Kamis, 10 September 2015

Festival Kultural Terbesar

Di antara sekian banyak hikmah pelaksanaan ibadah haji, terdapat dua hikmah penting yang sering dilupakan oleh umat Islam. Demikian kesimpulan wawancara MaPI bersama Ir. H. Bambang Pranggono MBA. IAI., pembimbing Ibadah Haji dan Umroh yang juga penulis buku Percikan Sains Dalam Al Quran. Berikut ini dua hikmah yang dimaksud.

Pertama, haji melatih kita untuk membebaskan diri dari rutinitas dan rasionalitas yang berlebihan. Dalam tulisan Ali Syariati disebutkan bahwa haji adalah suatu perjalanan spiritual untuk membebaskan diri dari rutinitas material sehari-hari. Hidup kita sekarang ini sudah sangat mekanistik; bangun pagi, mencari uang, makan, belajar, tidur, dan sebagainya. Lalu menikah, punya anak, dan seterusnya hingga akhirnya meninggal. Begitulah lingkaran itu berputar terus. Dalam hal ibadah, shalat juga demikian, rutin dan berputar. Zakat dan puasa juga dilakukan secara periodik. Sedangkan ibadah haji sangat berbeda dari itu semua.

Ketika melaksanakan ibadah haji, kita meninggalkan semua rutinitas dan siklus yang teratur itu dengan biaya mahal, meninggalkan peluang bisnis dan karir yang belum tentu kita dapatkan lagi. Kita tinggalkan keluarga, kampung halaman, dan segala kemapanan menuju daerah asing dengan budaya, bahasa dan makanan yang berbeda. Tanahnya pun kering dan tidak seindah alam Itali, Spanyol, Prancis, atau negara lainnya. Kita juga tidak mencari untung di sana, malahan mengeluarkan banyak uang. Juga tidak mengharapkan pelayanan yang baik dari orang-orang di sana karena kita tahu bahwa adat manusia di sana lebih kasar dibanding orang Indonesia. Jadi, apa yang sebenarnya dicari? Semua itu kita lakukan benar-benar hanya menuju Allah, perjalanan karena Allah. Paling tidak, sekali seumur hidup kita tidak memberhalakan otak kita. Tidak ada kausalitas, tidak perlu ada alasan-alasan atau sebab akibat. Karena Allah menyuruh kita melakukannya, ya sudah, kita berangkat ke sana.

Apa yang dilakukan di sana juga tidak rasional. Untuk apa kita mengelilingi batu sampai tujuh kali. Kalaupun ada penjelasan hikmah berkaitan dengan pusaran energi dan sebagainya, itu hanya rasio kita yang menghubung-hubungkan. Tapi pada hakikatnya kita melakukan hal yang tidak logis. Itulah sebuah napak tilas dari apa yang juga pernah dilakukan oleh Nabi Ibrahim. Kita melaksanakan napak tilas mengunjungi tempat-tempat yang pernah ada perintah-perintah yang tidak rasional juga di sana. Pertama, Nabi Ibrahim diperintahkan meninggalkan istrinya Siti Hajar dan anaknya Ismail di lembah yang kering. Itu sangat tidak rasional apabila menggunakan akal logika. Tapi Ibrahim dan Siti Hajar lulus dengan ujian dan perintah itu. Siti Hajar bertanya, apakah ini perintah Allah? Kalau ini perintah Allah, aku terima karena aku yakin Allah tidak akan menyia-nyiakan aku. Berikutnya, Nabi Ibrahim pun diperintahkan melakukan sesuatu yang juga irrasional, yaitu menyembelih anaknya, Ismail. Perintah itu datang melalui mimpi tiga malam berturut-turut. Iblis mengganggu dengan alasan mana mungkin Allah menyuruh hal yang tidak masuk akal itu. Tapi Ibrahim dan Ismail lulus dalam ujian ini, lebih memilih sesuatu yang irrasional yang datang dari Allah daripada iblis yang rasional tadi.

Jadi, memang ada saat tertentu di mana kita harus melepaskan logika dan mengenakan ketaatan dan kepasrahan. Dalam ibadah haji kita dilatih untuk mengimbangi pemberhalaan kita selama ini kepada rasio. Kalau kita sudah bisa irrasional sewaktu-waktu dan kemudian rasional lagi, maka kita akan menjadi manusia yang lebih lengkap dan bisa menikmati keindahan di mana pun. Tidak hanya lukisan yang naturalis yang bisa kita kagumi, tapi yang surealis dan abstrak pun bisa kita nikmati. Tidak hanya musik yang lembut dan melantun yang bisa dinikmati tetapi sewaktu-waktu juga bisa menikmati musik yang keras dan mengentak.

Kedua, perintah haji diserukan pada abad di mana komunikasi saat itu sangat susah; di padang pasir yang terik dan kering. Perjalanan ke sana sangat berat dan tidak menarik. Tetapi ternyata itu diperintahkan oleh Allah, pasti ada sesuatu yang lain yang diinginkan oleh Allah dari perintah itu. Salah satunya adalah internasionalisasi. Dengan perintah haji ini orang Islam diharapkan menjadi kosmopolitan, universal, dan mengglobal. Di sana kita dipertemukan dengan etnis, suku, dan budaya yang berbeda; lita’arofuu, untuk saling kenal-mengenal. Dengan adanya empat tempat yang harus dikunjungi dalam prosesi haji yaitu Mekah, Muzdalifah, Mina, dan Arofah, hal ini tentunya sudah merupakan suatu isyarat. Artinya, di sana akan terjadi perubahan konstelasi. Jamaah haji yang berkumpul di satu tempat akan bergeser ke tempat lain dan akan bertemu orang lain, demikian seterusnya.

Ketika kita di depan Ka’bah melakukan shalat atau berdoa, kita tentu berkomunikasi dengan Allah, tapi di sela-sela semua ritual itu kita harus berinteraksi dengan manusia lainnya. Ngobrol, tukar pikiran, tukar ideologi. Di sana harus terjadi proliverasi atau pemerataan informasi. Dengan melakukan hal itu, setiap diri kita tentu akan menjadi lebih lapang dada menghadapi perbedaan, terjadi pencairan kekakuan dan kebanggaan diri. Jadi, sebenarnya adalah sesuatu yang kurang tepat adanya usaha pengelompokkan negara pada penginapan yang sektarian. Kalau orang Makassar mengelompok dengan orang Makassar, orang Sunda mengelompok dengan orang Sunda dengan alasan supaya selera makanan dan bahasanya sama, maka sebenarnya kita kehilangan aspek internasionalisasi.

Kita harusnya mencoba makanan orang lain, tahu budaya orang lain. Seharusnya Mekah itu menjadi sebuah festival kultural terbesar di dunia, kultur yang didasari tauhid. Kalau di pemondokan kita bercampur, maka ukhuwah islamiyah internasional akan cepat sekali terjadi. Dua atau tiga juta jemaah haji tiap tahun akan pulang dengan wawasan yang baru. Maka orang Islamlah yang akan lebih dahulu berpikir secara internasional dan global. Mungkin di pemondokan kita bisa bicara bisnis, pendidikan, dan hal-hal lainnya.  (Agung)


Selasa, 01 September 2015

Berhaji ke Meksiko?

“What if Russians were to invent a religion in which we were told that we had to pray toward Moskow five times a day? Why can’t the Japanese invent a religion in which everyone has to pray toward Tokyo? Why can’t Mexicans say that you must take a pilgrimage to Mexico City once in your lifetime or you will not be saved?”
Bagaimana jika orang Rusia menemukan sebuah agama yang mengharuskan umatnya beribadah menghadap kota Moskow lima kali sehari? Mengapa tidak orang Jepang menemukan sebuah agama yang mewajibkan setiap orang berdoa menghadap Tokyo? Mengapa tidak orang-orang Meksiko mengatakan bahwa Anda harus melaksanakan ibadah haji ke kota Meksiko sekali seumur hidup atau Anda tidak akan selamat?

Demikian salah satu bagian isi tulisan Robert Morey dalam buku The Islamic Invasion; Confronting the World’s Fastest Growing Religion terbitan Harvest House Publisher, USA. Buku yang ditulis oleh nonmuslim ini penuh olokan tentang berbagai hal yang ada dalam Islam, salah satunya tentang ritual ibadah haji. Morey mengungkapkan bahwa ibadah haji telah membuat beban yang sangat berat bagi umat Islam di negara-negara berkembang dan miskin karena mereka harus menyisihkan uang yang begitu banyak guna melaksanakan salah satu rukun Islam ini. Ia pun menambahkan bahwa tujuan perintah haji adalah untuk meningkatkan perdagangan dan bisnis di seputar Mekah sehingga membuat negara Arab menjadi kaya raya.

Orang-orang nonmuslim, terutama kaum orientalis, memang banyak yang memperolok agama Islam dalam berbagai hal. Mungkin karena ketidaktahuan mereka akan informasi yang sebenarnya atau mungkin juga karena benar-benar ingin menghina dan mencemooh Islam. Misalnya, menyebut Nabi Muhammad sebagai seorang yang hiper-sex dan menyalahi Al Quran karena beristri lebih dari empat orang. Islam disebarkan dengan peperangan dan kekerasan dengan adanya penggambaran Al Quran di tangan kanan dan pedang di tangan kiri. Juga pandangan mereka bahwa Islam melarang penyembahan berhala tetapi ternyata umat Islam sendiri menyembah berhala berupa batu, yaitu Ka’bah yang ada di kota Mekah, Arab Saudi.

Hal yang akan dibahas dalam fokus edisi ini adalah yang terakhir, berkaitan dengan Ka’bah di kota Suci Mekah dan lebih luas lagi berkaitan dengan Madinah beserta Masjid Nabawi-nya yang juga merupakan Tanah Haram bagi umat Islam. Sebagaimana informasi yang sudah kita ketahui dari Al Quran, Ka’bah merupakan tempat yang pertama kali dibangun sebagai tempat beribadah manusia kepada Allah swt. Allah swt. berfirman, “Sesungguhnya rumah yang mula-mula dibangun untuk (tempat beribadah) manusia adalah Baitullah di Bakkah (Mekah) yang diberkahi dan menjadi petunjuk bagi semua manusia.” (Q.S. Ali Imran 3: 96) Di ayat yang lain juga disebutkan, “Dan (ingatlah), ketika Kami menjadikan rumah itu (Baitullah) tempat berkumpul bagi manusia dan tempat yang aman. Dan jadikanlah sebahagian maqam Ibrahim tempat shalat. Dan telah Kami perintahkan kepada Ibrahim dan Ismail, ‘Bersihkanlah rumah-Ku untuk orang-orang yang tawaf, yang iktikaf, yang rukuk dan yang sujud.’" (Q.S. Al Baqarah 2: 125)

Ka’bah senantiasa menjadi pusat arah peribadahan umat Islam setiap saat di seluruh dunia. Ketika ada umat Islam di satu belahan bumi melaksanakan Shalat Subuh, maka ada pula umat Islam di belahan bumi lainnya ada yang sedang melaksanakan Shalat Isya. Ketika umat Islam di Indonesia sedang melaksanakan Shalat Isya, ada umat Islam di Arab Saudi sedang melaksanakan Shalat Ashar. Ketika ada umat Islam di Jepang sedang melaksanakan Shalat Dhuha, mungkin ada umat Islam di Amerika Serikat sedang melaksanakan Shalat Tahajud. Demikianlah Ka’bah adanya, tak pernah berhenti dan sepi dari hadapan wajah jutaan bahkan miliaran umat Islam di berbagai penjuru dunia. Seperti juga tak pernah berhentinya orang bertawaf mengelilingi Ka’bah dan juga tak berhentinya planet mengelilingi matahari dan atom mengitari intinya.

“Allah telah menjadikan Ka’bah, rumah suci itu, sebagai pusat (peribadatan dan urusan dunia) bagi manusia, dan (demikian pula) bulan Haram, had-ya, qalaid. (Allah menjadikan yang) demikian itu agar kamu tahu, bahwa sesungguhnya Allah mengetahui apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi dan bahwa sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (Q.S Al Maidah 5: 97)

Misteri Hikmah

Ka’bah dan ritual haji memang menyimpan berbagai rahasia hikmah yang mungkin diketahui atau mungkin juga tidak diketahui oleh manusia. Dr. HM. Roem Rowi, M.A., dosen Pasca Sarjana IAIN Sunan Ampel, Surabaya, dalam pengantar buku Pusaran Energi Ka’bah mengatakan bahwa syahadat seorang muslim benar-benar diuji dalam ibadah haji, ketika dihadapkan pada berbagai bentuk ibadah yang penuh dengan misteri dan sulit dijangkau oleh akal manusia semata. Di dalamnya juga terdapat tanda-tanda tertentu, seperti Ka’bah, Hajar Aswad, Maqam Ibrahim, sumur zamzam, dan sebagainya yang juga memendam beribu misteri. Dalam hal ini, jelaslah bahwa keimanan dan ketaatan kita benar-benar dituntut atas berbagai perintah dan ketentuan Allah tersebut, meski kita tidak atau belum mampu mengetahui hikmah di balik perintah itu. Sebagaimana juga beriman dan taatnya Nabi Ibrahim atas perintah Allah untuk meninggalkan keluarganya di tengah-tengah padang pasir dan perintah untuk mengorbankan putranya, Ismail.

“Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebahagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati, ya Tuhan kami (yang demikian itu) agar mereka mendirikan shalat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan beri rezekilah mereka dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur.” (Q.S. Ibrahim 14: 37) “Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata, ‘Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah apa pendapatmu!’ Ia menjawab, ‘Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.’” (Q.S. Ash-Shaffat 37:102).
   
Pada zaman Nabi Muhammad, umat Islam ketika itu juga pernah diuji dengan salah satu perintah Allah untuk memindahkan arah kiblat yang sebelumnya adalah Baitul Maqdis menjadi Ka’bah di Mekah. Ada orang yang menerima dan melaksanakan perintah itu dengan keimanan dan lapang dada, namun ada juga yang menolak dan mengingkarinya. Tentang hal ini dikisahkan dalam firman berikut, “Orang-orang yang kurang akalnya di antara manusia akan berkata, ‘Apakah yang memalingkan mereka (umat Islam) dari kiblatnya (Baitul Maqdis) yang dahulu mereka telah berkiblat kepadanya?’ Katakanlah, ‘Kepunyaan Allah-lah timur dan barat; Dia memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendaki-Nya ke jalan yang lurus. Dan demikian (pula) Kami telah menjadikan kamu (umat Islam) umat yang adil dan pilihan agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu. Dan Kami tidak menetapkan kiblat yang menjadi kiblatmu (sekarang) melainkan agar Kami mengetahui (supaya nyata) siapa yang mengikuti Rasul dan siapa yang membelot. Dan sungguh (pemindahan kiblat) itu terasa amat berat kecuali bagi orang-orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah; dan Allah tidak akan menyia-nyiakan imanmu. Sesungguhnya Allah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang kepada manusia. Sungguh Kami (sering) melihat mukamu menengadah ke langit, maka sungguh Kami akan memalingkan kamu ke kiblat yang kamu sukai. Palingkanlah mukamu ke arah Masjidil Haram. Dan di mana saja kamu berada, palingkanlah mukamu ke arahnya. Dan sesungguhnya orang-orang (Yahudi dan Nasrani) yang diberi Al Kitab (Taurat dan Injil) memang mengetahui bahwa berpaling ke Masjidil Haram itu adalah benar dari Tuhannya; dan Allah sekali-kali tidak lengah dari apa yang mereka kerjakan. Dan sesungguhnya jika kamu mendatangkan kepada orang-orang (Yahudi dan Nasrani) yang diberi Al Kitab (Taurat dan Injil), semua ayat (keterangan), mereka tidak akan mengikuti kiblatmu, dan kamu pun tidak akan mengikuti kiblat mereka, dan sebahagian mereka pun tidak akan mengikuti kiblat sebahagian yang lain. Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti keinginan mereka setelah datang ilmu kepadamu, sesungguhnya kamu kalau begitu termasuk golongan orang-orang yang zalim.” (Q.S. Al Baqarah 2: 142-145)

Rumah Allah?

Banyak kalangan orientalis menganggap Islam tidak konsisten. Di satu sisi melarang penyembahan berhala, tapi ternyata di sisi lain umat Islam menyembah batu, yaitu Ka’bah. Padahal, sudah dapat dipastikan kita sebagai umat Islam tidak menyembah Ka’bah, melainkan menyembah Allah, Tuhan pemilik Ka’bah dan juga pemilik seluruh alam semesta. Allah swt. berfirman, “Maka hendaklah mereka menyembah Tuhan Pemilik rumah ini (Ka’bah).” (Q.S. Quraisy 106: 3) Adapun apabila kita melaksanakan shalat dengan menghadap Ka’bah, alasan utamanya tentu karena hal itu memang diperintahkan oleh Allah. Arah itu ditetapkan langsung oleh Allah, bukan datang dari manusia atau Nabi Muhammad sekalipun.

Salah satu hikmah penyeragaman arah tersebut yang coba digali oleh sebagian ulama dan ilmuwan adalah bahwa dengan menghadap pada satu titik, maka di sana terdapat konsep ‘pusat’. Menurut Ir. H. Bambang Pranggono, Ka’bah merupakan pusat konsentrasi energi positif yang dipancarkan orang yang melaksanakan shalat di seluruh dunia. Ka’bah itu dibangun dari batu-batuan biasa, tapi karena banyaknya konsentrasi energi manusia yang beribadah dan bertauhid di situ, maka bebatuan itu merekam dan menyimpan energi sehingga memiliki daya tarik yang bisa menyentuh batin manusia, menjadikan hati manusia lembut dan bisa menangis di sana. Tanpa adanya manusia bertawaf di sekelilingnya, maka energi itu tidak ada. Jadi justru manusialah yang memperkuat energi yang ada dan bukan karena batuan Ka’bah itu sendiri yang memiliki kekuatan.

Beliau pun mengungkapkan bahwa hal ini bukan termasuk urusan klenik, tetapi sesuatu yang ilmiah karena berbagai benda seperti air, logam, dan batu memang bisa menyimpan energi positif, sebagaimana juga yang pernah diungkapkan oleh Prof. Lilik, mantan rektor ITB. Namun, perlu diwaspadai pula bahwa batas antara penjelasan klenik dan ilmiah dalam hal ini memang sangat tipis. Ust. Aam Amiruddin dalam wawancara bersama MaPI menegaskan bahwa adalah sesuatu yang salah kaprah apabila umat Islam menganggap Ka’bah memiliki kekuatan magis. Kalau Ka’bah itu memang sakti, ketika dimasuki berhala-berhala pada zaman dahulu, maka seharusnya berhala-berhala itu akan hancur lebur. Namun buktinya tidak, dan justru manusialah yang menghancurkan berhala-berhala itu, yaitu Nabi Muhammad saw. Sebagaimana kita ketahui, pada zaman sebelum Rasul, Ka’bah dipenuhi dengan berhala-berhala yang jumlahnya sekitar 365 patung, tersebar di dalam dan sekitarnya, termasuk patung Nabi Ibrahim.

Dengan memperhatikan penjelasan tersebut, tentu menyempurnakan arah kiblat dari tempat kita melaksanakan shalat merupakan sesuatu yang penting agar kita memang benar-benar menghadap ke pusat konsentrasi energi. Namun, lebih penting lagi dan di luar penafsiran tersebut, kesempurnaan arah kiblat harus benar-benar kita perhatikan lagi karena memang merupakan perintah Allah swt. Kita pun tentu ingat bahwa ada beberapa perbuatan lain yang disunahkan atau dilarang menghadap Ka’bah. Misalnya, kita disunahkan tidur menghadap arah kiblat, orang yang meninggal harus dimakamkan juga menghadap kiblat. Kita juga dilarang kencing dan berak membelakangi kiblat.

Adapun tentang alasan mengapa Ka’bah sebagai pusat peribadahan umat Islam terletak di kota Mekah, para ilmuwan juga menduga-duga karena daerah Mekah merupakan daerah yang relatif aman dari bencana alam besar seperti gempa bumi. Sepanjang sejarah hampir tak pernah terjadi gempa bumi yang dahsyat di daratan Mekah. Semua dugaan dan penafsiran itu tentu sangat relatif kebenarannya, dan kebenaran sesungguhnya hanya Allah swt. yang mengetahui.

Orang juga sering mempertanyakan mengapa Ka’bah disebut Baitullah atau Rumah Allah. Menurut Ir. Bambang Pranggono yang merujuk kepada buku karya Ali Syariati, Ka’bah itu bukan Baitullah saja, tetapi juga merupakan rumah manusia atau baitunnas. Ka’bah adalah tempat seluruh manusia berkumpul mengadukan keluhannya, nasibnya, tekanannya, dan cintanya kepada Allah. Allah tidak bisa disebut mempunyai tempat karena Dia bukan zat atau materi. Allah itu immaterial. Selain itu, masjid di mana pun di seluruh dunia ini juga disebut rumah Allah. Jadi, Ka’bah disebut Baitullah atau Rumah Allah bukan kerena Allah tinggal di dalamnya. Terlalu naif kalau kita mengatakan rumah Tuhan di situ, padahal bumi pun bisa hancur. Lantas kalau nanti bumi hancur, di mana rumah Allah?

Senin, 13 Juli 2015

Menjaga Allah





عَنْ أَبِي الْعَبَّاسِ عَبْدِ اللهِ بْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ كُنْتُ خَلْفَ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ: يَا غُلاَمُ اِحْفَظِ اللهَ يَحْفَظْكَ اِحْفَظِ اللهَ تَجِدْهُ تُجَاهَكَ إِذَا سَأَلْتَ فَاسْأَلِ اللهَ وَإِذَا اسْتَعَنْتَ فَاسْتَعِنْ بِاللهِ (رواه الترمذي)

Dari Abul‘Abbas ‘Abdullah bin Abbas –semoga Allah meridoinya— ia mengatakan, “Aku berada di belakang Rasulullah saw. beliau mengatakan, “Nak, Jagalah Allah niscaya Dia akan menjagamu. Jagalah Allah niscaya engkau akan dapati Dia ada di hadapanmu. Jika engkau memohon mohonlah kepada Allah dan jika engkau meminta pertolongan mintalah pertolongan kepada Allah.” (H.R. Tirmidzi)

Setiap mukmin pasti merindukan dan sekaligus meyakini hadirnya kejayaan atau kemenangan Islam. Salah satu bentuk kemenangan itu adalah tegak dan dilaksanakannya nilai-nilai Islam dalam kehidupan manusia. Baik dalam urusan pribadi, keluarga, masyarakat, negara, ekonomi, politik, maupun urusan lainnya. Nilai-nilai Islam yang dimaksud tentu bukan saja perilaku-perilaku saleh individual, akan tetapi juga kesalehan yang berdaya guna misalnya keadilan, kejujuran, dan keberpihakan kepada kebenaran, apa pun risikonya.

Tentu saja kemenangan itu tidak akan terwujud kecuali jika setiap muslim berusaha optimal, dalam batas-batas kemampuan manusiawi. Usaha optimal untuk mencapai kemenangan itu dimulai dari perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, evaluasi, dan seterusnya. Akan tetapi, harus dipahami pula bahwa sehebat apa pun segala upaya yang dilakukan manusia bisa tidak punya makna sama sekali manakala tidak mendapat perkenan Allah swt. Sebaliknya, betapa pun serba terbatasnya kaum muslimin –dalam hal material dan kuantitas personal— dalam upaya menegakkan kebenaran dan keadilan, jika Allah berkehendak untuk mengaruniakan kemenangan, tak satu kekuatan pun dapat menghalanginya.

Persoalannya adalah, apakah kita termasuk orang yang layak mendapat pertolongan Allah itu? Tentu ada prasyarat pertolongan Allah turun kepada kita. Nah, hadis ini sarat dengan pesan-pesan luhur yang akan mengantarkan kaum muslimin mencapai kemenangan yang didambakan. Sampai-sampai sebagian ulama mengatakan, “Saya merenungi hadis ini dan saya benar-benar terperangah. Amat disesalkan bila ada yang tidak memahami makna hadis itu.”

Ihfazhillah, jagalah Allah! Menjaga Allah, kata Abul Faraj al-Hambali dalam kitabnya  Jami’ul-‘Ulumi wal Hikam adalah menjaga aturan-aturan, hak-hak, perintah-perintah, dan larangan-larangan Allah swt. Tentu saja, hal tersebut dilakukan dengan cara melaksanakan segala perintah dan menjauhi segala larangan-Nya. Jika seseorang melakukannya, ia termasuk orang-orang yang menjaga aturan-aturan Allah seperti yang disebutkan dalam ayat-Nya,

“Inilah yang dijanjikan kepadamu, (yaitu) pada setiap hamba yang selalu kembali (kepada Allah) lagi memelihara (semua peraturan-peraturan-Nya). (Yaitu) orang yang takut kepada Rabb Yang Maha Pemurah sedang Dia tidak terlihat (olehnya) dan dia datang dengan hati yang bertaubat.” (Q.S. Qaaf 50: 32-33)

Kata ‘Hafizh’ (حفيظ) yang tercantum pada ayat di atas ditafsirkan dengan “menjaga (melaksanakan) perintah-perintah Allah dan menjaga diri dari dosa-dosa dan selalu bersegera untuk bertaubat jika melakukan kesalahan-kesalahan.” Di antara perintah-perintah agung yang harus dijaga oleh setiap muslim adalah:

1. Shalat
Secara eksplisit, Allah swt. memerintahkan kita menjaga shalat. Firman-Nya,

“Peliharalah segala shalat(mu), dan (peliharalah) shalat wusthaa. Berdirilah untuk Allah (dalam shalatmu) dengan khusu.” (Q.S. Al Baqarah 2: 238)

Dalam ayat lain, Allah memuji orang-orang yang memelihara shalat. Firman-Nya,
“Dan orang-orang yang memelihara shalatnya.” (Q.S. Al Mu’minuun 23: 9)

Semakin banyak aktivitas, semakin berat beban perjuangan, semakin besar target yang ingin kita capai, seharusnya semakin membuat kita dekat dengan Allah. Momentum seorang hamba sangat dekat dengan Allah adalah saat ia bersujud. “Keadaan yang paling dekat antara hamba dengan Rabbnya adalah saat dia sujud. Maka perbanyaklah doa dikala sujud itu,” demikian sabda Rasulullah saw. dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Muslim. 

Jadi, sangat ironis bila semakin banyak kegiatan malah shalat semakin terlalaikan; dan lebih celakalah lagi bila shalat itu dilalaikan justru dengan alasan kesibukan. Tidak akan ada barokah dari aktivitas yang melalaikan shalat. Apa pun alasannya. Termasuk dengan alasan bahwa yang penting adalah shalat aktivitas. Yang dimaksud dengan shalat aktivitas adalah kegiatan yang diklaim sebagai perjuangan menegakkan kebenaran. Itu saja dianggap cukup, sekalipun meninngalkan shalat. Pasti perjuangan itu bukan di jalan Allah melainkan di jalan thaghut.

2. Janji atau sumpah
Integritas dan kredibilitas seseorang dapat dilihat antara lain, dari tingkat komitmennya terhadap sumpah dan janji. Karenanya, Allah swt. memesankan agar orang beriman berpegang teguh kepada janji atau sumpah yang dibuatnya. Firman-Nya,

“Dan peliharalah sumpah-sumpah kalian.” (Q.S. Al Maidah 5: 89)
“Dan tepatilah perjanjian dengan Allah apabila kamu berjanji dan janganlah kamu membatalkan sumpah-sumpah(mu) itu sesudah meneguhkannya, sedang kamu telah menjadikan Allah sebagai saksimu (terhadap sumpah-sumpah itu). Sesungguhnya Allah mengetahui apa yang kamu perbuat.” (Q.S. An-Nahl 16: 91)

Lebih berat lagi bobot janji itu apabila pelanggarannya dapat menyebabkan kesengsaraan orang banyak. Misalnya, janji atau sumpah jabatan. Atau janji yang dibuat untuk menarik dan merekrut orang agar mendukung dirinya dan berpihak kepadanya.

3. Kepala dan Perut
Di antara hal yang wajib dijaga adalah kepala dan perut. Rasulullah saw. bersabda,

اَلإِسْتِحْيَاءُ حَقَّ الْحَيَاءِ أَنْ تَحْفَظَ الرَّأْسَ وَمَا وَعَى وَتَحْفَظَ الْبَطْنَ وَمَا حَوَى (خرجه الإمام أحمد والترمذي والبزار)

“Malu yang sebenarnya kepada Allah adalah engkau menjaga kepala dengan segala yang termuat di dalamnya dan menjaga rongga perut dengan segala yang dikandung di dalamnya.” (H.R. Ahmad, Tirmidzi, dan Bazzar)

Menjaga kepala dengan segala yang termuat di dalamnya di antaranya dengan menjaga pendengaran, penglihatan, dan lidah dari hal-hal yang diharamkan. Sedangkan menjaga rongga perut adalah dengan menjaga hati dari segala penyakit hati.

Penjagaan Allah
Penjagaan Allah kepada hambanya menyangkut dua hal: pertama, kemaslahatan duniawi, seperti penjagaan fisik, anak, keluarga, dan harta. Ini seperti yang Allah firmankan,
“Bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran, di muka dan di belakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah.” (Q.S. Ar-Ra’d 13: 11)

Ini terjadi misalnya pada Safinah –maula (sahaya yang dimerdekakan oleh) Nabi saw.— saat perahu yang dinaikinya pecah dan terdampar di sebuah pulau. Ketika menyusuri hutan, ia bertemu dengan seekor singa. Ternyata singa itu memberi petunjuk jalan. Setelah itu sang singa pergi.

Kedua, penjagaan dalam urusan agama, keimanan, dan akhlak. Allah menjaga para hambanya dari perkara-perkara yang merusak iman dan akhlak, hingga mereka meninggal dunia dalam keadaan iman. Betapa saat-saat ini kita membutuhkan pemeliharaan iman.

Ketiga, sebagai buah dari terpeliharanya agama, keimanan, dan akhlakyang menjadikan kaum muslimin layak mendapat kemenangan dan kejayaan. Seperti disebutkan dalam firman-Nya,

“Dan taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya dan janganlah kamu berbantah-bantahan yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatan kamu, dan bersabarlah. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang bersabar.” (Q.S. Al Anfal 8: 47)

Kesunggguhan cita-cita untuk menegakkan kebenaran dengan berbagai upaya harus dibuktikan dengan sikap sungguh-sungguh dalam melakukan pendekatan kepada Allah. Dan kejujuran menegakkan syariat Islam harus dibuktikan dengan kejujuran melaksanakannya, baik dalam diri pribadi, keluarga, masyarakat, dan dalam segala peran yang diembannya. Wallahu a’lam.

Kamis, 06 November 2014

Opiniku : Poligami




Oleh : Hj. Tia Pistia Siti Shalihah binti Amar Sahid*

Poligami adalah HALAL! Karena Allah swt. telah menerangkannya di dalam Surat An-Nisa (4) ayat 3. Tentu saja, hal-hal yang sudah dihalalkan oleh Allah swt. tidak boleh menjadi haram. Begitu juga sebaliknya, yang haram menurut Allah swt. akan tetap haram, tidak boleh menjadi halal hanya karena kainginan manusia.
Hanya perlu kita perhatikan, ada catatan tambahan dalam ayat tersebut, “Jika kamu takut tidak akan dapat berbuat adil, kawini seorang saja.”
Tertangkap oleh pikiran hamba Allah yang bodoh ini bahwa untuk berpoligami seseorang harus adil, tidak boleh ada salah satu istri yang merasa dizalimi.
Untuk niat berpoligami harus ikhlas rido karena Allah swt., baik dari pihak sang suami yang berpoligami, maupun pihak istri yang dipoligami. Sehingga dengan pijakan itu, akan didapat perkawinan ISLAMI yang penuh barokah, sakinah, mawaddah, warahmah. Akan tetapi, nyatanya di zaman sekarang ini, untuk menjalani perkawinan sistem poligami sebagaimana kekasih kita Rasulullah saw. menjalankannya, terasa amat sulit apalagi dengan bekal ilmu yang alakadarnya. Jadi, semua dikembalikan lagi kepada kita, POLIGAMI OK! Tapi sanggupkah kita? Karena segala langkah yang kita ambil pasti akan ada perhitungannya kelak ketika kita pulang ke akhirat.
Dalam hal ini karena pihak suami sebagai pelaku, kelak yang akan dimintai pertanggungjawabannya adalah dia. Maka sebelum melakukan poligami, akan lebih afdol bermuhasabah dahulu, berkaca diri, “Sudah cukupkah bekalku secara keimanan?” “Sudah cukupkah bekal istri dan anak-anakku memahami poligami?”
Banyak yang harus dipersiapkan sebelum melakukan poligami, di antara sebagian kecilnya adalah sebagai berikut.

1.            Dari suami secara pribadi dan keimanan. Seorang suami yang berpoligami harus mempunyai pribadi yang tegas, berwibawa, dan penuh kasih sayang sehingga ia bisa mendidik dan menggalang kerukunan para istri dan anak-anaknya. Keimanannya kepada Allah swt. dan hari akhir pun harus mantap sehingga apa pun langkah yang akan diambil, semua penuh dengan perhitungan, penuh dengan rasa takut akan azab hari akhir, serta penuh dengan rasa mengharap rido Allah swt.
2.            Yang pasti adalah financial. Memang, Allah swt. Maha Pemberi Rezeki, tetapi sungguh manusia mempunyai banyak keterbatasan. Apabila Allah swt. memang memberikan untuknya rezeki yang untuk satu istri saja mepet, ya berpuasalah untuk menahan syahwat. Sungguh, agama Islam yang indah ini hanya untuk orang-orang yang mau berpikir.
3.            Persiapkan iman, mental, ilmu, istri, dan anak-anak. Jangan sampai ada perceraian. Jika semua dilakukan bukan atas dasar niat Lillahi ta’ala bisa-bisa anak istri menjadi korban. Umumnya, yang menjadi korban adalah istri pertama beserta anak-anaknya. Karenanya tak salah jika Allah swt. memberikan pahala surga untuk istri pertama yang ikhlas karena Allah swt. untuk dipoligami karena perjuangannya yang begitu hebat.

At least, kalau sudah merasa mampu untuk memenuhi persyaratan di atas: (1) iman dan kepribadian; (2) rezeki lebih dari cukup; dan (3) anak istri saleh, why not? Let’s do it! Semoga Allah swt. memberikan bimbingan-Nya kepada kita.
Intinya bahwa semua pernikahan adalah ibadah. Poligami bukanlah semata-mata pemuas syahwat dan semua harus dalam rangka mencari rido Allah swt. Wallahu a’lam

*) Pendapat penulis pribadi dengan segala keterbatasan ilmu, semoga Allah swt. mengampuni segala kekurangan.

Selasa, 16 September 2014

Memperkuat Tubuh Ummat Islam





مَثَلُ الْمُؤْمِنِيْنَ  فِيْ تَرَاحُمِهِمْ  وَتَوَادِّهِمْ وَتَعَاطُفِهِمْ كَمَثَلِ الْجَسَدِ
إِذَا اشْتَكَى عَضْوٌ تَدَاعَى لَهُ سَائِرُ جَسَدِهِ بِالسَّهَرِ وَالْحُمَّى
(رواه البخاري ومسلم)
“Perumpamaan orang-orang beriman dalam hal saling mencintai, mengasihi, dan saling berempati bagaikan satu tubuh. Jika salah satu anggotanya merasakan sakit, maka seluruh tubuh turut merasakannya dengan berjaga dan merasakan demam.” (H.R. Bukhari dan Muslim)
Hadis lain yang memiliki pesan sama adalah,

اَلْمُؤْمِنُ لِلْمُؤْمِنِ كَالْبُنْيَانِ يَشُدُّ بَعْضُهُ بَعْضًا (رواه البخاري ومسلم)
“Seorang mukmin terhadap mukmin (lainnya) bagaikan satu bangunan, satu sama lain saling menguatkan.” (H.R. Bukhari dan Muslim)
Apa yang disabdakan Rasulullah saw. dengan dua hadis di atas melukiskan gambaran ideal umat Islam. Di masa Rasulullah saw. dan generasi awal umat mukmin, keadaan itu merupakan realitas, bukan mimpi. Bila kita merenungkan hadis-hadis di atas seraya membuka lembaran-lembaran sejarah kehidupan assalafus-shalih (generasi terdahulu yang saleh), niscaya kita akan menemukan kenyataan-kenyataan ini:
Pertama, kaum mukminin mewujud bagaikan tubuh manusia sempurna atau bangunan kokoh. Segala kekuatan yang ada padanya semakin menambah kokohnya bangunan atau tubuh itu. Layaknya tubuh yang sehat, setiap anggota tubuh itu memiliki sensitivitas terhadap apa yang terjadi pada anggota tubuh lainnya.
Kedua, satu sama lain saling memelihara, saling menjaga, saling menguatkan, dan saling mendukung, sehingga tercipta ikatan sosial yang solid.
Ketiga, semua bagian bangunan itu secara bersama-sama memelihara segala aset kebaikan yang dimilikinya dan meninggalkan atau membuang hal-hal yang merugikan. Aset-aset yang dimaksud, baik aset fisik-material seperti kekayaan alam, maupun nonfisik, seperti tradisi gotong royong dan budaya malu.
Keempat, setiap bagian dari umat itu berada pada posisi masing-masing secara tepat dan masing-masing bekerja untuk mencari solusi bagi problem-problem yang dihadapi dalam kehidupan.
Sifat-sifat itu tergambar dalam kisah yang dituturkan hadis berikut,
“Seorang lelaki datang menghadap Rasulullah saw. guna mengadukan perihal kemelaratan yang dideritanya, lalu ia pulang. Maka Rasulullah saw. mengatakan kepadanya, ‘Pergilah hingga kamu mendapatkan sesuatu (untuk dijual).’ Orang itu lalu pergi dan pulang lagi (menghadap Rasulullah saw.) dengan membawa sehelai kain dan sebuah cangkir. Orang itu lalu mengatakan, ‘Ya Rasulullah, sebagian kain ini biasa digunakan keluarga saya sebagai alas dan sebagiannya lagi sebagai penutup tubuh. Sedangkan cangkir ini biasa mereka gunakan sebagai tempat minum.’ Rasulullah saw. berkata, ‘Siapa yang mau membeli keduanya dengan harga satu dirham?’ Seorang laki-laki menjawab, ‘Saya, wahai Rasulullah.’ Rasulullah saw. berkata lagi, ‘Siapa yang mau membeli keduanya dengan harga lebih dari satu dirham.’ Seorang laki-laki mengatakan, ‘Aku akan membelinya dengan harga dua dirham.’ Rasulullah saw. berujar, ‘Kalau begitu kedua barang itu untuk kamu.’ Lalu Rasulullah saw. memanggil orang (yang menjual barang) itu seraya mengatakan, ‘Belilah kapak dengan satu dirham dan makanan untuk keluargamu dengan satu dirham. Orang itu kemudian melaksakan perintah itu lalu datang lagi kepada Rasulullah saw. Maka Rasulullah saw. memerintahkan kepadanya, ‘Pergilah ke lembah itu dan janganlah kamu meninggalkan ranting atau duri atau kayu bakar. Dan janganlah kamu menemuiku selama lima belas hari.’ Maka orang itu pun pergi dan mendapatkan uang sepuluh dirham. Rasulullah saw. mengatakan, ‘Pergi dan belilah makanan untuk keluargamu dengan uang lima dirham.’ Orang itu mengatakan, ‘Ya Rasulullah, Allah telah memberikan barokah dalam apa yang kau perintahkan kepadaku.’” (H.R. Baihaqi)

Hadis di atas melukiskan betapa setiap orang berupaya untuk merasakan nasib saudaranya. Bukan itu saja. Mereka berupaya mencarikan solusi. Solusinya pun bukanlah solusi yang mematikan keberdayaan melainkan justru solusi yang juga sekaligus memberdayakan. Dan lebih menarik lagi, Rasulullah saw. sebagai pimpinan tertinggi, terlibat langsung dalam upaya perwujudan nilai-nilai kebersamaan dan kepaduan itu sekaligus merumuskan dan mengeksekusi jalan keluarnya. Tentu saja kondisi umat Islam yang seperti itu bukan muncul dengan sendirinya. Masyarakat ideal dengan soliditas tinggi yang ada di zaman Rasulullah saw. adalah hasil tempaan beliau dengan tarbiyah robbaniyyah (pendidikan ala Allah swt.) dan dalam waktu yang bukan sebentar.
Dengan kualitas seperti itu, kita dapat melakukan banyak hal dan mencapai banyak kesuksesan. Konspirasi yang selalu digalang oleh orang-orang kafir juga tidak akan menemukan efektivitasnya manakala umat Islam dalam kondisi solid bagaikan satu tubuh. Allah swt. berfirman,

وأطيعوا الله ورسوله ولا تنازعوا فتفشلوا
وتذهب ريحكم واصبروا إن الله مع الصابرين

“Dan taatlah kalian kepada Allah dan Rasul-Nya dan janganlah kalian bercerai-berai sebab kalian akan gagal dan hilang kekuatan kalian, dan bersabarlah kalian karena sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang bersabar.” (Q.S. Al Anfal 8: 46)

Rasulullah saw. telah melakukan hal terbaik untuk mewujudkan segala kebaikan pada umat ini. Lalu apa yang bisa kita lakukan untuk mengembalikan apa yang sudah dilakukan dan digariskan Rasulullah saw. khususnya dalam hal mewujudkan kepaduan tubuh umat Islam? Sekadar urun rembuk dari penulis, langkah-langkah berikut tampaknya perlu menjadi komitmen kita bersama, terutama kalangan du'at (para juru dakwah):

Pertama, menegaskan kembali pemahaman dan keyakinan kita bahwa Islam bukan agama individual. Ajaran Islam menghendaki setiap orang menjadi orang yang beriman, bertakwa, dan saleh. Namun itu saja tidak cukup, harus ada kesalehan kolektif. Salah satu indikator kesalehan kolektif adalah adanya perhatian dan kepedulian terhadap nasib sesama muslim. Rasulullah saw.  bersabda,
مَنْ لَمْ يَهْتَمَّ بِأَمْرِ الْمُسْلِمِيْنَ فَلَيْسَ مِنْهُمْ (الطبراني)
“Barangsiapa tidak peduli terhadap urusan kaum muslimin, maka ia tidak termasuk golongan mereka.” (H.R. Ath-Thabrani)
Kebersamaan dalam iman dan ketakwaan ini juga berperan besar dalam menumbuhkan ketahanan dan kesabaran, sesuatu yang amat dibutuhkan dalam kancah pertarungan. Allah swt. berfirman,
واصبر نفسك مع الذين يدعون ربهم بالغداة والعشي يريدون وجهه
“Dan bersabarlah dirimu bersama orang-orang yang menyeru Tuhan mereka di pagi dan petang hari dengan mengharapkan rido-Nya.” (Q.S. Al Kahfi 18: 28).
Kedua, karenanya setiap kita harus terus memotivasi diri untuk mensalehkan diri sendiri dan berusaha mensalehkan orang lain. Dia harus terbiasa melakukan amrun bil-ma’ruf wa nahyun ‘anil-munkar (memerintah kepada yang baik dan mencegah dari yang buruk). Dan sikap itu merupakan karakter dasar mukmin sejati. Allah swt. menggambarkan hal itu,

والمؤمنون والمؤمنات بعضهم أولياء بعض يأمرون
بالمعروف وينهون عن المنكر ويقيمون الصلاة
ويؤتون الزكاة ويطيعون الله ورسول
أولئك سيرحمهم الله إن الله عزيز حكيم

“Dan orang-orang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka adalah menjadi penolong bagi sebagian lain. Mereka menyuruh mengerjakan yang baik dan mencegah dari yang buruk, mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan mereka taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (Q.S. At-Taubah 9: 71)

Tanggung jawab paling minimal seorang mukmin dalam amar ma’ruf dan nahi mungkar adalah terhadap keluarga. Oleh karena itu, seorang mukmin harus memiliki perencanaan sejak pernikahan, dari mulai memilih calon pendamping hidup. Tentang kewajiban ini Allah berfirman,

يا أيها الذين آمنوا قوا أنفسكم وأهليكم نارا
وقودها الناس والحجارة عليها ملائكة
غلاظ شداد لا يعصون الله ما أمرهم ويفعلون ما يؤمرون

“Wahai orang-orang yang beriman peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya manusia dan bebatuan; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan mereka selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (Q.S. At-Tahrim 66: 6)

Ketiga, mengarahkan loyalitas dan pembelaan hanya kepada Allah, Rasulullah saw., dan kepada sesama mukmin, bukan kepada figur. Lebih-lebih bila figur itu adalah sosok yang menawarkan penyimpangan dari aqidah Islam. Adalah bencana besar bila dakwah melahirkan loyalitas (wala) kepada figur tertentu, diri sang da'i, misalnya. Sebab loyalitas kepada figur merupakan celah yang menganga lebar bagi munculnya sikap kultus. Bangsa Indonesia telah dibuat sengsara oleh perilaku kultus itu. Karena kultus mengarahkan pada sikap, “Tidak ada kebenaran selain yang datang dari figur tersebut”.

Kesetiaan utama seorang muslim adalah kepada Allah, Rasulullah saw., dan kaum mukminin. Allah dan Rasul-Nyalah yang dijadikan sebagai sumber kebenaran. Dan Allah dan Rasul-Nya pula yang menjadi muara kesetiaan dan kecintaan. Oleh karena itu, loyalitas dan kesetiaan mukmin hanya akan diberikan kepada sesama mukmin selama ia taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Firman-Nya,

إنما وليكم الله ورسوله والذين آمنوا الذين
يقيمون الصلاة ويؤتون الزكاة وهم راكعون

“Wali (pemimpin, kekasih, penolong) kamu hanyalah Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang beriman yang mendirikan shalat, mengeluarkan zakat, seraya mereka tunduk (kepada Allah).” (Q.S. Al Maidah 5: 55)

Tanpa loyalitas yang benar, seperti disebutkan dalam ayat di atas, orang bisa tersinggung dan marah karena tokoh idolanya dikoreksi, dikritik, atau diprotes. Tapi tidak terusik kalbu dan perasannya manakala Islam dihujat, hukum Islam diinjak-injak, Rasulullah saw. dihina, dan umat Islam dibantai.

Keempat, untuk menunjang upaya di atas, kita –terutama para da'i— hendaknya mampu menonjolkan persamaan-persamaan, bukan sebaliknya: mengekspos perbedaan-perbedaan. Disadari bahwa ada banyak perbedaan di kalangan umat Islam. Namun bukanlah sikap bijak untuk menggelembungkan perbedaan-perbedaan itu melebihi porsinya.

Tentu berbeda halnya jika perbedaan itu menyangkut masalah yang asasi, seperti masalah aqidah atau masalah-masalah yang telah menjadi ijma' ulama. Contoh untuk yang terakhir adalah perbedaan dalam menyikapi komunisme, zionisme, atau pemurtadan. Ini masalah prinsipil, baik dari segi aqidah maupun dari tinjauan historis. Al Quran telah dengan tegas memberikan informasi kepada kita bahwa Yahudi adalah musuh yang selalu membuat makar dan memendam kedengkian dan kebencian kepada kaum muslimin. Dalam hal-hal yang dianggap perbedaan "tidak prinsipil", tentu bukan pula berarti pintu telah tertutup bagi pembahasan dan kajian. Dengan syarat, hal itu dilakukan secara ilmiah dan hati dingin. Bukan mencari kemenangan dan mengumbar kebencian serta permusuhan.

Dan kelima, para da'i dituntut mampu atau paling tidak berusaha menggali, menumbuhkan, memelihara, mengarahkan, lalu merekat dan merakit potensi umat itu. Umat sesungguhnya memiliki banyak potensi. Permasalahan yang menghadang adalah pemberdayaan potensi tersebut. Dan gerakan dakwah sesungguhnya adalah yang paling bertanggung jawab untuk tugas itu.
Memang, membangun kembali kaum mukminin agar menjadi seperti satu tubuh bukanlah hal enteng, tapi juga bukan hal mustahil. Kalaupun masing-masing kita belum mampu menyelesaikan masalah, paling tidak janganlah menjadi pembuat atau penambah masalah. Wallahu a’lam