Minggu, 01 April 2012

Tafsir Tematis

WASIAT ALLAH SEPANJANG MASA (BAGIAN 1)
(Tafsir Tematik Surat Al-An’am [6]: 151-153)

Dr. Aam Amiruddin

“Katakanlah, ‘Marilah kubacakan apa yang diharamkan atas kamu oleh Tuhanmu, yaitu janganlah kamu mempersekutukan sesuatu dengan Dia, berbuat baiklah terhadap kedua orang ibu bapak, dan janganlah kamu membunuh anak-anak kamu karena takut kemiskinan. Kami akan memberi rezeki kepadamu dan kepada mereka, dan janganlah kamu mendekati perbuatan-perbuatan yang keji, baik yang nampak di antaranya maupun yang tersembunyi, dan janganlah kamu membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) melainkan dengan sesuatu (sebab) yang benar’. Demikian itu yang diperintahkan oleh Tuhanmu kepadamu supaya kamu memahami (Nya). Dan janganlah kamu dekati harta anak yatim, kecuali dengan cara yang lebih bermanfaat, hingga sampai dia dewasa. Dan sempurnakanlah takaran dan timbangan dengan adil. Kami tidak memikulkan beban kepada seseorang melainkan sekadar kesanggupannya. Dan, apabila kamu berkata, maka hendaklah kamu berlaku adil kendati pun dia adalah kerabat (mu), dan penuhilah janji Allah. Yang demikian itu diperintahkan Allah kepadamu agar kamu ingat, dan bahwa (yang Kami perintahkan) ini adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah ia, dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai-beraikan kamu dari jalan-Nya. Yang demikian itu diperintahkan Allah kepadamu agar kamu bertakwa.” (Q.S Al-An‘aam [6]: 151-153)

***

Sungguh miris kita melihat fenomena kehidupan akhir zaman ini. Banyak penyimpangan yang dilakukan manusia di seluruh lini kehidupannya. Begitu banyaknya nilai-nilai fitrah yang rusak, norma yang terinjak-injak, dan merajalelanya perilaku amoral dan kriminal serta kebejatan lainnya. Perlu kiranya kita yang masih melek terhadap jati diri manusia untuk mencari pegangan agar tidak tergerus derasnya arus kekufuran dan kemaksiatan yang kian menggila.

Tiga ayat tersebut menunjukkan kaidah-kaidah utama yang lebih populer disebut sebagai wasiat. Wasiat itu semestinya menjadi pegangan bagi setiap muslim guna meraih kebahagiaan hidup dan menjaga diri untuk tidak larut dalam kubangan kemaksiatan kepada Allah. Hal ini dapat dipahami, salah satunya, dari pembuka ayat dengan memakai kata seru ta’alau yang menunjukkan seruan untuk naik dan meraih sesuatu yang tinggi karena yang menyeru adalah Allah Yang Mahatinggi. Dengan kata lain, ayat ini berisi peringatan-peringatan Ilahi yang akan mengantarkan seseorang pada sebuah kedudukan tinggi serta diridi oleh-Nya.

Selain pembuka ayat, isyarat lainnya dapat dilihat dari kata penutup ketiga ayat tersebut. Allah menyebut tiga kata utama, berakal, berdzikir, dan bertakwa. Sehingga, dapat disimpulkan bahwa barangsiapa yang melaksanakan seluruh wasiat yang disebutkan dalam ayat-ayat itu, pastilah akan menyandang tiga predikat yang akan mengantarkan pada sebuah “ketinggian” di dunia maupun di akhirat kelak. Sebaliknya, jika seorang muslim dengan sengaja mengabaikan sebagian, apalagi seluruh, wasiat tersebut, maka tunggulah akibat yang akan diterima berupa azab Allah yang teramat pedih.

Ketiga ayat tersebut memuat sepuluh poin yang merupakan wasiat Allah yang abadi yang telah diberikan kepada nabi dan Rasul sebelum Muhammad Saw. dan tidak pernah di-naskh-kan (dihapuskan) dalam syariat mana pun. Abdullah bin Mas’ud r.a. berkata, “Barangsiapa yang ingin melihat wasiat Rasulullah Saw. yang tertera di atasnya cincin stempel milik beliau, maka hendaklah dia membaca firman AllahTa’ala (yang tidak lain adalah ayat ke-151-153 surat surat Al-An’am yang berisi 10 wasiat itu).”
Berikut penjelasan mengenai kesepuluh wasiat tersebut.

1. Menjauhi perbuatan syirik (mempersekutukan sesuatu dengan Dia).
Syirik adalah sebesar-besar dosa terhadap Dzat yang telah menciptakan dan mengaruniakan nikmat yang tiada terhingga. Perbuatan syirik merupakan pengkhianatan terbesar terhadap ketauhidan dan keimanan karena telah menganggap ada yang kurang pada Dzat Allah sehingga harus meminta kepada selain-Nya. Menjauh dari perbuatan syirik merupakan sikap paling terpuji di hadapan Allah. Allah Swt. berfirman, “Dan (Ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu dia memberi pelajaran kepadanya, ‘Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah. Sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar.’” (Q.S. Luqman [31]: 13)

“Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa mempersekutukan dengan Dia, dan dia mengampuni dosa selain syirik bagi siapa yang dikehendaki-Nya.” (Q.S. An-Nisaa [4]: 48)

2. Berbuat baik terhadap kedua orangtua.
Perintah berbuat baik kepada kedua orangtua (birrul walidain) menempati posisi kedua setelah perintah taat kepada Allah. Cukup banyak ayat Al-Quran yang menyandingkan perintah beribadah dengan birrul walidain ini. Saking pentingnya berbuat baik pada orangtua, perbedaan agama, ideologi, apalagi hanya sebatas sikap atau perilaku bukan halangan untuk berbuat baik kepada orangtua. Pelanggaran terhadap wasiat ini, meski sedikit, bisa dikategorikan sebagai dosa yang berbahaya. Allah Swt. berfirman, “Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapanya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepadaKu dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu. Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku, kemudian hanya kepada-Kulah kembalimu, maka Kuberitakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.” (Q.S. Luqman [31]: 14-15)

3. Tidak membunuh anak-anak karena takut miskin.
Kemiskinan terkadang membuat seseorang gelap mata dan tidak dapat memfungsikan rasionya secara cermat. Hal inilah di antara sebab pemicu terjadinya berbagai bentuk kriminalitas, perbuatan asusila, serta kejahatan moral dan sosial lainnya seperti yang saat ini sepertinya sedang merajarela. Karena itu, Allah Swt. memperingatkan manusia agar tidak terjebak dalam rancun cara berpikir ala jahiliah yang senantiasa menyalahkan Tuhan dan kehidupan manakala nasibnya menderita. Dia menganggap bahwa dirinya sendirilah yang mengatur hidupnya. Dia merasa dirinya yang menentukan sedikit banyaknya rezeki yang didapat. Padahal, semua itu adalah kekeliruan yang nyata. Jelas hanya Allah yang telah menjamin rezeki seluruh makhluk yang terlahir di muka bumi ini sehingga tidak perlu ada yang ditakutkan dengan masa depan. Jatah rezeki sudah disiapkan untuk setiap makhluk yang diperintahkan untuk berikhtiar guna menjemputnya. Allah Swt. berfirman, “Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezkinya, dan Dia mengetahui tempat berdiam binatang itu dan tempat penyimpanannya. Semuanya tertulis dalam Kitab yang nyata.” (Q.S. Huud [11]: 6)

4. Tidak mendekati perbuatan-perbuatan yang keji (al-fahisyah), baik yang nampak maupun yang tersembunyi.
Terdapat beberapa penafsiran tentang makna al-faahisyah yang dikemukakan oleh para ahli tafsir. Namun, semuanya bermuara pada semua jenis kemaksiatan yang merupakan bentuk pengingkaran kepada Allah, sekecil apa pun jenis kemaksiatan itu. Di antara bentuk kemaksiatan yang paling keji dimuat dalam tiga ayat berikut ini.

“Dan (Kami juga telah mengutus) Luth (kepada kaumnya). (Ingatlah) tatkala dia berkata kepada mereka, ‘Mengapa kamu mengerjakan perbuatan al-faahisyah, yang belum pernah dikerjakan oleh seorangpun (di dunia ini) sebelummu?” (Q.S. Al A’raaf [7]: 80)

“Dan janganlah kamu kawini wanita-wanita yang telah dikawini oleh ayahmu, terkecuali pada masa yang telah lampau. Sesungguhnya perbuatan itu adalah faahisyah (amat keji) dan dibenci Allah dan seburuk-buruk jalan (yang ditempuh).” (Q.S. An-Nisaa [4] 22)

“Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk.” (Q.S. Al-Israa’ [17]: 32)

5. Tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) melainkan dengan sesuatu (sebab) yang benar.
Tubuh manusia merupakan harta titipan Allah Swt. sehingga setiap manusia tidaklah berhak untuk berlaku seenaknya terhadap harta titipan tersebut, baik yang menjadi miliknya maupun milik orang lain. Tubuh atau jasad manusia wajib dihormati, bahkan saat telah menjadi jenazah sekalipun. Tidak berarti bahwa setelah meninggal, lantas dengan alasan tidak lagi merasakan apa-apa, kemudian kita memperlakukan jenazah dengan semena-mena, apalagi tidak senonoh.

Dengan demikian, jelaslah alasan Allah Swt. mengharamkan membunuh (manusia) karena sama artinya mengkhianati titipan berharga dari Allah, kecuali kalau dengan alasan yang dibenarkan oleh-Nya. Mereka yang sama sekali diharamkan oleh Allah untuk dibunuh adalah sebagai berikut.
• Muslim. Rasulullah Saw. bersabda, “Tidak halal darah seorang muslim yang bersaksi bahwa tidak ada sembahan yang benar melainkan Allah dan bahwa sesungguhnya saya adalah utusan Allah kecuali karena tiga perkara, yaitu seorang yang membunuh (tanpa alasan yang dibenarkan oleh syariat), orang yang berzina sedang dia telah menikah, dan seorang yang keluar dari agama serta meninggalkan jamaah.” (H.R. Bukhari)

• Kafir dzimmi, yaitu orang-orang nonmuslim yang hidup di negara muslim dan membayar jizyah untuk keamanan mereka. Haram menumpahkan darah mereka selama mereka tidak melakukan hal-hal yang membatalkan keharaman tersebut. Firman Allah, “Perangilah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan tidak (pula) kepada hari kemudian, dan mereka tidak mengharamkan apa yang diharamkan oleh Allah dan Rasul-Nya dan tidak beragama dengan agama yang benar (agama Allah), (yaitu orang-orang) yang diberikan Al-Kitab kepada mereka, sampai mereka membayar jizyah (pajak per kepala yang dipungut oleh pemerintah Islam dari orang-orang yang bukan Islam, sebagai imbangan bagi keamanan diri mereka) dengan patuh sedang mereka dalam keadaan tunduk.” (Q.S. At-Taubah [9:] 29)

• Kafir mu’aahad, yaitu orang-orang kafir yang menjalin perjanjian damai dengan orang-orang Islam. Maka, selama mereka tidak menodai perjanjian tersebut, diharamkan bagi kaum muslimin untuk melakukan tindakan-tindakan yang dapat membatalkannya. Rasulullah Saw. mengancam orang-orang muslim yang membunuh orang musyrik yang telah diberi jaminan keamanan oleh penguasa kaum muslimin (kafir mu’aahad) dengan bersabda, “Barangsiapa membunuh seorang kafir yang telah diberi jaminan keamanan, sungguh dia tidak akan mencium bau surga, padahal baunya dapat tercium sejauh 40 tahun perjalanan.”

• Kafir musta’man, yaitu orang-orang kafir yang mendapatkan jaminan keamanan dari seorang muslim selama mereka tidak membatalkan jaminan tersebut. AllahSwt. berfirman, “Dan jika seorang di antara orang-orang musyrikin itu meminta perlindungan kepadamu, maka lindungilah dia supaya dia sempat mendengar firman Allah, kemudian antarkanlah dia ke tempat yang aman baginya. Demikian itu disebabkan mereka kaum yang tidak mengetahui.” (Q.S. At-Taubah [9]: 6) Wallaahu a’lam.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar