. Prinsipnya, nikah adalah ikatan sakral yang harus betul-betul dipertimbangkan secara maksimal dari aspek fisik, mental, dan agama. Wallahu a’lam.


BAGAIMANA HUKUM MEMBUKA AURAT DI DEPAN NON-MUSLIM?

Pak Ustadz, saya terbiasa datang ke salon untuk merawat kecantikan. Saya acap kali datang ke salon yang dikelola oleh orang kafir. Pertanyannya, bolehkah saya membuka aurat di depan mereka? Mohon penjelasannya.

Saudara seiman yang dimuliakan Allah, kita patut berbangga jika pada realitanya cukup banyak orang yang sadar akan kewajiban menutup aurat karena kebiasaan membuka aurat di luar shalat (langsung atau tidak langsung) mempengaruhi diterima dan tidaknya shalat. Aurat laki-laki adalah wilayah tubuh antara pusar dan lutut, sementara aurat perempuan adalah seluruh tubuh kecuali muka dan telapak tangan (termasuk punggung tangan). Perintah menutup aurat (khususnya bagi perempuan) disebutkan dalam ayat berikut.

“Katakanlah kepada wanita yang beriman, hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak daripadanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya, kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putra-putra mereka, atau putra-putra suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putra-putra saudara laki-laki mereka, atau putra-putra saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita Islam, atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Dan janganlah mereka memukulkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertobatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung.” (Q.S. An-Nuur [24]: 31)

Secara sederhana, aurat dapat kita artikan sebagai sesuatu yang harus ditutupi atau tidak boleh dibiarkan terbuka. Aurat harus ditutup karena jika terbuka ia akan mendatangkan madharat. Jadi, perkara aurat tidak bisa dilepaskan dari pertimbangan maslahat dan madharat. Misalnya, kita dibolehkan membuka aurat di hadapan anak dari adik atau kakak kita. Tapi jika anak tersebut sudah dewasa dan dikhawatirkan akan mendatangkan madharat ketika melihat aurat kita, maka sebaiknya aurat tetap tertutup. Sebaliknya, bagi wanita tua yang sebagian anggota tubuhnya sudah tidak lagi menjadi daya tarik bagi laki-laki, ulama sepakat membolehkan aurat mereka terbuka, misalnya pada bagian mata kaki atau yang lainnya meski menutupnya tetap lebih afdol.

Melihat ayat di atas, pihak yang dilarang melihat aurat adalah lawan jenis (kecuali beberapa pihak yang dianggap tidak memadharatkan seperti dirinci dalam ayat di atas) sehingga (dalam batas tertentu) tidak mengapa aurat terbuka pada sesama jenis. Namun demikian, perbedaan pendapat terjadi di kalangan ulama mengenai hal ini. Sebagian ulama memandang mutlak larangan membuka aurat pada orang kafir meskipun sesama jenis. Pendapat lain mengatakan bahwa boleh saja membuka aurat pada non-muslim (yang sejenis) selama diyakini orang tersebut mampu menjaga rahasia aurat kita.

Bila kita cermati ayat di atas, ternyata pihak-pihak yang boleh melihat aurat kita tidak secara rinci disebutkan (apakah dia mukmin atau kafir). Dengan demikian, boleh saja kita membuka aurat di hadapan orang kafir yang sejenis atau pihak-pihak yang dijelaskan dalam ayat di atas, selama dipandang tidak akan memadharatkan (khususnya) diri sendiri dan (umumnya) orang yang bersangkutan. Wallahu a’lam.