Kamis, 05 November 2015

Menyusun Puzzle Kehidupan (Part 1)




 Gajah mati meninggalkan gading
Harimau mati meninggalkan belang

Hidup kita di dunia teramat singkat dibanding kehidupan akhirat kelak. Rasulullah saw. tercatat wafat pada usia 63 tahun dan sudah dapat dipastikan kita pun akan mati, tapi entah kapan. Allah berfirman, “Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). Dan hanya kepada Kami lah kamu dikembalikan.” (Q.S. Al Anbiya 21: 35).

Jika semua makhluk ciptaan Allah pasti mati, pun seluruh manusia. Yang jadi masalah adalah bagaimana kita mempergunakan waktu kita di dunia ini untuk kehidupan di akhirat kelak. Pakar Komunikasi Prof. Deddy Mulyana pernah berkata bahwa manusia gemar sekali mempersiapkan sesuatu yang belum tentu terjadi pada dirinya, seperti berdandan keluar rumah dengan perkiraan akan bertemu seseorang yang menarik hatinya. Namun, jarang sekali manusia mempersiapkan peristiwa yang pasti akan terjadi, yaitu kematian.
    
Selain urusan di akhirat, ada pula hal lain yang mesti kita pikirkan saat kita mati nanti. Berkaca pada peribahasa di atas, apa yang bisa kita tinggalkan saat kita meninggal? Nama baik? Atau amal burukkah?
    
Ada metode mudah untuk mempersiapkan hal tersebut. Mari kita ambil waktu luang kita sekitar 2 hingga 5 menit. Bayangkan sebuah prosesi pemakaman kita nantinya. Satu per satu kisah hidup kita dibacakan, satu persatu perbuatan kita dikenang. Orang lain mungkin tidak akan menjelek-jelekkan kita selama kita hidup, tapi kelak saat kita telah terkubur di bawah tanah, keburukan kita bukan tidak mungkin akan dibicarakan. Maka, waktu beberapa menit tadi, gunakanlah sebagai renungan kelak ingin seperti apa kita dikenang saat sudah bersemayam di liang lahat.
    
Hidup yang teramat singkat ini, teramat sayang jika kita lewatkan tanpa sesuatu yang berarti. Padahal Rasul bersabda bahwa dunia adalah ladang dan akhirat adalah tempat menuai. Maka, sudah seharusnya kita ambil bagian dalam sejarah sehingga walaupun usia kita fana di dunia, tapi nama kita akan abadi sepanjang masa. Seperti halnya para pendahulu dan orang-orang besar di sekitar kita. Mereka menjadi legenda dan abadi karena apa yang telah mereka lakukan selama hidupnya. Ada baiknya kita belajar dari kehidupan mereka dan bagaimana mereka menorehkan nama mereka dalam buku-buku sejarah yang kita baca sekarang.

Sang Penakluk yang Angkuh
    
Dijuluki sebagai Fuehrer atau pemimpin tanpa saingan. Pria ini berhasil mengabadikan namanya dan dikenal seantero dunia. Michael H. Hart bahkan menempatkannya pada urutan ke-35 sebagai orang yang paling berpengaruh dalam sejarah dunia.
    
Hart berkata, “Terus terang, saya masukkan Hitler ke dalam daftar urutan buku ini dengan rasa muak. Pengaruhnya sepenuhnya bersifat jahanam dan saya tak punya selera menghormati orang yang arti pentingnya terletak pada penyebab kematian sekitar tiga puluh lima juta manusia. Tetapi, tak ada jalan untuk mengingkari kenyataan bahwa Hitler punya pengaruh yang luar biasa terhadap orang-orang yang bukan main banyaknya.” Atas kediktatorannya ia berkuasa dan karena kediktatorannya pula ia jatuh.
    
Bernama lengkap Adolf Hitler. Ia dilahirkan di sebuah desa kecil bernama Brunau Am Inn, Austria, pada 1889 dalam sebuah keluarga kecil. Ayahnya, Alois Hitler, adalah seorang pegawai negeri dan Hitler sendiri adalah buah perkawinan ketiga Ayahnya dengan Klara Pölzl. Ketiga kakak Hitler mati dalam usia muda. Itulah sebabnya, sang ibu membesarkan Hitler dalam kemanjaan. Namun dunia damai Hitler tak berlangsung lama. Saat perekonomian keluarga mulai gonjang-ganjing, ia terpaksa menjadi korban perlakuan keras dan disiplin ayahnya. Terlebih setelah kakak angkatnya, Alois Jr. lari dari rumah akibat kezaliman sang ayah.
    
Hitler muda menyukai sejarah dan mahir dalam bidang musik dan melukis. Ia bahkan bercita-cita ingin menjadi pelukis ternama. Namun, usahanya untuk meneruskan pendidikan ke sekolah kesenian ditentang sang ayah yang menginginkan Hitler bersekolah teknik agar kelak menjadi pegawai pemerintahan. Dengan terpaksa, anak manja ini pun menuruti perintah sang ayah.
    
Rasa terkekang yang dialami Hitler tidak bertahan lama. Kematian sang ayah melambungkannya pada kebebasan tiada batas. Ia pun hidup semaunya. Bahkan, kematian ibunya pun tidak menjadi perhatiannya.

Ia mengembara ke Wina. Mencoba mendaftarkan diri di Akademi Seni Rupa, tetapi dua kali ditolak. Selama lima tahun berikutnya, ia hidup sengsara, berpindah dari satu pekerjaan ke pekerjaan lain. Ia bekerja serabutan, bahkan tak jarang ia mengemis. 
    
Tahun 1913, saat Perang Dunia I meletus, Hitler merasa terpanggil untuk bergabung. Ia pun meninggalkan Wina dan pergi ke Munich, Jerman, untuk mendaftarkan diri. Seakan-akan dimudahkan jalannya, jabatannya menanjak cepat. Karena keberanian dan otak liciknya di medan pertempuran, ia mendapatkan luka cukup serius berikut medali kehormatan Iron Cross yang jarang sekali diraih orang.
    
Tapi kebahagiaan yang ia dapat tak sebanding dengan berita kekalahan Jerman dari Prancis. Ia pun bersumpah untuk membalikkan keadaan dan memimpin Jerman sebagai negara nomor satu. Maka untuk meluluskan keinginannya, ia bergabung dengan partai kecil berhaluan kanan, yakni Partai Pekerja Jerman. Tak lama, ia berhasil duduk di tampuk kepemimpinan dan mengganti nama partainya dengan Partai Pekerja Nasionalis Sosialis Jerman (National Sozialitsche Deutsche Arbeiter Partei –NAZI). Di partai sosialis inilah ia kemudian mendapatkan dukungan dari seluruh rakyat Jerman yang kecewa akan tunduknya pemerintahan pada Prancis.
    
Pada tahun 1923, ia melakukan kudeta pada pemerintahan Jerman. Namun, pemberontakan itu gagal. Akibatnya, ia menjadi penghuni hotel prodeo. Setelah dibebaskan setahun kemudian, barisan pendukung semakin mengekor di belakangnya.
    
Singkatnya, dengan beragam upaya yang seringkali kotor dan penuh kekerasan, ia berhasil mendapatkan jabatan Perdana Menteri Jerman. Berbekal kedudukan tersebut, ia kemudian menggandeng organisasi sepaham lainnya dan membuat peraturan yang menjadikannya pemimpin yang otoriter. Ia memberangus semua pejabat maupun organisasi yang kontra dengannya.
    
Keberhasilan Hitler dalam membawa perbaikan ekonomi –termasuk mengurangi jumlah kemiskinan—membuatnya menjadi pemimpin pujaan rakyat. Bersama tentara kebanggaannya, ia mengumumkan pada dunia bahwa dirinya akan mendirikan kekaisaran ketiga (third reign) setelah kekaisaran Roma dan Kristen. Dengan segera, ia merobek-robek perjanjian damai Versailles yang membuat Jerman harus tunduk pada Prancis. Setelah menaklukkan Austria dan menyerang Polandia, ia mengumumkan perang pada seluruh negara-negara musuh Jerman pada Perang Dunia I. Inggris dan Prancis pun menyambut tantangan tersebut. Maka, pecahlah Perang Dunia II.
    
Jerman dengan angkuhnya mencaplok banyak negara Eropa dan separuh Asia. Tapi, kekalahan Hitler mulai tampak saat negaranya menjajaki Rusia. Tanpa perbekalan yang cukup, angkatan perangnya menghadapi musim dingin yang hebat di negeri komunis tersebut. Ia menolak saran para jenderalnya untuk menarik mundur pasukan dan mematangkan persiapan karena berkeuyakinan dirinya pasti menang. Yang terjadi justru sebaliknya.

Tak berapa lama, Hitler mulai melihat satu persatu negara caplokannya berhasil membebaskan diri. Kepercayaan dirinya mulai berkurang. Bahkan, ia jadi sakit-sakitan dan mudah sekali tersinggung. Didorong rasa takut Jerman akan dikuasai musuh, Hitler yang tertekan memerintahkan tentaranya untuk membakar Jerman –ia diperkirakan mengidap penyakit Pyromaniacal seperti Kaisar Nero yang membakar Roma. Di antara detik-detik kekalahannya, ia memutuskan untuk membakar diri sendiri bersama Eve, wanita simpanannya. Berakhirlah kisah tokoh dunia yang muncul dalam sekejap dan berakhir pula dalam sekejap. 

(bersambung)

Dikenang Karena Berani Beda




Wawancara dengan Indra Bekti
(Artis, Bintang Iklan, MC, Penyanyi)

Muda, gaya, berkecukupan, wajah tampan, terkenal pula. Apalagi yang tak dimiliki oleh seorang Indra Bekti. Di usianya yang terbilang cukup muda, bujang bernama asli Bekti Indratomo ini memiliki segudang profesi. Mulai dari ngemsi, model majalah, bintang iklan, sampai menyanyi, ia lakoni. Wajar jika wajah dan namanya tak lagi asing bagi para pecinta televisi.
    
Di sela-sela kesibukannya, seorang Indra Bekti yang ramah masih sempat berbagi pengalaman. Usai menunaikan Shalat Maghrib, di Plaza Semanggi, Jakarta, Percikan Iman berhasil bertemu dan mewawancarainya. Walau singkat, tetapi banyak hal-hal penting yang bisa kita dapatkan dari penulis buku 28 Ways to Stardom ini. Berikut petikan wawancaranya.

Setelah semua yang Anda capai, sebenarnya apa yang Anda cari dari kehidupan ini?
Sebenarnya, semua yang aku lakukan itu niatnya ibadah. Aku menghibur orang agar orang-orang senang. Kan membahagiakan orang juga termasuk ibadah. Kebetulan aku dikasih jalannya ini. Ya jadi, ibadahku dengan menghibur orang.

Sudah Anda dapatkan apa yang Anda niatkan tersebut?
Sejauh ini sudah. Tapi aku masih pengen berbuat lebih banyak lagi. Aku masih pengen nyanyi solo. Dulu kan aku punya band, tapi ya karena kurang mendukung satu sama lain, jadi terhambat. Selebihnya, aku pengen terus bisa lebih baik lagi menghibur masyarakat. Aku membuat buku itu juga sebenarnya pengennya lebih dari itu. Tadinya pengen masuk MURI. Kan cuma sekali dalam hidupku yang 28 tahun pas tanggal 28 (Indra kelahiran 28 Desember 1977). Tapi ya… mungkin belum saatnya, jadinya cuma membuat buku. Mungkin ke depannya kalau dikasih waktu lagi.

Apakah Anda bahagia dengan status dan posisi Anda sekarang? Termasuk keterkenalan Anda?
Aku memang dari kecil ingin masuk tv. Dulu pertama kali lihat di TVRI. Kok sepertinya enak ya masuk tv. Sekarang aku sudah masuk tv. Cukup puas sih.

Menurut Anda, apakah semua yang Anda lakukan akan membuat Anda dikenang?
Wah… Aku nggak pernah kepikiran ke sana. Sejauh ini aku hanya melakukan yang aku pengen, juga niatnya menghibur masyarakat. Ibadah. Lagipula, kalau niatnya pengen dikenang, nanti malah riya jadinya.

Dalam buku yang Anda tulis, Anda menyebutkan bahwa kita harus berani berbeda dari yang lain? Apakah harus demikian untuk bisa dikenang?
Memang untuk bisa dilihat orang lain, kita harus berani berbeda. Ada sesuatu yang ditonjolkan pada orang lain. Itu sebabnya dulu aku juga mencoba menjadi berbeda. Mulai dari jadi pembawa acara di Tralala Trilili sampai sekarang di Ceriwis aku mulai menjadi orang yang dikenal agak gila. Tapi, dari situ kita bisa terlihat berbeda dengan yang lain. Kalau kita biasa-biasa saja, orang tidak akan bisa melihat kita.

Terakhir, kalau boleh memilih, Anda ingin dikenang seperti apa?
Aku cuma pengen dikenang sebagai orang yang banyak memberi kontribusi pada masyarakat. Mulai dari aku ngemsi sampai nyanyi. Mudah-mudahan semuanya menghibur masyarakat dan jadi ibadah buat aku. Aku nggak pengen dikenal macam-macam oleh masyarakat. Kalau aku punya keinginan itu, jadinya bisa sombong. Ibaratnya seperti, Nih, aku sudah melakukan ini. Aku cuma ingin menghibur masyarakat. Kalau pun dikenang, itu urusan nanti. Imbalan dari apa yang sudah aku lakukan.     
    Rahmat


Jumat, 16 Oktober 2015

Parabola = Pisang Goreng


Wawancara Ekslusif Bersama Ust. Aam Amiruddin :

Adakah keterangan dalam Al Quran maupun hadis mengenai sejarah Ka’bah?
Sampai saat ini, saya belum menemukan hadis sahih yang membahas secara detail mengenai Ka’bah. Memang ada beberapa riwayat mengenai Ka’bah, hanya saja kebanyakan la asla lahu, tidak jelas asal usulnya. Keterangan paling jelas yang dapat kita jadikan landasan pengetahuan tentang Ka’bah adalah apa yang ada dalam Al Quran, salah satunya dalam surat Ali Imran ayat 96, “Sesungguhnya rumah yang mula-mula dibangun untuk (tempat beribadah) manusia adalah Baitullah di Bakkah (Mekah) yang diberkahi dan menjadi petunjuk bagi semua manusia.”

Ada beberapa kisah berbeda tentang sejarah pembangunan Ka’bah, bagaimana kita menyikapinya?
Memang ada beberapa pendapat yang beredar di kalangan ulama. Ada sebagian ulama yang tidak menerima keterangan apa pun jika bukan bersumber dari ayat dan hadis sahih, namun ada pula ulama-ulama yang bersikap tawakkuf atau no comment, artinya mereka tidak mengiyakan dan tidak pula menolak. Sebenarnya sikap tawakkuf para ulama ini tak hanya yang berkaitan dengan Ka’bah saja, melainkan juga dalam hal ibadah haji yang lainnya, seperti mengenai Hajar Aswad. Ada sebagian orang yang mengatakan bahwa Hajar Aswad adalah batu dari surga, namun ada sebagian yang menentang. Hal ini berdasar pada sikap Umar bin Khattab yang mengatakan bahwa Hajar Aswad hanyalah batu biasa. Umar pernah berkata, “Seandainya aku tidak melihat Rasul menciummu, aku tidak akan sudi mencium.” Ini gambaran bahwa Umar tidak meyakini Hajar Aswad sebagai batu dari surga. Dengan demikian, Hajar Aswad hanyalah dijadikan patokan memulai tawaf. Sebelum tawaf, umat Islam mengisyaratkan atau menciumnya.

Para orientalis mencemooh Islam karena melarang menyembah berhala tapi ternyata umat Islam sendiri menyembah batu atau Ka’bah. Pendapat Anda?
Kita tidak bisa terlalu menyalahkan mereka dengan pandangan itu karena mereka melihat perilaku orang Islam sekarang yang juga terlalu berlebihan terhadap Ka’bah seperti meratapi dan meraung-raung di seputar Ka’bah. Kalau mereka menyikapinya seperti Umar, tentu ini tidak akan terjadi. Berkaitan dengan ritual tawaf dalam haji atau umrah, Rasul memberikan beberapa alternatif mengenai Ka’bah ini, apakah memegang, mencium, atau hanya memberikan isyarat. Dan Nabi mengatakan bahwa itu hanya ritual. Jadi, bukan berarti mengabdi atau memuliakan batu. Tetap kita bermunajat kepada Allah, Ka’bah hanya sebagai fokus dan arah penyeragaman saja.

Ada yang menafsirkan bahwa Ka’bah itu merupakan pusat konsentrasi energi orang-orang yang melakukan shalat. Benarkah demikian?
Itu adalah penafsiran. Seperti saya bilang tadi, Ka’bah hanya sebuah tanda penyeragaman saja. Kata-kata dalam Al Quran, “fawalli wajhaka satral masjidil haram” itu tujuannya hanya sekadar penyeragaman. Justru tafsir yang dihubung-hubungkan seperti inilah yang bisa jadi menimbulkan berbagai pertanyaan atau tuduhan dari para orientalis tersebut.

Apa kaitan antara Ka’bah dan Baitul Maqdis?
Dulu para nabi setelah generasi kedua (keturunan Yehuda), yakni Nabi Musa, Daud, Sulaiman, Zakaria, Yahya, termasuk Nabi Isa, semua berkiblat ke Baitul Maqdis. Nabi Muhammad, yang merupakan nabi terakhir, memohon kepada Allah agar umat Islam diberi kiblat yang berbeda karena umat Islam sebagai umat penutup. Allah mengabulkan permintaan itu, Ia memerintahkan Muhammad dan umat Islam untuk beribadah menghadap ke Baitullah. Kalaupun umat Islam dahulu pernah shalat menghadap ke arah Baitul Maqdis, hanya gambaran bahwa secara historis Islam merupakan agama Samawi, jadi tidak bisa dipisahkan dengan agama-agama Samawi lainnya.

Apakah Baitul Maqdis adalah Masjidil Aqsa?
Baitul Maqdis lebih menggambarkan suatu area yang di dalamnya terdapat Masjidil Aqsa. Seperti Ka’bah yang berada di area Masjidil Haram dan Masjidil Haram berada di area kota Mekah. Jadi, Masjidil Aqsa ada di Baitul Maqdis. Masjidil Aqsa yang sekarang ini sudah mengalami banyak perubahan.

Hal apa saja yang berkaitan dengan Ka’bah yang sering menyebabkan umat Islam salah kaprah?
Pertama, menganggap Ka’bah memiliki kekuatan magis, artinya Ka’bah itu bisa memberikan kemuliaan dan kesejahteraan. Kedua, merasa afdol kalau sudah bisa menyentuh, memegang, terlebih mencium Hajar Aswad. Apalagi setelah itu ia membangga-banggakan diri di depan kawan-kawannya bahwa dirinya telah mencium Hajar Aswad dan memegang Ka’bah, seolah-olah ibadah haji dan umrahnya tidak afdol jika tidak melakukan hal tersebut. Mereka harusnya sadar bahwa mencium ataupun tidak mencium Hajar Aswad, memegang ataupun tidak memegang Ka’bah, tidak ada hubungannya dengan kesempurnaan ibadah haji atau umrah. Selain itu, mencium Hajar Aswad dan mengusap Ka’bah seolah-olah menjadi lebih utama daripada shalat. Terlihat ketika shalat berjamaah di sana, Imam baru mengucapkan “assalam ….” Dan itu belum selesai, beberapa jamaah sudah loncat mencium Hajar Aswad. Ini aneh dan salah, harusnya selesaikan dahulu salam, kalau memang telah menyelesaikan shalat dan mau mencium Hajar Aswad, silakan.

Bagaimana dengan keutamaan Masjid Nabawi di Kota Madinah?
Ada beberapa keutamaan Masjid Nabawi, pertama aspek historisnya. Bagaimanapun itu adalah masjid yang sangat dirindukan oleh Rasul. Kedua, selain beribadah di Masjidil Haram (karena keutamaannya lebih tinggi), shalat di Masjid Nabawi akan mendatangkan pahala yang jauh lebih besar jika dibandingkan dengan pahala yang kita terima jika kita shalat di masjid-masjid lain. Ketiga, Bukhari menyebutkan dalam hadisnya bahwa di Masid Nabawi terdapat Raudah, salah satu taman dari taman-taman di surga. Sebenarnya itu hanya merupakan isyarat tentang betapa mustajabnya apabila kita memanjatkan doa di sana. Walaupun shalat di Masjid Nabawi terutama di Raudah merupakan keutamaan, tapi tetap harus dipikirkan agar kita tidak menyakiti orang lain (pada musim haji, ibadah di Raudah penuh sesak, sehingga tidak menutup kemungkinan karena berebut, ada orang-orang yang akan tersenggol, terinjak, dll.) jika hal ini terjadi, ini malah keliru.

Tak sedikit umat Islam yang menunda-nunda melaksanakan ibadah haji karena merasa belum siap. Bagaimana dengan hal ini?
Wajar kalau sebagian umat Islam menganggap bahwa ibadah haji memerlukan persiapan-persiapan khusus karena melibatkan quwwah maliyyah (kekuatan materi), quwwah jasadiyyah (kekuatan jasad), quwwah ilmiyyah (kekuatan ilmu) –misalnya perlu belajar manasik, dan quwwah ruhiyyah (kekuatan mental). Sehingga wajar kalau dianggap haji itu bobotnya lebih tinggi dari ibadah yang lainnya karena mungkin melibatkan empat kekuatan itu. Tapi juga keliru kalau kita terlalu menganggap persiapannya harus benar-benar sempurna. Selama sudah memungkinkan untuk pergi, tidak perlu beralasan, misalnya ada istilah “menunggu sampai insyaf”. Menurut saya tidak perlu.

Jamaah haji Indonesia terkenal “tukang belanja”, bagaimana tanggapan Anda?
Masyarakat Indonesia memang telah dikenal sebagai masyarakat “tukang belanja”, tapi jangan salah, ada hal positifnya. Orang-orang tahu kalau orang Indonesia berbelanja, itu tidak diperuntukkan bagi dirinya, melainkan untuk silaturahmi atau oleh-oleh untuk kerabat. Saya melihatnya tidak ada masalah. Tapi kalau tujuan belanja untuk berfoya-foya, itu yang bermasalah.

Bagaimana pandangan Anda mengenai Madinah dan Mekah sebagai sebuah kota?
Saya awam dalam bidang arsitektur. Sebagai orang awam, saya melihat kota Mekah sebagai kota tambal sulam. Jadi, ilmu tata kotanya aneh. Beda dengan Madinah yang tata kotanya sudah mulai rapi. Mungkin penyebabnya adalah faktor geografis karena kita tahu Mekah dikelilingi oleh gunung batu, sehingga untuk menata kota agar lebih indah, terbentur keberadaan gunung-gunung batu tersebut. Kalau Madinah daerahnya luas, datar, dan lapang, sehingga saya lihat dari aspek tata kota, Madinah itu lebih indah daripada Kota Mekah.

Bagaimana segi sosial masyarakat di kedua kota tersebut?
Menurut pengalaman saya, masyarakat asli Madinah lebih ramah daripada masyarakat Mekah. Jika dirunut dari segi historisnya, mungkin karena dari dahulu orang Madinah adalah pedagang. Memang jiwa pedagang itu selalu ingin membina hubungan baik dengan siapa pun. Jadi penduduk asli Madinah lebih ramah daripada orang Mekah secara hubungan sosialnya, tapi tetap kembalinya ke individual juga.

Bagaimana tingkat kecerdasan orang-orang Arab?
Itu sangat individual. Tetapi sudah menjadi karakter bangsa mana pun jika masyarakatnya berkecukupan atau mendapatkan kekayaan tanpa kerja keras, mereka menjadi cenderung malas. Begitupun sebaliknya, jika penduduk suatu bangsa memperjuangkan kekayaannya, maka biasanya mereka akan memeras otaknya, jadi otomatis akan lebih kreatif dan lebih cerdas. Repotnya bagi orang-orang yang mendapatkan kekayaannya dengan mudah mereka merasa tidak perlu mengoptimalkan otaknya, padahal tidak sedikit di antara mereka yang sebenarnya pintar. Yang saya khawatirkan adalah nasib dua puluh atau tiga puluh tahun ke depan. Pada saat persaingan global itu sudah benar-benar terjadi, dikhawatirkan mereka memiliki jiwa yang kurang fight, mereka tidak siap dalam bersaing.

Dari segi modernisme dan kecenderungan globalisasinya?
Gaung Masjidil Haram dan Masjid Nabawi di Mekah dan Madinah telah megalahkan kemaksiatan, walaupun kemaksiatan memang ada. Kalau yang dimaksud modernisasi itu hal-hal yang terukur, seperti bangunan dan yang berkaitan dengannya, memang Madinah lebih modern daripada Mekah yang lebih tradisional. Tapi kalau yang dimaksud kemodernan itu gaya hidup, mungkin trendnya ada di luar Mekah dan Madinah karena kedua kota ini dianggap kota suci yang relatif masih ada rem.

Di Madinah gaya hidup masyarakatnya lebih cenderung keamerika-amerikaan, benarkah?
Sebenarnya di Saudi, gaya hidup Amerika sudah menjadi gaya hidup masyarakatnya. Contoh sederhana, minuman dan makanan produk Amerika semua masuk ke sana. Saya melihat bukan hanya di Madinah, tetapi juga di Mekah. Hanya memang di Madinah hal seperti ini relatif terbuka. Ini jika saya mengamati sisi modernitas lahiriahnya. Sebenarnya yang saya khawatirkan lebih ke modernitas ideologi yang nantinya akan merusak akidah. Untuk ukuran penghasilan mereka, membeli parabola seperti membeli pisang goreng. Padahal film-film yang ditayangkan adalah film-film dari Eropa yang relatif bebas nilai. Saya khawatir simbol-simbol lahiriah masyarakat Saudi masih Islam, sementara ideologi dan cara berpikirnya sudah sekuler.

Bagaimana dengan kebijakan pemerintah Arab Saudi?
Saya tidak begitu tahu sejauh mana kebijakannya. Hanya yang saya tahu memang tidak ada teknologi yang bisa melacak acara-acara yang ditayangkan lewat satelit/antena parabola.

Yang terakhir, apa saran Anda berkaitan dengan masalah Ka’bah dan haji ?
Pertama, ketika membaca buku-buku yang berkaitan dengan hal-hal tersebut –Ka’bah— jangan dulu didustakan atau diiyakan kecuali ada riwayatnya. Suatu tulisan kalau tidak ada riwayatnya, jangan dulu dipercaya karena banyak yang “tersesat” setelah membaca buku-buku yang kurang berkualitas. Kedua, kalau akan melaksanakan haji untuk yang pertama kali, disarankan ikut bimbingan karena akan sangat membantu. Memang biaya ada tambahan, tapi untuk suatu hasil yang lebih bagus, uang menjadi hal yang bisa diusahakan. Saya banyak menemukan keprihatinan orang yang haji tanpa ikut bimbingan, kualitas ibadahnya menjadi sangat rapuh.
Agung

Kamis, 15 Oktober 2015

Wow, 3500 Speaker!


Selain Masjidil Haram dan Ka’bahnya yang terletak di kota Mekah, peradaban Islam juga sangat diwarnai oleh Masjid Nabawi yang berada di kota Madinah. Masjid Nabawi memiliki nilai historis dan religiusitas yang tinggi karena di sana terdapat makam Nabi Muhammad dan terdapat suatu tempat yang dinamakan dengan Raudah yang dalam hadis disebutkan sebagai salah satu taman surga, bermakna tingginya nilai pahala apabila kita beribadah di sana. Diriwayatkan di dalam Shahihain dari hadis Abbad bin Tamim bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Sesungguhnya Ibrahim telah menjadikan Mekah sebagai Tanah Haram dan berdoa untuknya, dan sesungguhnya aku menjadikan Madinah sebagai Tanah Haram sebagaimana Ibrahim menjadikan Mekah sebagai Tanah Haram.” Berikut ini akan dijelaskan sedikit bagaimana keadaan Masjid Nabawi dewasa ini, namun bukan berkaitan dengan masalah ritual atau sejarahnya, melainkan lebih berkaitan dengan tampilan fisik bangunan sekarang, yang juga menjadi salah satu simbol kemajuan Islam.

Ketika memasuki kota suci Madinah pada malam hari dan menyaksikan Masjid Nabawi dari kejauhan, Anda akan melihat keindahan masjid itu dengan menara-menaranya yang menjulang tinggi. Menara yang berjumlah sepuluh buah dengan tinggi 104 m itu dihiasi cahaya lampu yang menyorotkan sinar putih terang benderang. Terangnya pemandangan Masjid Nabawi pada malam hari mencerminkan nama Madinah Munawwarah yang berarti Kota yang Bercahaya.

Sesampainya di Masjid Nabawi, kita akan segera merasakan berbagai keindahan, kenyamanan, dan kemegahannya. Arsitektur bangunan masjid yang sangat indah dan menawan tentu menjadi pembuka kekaguman Anda saat sampai di Masjid Nabawi. Bagi Anda yang berkendaraan, jangan khawatir dan bingung mengenai tempat parkir karena masjid ini menyediakan lahan parkir yang cukup luas, terdiri atas dua lantai dan mampu menampung sekitar 4500 mobil. Anda pun bisa segera memasuki ruangan masjid melalui salah satu dari 85 pintu utama yang masing-masing berukuran lebar 3 meter dan tinggi 6 meter. Bisa Anda bayangkan, betapa besar dan tingginya pintu-pintu tersebut.

Salah satu hal yang menarik dari bangunan Masjid Nabawi adalah kubah-kubahnya. Dari sekian banyak kubah yang ada, terdapat 27 kubah yang bisa bergerak dan terbuka. Kubah bergerak ini memiliki diameter 14,7 meter dengan berat satu kubahnya mencapai 80 ton. Wow, berat sekali! Kubah ini bisa digerakkan secara mekanis maupun manual. Apabila digerakkan secara mekanis dengan teknologi komputer, kubah bisa terbuka dalam waktu 1 menit tanpa menimbulkan suara yang mengganggu. Sedangkan bila digerakkan secara manual, diperlukan waktu kurang lebih 30 menit. Kubah bergerak ini berfungsi untuk menyuplai udara segar dan alami ke dalam ruangan masjid.

Begitu memasuki masjid, Anda akan segera merasakan udara yang sejuk, berbeda dengan udara di luar masjid yang panas. Udara sejuk ini berasal dari sistem pendingin ruangan yang sangat canggih dan modern. Barangkali Anda tidak akan menyangka bahwa fasilitas pendingin ruangan itu tidak berada di dalam atau di sekitar bangunan Masjid Nabawi, melainkan di suatu lokasi yang berjarak 7 kilometer dari bangunan masjid. Mengapa mesti jauh dari masjid? Jawabannya adalah untuk menghindari terjadinya kebisingan yang ditimbulkan mesin-mesin pendingin juga generator-generator listrik yang berkapasitas sangat besar. Hal ini tentu menjadikan jamaah yang beribadah di dalam masjid menjadi lebih tenang, khidmat, dan khusu.

Bangunan fasilitas pendingin ruangan dan generator listrik ini luasnya 350 x 200 m, berdiri di atas lahan seluas 70.000 m2. Di sana terdapat 8 buah generator listrik yang masing-masing berkekuatan 2,5 Mega Watt. Tujuh generator berfungsi menyuplai listrik untuk ruangan masjid sedang yang satu lagi untuk area parkir. Empat di antara tujuh generator itu berfungsi terus sepanjang hari sedangkan tiga yang lain sebagai cadangan.
Untuk fasilitas pendingin ruangan, di sana terdapat enam instalasi mesin pendingin yang masing-masing mampu mendinginkan 3400 galon air dalam 1 menit. Lima instalasi berfungsi terus sepanjang hari dan yang satu menjadi cadangan. Udara dingin yang dihasilkan di sana lalu dipompa dengan menggunakan tujuh buah motor menuju Masjid Nabawi melalui pipa berdiameter 90 cm yang berada di terowongan bawah tanah. Terowongan yang panjangnya 7 kilometer ini berukuran tinggi 4,1 meter dan lebar 6,2 meter. Barulah udara dingin sejuk itu didistribusikan ke seluruh ruangan masjid melalui 150 unit pengolah udara yang berada di basemen masjid. Menurut Dr. Muhammad Ilyas Abdul Gani, fasilitas pendingin ruangan yang ada di Masjid Nabawi ini merupakan fasilitas pendingin yang terluas, termodern, dan terunik di dunia.

Kekaguman Anda tidak hanya sampai di situ. Sekarang mari kita lihat bagaimana sistem tata suara yang ada di Masjid Nabawi. Masjid Nabawi dilengkapi dengan amplifier berjumlah 206 buah yang masing-masing berkekuatan 600 watt. Semua amplifier itu dihubungkan dengan speaker yang dipasang di berbagai sudut, baik di dalam ataupun di luar ruangan masjid. Seluruh speaker itu berjumlah 3500 buah. Bayangkan, 3500 speaker! Selain itu, demi menjaga keamanan dan ketertiban, petugas keamanan pun memasang 543 kamera pengawas di berbagai sudut masjid. Dengan kamera yang sangat banyak itu, seluruh aktivitas di dalam masjid bisa diawasi secara langsung oleh petugas keamanan dari ruang monitor.

Untuk melayani para jamaah yang sedang melaksanakan ibadah, Masjid Nabawi menyediakan air zamzam secara cuma-cuma. Para jamaah bisa minum sepuasnya. Masjid Nabawi dilengkapi dengan dua buah tangki besar yang berada di bawah tanah untuk menyimpan persediaan air zamzam. Air zamzam itu lalu didistribusikan dengan menggunakan tempat air semacam galon besar yang berjumlah 224 buah dan ditempatkan di berbagai titik di dalam ruangan masjid. Para jamaah bisa memilih untuk meminum air zamzam yang telah didinginkan atau yang biasa.

Satu hal yang perlu diingat, masjid yang berdiri di atas area seluas 300.500 m2 dengan kapasitas 650 ribu jamaah ini bukanlah tempat untuk berekreasi atau berwisata. Ia adalah tempat untuk beribadah. Berbagai fasilitas yang sebagian telah disebutkan di atas ditujukan untuk memberikan ketenangan dan kenyamanan bagi siapa saja yang hendak melakukan ibadah di sana. Jangan heran, Anda tidak diperbolehkan untuk berfoto di dalam masjid. Setiap orang yang akan masuk masjid selalu diperiksa barang bawaannya guna memastikan tidak membawa barang-barang terlarang dan kamera.

Selamat beribadah dengan nyaman dan khusu’!                                                       
(Agung)