Sabtu, 21 November 2015

Saat Marah, Tubuh Mengeluarkan Hormon yang Merusak



Wawancara dengan Dr. Jaya Mualimin
Psikiater dan Resimen bagian Psikiatri RS Hasan Sadikin Bandung

Apa sebenarnya marah itu?
Dalam ilmu psikiatri, marah digolongkan sebagai bentuk symptom atau gejala atas adanya suatu penyakit dalam tubuh. Gejala-gejala tersebut antara lain digolongkan ke dalam agresif, impulsif, halusinasi, dan waham (suatu keyakinan salah yang mendarah daging pada diri seseorang). Marah digolongkan ke dalam jenis gejala agresi yang positif karena terdapat banyak neurotransmitter (perantara jalannya impuls di tubuh) pada saat marah dan juga karena seorang yang marah menjadi aktif, mengeluarkan energi, dan mengekspresikan perasaannya. Bukan gejala yang negatif seperti depresi yang cenderung menjadi pasif. Dan pada semua penyakit gangguan jiwa, terlebih yang berat, marah itu selalu ada. Terutama pada para lansia.

Jadi, marah itu sesuatu yang tidak bagus?
Marah cenderung merusak, walaupun secara fitrahnya, marah adalah sesuatu yang lumrah. Sebenarnya, marah juga ada manfaatnya. Allah saja bisa murka. Nabi pun bisa marah, seperti kepada sahabat yang tidak ikut perang. Marah yang dibingkai dengan syariah dan sunah berlangsung sebentar dan tidak berkelanjutan. Kalau marah yang berkelanjutan, akan merusak tubuh karena hormon yang bekerja dalam tubuh akan meningkat terus. Marah dengan reaksi wajarlah yang dikategorikan marah yang positif.

Kalau begitu, apa saja penyebab marah?
Marah disebabkan adanya impuls, ada yang eksternal maupun internal. Eksternal seperti dari lingkungan yang tidak kondusif dan keras dan makanan yang berprotein tinggi. Internal dari faktor hormonal dan kadar oksigen yang rendah. Impuls ini akan meningkatkan agresivitas seseorang. Saat kendali emosi seseorang rendah karena penyakit dan memang kepribadiannya yang kurang stabil, impuls lebih mudah memicu agresivitas. Jadi, perjalanan penyakit seseorang bisa menyebabkan rendahnya kendali emosi. Contohnya, ketika orang merasa sakit gigi, ia menjadi lebih mudah marah.

Hormon apa saja yang dihasilkan tubuh ketika marah?
Secara kajian biologi molekular, saat marah terjadi peningkatan konsentrasi neurotransmitter dompamine pada neuron otak. Semua terjadi pada limbic system (pusat emosi) di hypothalamus, setelah itu diteruskan ke hypophycis. Baru kemudian diteruskan ke bagian tubuh lainnya, seperti dihasilkannya hormon-hormon yang memacu denyut jantung, pupil mata membesar, dan lain-lain. Hormon tersebut contohnya seperti epinefrin, serotonin, dan testosteron. Pada orang tua, hormon testosteron dan progesteron-nya sudah mulai menurun. Hal tersebut mengurangi ambang batas kesabarannya sehingga dipicu sedikit akan mudah marah. Saat hormon seperti testosteron dan progesteron sedang dalam kondisi tidak seimbang, emosi seseorang akan kurang stabil.

Jadi, apa yang harus dilakukan ketika marah?
Semakin seseorang marah, semakin banyak hormon tersebut yang dikeluarkan. Dan itu sebenarnya merusak tubuh kita sendiri. Kalau hormon tersebut makin tinggi, detak jantung akan makin cepat. Kalau ternyata punya penyakit jantung, jantungnya bisa berhenti seketika. Sebenarnya, reaksi dalam tubuh itu selalu berusaha mencapai titik equilibrium (keseimbangan). Maka, jika tubuh kekurangan atau berlebihan sesuatu, itu yang tidak baik. Karenanya, marah yang berlebihanlah yang merusak.

Lalu, kenapa marah sering dikategorikan sesuatu yang destruktif?
Karena marah cenderung melahirkan perilaku-perilaku yang buruk, seperti hostilitas (pandangan permusuhan), mencelakai diri sendiri, membunuh diri, melukai orang lain, dan berkata kasar.

Apa yang biasa dokter lakukan ketika marah?
Kalau saya marah, saya lebih baik diam atau mengarahkan agresivitas pada hal-hal yang positif, seperti amalan-amalan baik dan membaca Al Quran. Itu malah lebih baik. Kalau tidak salah, ada di hadis yang memeritahkan kita untuk diam ketika marah. Karena saat diam, lebih sedikit hormon yang bekerja. Dan saat diam pun kita lebih banyak merenung.


Rahmat

Berpikirlah Sebelum Marah


 Seorang ibu mendapati anaknya sedang asyik bermain di tanah yang basah bersama teman-temannya. Mendadak, sang ibu menjadi gusar dan mendatangi anaknya. Emosinya memuncak dan berubah menjadi kemarahan saat dilihat baju anaknya sangat kotor terkena tanah basah. Tanpa pikir panjang, dengan diiringi bentakan, sang ibu menyeret anaknya masuk ke dalam rumah. Dari tertawa senang karena bermain, wajah sang anak berubah menangis sejadi-jadinya.

Pernahkah kita menemui situasi seperti itu, atau mungkin mengalaminya sendiri? Apa yang kita rasakan saat menjadi sang anak dan apa yang kita rasakan bila berada di posisi sang ibu? Anak dalam posisi tersebut bisa kita sebut sebagai korban kemarahan ibunya sementara sang ibu kita sebut saja sebagai pelaku kemarahan yang terpicu oleh kondisi anaknya yang bermain tanah. Kasus seperti itu adalah salah satu contoh kasus kemarahan yang dipicu oleh sesuatu di lingkungan. Lalu, sebenarnya apa itu marah dan kenapa kita mesti marah? Jika kita kembali membaca kasus di atas, secara sederhana dapat disimpulkan bahwa kemarahan itu cenderung destruktif. Benarkah demikian?

Hakikat Marah 

Dalam kajian ilmu komunikasi, marah hakikatnya adalah salah satu bentuk dari komunikasi seseorang. Kala seseorang marah, artinya dia sedang berupaya menyampaikan pesan kepada orang lain. Bentuk penyampaiannya berbeda-beda, bergantung pada lingkungan dan kondisi sosial budaya yang membentuknya. Di Jepang, orang sering diam saat marah karena memang orang-orang Jepang tidak terbiasa mengekspresikan perasaannya. Hal itu akan berbeda jauh dengan orang Amerika yang lebih berterus terang mengungkapkan perasaannya, sama halnya dengan Suku Batak di tanah air kita.

Menurut kacamata psikologi, marah adalah bagian dari emosi. Di antara sekian banyak emosi, seperti gembira dan sedih, marah dikategorikan sebagai emosi yang negatif. Sebagaimana yang diungkapkan psikolog Alva Handayani, penyebab marah berbeda-beda pada tiap orang, tapi umumnya terjadi karena frustasi, tersinggung, atau memang karena temperamen.

Ada pula kemarahan yang terjadi karena kasus atau pengalaman seseorang di masa lalu. Kasus ini disebut kasus predisposisi. Pada kasus ini, kemarahan disebabkan oleh pengalaman buruk masa lalu yang menumpuk hingga pada akhirnya meledak ketika ada pemicunya. Kita sering menyaksikan contohnya di layar kaca, misalnya ketika seorang istri yang dikenal orang lain sebagai seorang wanita sabar, ternyata mampu menghabisi nyawa suaminya dengan cara yang sadis.

Emosi seseorang selama ini dinilai dipengaruhi oleh faktor lingkungannya. Faktor lingkungan memang berpengaruh sebagai musabab sekaligus pemicu kemarahan seseorang, tetapi sebenarnya faktor lingkungan amat bergantung pada faktor internal, yaitu kestabilan emosi. Dalam lingkungan yang sama, dua orang berbeda bisa bereaksi berbeda dalam menghadapi masalah yang sama, bergantung pada kendali diri yang dimiliki. Orang yang ritme hidup dan denyut jantungnya lebih cepat, ketika dihadapkan pada situasi lebih lambat, dia akan stres dan mudah marah. Begitu pun sebaliknya, orang yang emosinya tenang dan lambat jika dia masuk ke situasi yang lebih cepat, dia akan cepat marah dan stres.

Sementara dari kajian ilmu jiwa atau psikiatri, marah justru lebih dikenal sebagai bentuk gejala atau symptom. Kemarahan menandakan adanya suatu penyakit dalam tubuh seseorang. Dan memang dalam kajian psikiatri, seseorang yang sakit akan mudah marah karena penyakit yang dideritanya. Marah digolongkan ke dalam jenis gejala agresi yang positif karena merupakan ekspresi emosi yang ditampakkan. Penyebabnya disebut dengan istilah impuls atau dorongan. Jenis impuls ini bisa bermacam-macam, mulai dari kondisi lingkungan yang tidak kondusif dan penuh tekanan, makanan yang berprotein tinggi, rendahnya kadar oksigen pada otak, dan kasus hormonal.

Sama seperti dalam kajian psikologi, faktor lingkungan didaulat sebagai salah satu penyebab timbulnya kemarahan pada diri seseorang. Seseorang yang berprofesi sebagai pengemudi angkutan kota akan lebih mudah marah ketimbang seseorang yang bekerja di ruangan ber-AC. Tuntutan lingkungan yang penuh tekanan, bising, dan panas akan memacu emosi seseorang berada dalam kondisi tinggi. Begitu pun makanan yang berprotein tinggi. Menurut dr. Jaya Mualimin, makanan yang berprotein tinggi, seperti daging kambing, cenderung memicu seseorang untuk marah karena meningkatkan hormon-hormon tertentu dalam tubuh. Begitu pula dengan kurangnya oksigen pada otak yang membuat kesadaran seseorang menjadi turun dan rentan terhadap stimulus yang negatif.

Untuk kasus hormonal, seseorang menjadi mudah marah jika kadar hormon pemicu kemarahan tidak berada pada kadar semestinya. Singkatnya, proses kemarahan dalam tubuh bisa dijabarkan dengan dimulainya impuls yang diterima oleh limbic system (pusat emosi) di hypothalamus yang terletak di bagian otak tengah. Penerimaan impuls tersebut merangsang peningkatan neurotransmitter dompamine pada neuron otak. Setelah itu, rangsangan diteruskan ke hypophycis yang kemudian dikirim ke bagian tubuh lainnya, seperti bagian tubuh penghasil hormon-hormon yang memacu denyut jantung, pupil mata membesar, dan lain-lain. Hormon tersebut contohnya seperti epinefrin, noreprinefrin, serotonin, dan testosteron.

Itulah sebabnya gangguan hormonal, yaitu ketidakseimbangan kadar hormon –baik kelebihan maupun kekurangan– akan menyebabkan seseorang mudah marah. Kasus ini terjadi pada kaum wanita saat sedang menstruasi ataupun pada kaum lansia yang hormon testosteron dan progesteron-nya sudah mulai menurun. Hal tersebut mengurangi ambang batas kesabarannya sehingga dipicu sedikit akan mudah marah.

Jauh hari, Rasulullah saw. telah bersabda, "Sesungguhnya marah itu dari setan dan setan terbuat dari api.” (H.R Ibnu Asakir, Mauquf). Imam Ja’far ash-Shadiq pun berkata, “Sesungguhnya marah itu adalah bara api dari setan yang dinyalakan dalam hati keturunan Adam dan sesungguhnya salah seorang di antara kamu apabila marah maka merahlah matanya dan berdetak cepat jantungnya, lalu masuklah setan (menguasai) ke dalam (diri)nya.”

Dari dua kabar tersebut, setidaknya kita bisa menyimpulkan bahwa kemarahan pada diri seseorang identik dengan perbuatan dan sifat setan. Marah pun sering dikaitkan dengan sifat api yang panas, sementara api itu sendiri adalah bahan bakar penciptaan setan. Jelaslah kiranya jika Rasulullah dan para pemikir Islam banyak yang mengidentikkan kemarahan berasal dari setan.

Allah pun mengeluarkan setan dari surga semata-mata karena marah dan sombongnya pada Adam. Jika kini kemudian manusia dihinggapi rasa marah, bisa jadi itu adalah warisan dari setan yang memang gemar mengganggu manusia, salah satunya dengan mempermainkan emosinya sehingga jatuh pada perbuatan dosa.

Permainan emosi manusia yang dilakukan oleh setan pada akhirnya bermuara pada timbulnya kemarahan. Itu sebabnya, dari dua kajian keilmuan psikologi dan psikiatri, ada kesimpulan bahwa sesungguhnya kemarahan pada diri seseorang itu bergantung pada kestabilan emosi yang dimiliki orang tersebut. Makin stabil dan mampu seseorang mengelola emosinya, makin jauh ia dari marah yang berasal dari setan.

Apakah Kita Mesti Marah? 
   
Dilihat dari berbagai pandangan di atas, marah selalu identik dengan sesuatu yang negatif. Mulai dari dikaitkan dengan setan, tidak stabilnya emosi, hingga pertanda adanya penyakit dalam tubuh. Jika demikian, tampaknya bagus bagi kita untuk tidak memiliki rasa dan sifat marah. Tapi, kesimpulan tersebut bukanlah kesimpulan yang benar, sebab bagaimanapun, marah adalah fitrah yang Allah berikan pada manusia sebagai makhluk yang dibebani amanah untuk menjadi pemimpin di muka bumi ini. Dengan marah pula, Allah menjadikan kita berbeda dengan malaikat, binatang, dan makhluk Allah lainnya, bahkan dengan setan. Itu karena manusia memiliki naluri dan rasio untuk mengelola kemarahannya.
   
Ketika menciptakan malaikat, Allah menjamin tidak akan ada sifat pembantahan. Itu yang menyebabkan malaikat selalu patuh pada Allah. Kita tidak akan bisa menemukan kemarahan pada malaikat, sebab malaikat memang diciptakan hanya untuk mematuhi perintah Allah. Firman Allah, ”Sesungguhnya malaikat-malaikat yang ada di sisi Tuhanmu tidaklah merasa enggan menyembah Allah dan mereka mentasbihkan-Nya dan hanya kepada-Nya lah mereka bersujud.” (Q.S. Al A’raaf 7: 206).
   
Sementara pada setan, Allah hanya membekalinya dengan sifat buruk, termasuk marah. Jadi, wajar jika setan tidak akan bisa masuk surga, sebab dari kemarahannya pada Adam dahulu justru telah mengusirnya dari surga dan ditakdirkan untuk menghuni neraka selamanya. Lain halnya dengan manusia yang dilengkapi kesempurnaan akal dan emosi yang bisa mengangkatnya pada derajat yang lebih tinggi, atau sebaliknya justru menjatuhkannya.
   
Sebenarnya tidak ada yang salah dengan marah. Hanya saja, seringkali emosi saat marah diekspresikan dengan berlebihan dan tidak semestinya. Marah yang hanya disebabkan oleh permasalahan sepele, bisa berbuntut besar, sampai-sampai terjadi pembunuhan. Akibatnya, marah yang tidak terkontrol dan berlebihan akan merusak, baik pada diri sendiri maupun orang-orang di sekelilingnya.
   
Marah akan cenderung menjadi destruktif ketika seseorang menuruti emosinya yang meledak-ledak. Kemarahan tidak akan menghasilkan manfaat jika hanya dilampaskan melalui kata-kata, ekspresi, dan perlakuan yang kasar. Itulah sebabnya, walaupun dalam keadaan marah, kita harus selalu mengedepankan rasio. Sebab dengan begitu, kemarahan kita menjadi kemarahan yang tidak sia-sia.
   
Psikolog E. Kristi Poerwandari menyatakan bahwa setidaknya ada dua poin yang membuat marah menjadi konstruktif. Pertama, marah haruslah karena alasan yang tepat, bukan karena faktor subjektif. Banyak kasus kemarahan timbul di lingkungan keluarga, misalnya suami marah secara berlebihan karena merasa tidak dihargai oleh istrinya, padahal ini hanyalah pandangan subjektif sang suami. Kedua, marah haruslah terkendali. Marah yang membabi buta, bisa merugikan diri sendiri dan orang lain.

Kita ambil contoh dengan kisah ibu yang marah pada anaknya karena kedapatan main tanah yang kotor. Jika sang ibu menuruti emosinya dengan memarahi sang anak, bahkan hingga menariknya ke dalam rumah dan melarangnya bermain dengan teman-temannya, yang terjadi adalah si anak akan merasa sang ibu terlalu mengekang dirinya. Bukan tidak mungkin suatu saat nanti ia akan berbalik menentang sang ibu.

Kisah akan berbeda jika saat sang ibu melihat anaknya bermain tanah, tidak ujug-ujug marah. Tapi, redam dulu emosinya dan panggil baik-baik sang anak lalu beri nasihat dan pengertian. Niscaya sang anak tidak akan menangis. Ini yang disebut marah yang konstruktif, yaitu marah yang dikelola agar ekspresi yang keluar tidak berlebih. Allah berfirman, ”Dan (bagi) orang-orang yang menjauhi dosa-dosa besar dan perbuatan-perbuatan keji, dan apabila mereka marah mereka memberi maaf.” (Q.S. Asy-Syuura 42: 37).

Rahmat

Sabtu, 07 November 2015

Niatnya Ibadah, Bonusnya Dikenang

Wawancara dengan Taufiq Ismail
(Sastrawan dan Penyair)

Menurut Anda, kenapa manusia ingin hidup abadi?
Sebenarnya ada yang mau peduli dan ada yang tidak peduli. Orang yang peduli karena ia didukung oleh keimanan bahwa ada kehidupan di akhirat yang kekal. Dan orang yang tidak peduli adalah orang yang tidak percaya ada kehidupan setelah kehidupan ini.

Jadi, manusia memang tidak bisa hidup abadi?
Kehidupan di dunia tidak abadi. Ya… cuma sepanjang fisiknya mendukung. Hanya memperpanjang waktu saja. Manusia boleh saja ingin hidup selama mungkin, tapi toh sewaktu-waktu akan berakhir.

Bagaimana dengan usaha manusia yang mencoba mengabadikan namanya dengan membuat karya-karya tertentu?

Percuma saja. Nanti 40 sampai 50 tahun akan dikenang orang. Setelah itu belum tentu. Kemungkinan tenggelam.

Banyak tokoh yang melakukan berbagai cara agar namanya bisa masuk dalam sejarah, bagaimana menurut Anda?

Banyak cara untuk bisa dikenang dan disebut-sebut namanya. Ada orang yang memanjat gedung dengan ketinggian tertentu, mencoba menyeberangi samudra, dan banyak lagi. Ya… semuanya ada baiknya. Saya tidak akan memberikan penilaian. Yang jelas, saya tidak akan berbuat demikian. Niatnya hanya untuk amal saleh.

Bagaimana dengan Anda? Bukankah Anda juga menghasilkan karya-karya besar?
Saya menulis sebagai amal saleh untuk sesama manusia. Hasilnya diserahkan pada Allah untuk kehidupan abadi di akhirat. Kalau dikenang orang, ya… Alhamdulillah. Saya akan gembira kalau orang mengenang saya. Saat orang mendengar dan membaca karya saya seperti karya Rindu Rasul, yang isinya shalawat, mudah-mudahan akan ada maknanya. Yang penting bukan saya, tapi karya saya yang dikenang.

Kalau diberi kesempatan untuk bisa melakukan hal lebih, apa yang ingin Anda lakukan?
Saya ingin lebih banyak menulis dan beramal saleh. Contohnya sudah sejak lama saya dan kawan-kawan di majalah Horison prihatin dengan kondisi tertinggalnya budaya baca tulis di sekolah. Maka, kami mencoba melakukan kegiatan-kegiatan dan acara, seperti Sastrawan Bicara, Siswa Bertanya.

Apa Anda tidak ingin dikenang?
Saya tidak bersemangat untuk bisa dikenang. Saya hanya bersemangat untuk melakukan yang bermanfaat bagi masyarakat. Melakukan hal terbaik untuk kehidupan ini, manfaatnya sebagai tabungan untuk masa yang akan datang, di kehidupan akhirat. Kalau pun dikenang, ya… Alhamdulillah. Berarti itu bonus.

Rahmat

Jumat, 06 November 2015

Manusia Abadi Negeri Pertiwi (Part 2)



Jenderal Gatot Subroto
 Nama tokoh ini mengiang-ngiang di telinga kita sebagai nama jalan. Kita biasa menyingkat namanya dengan Gatsu. Pria berkumis tebal ini lahir pada 1907. Ia pernah menjadi tentara pada tiga masa, yaitu sebagai tentara KNIL Belanda semasa penjajahan Belanda, tentara PETA selama penjajahan Jepang, dan TKR saat Indonesia merdeka.
    
Sejak kecil ia sudah berwatak keras, tetapi lembut pada sesama warga Indonesia. Saking kerasnya terhadap penjajah, ia pernah dikeluarkan dari sekolah dasar Belanda, ditegur saat berada di KNIL dan tentara PETA. Ia pun kerap memberi santunan dari hasil gajinya pada orang-orang yang anggota keluarganya dalam hukuman penjajah.
    
Selama menjabat pada tiga masa, ia selalu membuat prestasi yang cukup gemilang. Itu sebabnya ia mendapatkan jabatan yang cukup terhormat, seperti menjadi Komandan Kompi di tentara PETA hingga Gubernur Militer Surakarta di TKR. Dengan posisinya ini, ia berhasil menumpas gerakan PKI 1948 di bawah pimpinan Muso.
    
Kecintaannya pada dunia militer membuatnya merasa perlu mendidik angkatan militer sedari muda. Itu sebabnya, ia mengusulkan didirikannya Akademi Angkatan Bersenjata RI (AKABRI) yang menyatukan Angkatan Udara, Laut, dan Darat dalam satu akademi. Untuk jasa-jasanya itulah namanya diabadikan sebagai nama-nama jalan di kota-kota besar di Indonesia.

R. Otto Iskandardinata
Model di lembaran uang Rp. 20.000 ini adalah seorang pahlawan nasional yang memiliki keberanian mengungkapkan pendapat sehingga sering dijuluki “Si Jalak Harupat”. Pria kelahiran Bandung, 31 Maret 1897 ini merupakan seorang guru, wakil rakyat di Dewan Kota, pengurus Budi Utomo, dan juga sebagai praktisi media cetak.
    
Pahlawan yang sering kita singkat namanya dengan Otista ini tidak disukai Belanda karena ketajaman lidahnya. Saat menjadi ketua Paguyuban Pasundan, ia banyak membangun institusi demi rakyat Indonesia, seperti sekolah dan bank. Namun, saat penjajahan Jepang, Paguyuban Pasundan dibubarkan. Otto pun tidak tinggal diam. Ia kemudian membidani terbitnya surat kabar Warta Harian Cahaya. Selain itu, ia aktif sebagai anggota Pusat Tenaga Rakyat (PUTERA), Jawa Hokokai (Badan Kebaktian Rakyat Jawa), dan Cuo Sang In (DPR). Menjelang kemerdekaan, ia ikut dalam PPKI menyusun UUD 1945. Kemudian ia membentuk BKR dan menjadi Menteri Negara dalam kabinet RI. Otto diculik pada Oktober 1945. Tak lama, ia meninggal di Banten pada 20 Desember 1945. Jasadnya dimakamkan di Lembang, Bandung, pada 1947.
    
Nama-nama di atas adalah contoh bagi kita untuk merenungkan kematian seperti apakah yang kita inginkan kelak. Sekarang, kita bisa membedakan mana tokoh-tokoh yang meninggalkan nama harum dan mana yang meninggalkan kebencian. Kita pun takkan berbeda saat di kemudian hari orang-orang mendefinisikan keadaan kita apakah masuk kategori orang yang meninggalkan nama harum atau justru hujatan. Kiranya, belum terlambat bagi kita untuk menentukan selama hayat masih dikandung badan.

Kehidupan ini hanya proses. Dari proses tersebut, kita akan melengkapi puzzle masa depan. Jika diisi dengan keburukan, bentuk akhirnya adalah hujatan. Jika dirangkai dengan kebaikan, tampilan akhirnya adalah kemuliaan.
    
“Maka tatkala Allah menyelamatkan mereka, tiba-tiba mereka membuat kezaliman di muka bumi tanpa (alasan) yang benar. Hai manusia, sesungguhnya (bencana) kezalimanmu akan menimpa dirimu sendiri; (hasil kezalimanmu) itu hanyalah kenikmatan hidup duniawi, kemudian kepada Kami lah kembalimu, lalu Kami kabarkan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.” (Q.S. Yunus 10: 23).
    
Rahmat

Menyusun Puzzle Kehidupan (Part 3)



Abadi Bersama Cahaya
    
Keabadian terus melekat pada mereka yang memberi andil besar bagi sejarah dan kehidupan umat manusia, baik karena keburukan maupun kebaikannya. Pada abad ke-19 dan ke-20, dunia dihiasi kaum intelektual yang berhasil mengabadikan karya-karyanya, baik dalam bidang sosial maupun teknologi.
    
Salah satu di antara mereka adalah Thomas Alva Edison. Berkat temuannya, kini rumah kita benderang dihiasi bola lampu pijar seukuran telapak tangan. Bukan hal yang mudah dan singkat hingga Edison mampu meraih kesuksesan. Ia mesti belajar dan melakukan banyak sekali percobaan.
    
Edison lahir 11 Pebruari 1847, di Ohio, Milan, dari pasangan Samuel Ogden Edison, Jr. dan Nancy Matthews Elliott. Ia adalah anak bontot dari 7 bersaudara. Dibanding kakak-kakaknya, Edison kecil mengalami kesulitan kemampuan bicara. Namun saat ia mampu bicara, tepatnya pada umur empat tahun, sifat kritisnya mulai tampak. Apa pun yang ia lihat selalu ia tanyakan. Saat tak ada yang mampu menjawabnya, ia selalu berkata, “Mengapa?”
    
Sikap kritis Edison pulalah yang membuat sang ibu mengeluarkannya dari sekolah. Gurunya menganggap Edison sebagai anak aneh dan ia sering dibuat jengkel dengan pertanyaan-pertanyaan membingungkan yang tak lazim ditanyakan anak seusianya. Beruntung, sang ibu yang juga seorang guru, mampu mengajari Edison di rumah. Ia membimbing Edison kecil dengan membiarkan hari-hari Edison larut dalam tumpukan buku di perpustakaan-perpustakaan di kotanya.
    
Selain itu, sang ayah membiarkan Edison tumbuh menjadi remaja yang mandiri. Di usia 12 tahun, ia mulai mencoba berjualan dengan menjajakan permen dan koran di kereta. Itu sebabnya anak muda yang akrab dipanggil Al ini lebih cepat tumbuh dewasa ketimbang remaja seusianya. Di usia ini pula ia mulai kehilangan sedikit pendengarannya.
    
Karena kebaikan hatinya menyelamatkan nyawa seorang anak seorang pekerja di stasiun pengiriman telegraf, di umur 15 tahun ia diangkat sebagai pegawai pengirim telegraf. Pendengarannya yang sedikit terganggu membuatnya bisa tetap konsentrasi mendengarkan suara morse walau di tempat bising sekalipun. Di tempat inilah ia menghasilkan penemuan pertamanya. Penemuan ini berupa Automatic Repeater (pengulang otomatis) yang membuat pengiriman telegraf menjadi lebih efisien. Sayangnya, temuannya ini tidak pernah ia patenkan.
    
Sang penemu bohlam ini pun sempat mengalami kekecewaan karena didahului Alexander Graham Bell untuk penemuan telepon. Namun, kekecewaannya itu ia gunakan sebagai bahan bakar untuk menghasilkan puluhan penemuan lainnya yang berguna bagi masyarakat luas. Ia mengumpulkan teman-temannya dan mulai mendirikan laboratorium penelitian sendiri. Dalam sejarah, inilah laboratorium pertama yang dikhususkan untuk mengembangkan penelitian berbau teknologi dan penemuan-penemuan baru. Bersama peneliti-peneliti di dalamnya, laboratorium Edison yang bertempat di Menlo Park, New Jersey, menjelma menjadi laboratorium sekaligus tempat bisnis yang sukses.
    
Keberhasilan Edison terutama karena temuannya akrab dengan kebutuhan masyarakat, ditambah otak bisnisnya yang encer. Ia selalu memproduksi hasil temuannya dalam jumlah besar dan menjualnya pada masyarakat setelah mendapat hak paten. Puncaknya saat ia menemukan bola lampu pijar. Saat itu pula ia mulai menjual bola ajaib yang bersinar itu pada masyarakat sekaligus mengalirkan listrik ke rumah-rumah.
    
Di hari tuanya, saat ia kembali ke Milan, ia dikejutkan dengan kondisi di mana ternyata rumahnya sendiri masih menggunakan lilin dan lampu minyak. Ia menghabiskan masa tuanya dengan berdiet dan hanya meminum 0,56 lt susu tiga kali sehari. Sebulan sebelum meninggal, ia berhasil menemukan sistem kereta listrik yang dipakai New Jersey. Tepat pada 18 Oktober 1931, Bapak Bohlam ini dipanggil menghadap Yang Kuasa di usai 84 tahun.
    
Penemu dan pebisnis sukses ini wafat dengan banyak menghasilkan temuan dan penghargaan. Saking berpengaruhnya, di New Jersey dibangun patung dan museum untuk mengenangnya. Bisnisnya kemudian diteruskan oleh anaknya, Charles Edison dan terus menghasilkan terobosan-terobosan baru di bidang teknologi.
Rahmat