Selasa, 16 September 2014

Memperkuat Tubuh Ummat Islam





مَثَلُ الْمُؤْمِنِيْنَ  فِيْ تَرَاحُمِهِمْ  وَتَوَادِّهِمْ وَتَعَاطُفِهِمْ كَمَثَلِ الْجَسَدِ
إِذَا اشْتَكَى عَضْوٌ تَدَاعَى لَهُ سَائِرُ جَسَدِهِ بِالسَّهَرِ وَالْحُمَّى
(رواه البخاري ومسلم)
“Perumpamaan orang-orang beriman dalam hal saling mencintai, mengasihi, dan saling berempati bagaikan satu tubuh. Jika salah satu anggotanya merasakan sakit, maka seluruh tubuh turut merasakannya dengan berjaga dan merasakan demam.” (H.R. Bukhari dan Muslim)
Hadis lain yang memiliki pesan sama adalah,

اَلْمُؤْمِنُ لِلْمُؤْمِنِ كَالْبُنْيَانِ يَشُدُّ بَعْضُهُ بَعْضًا (رواه البخاري ومسلم)
“Seorang mukmin terhadap mukmin (lainnya) bagaikan satu bangunan, satu sama lain saling menguatkan.” (H.R. Bukhari dan Muslim)
Apa yang disabdakan Rasulullah saw. dengan dua hadis di atas melukiskan gambaran ideal umat Islam. Di masa Rasulullah saw. dan generasi awal umat mukmin, keadaan itu merupakan realitas, bukan mimpi. Bila kita merenungkan hadis-hadis di atas seraya membuka lembaran-lembaran sejarah kehidupan assalafus-shalih (generasi terdahulu yang saleh), niscaya kita akan menemukan kenyataan-kenyataan ini:
Pertama, kaum mukminin mewujud bagaikan tubuh manusia sempurna atau bangunan kokoh. Segala kekuatan yang ada padanya semakin menambah kokohnya bangunan atau tubuh itu. Layaknya tubuh yang sehat, setiap anggota tubuh itu memiliki sensitivitas terhadap apa yang terjadi pada anggota tubuh lainnya.
Kedua, satu sama lain saling memelihara, saling menjaga, saling menguatkan, dan saling mendukung, sehingga tercipta ikatan sosial yang solid.
Ketiga, semua bagian bangunan itu secara bersama-sama memelihara segala aset kebaikan yang dimilikinya dan meninggalkan atau membuang hal-hal yang merugikan. Aset-aset yang dimaksud, baik aset fisik-material seperti kekayaan alam, maupun nonfisik, seperti tradisi gotong royong dan budaya malu.
Keempat, setiap bagian dari umat itu berada pada posisi masing-masing secara tepat dan masing-masing bekerja untuk mencari solusi bagi problem-problem yang dihadapi dalam kehidupan.
Sifat-sifat itu tergambar dalam kisah yang dituturkan hadis berikut,
“Seorang lelaki datang menghadap Rasulullah saw. guna mengadukan perihal kemelaratan yang dideritanya, lalu ia pulang. Maka Rasulullah saw. mengatakan kepadanya, ‘Pergilah hingga kamu mendapatkan sesuatu (untuk dijual).’ Orang itu lalu pergi dan pulang lagi (menghadap Rasulullah saw.) dengan membawa sehelai kain dan sebuah cangkir. Orang itu lalu mengatakan, ‘Ya Rasulullah, sebagian kain ini biasa digunakan keluarga saya sebagai alas dan sebagiannya lagi sebagai penutup tubuh. Sedangkan cangkir ini biasa mereka gunakan sebagai tempat minum.’ Rasulullah saw. berkata, ‘Siapa yang mau membeli keduanya dengan harga satu dirham?’ Seorang laki-laki menjawab, ‘Saya, wahai Rasulullah.’ Rasulullah saw. berkata lagi, ‘Siapa yang mau membeli keduanya dengan harga lebih dari satu dirham.’ Seorang laki-laki mengatakan, ‘Aku akan membelinya dengan harga dua dirham.’ Rasulullah saw. berujar, ‘Kalau begitu kedua barang itu untuk kamu.’ Lalu Rasulullah saw. memanggil orang (yang menjual barang) itu seraya mengatakan, ‘Belilah kapak dengan satu dirham dan makanan untuk keluargamu dengan satu dirham. Orang itu kemudian melaksakan perintah itu lalu datang lagi kepada Rasulullah saw. Maka Rasulullah saw. memerintahkan kepadanya, ‘Pergilah ke lembah itu dan janganlah kamu meninggalkan ranting atau duri atau kayu bakar. Dan janganlah kamu menemuiku selama lima belas hari.’ Maka orang itu pun pergi dan mendapatkan uang sepuluh dirham. Rasulullah saw. mengatakan, ‘Pergi dan belilah makanan untuk keluargamu dengan uang lima dirham.’ Orang itu mengatakan, ‘Ya Rasulullah, Allah telah memberikan barokah dalam apa yang kau perintahkan kepadaku.’” (H.R. Baihaqi)

Hadis di atas melukiskan betapa setiap orang berupaya untuk merasakan nasib saudaranya. Bukan itu saja. Mereka berupaya mencarikan solusi. Solusinya pun bukanlah solusi yang mematikan keberdayaan melainkan justru solusi yang juga sekaligus memberdayakan. Dan lebih menarik lagi, Rasulullah saw. sebagai pimpinan tertinggi, terlibat langsung dalam upaya perwujudan nilai-nilai kebersamaan dan kepaduan itu sekaligus merumuskan dan mengeksekusi jalan keluarnya. Tentu saja kondisi umat Islam yang seperti itu bukan muncul dengan sendirinya. Masyarakat ideal dengan soliditas tinggi yang ada di zaman Rasulullah saw. adalah hasil tempaan beliau dengan tarbiyah robbaniyyah (pendidikan ala Allah swt.) dan dalam waktu yang bukan sebentar.
Dengan kualitas seperti itu, kita dapat melakukan banyak hal dan mencapai banyak kesuksesan. Konspirasi yang selalu digalang oleh orang-orang kafir juga tidak akan menemukan efektivitasnya manakala umat Islam dalam kondisi solid bagaikan satu tubuh. Allah swt. berfirman,

وأطيعوا الله ورسوله ولا تنازعوا فتفشلوا
وتذهب ريحكم واصبروا إن الله مع الصابرين

“Dan taatlah kalian kepada Allah dan Rasul-Nya dan janganlah kalian bercerai-berai sebab kalian akan gagal dan hilang kekuatan kalian, dan bersabarlah kalian karena sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang bersabar.” (Q.S. Al Anfal 8: 46)

Rasulullah saw. telah melakukan hal terbaik untuk mewujudkan segala kebaikan pada umat ini. Lalu apa yang bisa kita lakukan untuk mengembalikan apa yang sudah dilakukan dan digariskan Rasulullah saw. khususnya dalam hal mewujudkan kepaduan tubuh umat Islam? Sekadar urun rembuk dari penulis, langkah-langkah berikut tampaknya perlu menjadi komitmen kita bersama, terutama kalangan du'at (para juru dakwah):

Pertama, menegaskan kembali pemahaman dan keyakinan kita bahwa Islam bukan agama individual. Ajaran Islam menghendaki setiap orang menjadi orang yang beriman, bertakwa, dan saleh. Namun itu saja tidak cukup, harus ada kesalehan kolektif. Salah satu indikator kesalehan kolektif adalah adanya perhatian dan kepedulian terhadap nasib sesama muslim. Rasulullah saw.  bersabda,
مَنْ لَمْ يَهْتَمَّ بِأَمْرِ الْمُسْلِمِيْنَ فَلَيْسَ مِنْهُمْ (الطبراني)
“Barangsiapa tidak peduli terhadap urusan kaum muslimin, maka ia tidak termasuk golongan mereka.” (H.R. Ath-Thabrani)
Kebersamaan dalam iman dan ketakwaan ini juga berperan besar dalam menumbuhkan ketahanan dan kesabaran, sesuatu yang amat dibutuhkan dalam kancah pertarungan. Allah swt. berfirman,
واصبر نفسك مع الذين يدعون ربهم بالغداة والعشي يريدون وجهه
“Dan bersabarlah dirimu bersama orang-orang yang menyeru Tuhan mereka di pagi dan petang hari dengan mengharapkan rido-Nya.” (Q.S. Al Kahfi 18: 28).
Kedua, karenanya setiap kita harus terus memotivasi diri untuk mensalehkan diri sendiri dan berusaha mensalehkan orang lain. Dia harus terbiasa melakukan amrun bil-ma’ruf wa nahyun ‘anil-munkar (memerintah kepada yang baik dan mencegah dari yang buruk). Dan sikap itu merupakan karakter dasar mukmin sejati. Allah swt. menggambarkan hal itu,

والمؤمنون والمؤمنات بعضهم أولياء بعض يأمرون
بالمعروف وينهون عن المنكر ويقيمون الصلاة
ويؤتون الزكاة ويطيعون الله ورسول
أولئك سيرحمهم الله إن الله عزيز حكيم

“Dan orang-orang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka adalah menjadi penolong bagi sebagian lain. Mereka menyuruh mengerjakan yang baik dan mencegah dari yang buruk, mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan mereka taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (Q.S. At-Taubah 9: 71)

Tanggung jawab paling minimal seorang mukmin dalam amar ma’ruf dan nahi mungkar adalah terhadap keluarga. Oleh karena itu, seorang mukmin harus memiliki perencanaan sejak pernikahan, dari mulai memilih calon pendamping hidup. Tentang kewajiban ini Allah berfirman,

يا أيها الذين آمنوا قوا أنفسكم وأهليكم نارا
وقودها الناس والحجارة عليها ملائكة
غلاظ شداد لا يعصون الله ما أمرهم ويفعلون ما يؤمرون

“Wahai orang-orang yang beriman peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya manusia dan bebatuan; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan mereka selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (Q.S. At-Tahrim 66: 6)

Ketiga, mengarahkan loyalitas dan pembelaan hanya kepada Allah, Rasulullah saw., dan kepada sesama mukmin, bukan kepada figur. Lebih-lebih bila figur itu adalah sosok yang menawarkan penyimpangan dari aqidah Islam. Adalah bencana besar bila dakwah melahirkan loyalitas (wala) kepada figur tertentu, diri sang da'i, misalnya. Sebab loyalitas kepada figur merupakan celah yang menganga lebar bagi munculnya sikap kultus. Bangsa Indonesia telah dibuat sengsara oleh perilaku kultus itu. Karena kultus mengarahkan pada sikap, “Tidak ada kebenaran selain yang datang dari figur tersebut”.

Kesetiaan utama seorang muslim adalah kepada Allah, Rasulullah saw., dan kaum mukminin. Allah dan Rasul-Nyalah yang dijadikan sebagai sumber kebenaran. Dan Allah dan Rasul-Nya pula yang menjadi muara kesetiaan dan kecintaan. Oleh karena itu, loyalitas dan kesetiaan mukmin hanya akan diberikan kepada sesama mukmin selama ia taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Firman-Nya,

إنما وليكم الله ورسوله والذين آمنوا الذين
يقيمون الصلاة ويؤتون الزكاة وهم راكعون

“Wali (pemimpin, kekasih, penolong) kamu hanyalah Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang beriman yang mendirikan shalat, mengeluarkan zakat, seraya mereka tunduk (kepada Allah).” (Q.S. Al Maidah 5: 55)

Tanpa loyalitas yang benar, seperti disebutkan dalam ayat di atas, orang bisa tersinggung dan marah karena tokoh idolanya dikoreksi, dikritik, atau diprotes. Tapi tidak terusik kalbu dan perasannya manakala Islam dihujat, hukum Islam diinjak-injak, Rasulullah saw. dihina, dan umat Islam dibantai.

Keempat, untuk menunjang upaya di atas, kita –terutama para da'i— hendaknya mampu menonjolkan persamaan-persamaan, bukan sebaliknya: mengekspos perbedaan-perbedaan. Disadari bahwa ada banyak perbedaan di kalangan umat Islam. Namun bukanlah sikap bijak untuk menggelembungkan perbedaan-perbedaan itu melebihi porsinya.

Tentu berbeda halnya jika perbedaan itu menyangkut masalah yang asasi, seperti masalah aqidah atau masalah-masalah yang telah menjadi ijma' ulama. Contoh untuk yang terakhir adalah perbedaan dalam menyikapi komunisme, zionisme, atau pemurtadan. Ini masalah prinsipil, baik dari segi aqidah maupun dari tinjauan historis. Al Quran telah dengan tegas memberikan informasi kepada kita bahwa Yahudi adalah musuh yang selalu membuat makar dan memendam kedengkian dan kebencian kepada kaum muslimin. Dalam hal-hal yang dianggap perbedaan "tidak prinsipil", tentu bukan pula berarti pintu telah tertutup bagi pembahasan dan kajian. Dengan syarat, hal itu dilakukan secara ilmiah dan hati dingin. Bukan mencari kemenangan dan mengumbar kebencian serta permusuhan.

Dan kelima, para da'i dituntut mampu atau paling tidak berusaha menggali, menumbuhkan, memelihara, mengarahkan, lalu merekat dan merakit potensi umat itu. Umat sesungguhnya memiliki banyak potensi. Permasalahan yang menghadang adalah pemberdayaan potensi tersebut. Dan gerakan dakwah sesungguhnya adalah yang paling bertanggung jawab untuk tugas itu.
Memang, membangun kembali kaum mukminin agar menjadi seperti satu tubuh bukanlah hal enteng, tapi juga bukan hal mustahil. Kalaupun masing-masing kita belum mampu menyelesaikan masalah, paling tidak janganlah menjadi pembuat atau penambah masalah. Wallahu a’lam

Jumat, 30 November 2007

Perjuangkan Dinar-Dirham, Satukan Kekuatan Negara-Negara Islam



Profil  : Dato’ Paduka Sri Mir Khan - CEO Dinar & Dirham International

Krisis ekonomi yang melanda kawasan Asia Tenggara pada tahun 1997-1998 telah membuat stabilitas perekonomian di negara-negara tesebut terpuruk. Bukan hanya di bidang ekonomi, krisis juga merembet pada bidang sosial budaya, pemerintahan, serta moral bangsa yang berada di stadium sangat mengkhawatirkan. Kerusuhan, demonstrasi, penjarahan, dan beragam tindak kriminal lainnya mewarnai gelombang krisis yang datang beruntutan. Campur tangan dan spekulasi sejumlah oknum yang tidak bertanggung jawab semakin memperparah carut marut perekonomian negara-negara yang sebagian besar berpenduduk muslim ini.

Dengan adanya krisis ini, dirumuskanlah lima poin penting mengenai sistem moneter yang saat itu dikuasai dolar Amerika. Poin penting tersebut adalah sebagai berikut.
1.      Uang kertas tidak mempunyai nilai riil sebab hanya merupakan angka-angka yang dicetak di atas kertas.
2.      Sistem keuangan global tidak stabil dan tidak adil.
3.      Negara-negara berkembang mempunyai ketahanan yang kecil terhadap spekulasi mata uang.
4.      Oleh karena itu, untuk mempertahankan diri, harus dibuat mata uang perdagangan milik sendiri yang mempunyai nilai riil.
5.      Emas adalah penyimpanan kekayaan yang aman dan stabil dan secara global diterima sebagai mata uang perdagangan.

Hal itulah yang melatarbelakangi lahirnya Dinar & Dirham International Sdn. Bhd., sebuah organisasi (perusahaan) lembaga keuangan dan ekonomi yang memberlakukan mata uang emas, terutama di negara-negara yang mayoritas penduduknya beragam Islam. Dato’ Paduka Sri Mir Khan, penggagas sekaligus Chief Executive Officer Dinar & Dirham International Sdn. Bhd Malaysia, menyatakan komitmennya untuk menggerakkan kebangkitan umat Islam melalui sistem ekonomi Dinar Emas Islam. Dinar Emas ini diproyeksikan akan menguntungkan negara dunia ketiga, termasuk negara-negara Islam di seluruh dunia. Bisa digunakan sebagai komoditas dan sistem nilai tukar mata uang dalam menghadapi krisis ekonomi dunia dan mengadapi harga komoditas yang tidak stabil. Kelak, Dinar Emas diharapkan menjadi simbol pemersatu antara negara-negara dunia ketiga, terutama negara-negara Islam. Perusahaan yang didirikan pada Oktober 2003 tersebut dihadiri pula Perdana Menteri ketika itu, Dr. Mahathir Mohammad. Acara tersebut bertepatan pula dengan penyelenggaraan Konferensi Pemimpin Islam dari 57 negara di Putrajaya, Malaysia.

Siapakah Dato’ Paduka Sri Mir Khan? Beliau adalah pria kelahiran Malaysia 20 Juni 1955. Dato’ Mir (panggilan akrabnya) sejak tahun 1980 meninggalkan Malaysia untuk menimba ilmu di Amerika Serikat, tepatnya di Honolulu - Hawai. Hidup di Hawai merupakan sebuah fase yang penuh kemerdekaan dan kebebasan sejalan dengan hobinya ketika itu, bermain polo dan mengemudikan pesawat terbang. Pada awalnya, kehidupan di Amerika adalah cara hidup yang hebat, megah, dan modern. Seiring bertambahnya usia, pesona Amerika pun hilang. Perasaan terasing mulai ia rasakan. Perbandingan perbedaan gaya hidup, sosial budaya, serta agama menyadarkannya bahwa budaya negaranya jauh lebih baik. Menyadari bahwa Paman Sam tidak seperti tempat yang dicita-citakannya dulu, membuat niatnya untuk pulang kampung semakin mantap.

Kepulangan ke Malaysia telah mengantarkannya pada pemahaman Islam yang lebih baik. Revolusi pemikiran ini bedampak pula pada sikap dan perilakunya. Sebagai contoh, dulu Dato’ Mir mempunyai setumpuk kartu kredit sebagai alat yang mempermudah beragam transaksi keuangan. Konsep Islam tentang riba membuatnya membuang jauh-jauh semua kartu kredit yang dimilikinya. Menurutnya, kartu kredit tidak sesuai dengan hukum ekonomi Islam yang menekankan sistem syariah. Kartu kredit dan segala sistem tata kelola ekonomi keuangan yang besifat utang, sesuai dengan hukum ekonomi syariah adalah riba. Selain bertentangan dnegan syariat Islam, riba itu haram. Beliau menjelaskan, “Setiap bulan, setiap kali kita berutang, kita adalah milik tempat kita berutang. Nah, kalau Anda berutang, maka pengutang dimiliki oleh yang memberi utang. Selepas pembayaran utang, barulah kita lepas dari genggaman mereka.”

Bukan hanya itu, pengalamannya malang melintang dalam dunia bisnis internasional yang selama ini dikuasai sistem kapitalis membuatnya sampai pada kesimpulan bahwa dinar dan dirham –sistem moneter yang sangat direkomendasikan Islam– adalah solusi terbaik mengatasi dampak buruk yang ditimbulkan moneter yang dipakai selama ini. Kalau kemudian Dato’ Mir mendirikan Dinar & Dirham International Sdn. Bhd., itu merupakan wujud kerinduannya pada penerapan sistem moneter yang dicontohkan oleh Islam. Keberanian Dr. Mahathir Mohammad dan keberhasilannya mempertahankan ekonomi Malaysia terhadap serangan spekulan mata uang dan pengaruh IMF, memberikan Dato’ Mir suatu pemahaman yang mendalam tentang pentingnya membangun mata uang perdagangan berbasis emas bagi negara-negara Islam.

Dalam sambutannya dalam pembukaan tersebut, Dr. Mahathir menyatakan, “Ini (dinar emas) akan memberikan lebih banyak kemampuan dalam menghadapi tekanan yang diberikan oleh lawan-lawan kita dibandingkan pembalasan dengan kekerasan.” Penggunaan Dinar Emas dapat berfungsi sebagai alat pemersatu di antara negara-negara anggota OKI, mendorong perdagangan antaranggota, dan memberikan mereka mata uang perdagangan yang tangguh. Dato’ Mir berkomentar, “Bagi dunia Islam, prakarsa Malaysia untuk menggunakan emas sebagai kerja sama perdagangan internasional adalah titik awal yang akan memperkuat dan mempersatukan umat muslim.”

Dinar & Dirham International Sdn. Bhd., bukan hanya bergerak dalam hal mendesain, memproduksi, dan mendistribusikan produk emas dan perak dalam jumlah besar. Dinar & Dirham International juga mencanangkan program yang berkaitan erat dengan sosialisasi mata uang Dinar dan Dirham. Program-program tersebut adalah:
1.      Edukasi dan pelatihan tentang ekonomi berbasis emas.
2.      Menjalin dan mengatur mekanisme kerja sama perdagangan internasional menggunakan emas.
3.      Pemrakarsa cadangan emas Islam
4.      Berperan sebagai model baru bagi investasi perdagangan domestik dan internasional,
5.      Memberikan analisis mendalam tentang pasar emas dunia,
6.      Menganalisis implikasi politik dan finansial secara global atas penggunaan emas sebagai mata uang dunia.

Secara politis, pemakaian Dinar dan Dirham di antara sesama Negara Islam akan menjadi tanda kembalinya emas sebagai instrumen keuangan dan mata uang global yang sesungguhnya. Ia memberikan alternatif pertama bagi mata uang utama lainnya di dunia. Dato’ Sri Mir Khan menyebutkan beberapa keuntungan pemakaian mata uang ini, di antaranya adalah:
1.      Memperkuat dan mempersatukan negara-negara Islam
2.      Memulai dibentuknya Blok Perdagangan Dinar Mas
3.      Mendorong dan mempromosikan perdagangan di antara negara-negara anggota OKI
4.      Menggeser ketergantungan terhadap dolar Amerika
5.      Membuka jalan bagi instrumen dan praktik perdagangan berbasis emas lainnya
6.      Menciptakan sistem kerja sama perdagangan global yang adil dan stabil, yang akan menguntungkan negara-negara berkembang

Tentu saja, Islam tidak akan merekomendasikan sesuatu kalau hal tersebut tidak membawa kebaikan bagi umatnya. Persatuan dan kebersamaan Negara-negara Islam untuk mengadopsi sistem mata uang Dinar & Dirham adalah senjata ampuh untuk menghalau musuh-musuh yang hendak menghacurkan Islam melalui jalur ekonomi dan keuangan. Sudah sepatutnyalah ajakah Dato’ Paduka Sri Mir Khan kita sambut dengan gegap gempita demi terwujudnya independensi negara-negara Islam. Semoga! Muslik, sumber: www.tokohindonesia.com

Rabu, 28 November 2007

Islam dan Antisipasi Tindak Perkosaan




Oleh: Iin Rosliah*

Belakangan ini kasus perkosaan di Jawa Barat meningkat dan sangat memprihatinkan. Terutama karena tindakan amoral itu banyak menimpa gadis di bawah umur, dan rata-rata dilakukan oleh orang yang dikenal korban. Ada balita diperkosa tetangga, anak diperkosa bapak, adik dicabuli kakak, kakak digagahi adik, keponakan melecehkan bibi, guru sekolah menodai anak didik, bahkan guru ngaji mencabuli santrinya.

Selama bulan November 2005 saja, ada sembilan kasus perkosaan yang terungkap, dan yang paling dianggap brutal adalah kasus perkosaan tiga puluh lima (35) pemuda terhadap gadis sembilan belas (19) tahun yang terjadi di Sukabumi. Namun yang sangat memprihatinkan, delapan pelaku di antarnya ternyata masih di bawah umur. (Kasus Perkosaan di Jawa Barat Membuat Miris, Pikiran Rakyat, 21/11/2005).

Banyak faktor yang memicu maraknya tindakan perkosaan. Rendahnya tingkat pendidikan masyarakat, stres karena kesulitan hidup dan tekanan ekonomi, diduga menjadi faktor pendukung lahirnya tindakan bejat tersebut. Faktor pemicu ini makin lengkap dengan minimnya keimanan yang dimiliki seseorang. Ketika iman lemah, akan mudah baginya melakukan tindakan di luar aturan agama.

Belum lagi batas pergaulan laki-laki dan perempuan yang kini semakin longgar, ditambah stimulus yang dimunculkan oleh korban. Pakaian minimalis yang dikenakannya, mau tidak mau memunculkan gairah pelaku sehingga tak bisa menahan diri.

Maraknya VCD porno dan banyaknya tayangan TV yang tidak mendidik juga menjadi faktor pemicu yang tak dapat dipandang remeh. Bahkan menurut Herlina Agustin, S.Sos. M.T, Sekretaris Jurusan Jurnalistik Fikom, Unpad, faktor tertinggi rangsangan seksual yang muncul dalam kasus kejahatan seksual, justur setelah usai menonton VCD porno atau tayangan berita kejahatan seksual yang dibumbui visualisasi rekonstruksi atau ilustrasi. (Herlina, Cegah Anak Menonton Tayangan Vulgar, Pikiran Rakyat, 21/11/2005)

Ironis memang, negara yang mayoritas penduduknya muslim belum memiliki UU pornografi. Padahal, seperti dikatakan ketua PW Muhammadiyah Jawa Barat, Prof. Dr. H. Dadang Kahmad, di Negara yang dianggap sekuler seperti Australia, sudah memiliki UU yang melarang pornografi ditayangkan. Sehingga dari pagi sampai sore, acara-acara TV di Australia sebatas berita dan pendidikan anak. (Sahkan UU Antipornografi, Pikiran Rakyat, 21/11/2005).

Perlu ada upaya untuk menemukan solusi dari kasus ini. Namun, meningkatkan kualitas keimanan dan pendidikan agama masyarakat merupakan salah satu solusi yang tidak bisa ditawar-tawar lagi. Dengan pendidikan agama, paling tidak kasus perkosaan bisa diminimalisir. Mengapa demikian? Karena agama, dalam hal ini Islam, memiliki sejumlah aturan antisipatif yang mempersempit peluang munculnya kasus tersebut.

Merujuk pada Al Quran dan sunah Rasulullah saw., ada beberapa tindakan antisipatif yang ditawarkan Islam.

Pertama, meminta izin saat memasuki kamar orang tua

Ada tiga waktu yang mengharuskan anak kecil yang belum balig meminta izin sebelum memasuki kamar orang tuanya. Sebelum Shalat Subuh, tengah hari, dan sesudah Shalat Isya. Adapun bagi anak yang sudah balig, wajib minta izin pada semua waktu, di samping ketiga waktu tersebut. Ketentuan ini tercantantum dalam surat An-Nur ayat 58-59, “Hai orang-orang yang beriman, hendaklah budak-budak (lelaki dan wanita) yang kamu miliki, dan orang-orang yang belum balig di antara kamu, meminta izin kepada kamu tiga kali (dalam satu hari) yaitu: sebelum Shalat Subuh, ketika kamu menanggalkan pakaian (luar) mu di tengah hari, dan sesudah Shalat Isya. (Itulah) tiga `aurat bagi kamu. Tidak ada dosa atasmu dan tidak (pula) atas mereka selain dari (tiga waktu) itu. Mereka melayani kamu, sebahagian kamu (ada keperluan) kepada sebahagian (yang lain). Demikianlah Allah menjelaskan ayat-ayat bagi kamu. Dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. Dan apabila anak-anakmu telah sampai umur balig, maka hendaklah mereka meminta izin, seperti orang-orang yang sebelum mereka meminta izin. Demikianlah Allah menjelaskan ayat-ayat-Nya. Dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.”

Peraturan ini juga berlaku kebalikannya. Ketika memasuki kamar anak, hendaknya orang tua meminta izin terlebih dahulu. Ini dimaksudkan agar anak dan orang tua menghormati hak privasi masing-masing. Di samping juga sama-sama menjaga pandangan dari kondisi yang tidak diharapkan. Dikhawatirkan, jika tanpa izin sebelumnya, penghuni kamar sedang tidak terjaga auratnya. Sehingga keadaan ini dijadikan momen oleh setan untuk menjerumuskan anak atau bapak pada tindak perkosaan.

Kedua, memisahkan tempat tidur anak dan melarang tidur sambil tengkurap

Rasulullah saw. bersabda, “Perhatikanlah anak-anak kalian untuk shalat pada usia tujuh tahun dan pukullah mereka karena meninggalkannya pada usia sepuluh tahun, dan pisahkanlah tempat tidur mereka…” (H.R. Abu Daud)

Ya’isy bin Thakhfah Al Ghifari dari ayahnya r.a. berkata, “Ketika saya tidur tengkurap di masjid, tiba-tiba ada seorang laki-laki menggerak-gerakkanku dengan kakinya. Dia berkata, ‘Sesungguhnya tidur tengkurap ini dibenci Allah.’ Ya’isy berkata, ‘Maka aku melihat orang itu, ternyata dia adalah Rasulullah saw.” (H.R. Abu Daud, Ibnu Majah, dan Ahmad).

Tidur dalam keadaan tengkurap ini dicela karena bisa membangkitkan birahi seseorang.

Ketiga, menjaga pandangan

Ketentuan ini berlaku bagi laki-laki juga perempuan. Allah swt. telah berfirman, “Katakanlah kepada laki-laki yang beriman, hendaklah mereka menahan pandangannya dan memelihara kemaluannya, yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka. Sesungguhnya Allah Maha Tahu apa yang mereka perbuat. Dan katakanlah kepada wanita-wanita mukminat hendaklah mereka menundukkan pandangan dan memelihara kemaluannya…” (Q.S. An-Nur: 30-31).

Jabir bin Abdillah pernah bertanya kepada Rasulullah saw. tentang pandangan tiba-tiba, maka beliau menyuruhnya untuk memalingkan pandangan matanya. Ini diriwayatkan dalam hadis Ahmad, Muslim, Abu Daud, dan Tirmidzi.

Mengapa kira harus menundukkan pandangan? Dalam sebuah hadis, Rasulullah saw. bersabda, “Sesungguhnya pandangan itu adalah anak panah beracun dari anak-anak panah iblis, siapa yang menghindarkannya karena takut kepadaku (Allah), Aku akan mengaruniakan kepadanya keimanan yang terasa manis di dalah hatinya.” (H.R. Thabrani).

Seorang penyair mengatakan bahwa segala sesuatu itu bersumber dari pandangan. Siksa neraka yang terbesar berasal dari kemaksiatan yang kecil. Mula-mula memandang, kemudian senyuman dan salam, sesudah itu bicara, akhirnya ada janji dan kencan.

Menjaga pandangan bukan hanya saat berpapasan dengan lawan jenis dalam dunia riil, tapi juga yang muncul dalam CD-CD atau tayangan TV yang kerap kali tampil lebih berani dengan pakaian serba terbatas, gerakan erotis, sehingga dapat membangkitkan nafsu birahi.

Keempat, wanita wajib menutup aurat bahkan di hadapan seorang buta sekalipun

Perintah ini tercantum dalam surat An-Nur ayat 31 juga surat Al Ahzab ayat 59. “Hai Nabi katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu, dan istri-istri orang mukmin, ‘Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka.’ Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Q.S. Al Ahzab: 59)

Ummu Salamah menceritakan bahwa ketika ia sedang berada bersama Rasulullah saw. dan Maimunah, datang Ibnu Ummi Maktum menemui Rasulullah saw. Ketika itu kami sudah diperintah untuk berhijab. Maka Rasulullah saw. bersabda, “Berhijablah kalian darinya.” Aku berkata, “Wahai Rasulullah, bukankah ia buta?” Rasullah saw. menjawab, “Apakah kalian juga buta? Bukankah kalian bisa melihatnya?” (H.R. Abu Daud dan Tirmidzi).

Dari Aisyah ra., “Sesungguhnya Asma binti Abi Bakar masuk ke rumah Rasulullah saw. dengan menggunakan baju transparan. Maka Rasulullah saw. berpaling sambil bersabda, ‘Ya Asma, sesungguhnya perempuan itu apabila telah haid, tidak boleh terlihat dari tubunya kecuali ini (sambil menunjuk wajah dan dua telapak tangannya).” (H.R. Abu Daud)

Kelima, tidak boleh bersentuhan dan berduaan dengan wanita bukan mahram

Dari Aisyah r.a. ia berkata, “Tangan Rasulullah saw. tidak pernah sama sekali menyentuh tangan perempuan di dalam baiat. Baiat Rasulullah saw. dengan mereka adalah berupa ucapan.” (H.R. Bukhari).

Dalam hadis yang lain Rasulullah saw. bersabda, “Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, janganlah ia bersunyi sepi berduaan dengan wanita yang tidak didampingi mahramnya. Karena pihak ketiganya adalah setan.” (H.R. Ahmad).

Demikian di antara rambu-rambu yang diatur oleh Al Quran dan sunah Rasulullah saw. Barangsiapa yang menaatinya, insya Allah akan terjaga dari perilaku maksiat. Sesuai dengan janji Rasulullah saw. dalam hadisnya, “Telah kutinggalkan dua perkara untuk kalian. Kalian tidak akan pernah tersesat selam berpegang teguh pada keduanya. Kitabullah dan sunah Nabi-Nya.” (H.R. Ibnu Abdil Bar).

Di samping para tokoh agama, keluarga sebagai institusi pendidikan yang pertama dan utama, memiliki peran yang besar dalam menanamkan nilai-nilai ini kepada setiap anggotanya. Agar tidak menjadi korban, apalagi pelaku perkosaan. Naudzubillah.

* Penulis adalah alumnus Takmili LIPIA, Jakarta