Selasa, 01 November 2011

Fokus 1

AGAR WARISAN TIDAK MENIMBULKAN PERSELISIHAN

Harta tetaplah harta yang senantiasa berkilau menyilaukan dan kerap diperjuangkan atau diperebutkan oleh manusia, bahkan ketika ia hadir dalam bentuk warisan. Ya, ketika seharusnya almarhum didoakan agar arwahnya tenang di alam kubur sana, tak jarang beberapa ahli waris malah memperebutkan warisan. Terlebih jika almarhum meninggalkan warisan dalam jumlah yang tidak sedikit. Keserakahan dan tidak fahamnya aturan pembagian warisan merupakan kombinasi klop yang dapat memercikkan api persengketaan.

Gara-gara berebut warisan, seorang ibu (tiri) mengusir anak (tiri)nya demi menguasai secara penuh warisan yang ditinggalkan suaminya. Gara-gara berebut warisan, dua orang kakak beradik tidak pernah bertegur sapa lagi setelah sebelumnya mereka saling gugat harta peninggalan orangtua di pengadilan. Gara-gara warisan pula, istri pertama dan kedua saling gugat sebidang tanah yang ditinggalkan mendiang suami mereka. Bahkan, seorang paman tidak segan membunuh ponakannya sendiri gara-gara birahi ingin menguasai warisan saudaranya.

Terdengar klasik memang tapi begitulah berita di sejumlah media masa mengenai konflik keluarga memperebutkan harta warisan. Mungkin Anda bersyukur karena kejadian tersebut tidak menimpa keluarga Anda. Kami turut senang mendengarnya. Namun, hal tersebut bukan berarti Anda tidak harus mengantisipasi kejadian serupa. Ya, siapa yang bisa menjamin kerukunan keluarga Anda tidak akan terusik bila satu saat, satu di antara anggota keluarga gelap mata karena harta (warisan)?

Ada baiknya, sedari sekarang Anda mempelajari berbagai seluk beluk ilmu waris yang oleh Dr. H. Dedeng Rosiddin., M.Ag. dinilai sangat penting. Karena pentingnya, bahkan sampai-sampai Allah sendiri yang menentukan takarannya. Ya, dalam sejumlah keterangan Allah menjelaskan jatah harta warisan yang didapat oleh setiap ahli waris. Hal ini dilakukan mengingat harta dan pembagiannya merupakan sumber ketamakan bagi manusia. Dan, sebagaimana sering kita dengar kabarnya di berbagai media masa, perebutan harta warisan kerap merusak bahkan memutus tali silaturahmi dan persaudaraan.

Pada dasarnya, penyebab waris terdiri dari tiga hal; nikah dengan akad yang benar, nasab atau keturunan, serta perwalian yaitu ashobah yang disebabkan kebaikan seseorang terhadap budaknya dengan menjadikannya merdeka (maka dia berhak untuk mendapatkan waris). Tanpa bermaksud mendeskreditkan nikah siri, model pernikahan tersebut kerap mejadi cikal bakal konflik keluarga yang dapat pula berujung pada perebutan warisan. Dikarenakan akadnya yang tidak dilaksanakan secara terang-terangan (disaksikan oleh banyak orang), istri siri dan anak dari hasil pernikahan siri kerap dikesampingkan hak warisnya. Hal ini akan berbuntut panjang manakalah sang istri (demi memperjuangkan hak anaknya) menuntut hak pembagian waris sebagaimana terjadi pada salah seorang figur publik kita.

Selanjutnya, ada tiga hal yang menjadi penyebab terhalangnya warisan. Ketiga hal tersebut adalah perbudakan, membunuh tanpa dasar dan perbedaan agama. Perbudakan mungkin tidak menjadi penyebab perselisihan karena memang praktek perbudakan sudah tidak ada lagi saat ini. Yang menjadi ironi adalah ketika salah seorang anggota keluarga tega membunuh anggota keluarganya yang lain untuk menguasai hak waris. Selain membunuh (tanpa alasan yang dibenarkan dalam Islam) adalah dosa besar, kasus pembunuhan gara-gara berebut warisan secara otomatis menghilangkan hak waris yang bersangkutan. Kalau sudah begini, bukankah orang tersebut sudah celaka dua kali?

Sebagian orang juga mempertentangkan perbedan jatah pembagian warisan untuk laki-laki yang lebih besar dari jatah pembagian warisan untuk perempuan. Menganggapi hal ini, Mamah Dedeh berpendapat bahwa keadilan yang hakiki itu datangnya dari Allah Swt. Bagi mereka yang menganggap ketentuan Al-Quran dan hadits kurang adil, Mamah Dedeh dengat tegas menyatakan bahwa sikap tersebut sama saja dengan meremehkan hukum Allah Swt. Sebenarnya, ada hikmah di balik perbedaan jatah tersebut yang jika dicermati lebih jauh tidak akan merugikan pihak mana pun. Hanya saja, nafsu kita akan harta benda menyebabkan setan masuk ke dalam hati dan membisikkan tuntutan yang sebenarnya tidak harus diajukan.

Jadi, selain memahami ilmu waris dengan benar, kontrol diri agar tidak tamak dan rakus terhadap warisan juga sangat diperlukan. Bukankah manusia akan meminta ‘bukit emas’ yang kedua setelah di tangannya tergenggam ‘bukit emas’ yang pertama? [Muslik]

Fokus 2

CARA ISLAM MENGATUR WARISAN

Kematian adalah peristiwa yang pasti akan dialami oleh setiap manusia. Kesedihan dan kehilangan pasti akan dialami keluarga almarhum. Namun, kesedihan tersebut akan segera berubah menjadi ironi ketika keluarga yang ditinggalkan lebih memilih berebut warisan (atau biasa juga disebut tirkah) daripada mendoakan almarhum. Penggunaan dasar hukum yang berbeda kadang memperuncing pertikaian memperebutkan warisan.
Sebagai agama yang sempurna, Islam mengatur segala sisi kehidupan manusia, termasuk di dalamnya hukum yang membahas tentang waris atau dalam istilah Arab disebut faraidl. Mengenai hal ini, Allah Swt. memerintahkan agar setiap orang yang beriman mengikuti ketentuan-ketentuan-Nya menyangkut hukum kewarisan sebagaimana yang termaktub dalam ayat Al-Quran berikut.

“Hukum-hukum tersebut adalah ketentuan-ketentuan dari Allah, barang siapa yang taat pada (hukum-hukum) Allah dan Rasul-Nya, niscaya Allah akan memasukkannya ke dalam surga yang mengalir di dalamnya sungai-sungai, sedang mereka (akan) kekal di dalamnya. Dan yang demikian tersebut merupakan kemenangan yang besar. Dan barang siapa yang mendurhakai Allah dan RasulNya, serta melanggar ketentuan (hukum-hukum) Allah dan rasul-Nya, niscaya Allah akan memasukkannya ke dalam api neraka, sedangkan mereka akan kekal di dalamnya, dan baginya siksa yang amat menghinakan” (Q.S. An-Nisaa [4] 13-14)

Jika kita definiskan, hukum waris adalah seperangkat ketentuan yang mengatur cara-cara peralihan hak dari seseorang yang telah meninggal dunia kepada orang yang masih hidup yang ketentuan-ketentuannya berdasarkan pada wahyu Ilahi yang terdapat dalam Al-Quran dan penjelasannya yang dijabarkan oleh Nabi Muhammad Saw.
Dari definisi tersebut, dapat diketahui bahwa hukum kewarisan Islam merupakan hukum yang mengatur tentang peralihan kepemilikan harta dari orang yang telah meninggal dunia kepada orang yang masih hidup (yang berhak menerimanya) yang mencakup apa saja yang menjadi harta warisan, siapa-siapa saja yang berhak menerima, berapa besar porsi atau bagian masing-masing ahli waris, kapan dan bagaimana tata cara pengalihannya.

Apa Saja Harta Warisan Itu?
Warisan menurut sebagian besar ahli hukum Islam ialah semua harta benda yang ditinggalkan oleh seseorang yang meninggal dunia, baik berupa benda bergerak maupun benda tetap. Termasuk di dalamnya adalah barang/uang pinjaman dan juga barang yang ada sangkut pautnya dengan hak orang lain, misalnya barang yang digadaikan sebagai jaminan atas hutangnya ketika pewaris masih hidup.

Siapa Saja yang Berhak Mendapatkan Warisan?
Ada dua jalur untuk mendapatkan warisan secara adil, yaitu melalui pewarisan absentantio dan pewarisan testamentair. Pewarisan absentantio merupakan warisan yang didapatkan berdasarkan Undang-undang. Dalam hal ini, sanak keluarga pewaris (almarhum yang meninggalkan warisan) adalah pihak yang berhak menerima warisan yang dibagi menjadi empat golongan; yaitu anak, istri atau suami, adik atau kakak, dan kakek atau nenek. Pada dasarnya, keempatnya adalah saudara terdekat dari pewaris.
Sedangkan, pewarisan secara testamentair/wasiat merupakan penunjukan ahli waris berdasarkan surat wasiat. Dalam jalur ini, pemberi waris akan membuat surat yang berisi pernyataan tentang yang akan dikehendakinya setelah pemberi waris meninggal. Ini semua termasuk prosentase berapa harta yang akan diterima oleh setiap ahli waris.

Siapa Saja yang Tidak Berhak Menerima Warisan?
Meskipun seseorang sebenarnya berhak mendapatkan warisan baik secara absentantio atau testamentair, tetapi di dalam Kitab Undang-undang Hukum Perdata telah ditentukan beberapa hal yang menyebabkan seorang ahli waris dianggap tidak patut menerima warisan. Mereka adalah:
1. Orang yang dengan putusan hakim telah dinyatakan bersalah dan dihukum karena membunuh atau telah mencoba membunuh pewaris.
2. Orang yang menggelapkan, memusnahkan dan memalsukan surat wasiat atau dengan memakai kekerasan telah menghalang-halangi pewaris untuk membuat surat wasiat menurut kehendaknya sendiri.
3. Orang yang karena putusan hakim telah terbukti memfitnah orang yang meninggal dunia dan berbuat kejahatan sehingga diancam dengan hukuman lima tahun atau lebih.
4. Orang yang telah menggelapkan, merusak, atau memalsukan surat wasiat dari pewaris.Dengan dianggap tidak patut oleh Undang-Undang, bila warisan sudah diterimanya, maka ahli waris terkait wajib mengembalikan seluruh hasil dan pendapatan yang telah dinikmatinya sejak ia menerima warisan.

Perbedaan Hak Waris Antara Laki-laki dan Perempuan
Perhatikan ayat berikut ini. “Dan bagimu (suami-suami) seperdua dari harta yang ditinggalkan oleh istri-istrimu, jika mereka tidak mempunyai anak. Jika istri-istrimu itu mempunyai anak, maka kamu mendapat seperempat dari harta yang ditinggalkannya sesudah dipenuhi wasiat yang mereka buat atau (dan) sesudah dibayar utangnya. Para istri memperoleh seperempat harta yang kamu tinggalkan jika kamu tidak mempunyai anak. Jika kamu mempunyai anak, maka para istri memperoleh seperdelapan dari harta yang kamu tinggalkan sesudah dipenuhi wasiat yang kamu buat atau (dan) sesudah dibayar utang-utangmu. Jika seseorang mati, baik laki-laki maupun perempuan yang tidak meninggalkan ayah dan tidak meninggalkan anak, tetapi mempunyai seorang saudara laki-laki (seibu saja) atau seorang saudara perempuan (seibu saja), maka bagi masing-masing dari kedua jenis saudara itu seperenam harta. Tetapi jika saudara-saudara seibu itu lebih dari seorang, maka mereka bersekutu dalam yang sepertiga itu, sesudah dipenuhi wasiat yang dibuat olehnya atau sesudah dibayar hutangnya dengan tidak memberi mudarat (kepada ahli waris). (Allah menetapkan yang demikian itu sebagai) syariat yang benar-benar dari Allah, dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Penyantun.” (Q.S. An-Nisaa [4]: 12)

Ayat tersebut menerangkan bahwa bagian ahli waris istri sebesar seperempat (1/4) warisan jika pewaris tidak meninggalkan anak. Bila pewaris meninggalkan anak, maka istri mendapat seperdelapan (1/8) bagian yang diterimanya. Mungkin ada di antara kita yang bertanya, mengapa bagian kaum laki-laki dua kali lipat bagian kaum wanita? Padahal, kaum wanita jauh lebih banyak membutuhkannya karena di samping memang lemah, mereka juga sangat membutuhkan bantuan baik moril maupun materiil, bukan?
Menjawab pertanyaan tersebut, berikut beberapa argumen atau hikmah yang telah Allah tetapkan.

Kaum wanita selalu harus terpenuhi kebutuhan dan keperluannya. Dalam hal nafkah, kaum wanita wajib diberi oleh ayahnya, saudara laki-lakinya, anaknya, atau siapa saja yang mampu di antara kaum laki-laki kerabatnya.

Kaum wanita tidak diwajibkan memberi nafkah kepada siapa pun. Sebaliknya, kaum lelakilah yang mempunyai kewajiban untuk memberi nafkah kepada keluarga dan kerabatnya, serta siapa saja yang diwajibkan atasnya untuk memberi nafkah dari kerabatnya.

Nafkah (pengeluaran) kaum laki-laki jauh lebih besar dibandingkan kaum wanita. Dengan demikian, kebutuhan kaum laki-laki untuk mendapatkan dan memiliki harta jauh lebih besar dan banyak dibandingkan kaum wanita.

Kaum laki-laki diwajibkan untuk membayar mahar kepada istrinya, menyediakan tempat tinggal baginya, memberinya makan, minum dan sandang. Dan, ketika telah dikaruniai anak, ia berkewajiban untuk memberinya sandang, pangan dan papan.

Kebutuhan pendidikan anak, pengobatan jika anak sakit (termasuk istri) dan lainnya, seluruhnya dibebankan hanya pada pundak kaum laki-laki dan bukan di pundak perempuan.

Dari kelima argumen tersebut, jelas tergambar bahwa kaum perempuan tidak dirugikan. Meski jumlahnya kalah besar, kaum wanita sama-sama menerima hak waris sebagaimana halnya kaum laki-laki dan mereka tidak terbebani dan tidak berkewajiban untuk menanggung nafkah keluarga. Artinya, kaum wanita berhak untuk mendapatkan hak waris, tetapi tidak memiliki kewajiban untuk mengeluarkan nafkah. Syariat Islam tidak mewajibkan kaum wanita untuk membelanjakan harta miliknya meski sedikit, baik untuk keperluan dirinya atau keperluan anak-anaknya (keluarganya) selama masih ada suaminya. Ketentuan ini tetap berlaku sekalipun wanita tersebut kaya raya dan hidup dalam kemewahan. Sebab, suamilah yang berkewajiban membiayai semua nafkah dan kebutuhan keluarganya; khususnya dalam hal sandang, pangan, dan papan.

Jadi, tidak ada lagi alasan kaum perempuan cekcok berebut warisan karena menganggap bagiannya lebih kecil dari kaum pria, bukan? [Ali]

Fokus 3

BEREBUT WARISAN ITU MENGUNDANG MURKA ALLAH
Mamah Dedeh (Ustadzah)

Memang, harta warisan baik berupa perhiasan, tanah, rumah dan aset keluarga lainnya kerap menimbulkan perselisihan. Menurut Mamah Dedeh, sengketa dalam pembagian warisan bisa disebabkan karena harta tersebut baru dibagi setelah sekian lama almarhum wafat. Ada juga (perebutan warisan) karena kedudukan harta yang tidak jelas. Atau, bisa juga disebabkan karena di antara ahli waris ada yang memanipulasi harta peninggalan tersebut.

Banyak dampak yang ditimbulkan dari sengketa perselisihan pembagian waris. “Dampak buruk bagi ahli waris adalah dapat merusak hubungan kekeluargaan atau memutuskan hubungan silahturahmi antar anggota keluarga. Maka, masalah waris ini tidak bisa dianggap remeh. Hal yang paling bijak dan benar adalah dengan memahami aturan Allah Swt. Kembalikan segala persoalan pada tuntunan Al-Quran dan hadits,” jelas Mamah Dedeh ketika ditemui MaPI beberapa waktu yang lalu.

Lebih lanjut, kata Mamah Dedeh, masalah hukum waris merupakan persoalan yang sangat penting untuk dipelajari karena berkaitan dengan kehidupan antar ahli waris. Rasulullah Saw. memerintahkan umatnya untuk belajar dan mengajarkan hukum waris (faraidh) ini agar tidak terjadi perselisihan dalam pembagian harta peninggalan almarhum.

Sabda Rasul Saw., “Pelajarilah Al-Quran dan ajarkanlah kepada orang-orang dan pelajarilah ilmu faraidh serta ajarkanlah kepada orang-orang karena saya adalah orang yang bakal direnggut mati, sedang ilmu itu bakal diangkat. Hampir-hampir saja dua orang yang bertengkar tentang pembagian pusaka, maka mereka berdua tidak menemukan seorang pun yang sanggup memfatwakannya kepada mereka.” (H.R. Ahmad)

Mengenai ketentuan pembagian warisan, Allah Swt. berfirman yang artinya: “Allah mensyariatkan bagimu tentang (pembagian pusaka untuk) anak-anakmu. Yaitu, bagian seorang anak laki-laki sama dengan bagian dua orang anak perempuan; dan jika anak itu semuanya perempuan lebih dari dua, maka bagi mereka dua pertiga dari harta yang ditinggalkan; jika anak perempuan itu seorang saja, maka ia memperoleh separuh harta. Dan untuk dua orang ibu-bapak bagi masing-masingnya seperenam dari harta yang ditinggalkan, jika yang meninggal itu mempunyai anak; jika orang yang meninggal tidak mempunyai anak dan ia diwarisi oleh ibu-bapaknya (saja), maka ibunya mendapat sepertiga; jika yang meninggal itu mempunyai beberapa saudara, maka ibunya mendapat seperenam. (Pembagian-pembagian tersebut di atas) sesudah dipenuhi wasiat yang ia buat atau (dan) sesudah dibayar utangnya. (Tentang) orang tuamu dan anak-anakmu, kamu tidak mengetahui siapa diantara mereka yang lebih dekat (banyak) manfaatnya bagimu. Ini adalah ketetapan dari Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (Q.S. An-Nisaa [4]: 11)

Dalam ayat tersebut, jelas tergambar aturan pembagian (warisan) antara laki-laki dan perempuan. Lalu, bagaimana bila hal itu dianggap tidak adil oleh kaum perempuan? Menurut Mamah Dedeh, keadilan yang hakiki itu datangnya dari Allah Swt. Maka, bagi siapa pun yang menganggap ketentuan Al-Quran dan hadits kurang adil, maka ia jelas-jelas sudah meremehkan hukum Allah Swt. “Apabila pewaris (orang yang meninggal) hanya mempunyai seorang anak laki-laki dan seorang anak perempuan, maka harta peninggalannya dibagi untuk keduanya. Anak laki-laki mendapat dua bagian, sedangkan anak perempuan satu bagian. Tapi jika ahli waris berjumlah banyak, terdiri dari anak laki-laki dan anak perempuan, maka bagian untuk laki-laki dua kali lipat bagian anak perempuan,” kata Mamah Dedeh.

Bila kasusnya lain, seperti jika bersama anak (sebagai ahli waris) ada ashhabul furudh (seperti suami/istri atau ayah/ibu), Mamah Dedeh menyarankan agar yang harus diberi (warisan) terlebih dahulu adalah ashhabul furudh. Setelah itu, barulah sisa harta peninggalan yang ada dibagikan kepada anak. Bagi anak laki-laki dua bagian, sedangkan bagi anak perempuan satu bagian. Dan, jika pewaris hanya meninggalkan satu anak laki-laki, maka anak tersebut mewarisi seluruh harta peninggalan.

Apakah Islam mengatur secara mutlak agar kita membicarakan warisan sebelum meninggal untuk menghindari konflik dalam keluarga? Secara tegas Mamah Dedeh mengataan bahwa secara fikih tidak gamblang kalimatnya demikian. Tapi, untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan apalagi dapat merusak iman dan takwa ahli waris, maka perbincangan (pembagian warisan) antara orangtua dan anak bisa saja dilakukan. Memang, kata Mamah Dedeh, hal ini biasanya hanya dilakukan oleh orang-orang yang memiliki harta melimpah. Namun demikian, jangan sampai pembicaraan keluar dari aturan Islam.

Berebut harta waris, apalagi menimbulkan pecahnya persaudaraan di antara anggota keluarga, merupakan perilaku yang tidak disukai oleh Allah Swt. “Makanya, jangan sekali-kali merebutkan harta waris. Apalagi hanya menggunakan teori untung rugi berdasarkan pemikiran masing-masing anggota keluarga. Justru, kita perlu mempelajari hukum waris atau ilmu faraidl ini agar harta yang dibagikan menjadi barokah dan hubungan keluarga tetap harmonis. Karena, memperselisihkan harta peninggalan orangtua akan mengundang murka Allah Swt.” pungkas Mamah Dedeh. [Ahmad]

Fokus 4

MEMAHAMI ILMU WARIS MENDEKATKAN PADA KEMASLAHATAN
Dr. H. Dedeng Rosiddin., M.Ag.

Aturan ilmu waris diterangkan sendiri oleh Allah Swt. dalam Al-Quran. Maka, bila warisa menimbulkan masalah bagi para ahli warisnya, maka penyelesaiannya mudah, yaitu dengan meyerahkan semua pada Al-Quran dan sunnah Rasul Saw. Tapi, bila warisan dibahas dengan sifat tamak, emosi, ingin menang dan benar menurut pandangan sendiri, niscaya akan menimbulkan perselisihan. Demikian disampaikan oleh Dr. H. Dedeng Rosiddin., M.Ag saat ditemui MaPI di Pesantren Islam Pajagalan. Lebih lengkap, berikut kutipan wawancara MaPI dengan Dedeng Rosiddin.

Agar tidak berebut warisan, apa sebaiknya yang harus kita lakukan?

kita perlu benar-benar menjadi hamba yang taat dan takut kepada Rabb. Kita juga harus memahami ilmu waris sebagaimana yang diajarkan dalam Islam.

Diriwayatkan dari Sa’d bin Abi Waqqash r.a. Pada tahun Haji penghabisan (wada’), aku mengalami sakit parah dan Nabi Muhammad Saw. mengunjungiku seraya mendoakan kesehatanku. Aku berkata kepada Nabi Muhammad Saw., “Aku lemah karena sakitku yang parah ini padahal aku kaya dan aku tidak punya ahli waris kecuali seorang anak perempuan. Haruskah aku menyedekahkan dua pertiga kekayaanku?” Nabi Muhammad Saw. pun bersabda, “Tidak”. Aku berkata, “Setengah?” Nabi Muhammad Saw. bersabda, “Tidak”. Kemudian Nabi Muhammad Saw. bersabda, “Sepertiga. Bahkan, sepertiga telah cukup banyak. Lebih baik kamu meninggalkan ahli warismu dalam keadaan berkecukupan daripada meninggalkan mereka dalam keadaan miskin, mengemis kepada orang lain. Kau akan memperoleh pahala dari sedekah yang dikeluarkan dengan niat karena Allah, bahkan untuk yang kau suapkan dalam mulut istrimu.”

Sikap tersebut menunjukan bahwa Rasul Saw. amat menekankan agar umat Islam mempersiapkan dan menciptakan generasi yang sejahtera. Dalam hal waris, harta tersebut bukan untuk dijadikan lahan penghasilan. Harta warisan mengandung amanah yang harus membawa nilai kemashalatan. Maka, bila ada perselisihan dalam hal pembagian harta warisan, Islam menganjurkan agar kita gemar bermusyawarah. Firman Allah Swt., “...dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakal kepada-Nya.” (Q.S. Ali-Imron [3]: 159). Jika keluarga tetap berselisih mengenai pembagian warisan, maka tentu saja cara penyelesaiannya bukan dengan musyawarah, tetapi bersama-sama kembali pada Al-Quran dan hadits yang shahih.

Seberapa penting kita mempelajari ilmu waris?

Allah Swt. dengan tegas telah menerangkan bahwa ilmu waris itu harus dipelajari dan dipahami sehingga menjadi tuntunan dalam bermuamalah. Secara khusus, Rasulullah Saw. bersabda: “Barangsiapa yang tidak menerapkan hukum waris yang telah diatur Allah Swt., maka ia tidak akan mendapat warisan surga.” (H.R. Mutafaq ‘alaih)

Apa saja yang digariskan dalam Islam mengenai pembagian warisan?

Secara umum, hal tersebut terangkum dalam beberapa keterangan berikut.
“Allah mensyariatkan bagimu tentang (pembagian pusaka untuk) anak-anakmu. Yaitu: bahagian seorang anak lelaki sama dengan bahagian dua orang anak perempuan; dan jika anak itu semuanya perempuan lebih dari dua, maka bagi mereka dua pertiga dari harta yang ditinggalkan; jika anak perempuan itu seorang saja, maka ia memperoleh separo harta. Dan untuk dua orang ibu-bapak, bagi masing-masingnya seperenam dari harta yang ditinggalkan, jika yang meninggal itu mempunyai anak; jika orang yang meninggal tidak mempunyai anak dan ia diwarisi oleh ibu-bapaknya (saja), maka ibunya mendapat sepertiga; jika yang meninggal itu mempunyai beberapa saudara, maka ibunya mendapat seperenam. (Pembagian-pembagian tersebut di atas) sesudah dipenuhi wasiat yang ia buat atau (dan) sesudah dibayar utangnya. (Tentang) orang tuamu dan anak-anakmu, kamu tidak mengetahui siapa di antara mereka yang lebih dekat (banyak) manfaatnya bagimu. Ini adalah ketetapan dari Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. Dan bagimu (suami-suami) seperdua dari harta yang ditinggalkan oleh istri-istrimu, jika mereka tidak mempunyai anak. Jika istri-istrimu itu mempunyai anak, maka kamu mendapat seperempat dari harta yang ditinggalkannya sesudah dipenuhi wasiat yang mereka buat atau (dan) sesudah dibayar utangnya. Para istri memperoleh seperempat harta yang kamu tinggalkan jika kamu tidak mempunyai anak. Jika kamu mempunyai anak, maka para istri memperoleh seperdelapan dari harta yang kamu tinggalkan sesudah dipenuhi wasiat yang kamu buat atau (dan) sesudah dibayar utang-utangmu. Jika seseorang mati, baik laki-laki maupun perempuan yang tidak meninggalkan ayah dan tidak meninggalkan anak, tetapi mempunyai seorang saudara laki-laki (seibu saja) atau seorang saudara perempuan (seibu saja), maka bagi masing-masing dari kedua jenis saudara itu seperenam harta. Tetapi jika saudara-saudara seibu itu lebih dari seorang, maka mereka bersekutu dalam yang sepertiga itu, sesudah dipenuhi wasiat yang dibuat olehnya atau sesudah dibayar hutangnya dengan tidak memberi mudarat (kepada ahli waris). (Allah menetapkan yang demikian itu sebagai) syariat yang benar-benar dari Allah, dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Penyantun.” (Q.S. An-Nisaa [4]: 11-12)

“Mereka meminta fatwa kepadamu (tentang kalalah). Katakanlah: “Allah memberi fatwa kepadamu tentang kalalah (yaitu): jika seorang meninggal dunia, dan ia tidak mempunyai anak dan mempunyai saudara perempuan, maka bagi saudaranya yang perempuan itu seperdua dari harta yang ditinggalkannya, dan saudaranya yang laki-laki mempusakai (seluruh harta saudara perempuan), jika ia tidak mempunyai anak; tetapi jika saudara perempuan itu dua orang, maka bagi keduanya dua pertiga dari harta yang ditinggalkan oleh yang meninggal. Dan jika mereka (ahli waris itu terdiri dari) saudara-saudara laki dan perempuan, maka bahagian seorang saudara laki-laki sebanyak bahagian dua orang saudara perempuan. Allah menerangkan (hukum ini) kepadamu, supaya kamu tidak sesat. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (Q.S. An-Nisaa [4]: 176)

Khusus untuk seorang istri, ia mendapat seperempat dari peninggalan suaminya jika sang suami tidak memiliki keturunan. Dan, istri mendapat waris seperdelapan dari suami jika dia (suami) memiliki keturunan, baik itu darinya ataupun dari istrinya yang lain.

Bagaimana seharusnya bersikap ketika kita mengalami pembagian warisan yang tidak sesuai hukum Islam?

Bila proses dalam pembagian harta waris tidak sesuai dengan apa yang diperintah Al-Quran dan sunnah, maka bukan berati Islam melarang hukum tersebut (misalnya hukum adat dan negara). Bila hukum adat dan hukum negara tersebut merujuk pada hukum yang telah ditentukan Al-Quran dan hadits, maka justru kita wajib untuk menaati bahkan mengamalkannya. Contohnya adalah hukum waris di Negara kita yang terangkum dalam Kompilasi Hukum Islam yang notabene merujuk pada keterangan Al-Quran dan sunnah Rasul. Kompilasi ini menjadi pedoman Pengadilan Agama untuk menyelesaikan sengketa waris.

Pesan ustadz untuk pembaca MaPI?

Insya Allah, penjelasan tadi dapat menerangakan betapa ilmu waris adalah ilmu yang bertujuan mulia. Dalam ilmu waris ada keadilan, kebersamaan dan kemaslahatan bersama. Oleh karena itu, suatu hal yang aneh bila kita mencari hukum selain hukum dari Allah. Mari kita renungkan ayat ke-50 surat Al-Maidah yang artinya, “Apakah hukum jahiliyah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin?” Tentu saja, Allah adalah Dzat yang paling bijaksana dalam mengambil keputusan sebagaimana firmannya dalam ayat ke-8 surat At-Tiin yang arinya, “Bukankah Allah hakim yang seadil-adilnya?” [Ahmad]

Fokus 5

EMPAT HAL YANG WAJIB DIKETAHUI DALAM HUKUM WARIS
Prof. Dr. H. Atjep Djazuli
(Dosen Pasca Sarjana UIN & Ketua Dewan Syariah Bank BJB Syariah

Hukum waris adalah bagian dari syariat Islam. Karenanya, dalam membuat peraturan dan mengimplementasikannya secara praktis, para ahli hukum harus merujuk pada Al-Quran dan hadits Rasulullah Saw. Berbicara hukum waris dalam Islam, kita akan bersentuhan dengan istilah faraidl yang secara bahasa berarti kadar atau bagian. Dalam hal ini, kita pun dituntut untuk mengetahui empat prinsip dasar pembagian warisan.

Pertama, tulus dan jujur serta penghambaan diri. Prinsip ini diperlukan untuk menaati segala ketentuan Al-Quran dan hadits. Penjelasan umum angka 2 (dua) alinea keenam Undang-undang Nomor 7 tahun 1989 Tentang Peradilan Agama memberi hak opsi kepada para pihak untuk bebas menentukan pilihan hukum waris mana yang akan dipergunakan dalam menyelesaikan pembagian waris, telah dinyatakan dihapus oleh UU No. 3 Tahun 2006 Tentang Perubahan atas UU No. 7 Tahun 1989 Tentang Peradilan Agama.
Penghapusan tersebut berarti telah membuka pintu bagi umat Islam untuk melaksanakan hukum waris Islam dengan kaffah yang pada akhirnya ketulusan hati untuk menaati hukum waris secara Islam adalah pilihan yang terbaik. Landasan kesadarannya adalah firman Allah Swt. surat Ali Imran ayat ke-85, “Barang siapa menuntut agama selain Islam, maka tiadalah diterima dari padanya, sedang dia di akhirat termasuk orang-orang merugi.”

Penghambaan diri (ta’abbudi) adalah melaksanakan pembagian waris secara hukum Islam yang merupakan bagian dari ibadah kepada Allah Swt. yang akan berpahala bila ditaati seperti layaknya mentaati pelaksanaan hukum-hukum Islam lainnya. Ketentuan demikian dapat kita lihat, setelah Allah Swt. menjelaskan tentang hukum waris secara Islam sebagaimana dijelaskan dalam surat An-Nisaa ayat 11 dan 12 yang kemudian dikunci dengan ayat 13 dan 14,”Demikianlah batas-batas (peraturan) Allah. Barang siapa mengikut (perintah) Allah dan Rasul-Nya, niscaya Allah memasukkan dia ke dalam surga yang mengalir air sungai di bawahnya, sedang mereka kekal di dalamnya. Dan itulah kemenangan yang besar. Barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya dan melampaui batas-batas (larangan)-Nya, niscaya Allah memasukkan dia ke dalam neraka, serta kekal di dalamnya, dan untuknya siksaan yang menghinakan.” (Q.S. An-Nisaa [4]: 13-14)

Kedua, hak kebendaan (hukukul maliyah) dan hak dasar (thabi’iyah). Bahwa, hanya hak dan kewajiban terhadap kebendaan saja yang dapat diwariskan kepada ahli waris. Sedangkan, hak dan kewajiban dalam lapangan hukum kekeluargaan atau hak-hak dan kewajiban yang bersifat pribadi (seperti suami atau istri, jabatan, keahlian dalam suatu ilmu dan yang semacamnya) tidak dapat diwariskan.

Kewajiban ahli waris terhadap pewaris diatur dalam Kompilasi Hukum Islam pasal 175 menyatakan mengurus dan menyelesaikan sampai pemakaman jenazah selesai, menyelesaikan baik hutang-hutang berupa pengobatan, perawatan termasuk, kewajiban pewaris maupun menagih piutang, menyelesaikan wasiat pewaris, membagi harta warisan di antara ahli waris yang berhak.

Sedangkan, hak-hak dasar dari ahli waris sebagai manusia artinya adalah meskipun ahli waris itu seorang bayi yang baru lahir atau seseorang yang sedang sakit (menghadapi kematian tetapi masih hidup ketika pewaris meninggal dunia), begitu juga suami istri yang belum bercerai walaupun sudah pisah tempat tinggalnya, maka dipandang pantas untuk mewarisi. Hak-hak dari kewarisan ini ada empat macam penyebab seorang mendapat warisan, yakni hubungan keluarga, perkawinan, wala dan seagama.
Hubungan keluarga yaitu hubungan antar orang yang mempunyai hubungan darah baik dalam garis keturunan lurus ke bawah (anak cucu dan seterusnya) maupun ke samping (saudara). Kebalikan dari ketentuan tersebut, hukum Islam menentukan beberapa macam penghalang kewarisan yaitu murtad, membunuh dan hamba sahaya, sedangkan dalam Kompilasi Hukurn Islam penghalang kewarisan kita jumpai pada pasal 173.

Keharusan, kewajiban (ijbari). Bahwa dalam hukum kewarisan Islam secara otomatis peralihan harta dari seseorang yang telah meninggal dunia (pewaris) kepada ahli warisnya sesuai dengan ketetapan Allah Swt. tanpa digantungkan pada kehendak seseorang baik pewaris maupun ahli waris. Unsur keharusannya (ijbari/compulsory) terutama terlihat dari segi dimana ahli waris (tidak boleh tidak) menerima berpindahnya harta pewaris kepadanya sesuai dengan jumlah yang telah ditentukan oleh Allah.

Ketiga, prinsip bilateral dan perorangan. Seseorang menerima hak kewarisan dari kedua belah pihak yaitu dari kerabat keturunan laki-laki dan dari kerabat keturunan perempuan. Prinsip bilateral ini dapat dilihat dalam Al-Quran, “Untuk laki-laki ada bagian dari peninggalan ibu bapak dan karib kerabat yang terdekat, dan untuk perempuan-perempuan ada bagian pula dari peninggalan ibu bapak dan karib yang terdekat, baik sedikit ataupun banyak, sebagai bagian yang telah ditetapkan.” (Q.S. An-Nisaa [4]: 7)

Harta warisan dapat dibagi-bagi pada masing masing ahli waris untuk dimiliki secara perorangan. Dalam pelaksanaannya, seluruh harta warisan dinyatakan dalam nilai tertentu yang kemudian dibagi-bagikan kepada ahli waris yang berhak menerimanya menurut kadar bagian masing-masing.

Keempat, prinsip keadilan yang berimbang. Harus ada keseimbangan antara hak yang diperoleh seseorang dari harta warisan dengan kewajiban atau beban biaya kehidupan yang harus ditunaikannya. Laki-laki dan perempuan misalnya, mendapat bagian yang sebanding dengan kewajiban yang dipikulnya masing-masing (kelak) dalam kehidupan keluarga dan masyarakat. Seorang laki-laki menjadi penanggung jawab dalam kehidupan keluarga, mencukupi keperluan hidup anak dan istrinya (Q.S. [2]: 233) sesuai dengan kemampuannya.

Apabila terjadi suatu keadaan di mana jumlah bagian dari semua ahli waris lebih besar dari masalah yang ditetapkan atau sebaliknya (jumlah bagian dari semua ahli waris yang ada lebih kecil dari asal masalah yang ditetapkan), Kompilasi Hukum Islam tentang menyatakan:

Pasal 192: “Apabila dalam pembagian harta warisan di antara para ahli waris dzawil furud menunjukkan bahwa angka pembilang lebih besar dari pada angka penyebut dinaikkan sesuai dengan angka pembilang, dan baru sesudah itu harta warisan dibagi secara aul menurut angka pembilang.”

Pasal 193: “Apabila dalam pembagian harta warisan di antara para ahli waris dzawil furud menunjukkan bahwa angka pembilang lebih kecil dari pada angka penyebut, sedangkan tidak ada ahli waris asabah, maka angka pembagian harta warisan tersebut dilakukan secara rad, yaitu sesuai dengan hak masing-masing ahli waris sedangkan sisanya dibagi secara berimbang di antara mereka.”

Dengan merujuk pada keempat prinsip hukum waris tersebut, maka penyimpangan terhadap ketentuan waris secara Islam semestinya tidak terjadi.

Lalu, bagaimana dengan sebagian masyarakat kita yang lebih memilih menggunakan hukum adat dalam hal pembagian waris? Hukum adat waris erat hubungannya dengan sifat-sifat kekeluargaan dalam masyarakat hukum yang bersangkutan; baik Patrilineal, Matrilineal maupun Parental. Tidak semua masyarakat menjalankan hukum waris ini. Namun memang, di beberapa daerah hukum waris ini masih dipegang teguh.

Sebenarnya, pengoperan warisan dapat terjadi pada masa pemiliknya masih hidup yang disebut penghibahan atau hibah wasiat dan dapat pula setelah pemiliknya meninggal dunia yang disebut warisan. Dasar pembagian warisan adalah kerukunan dan kebersamaan serta memperhatikan keadaan istimewa dari tiap ahli waris. Pembagian warisan juga dapat ditunda atau pun dibagikan hanya sebagian saja meski tetap harus dilihat dari sifat, macam, asal dan kedudukan hukum dari barang-barang warisan tersebut.

Mengenai sistem pengaturan pembagian warisan, kita mengenal tiga metoda. Pertama, sistem kewarisan individual. Harta peninggalan dapat dibagi-bagikan kepada para ahli waris seperti dalam masyarakat Jawa. Kedua, sistem kewarisan kolektif. Harta peninggalan itu diwarisi secara bersama-sama para ahli waris. Misalnya harta pusaka tidak dimiliki atau dibagi-bagikan dan hanya dapat dipakai atau hak pakai. Ketiga, sistem kewarisan mayorat. Harta peninggalan diwariskan keseluruhan atau sebagian besar jatuh pada salah satu anak saja. Sistem kewarisan mayorat laki-laki yaitu harta peninggalan jatuh kepada anak-anak laki-laki dan mayorat perempuan yaitu harta peninggalan jatuh pada anak perempuan tertua.

Perlu dipahami pula bahwa tidak semua harta peninggalan dapat diwariskan kepada ahli waris. Alasannya adalah karena sifatnya (seperti barang-barang milik bersama atau milik kerabat), kedudukan hukumnya (seperti barang kramat, kasepuhan, tanah bengkok, tanah kasikepan), serta karena pembagian warisan ditunda (misalnya karena ada anak-anak yang belum dewasa, dan lain sebagainya). [Ahmad, disarikan dari hasil wawancara]

Fokus 6

TIPS: MEMBAGI WARISAN SECARA ADIL DAN MENENTRAMKAN

Pada dasarnya, perselisihan gara-gara berebut warisan disebabkan oleh pembagian waris tidak dijalankan dengan benar sesuai syariat Islam. Masing-masing ahli waris merasa tidak menerima harta waris dengan adil atau ada ketidaksepakatan antara masing-masing ahli waris tentang hukum yang akan mereka gunakan dalam membagi harta warisan. Akibatnya, hubungan persaudaraan bisa berantakan jika masalah pembagian harta warisan ini tidak dilakukan dengan adil. Untuk menghindari masalah tersebut, sebaiknya kita ikuti ketentuan berikut ini:

Pertama, ikuti hukum pembagian waris dalam Islam atau hukum lain yang merujuk pada syariat Islam karena didalamnnya terdapat aturan waris yang sangat teratur dan adil. Syariat Islam telah menetapkan hak pemindahan kepemilikan seseorang sesudah meninggal dunia kepada ahli warisnya, dari seluruh kerabat dan nasabnya, tanpa membedakan antara laki-laki dan perempuan, besar atau kecil.

Kedua, semua keperluan dan pembiayaan pemakaman pewaris hendaknya menggunakan harta miliknya dengan catatan tidak boleh berlebihan. Keperluan-keperluan pemakaman tersebut menyangkut segala sesuatu yang dibutuhkan almarhum, sejak wafatnya hingga pemakamannya. Di antaranya, biaya memandikan, pembelian kain kafan, biaya pemakaman, dan sebagainya hingga almarhum sampai di tempat peristirahatannya yang terakhir. Satu hal yang perlu untuk diketahui dalam hal ini ialah bahwa segala keperluan tersebut akan berbeda-beda tergantung perbedaan keadaan almarhum, baik dari segi kemampuannya maupun dari jenis kelaminnya.

Ketiga, hendaklah utang piutang yang masih ditanggung pewaris ditunaikan terlebih dahulu. Artinya, seluruh harta peninggalan pewaris tidak dibenarkan dibagikan kepada ahli warisnya sebelum utang piutangnya ditunaikan terlebih dahulu. Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah Saw. “Jiwa (ruh) orang mukmin bergantung pada utangnya hingga ditunaikan.”

Keempat, wajib menunaikan seluruh wasiat pewaris selama tidak melebihi jumlah sepertiga dari seluruh harta peninggalannya. Hal ini jika memang wasiat tersebut diperuntukkan bagi orang yang bukan ahli waris serta tidak ada protes dari salah satu atau bahkan seluruh ahli warisnya. Adapun, penunaian wasiat pewaris dilakukan setelah sebagian harta tersebut diambil untuk membiayai keperluan pemakamannya, termasuk diambil untuk membayar utangnya.

Kelima, bila ternyata wasiat pewaris melebihi sepertiga dari jumlah harta yang ditinggalkannya, maka wasiatnya tidak wajib ditunaikan kecuali dengan kesepakatan semua ahli waris. Hal ini berlandaskan sabda Rasulullah Saw. ketika menjawab pertanyaan Sa’ad bin Abi Waqash r.a. yang pada saat itu tengah sakit dan berniat menyerahkan seluruh harta yang dimilikinya ke baitulmal. Rasulullah Saw. pun bersabda: “... Sepertiga, dan sepertiga itu banyak. Sesungguhnya bila engkau meninggalkan para ahli warismu dalam keadaan kaya itu lebih baik daripada meninggalkan mereka dalam kemiskinan hingga meminta-minta kepada orang.” Setelah itu, barulah seluruh harta peninggalan pewaris dibagikan kepada para ahli warisnya sesuai ketetapan Al-Quran, sunnah dan kesepakatan para ulama (ijma). Dalam hal ini, pembagian dimulai dengan memberikan warisan kepada ashhabul furudh (ahli waris yang telah ditentukan jumlah bagiannya semisalnya ibu, ayah, istri, suami, dan lainnya), kemudian kepada para ‘ashobah (kerabat almarhum yang berhak menerima sisa harta waris jika memang masuh ada sisa). Hal ini didasarkan pada firman Allah Swt. “...Jika kamu mempunyai anak, maka para istri memperoleh seperdelapan dari harta yang kamu tinggalkan sesudah dipenuhi wasiat yang kamu buat atau (dan) sesudah dibayar hutang-hutangmu...” (Q.S. An-Nisaa [4]: 12). Sesuai ketentuan, anak laki-laki mendapat dua kali lipat bagian anak perempuan. Sungguh pun demikian, jika para ahli waris ingin membagi rata seluruh harta benda dan mereka saling merelakan secara tulus, maka hal itu diperbolehkan dalam ajaran Islam.

Keenam, jangan memperturutkan hawa nafsu dalam rapat pembagian warisan. Memang, harta benda serta segala yang berbau duniawi kerap menyilaukan mata. Namun, tidak semestinya kita berebut harta yang ditinggalkan orangtua demi memperturutkan dorongan rakus pada keindahan duniawi.

Dengan mengikuti syariat Islam dalam menyelesaikan permasalahan yang sangat sensitif ini, kita dapat saling mengingatkan serta menjauhkan diri dari prilaku zalim, memakan harta yang bukan menjadi hak, serta mengontrol dan berhati-hati dalam usaha mendapatkan dan membelanjakan harta benda. Sebab, jika harta benda diperoleh dengan cara yang haram atau dilarang oleh ajaran Islam, maka akan menimbulkan bahaya, baik di dunia maupun di akhirat. Bahkan, Rasulullah Saw. mengistilahkan hal itu tak ubahnya dengan memakan bara api.

Sebagai bahan renungan, tidak ada salahnya kita membaca ayat ke-29 surat An-Nisaa yang artinya, “Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil...” Semoga kita semua dapat terhindar dari hal sedemikian. Amin. [Ali]

Editorial

MENANTI MENTRI YANG AMANAH

Perombakan kabinet kali ini sesungguhnya menjadi momentum emas bagi Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) untuk meninggalkan jejak harum di sisa masa pemerintahannya. Melalui perombakan kabinet, diharapkan kinerja kabinetnya makin kinclong. Namun, harapan rakyat agar SBY melakukan perubahan fundamental ternyata tidak menjadi kenyataan. Formasi kabinet baru yang diberi nama Kabinet Indonesia Bersatu II (KIB II) itu jelas-jelas tidak memuaskan aspirasi publik karena masih kental dengan unsur politik dan nama-nama yang terindikasi kasus korupsi (semisal Muhaimin Iskandar dan Andi Mallarangeng) pun masih dipertahankan. Padahal sebelumnya, SBY sudah berjanji bahwa reshuffle kali ini bebas dari politik ‘dagang sapi’ dan steril dari intervensi parpol-parpol koalisi. Kenyataannya, hal tersebut tidaklah terbukti.

Selain itu, penambahan kursi wakil mentri dari 10 menjadi 19 orang membuat publik bertanya-tanya arah dan konsep perombakan yang dilakukan SBY. Kendati SBY membantah tuduhan boros karena anggaran fasilitas wakil mentri berbeda dengan fasilitas mentri, kehadiran wakil-wakil mentri yang langsung ditunjuk oleh presiden dikhawatirkan akan menghambat kinerja kabinet. Sejumlah pengamat menyatakan bahwa penunjukan langsung wakil mentri seperti yang dilakukan SBY, secara prinsip keliru. Wakil menteri jelas bukan anggota kabinet dan semestinya dipercayakan saja pemilihannya kepada mentri selaku pembantu presiden. Banyak kalangan bertanya-tanya, mengapa perombakan kabinet yang fokusnya ialah kinerja mentri ternyata hanya menghasilkan pembengkakan jabatan wakil mentri. Hal ini seolah-olah menyatakan bahwa mentri-mentri tersebut tidak berprestasi karena ketiadaan wakil yang pas dan cukup. Itu sama saja dengan lain yang ditanya lain pula yang dijawab.

Padahal, di dunia manajemen sekarang semakin diyakini bahwa organisasi yang terlalu gemuk memberatkan kinerja. Karena itu, efisiensi dan efektivitas hanya dicapai melalui postur organisasi yang ramping. Dengan menambah wakil mentri dari 10 menjadi 19 jelas telah terjadi sebuah pembengkakan. Konsekuensinya yang amat jelas ialah pembengkakan biaya.

Namun bagaimana pun, susunan kabinet baru sudah diumumkan. Alih-alih terjebak dalam pusaran pro-kontra atas sesuatu yang sudah terjadi, fokus saat ini adalah memaksa KIB II untuk sungguh-sungguh bergerak. Waktu dua tahun yang tersisa adalah sangat pendek sehingga untuk mencapai tujuan, mereka harus berlari cepat. Ancaman resesi global dan persoalan ketahanan pangan adalah dua dari sekian tantangan yang harus segera disentuh dengan skala prioritas.

Kita berharap, KIB II bisa menjalankan amanah yang diembankan kepada mereka karena posisi mentri adalah amanah dalam konteks bernegara. Amanah yang dibebankan kepada para pemegang amanah (pejabat negara) harus dipikul dengan sebaik-baiknya karena hal itu memiliki dua perspektif pertanggungjawaban, horizontal (habluminannas) dan vertikal (habluminallah). Jika hanya mengejar kekuasaan saja dan tidak amanah, berarti mereka telah lalai dan kelak di kemudian hari harus menanggung konsekuensi atas kelalaian tersebut di hadapan Allah Swt. [Ali]

Selusur

DRAMA PEMBEBASAN TAHANAN PALESTINA
(Laporan Langsung dari Gaza)


18 Oktober 2011 menjadi hari yang sangat bersejarah bagi perjuangan rakyat Palestina, khususnya bagi keluarga pejuang. Betapa tidak, 477 tahanan Palestina akhirnya bisa bernafas lega setelah bertahun-tahun berada dalam penjara zionis Israel. Pertukaran 1.027 tahanan Palestina dengan seorang tentara Israel berpangkat sersan (Gilad Shalit) telah mencapai  tahap pertamanya. Sedangkan, tahap kedua akan berlangsung dua bulan mendatang dengan sisa 550 tahanan yang akan dibebaskan kemudian. Tahanan yang dibebaskan telah menjalani masa penahanan yang berbeda-beda. Ada yang sudah ditahan selama lima tahun, 15 tahun, 25 tahun bahkan ada yang sudah 35 tahun lamanya mendekam di penjara Israel.

Bertempat di lapangan hijau Katibah Gaza City, digelar acara penjemputan bagi para tahanan rakyat Palestina yang berhasil dibebaskan pada tahap pertama. Keharuan dan banjir air mata tak dapat dihindarkan ketika rakyat Palestina di Gaza menyambut kembalinya sanak keluarga mereka yang sudah sekian lama ditahan oleh zionis Israel. Enam relawan Indonesia turut menjadi saksi peristiwa bersejarah ini. Bahkan, relawan MER-C diberi kesempatan untuk memberikan sambutannya sebagai wakil dari Indonesia.
 
Sejak pukul 09.00 pagi waktu Gaza, puluhan ribu masyarakat Gaza telah memadati setiap sudut lapangan hijau Katibah dan area sekitarnya. Ribuan pasukan keamanan pun terlihat bersiaga penuh di sudut jalan-jalan utama pusat kota Gaza dengan berseragam lengkap. Dari pasukan berkuda, pasukan bermotor dan truk-truk pengangkut terlihat sibuk lalu lalang mempersiapkan pengamanan. Berbeda dengan pasukan keamanan di negara-negara lainnya, pasukan keamanan di Jalur Gaza mayoritas menggunakan penutup wajah yang selain berfungsi sebagai langkah ribat (kehati-hatian) juga untuk menghindari penyakit riya (ingin dipuji).

Para ‘mantan’ tahanan yang semula dijadwalkan tiba pukul 09.00, ternyata mengalami keterlambatan karena satu dan lain hal hingga akhirnya baru tiba pukul 16.50. Mereka dikabarkan keluar dari penjara Israel melalui pintu perbatasan antara Israel dan Mesir. Kemudian, mereka konvoi masuk ke kota Gaza melalui pintu perbatasan Rafah, perbatasan antara Palestina dan Mesir. Acara penyambutan ini sendiri diawali dengan konvoi Perdana Menteri Ismail Haniya bersama beberapa Kementerian lainnya yang tiba pukul 15.50 waktu setempat.

Mengisi waktu menunggu, para pengunjung dihibur dengan berbagai pertunjukan. Mulai dari konser para munsyid (penyanyi nasyid) yang membawakan lagu-lagu pembangkit semangat, pembacaan puisi-puisi mengunggah yang dibawakan oleh bocah-bocah Gaza, dan seni tari tradisional dabka yang juga dibawakan oleh anak-anak. Mengingat acara ini adalah perayaan tercapainya kesepakatan ‘terbesar’  dalam sejarah perjuangan rakyat Gaza, maka tidak tanggung-tanggung grup nasyid asal Yordania yang sedang naik daun di wilayah Arab pun dihadirkan untuk mengibur masyarakat Gaza.

Relawan Indonesia Beri Sambutan di Acara Pembebasan Tahanan Palestina
Enam Relawan MER-C yang tengah bertugas mengawal proses pembangunan RS Indonesia di Jalur Gaza turut hadir dan menjadi saksi pertukaran tahanan terbesar sepanjang sejarah. “Kami merasa bersyukur bisa berada di tengah-tengah  mereka ketika mereka berbahagia,” ungkap Abdillah Onim, Ketua MER-C Cabang Gaza yang terharu karena relawan Indonesia mendapat kehormatan untuk naik ke atas panggung dan memberikan sambutan di hadapan ratusan ribu rakyat Palestina yang memenuhi lapangan Katibah.

“Allaahu Akbar! Allaahu Akbar! Allaahu Akbar!” Gemuruh suara takbir puluhan ribu masyarakat Gaza bergema di lapangan Katibah. Namun kali ini, bukan pimpinan Hamas atau pun Fatah yang mengomandoi pekikan takbir tersebut. Bukan pula sang Perdana Mentri Ismail Haniya. Melainkan Abdurahman bin Kartono, salah seorang relawan MER-C Indonesia asal Wonogiri Jawa Tengah yang ditunjuk memberikan sambutan mewakili Indonesia. Abdurrahman naik ke atas panggung didampingi oleh Ir. Edy Wahyudi dan Darusman yang masing-masing membawa bendera Indonesia dan Palestina. Kedua bendera ini dikibarkan selama wakil dari Indonesia memberikan sambutannya. Gema takbir seakan memecah lapangan Hijau Katibah di Gaza City ketika nama Indonesia disebutkan. Pekikan “Indonesia bersama Palestina menyambut para tahanan!” pun bergemuruh di lapangan Katibah.

“Kami mewakili rakyat Indonesia yang berkesempatan hadir di acara ini mengucapkan selamat datang kepada para tahanan yang bebas dan salam dari rakyat Indonesia. Ingatlah wahai rakyat Palestina bahwa kami atas nama 200 juta muslim Indonesia akan terus berjuang bersama kalian untuk kebebasan Palestina. Kami sampaikan salam dari rakyat Indonesia untuk rakyat Palestina di Jalur Gaza!” teriak Abdurrahman penuh semangat.

Ucapan Terima Kasih Perdana Mentri Ismail Haniya
Setelah panitia membacakan satu persatu nama dan profil para mantan tahanan, acara dilanjutkan dengan berbagai sambutan dari anggota Parlemen. Acara hari itu mencapai puncaknya ketika Perdana Mentri Ismail Haniya menaiki panggung yang diikuti oleh 292 mantan tahanan laki-laki dan seorang mantan tahanan perempuan. Serentak, para hadirin pun berdiri dari tempat duduknya dan menggemakan takbir yang kali ini dipimpin langsung oleh sang Perdana Mentri.

Dalam pidatonya, Ismail Haniya menyampaikan bahwa pencapaian kesepakatan ini adalah merupakan titik perubahan strategi konflik Palestina. Ini juga merupakan salah satu buah kesabaran, perlawanan dan perjuangan selama ini. Sebelum menutup pidatonya, Ismail Haniya juga mengucapkan rasa terima kasih yang sebesar-sebesarnya terhadap bebagai pihak yang berhasil merealisasikan kesepakatan pertukaran tahanan ini, terutama kepada Pemerintah baru Mesir.

Lapangan Katibah yang pada siang hari hanya dipadati oleh puluhan ribu partisipan, menurut laporan resmi panitia penyelenggara, pada sore hari membludak mencapai 200 ribu. Linangan air mata kebebasan para mantan tahanan diiringi oleh tetesan air mata 200 ribu lebih masyarakat Gaza yang membanjiri lapangan Katibah. Takbir terdengar menggelegar bersahut-sahutan menggetarkan bangunan-bangunan di sekitarnya. Tampak juga ratusan penghuni rusun sekitar area ikut bersorak memadati  atap-atap rumah dan balkon. Seolah lupa akan berbagai penderitaan yang bertahun-tahun membebani punggung-punggung mereka, sore itu seluruh masyarakat Gaza akhirnya menghirup angin kebebasan yang baru bisa dihirup oleh ratusan saudara mereka hari itu. Seluruh hadirin tenggelam dalam suka cita. Semua berbahagia.

Selama acara berlangsung, pesawat jet F16 terlihat terbang rendah mengelilingi kota Gaza. Namun, hal itu tidak mengurangi antusiasme warga Gaza untuk mengikuti acara penyambutan tahanan yang dikoordinir oleh Pemerintahan Hamas. Kubu Fatah tak ketinggalan juga tampak hadir dalam acara tersebut. [Ahmad/Tim MER-C]

MaPIklopedi

INI YANG HARUS DIPERHATIKAN KETIKA BERJALAN-JALAN

Penat dengan rutinitas sehari-hari, Anda pun berniat untuk sejenak melepaskan diri dari berbagai kesibukan yang tidak jarang membuat stress. Pilihannya; Anda dapat pergi ke mall untuk window-shopping (yang dijamin akan menambah stres karena Anda harus menahan keinginan berbelanja), pergi ke bioskop (untuk sekadar mencaci maki akting para aktris murahan yang cuma bermodal paras menawan), mengunjungi teman lama atau saudara (meski Anda tahu ujung pembicaraan akan berakhir pada pertanyaan kapan menikah, kapan punya anak, atau kapan beli rumah baru), atau sekadar pergi berjalan-jalan di taman atau hutan kota untuk menghirup udara segar serta menyelesaikan baca novel yang sudah hampir sebulan ini belum selesai dibaca.

Ya, jalan-jalan adalah sebuah aktivitas ringan yang tidak saja dapat menyegarkan pikiran tapi juga baik untuk kesehatan fisik. Coba hitung, seberapa sering Anda melakukan aktivitas ini mengingat kalau pergi ke mana pun kita selalu menggunakan kendaraan, baik motor maupun mobil. Pilihan lokasi jalan-jalan yang tepat, misal objek wisata alam, juga dapat menggugah rasa syukur kita kepada Sang Pencipta karena telah mengaunerahkan keindahan alam untuk kita nikmati dan tentu saja kita jaga. Karenanya, ajaklah anggota keluarga yang lain (jika memang Anda tidak sedang ingin menyendiri) untuk bersama-sama mentadaburi keindahan alam dalam rangka jalan-jalan pagi atau sore kali ini.

Membawa bekal makanan atau minuman, bahkan kalau itu hanya sebotol air mineral, adalah sesuatu yang tidak boleh dilupakan. Bukankah saat berjalan-jalan kita banyak menghabiskan energi atau cairan tubuh yang karenanya harus segera diisi ulang? Tidak boleh dilupakan juga adalah aturan atau adab ketika berjalan-jalan. Islam telah menggariskan beberapa aturan berjalan-jalan yang harus kita indahkan. Berikut beberapa aturan tersebut.

Tidak perlu tergesa-gesa, pun tidak berjalan dengan terlalu lamban. Berjalanlah dengan sikap wajar dan tawadhu. Jangan berjalan sambil menyombongkan diri dengan mengangkat kepala atau memalingkan wajah dari orang lain karena takabur.
Senantiasa memelihara pandangan. Ini penting karena pada saat berjalan-jalan, sudah pasti kita akan menemui atau berpapasan dengan banyak orang, baik muhrim atau pun non-muhrim. Memang, lelaki banyak dikesankan yang selalu ‘jelalatan’ matanya bila melihat wanita cantik, namun aturan menjaga pandangan ini juga berlaku bagi wanita yang bukan tidak mungkin ‘jelalatan’ juga bila melihat lelaki tampan.

Cintai lingkungan sekitar (lokasi jalan-jalan) dengan tidak membuang sampah sembarangan. Jika Anda membawa anak, sekaranglah saatnya Anda mengajarkan bagaimana cara mencintai lingkungan dengan menyuruh buah hati membuang bungkus permennya di tempat sampah terdekat. Perlu diperhatikan juga agar kita tidak membuang kotoran (biasanya buang air kecil bagi laki-laki) di tempat umum yang memang menjadi lokasi banyak orang berlalu lalang. Carilah tolilet terdekat apabila memang Anda sudah tidak bisa menahan ‘panggilan alam’ yang satu itu.

Siapa bilang Anda tidak dapat beribadah sembari berjalan-jalan? Menyingkirkan paku dari jalanan agar tidak ada orang atau kendaraan yang celaka (terkena paku) atau meminggirkan batang pohon yang jatuh melintang di jalan agar orang yang berlalu lalang tidak terhalang adalah ibadah yang berpahala surga. Bukan bermaksud untuk menggampangkan tapi itulah yang tertera dalam salah sebuah hadits.

Saat tengah berjalan-jalan, kadang kita menemui orang yang tidak kita kenal yang tiba-tiba mengucapkan salam. Berbaiksangkalah dan jawab salam tersebut. Menjawab salam hukumnya wajib. Selama orang yang tidak kenal tersebut berlaku sopan, mengapa tidak kita mengajaknya berkenalan agar bertambah lagi saudara (seiman). Bukankah ketika tak kenal kita dianjurkan untuk taaruf?

Menjadi kewajiban seorang muslim juga adalah saling memberi nasihat, bahkan ketika mereka bertemu di jalan. Ya, saat berjalan-jalan kadang kita bertemu dengan teman lama. Daripada bergosip, alangkah baiknya kita saling menasihati. Tentu saja, hal ini disesuaikan dengan kemampuan masing-masing dan jangan ada kesan menggurui.
Kerap kita temui pula ketika sedang berjalan-jalan adalah orang yang bertanya meminta ditunjukkan arah. Jika tidak tahu atau kurang yakin dengan arah yang dimaksud, jangan sekali-kali menunjukkan arah yang salah karena hal itu dapat lebih membingungkan orang yang tersesat tersebut. Jika memang mengetahui arah yang dimaksud, berilah penjelasan dengan sedetil-detilnya karena hal tersebut akan dianggap sebagai sedekah.

Wanita hendaklah berjalan di pinggir (jalan). Pada suatu ketika, Nabi Saw. melihat campur baurnya laki-laki dengan wanita di jalanan, maka beliau bersabda kepada wanita: “Menepilah kalian, kalian tidak layak memenuhi jalan, hendaklah kalian menelusuri tepi jalan.” (H.R. Abu Dawud dan dinilai shahih oleh Al-Albani). [Muslik]

Profil

SAYYID MUHAMMAD HUSEIN TABATABA’I:
HAFIZ AL QURAN DI USIA LIMA TAHUN


Setiap orang tua muslim pasti ingin memiliki anak yang sholeh dan berprestasi. Apalagi setelah memahami bahwa setelah kematian akan terputus segala amal kecuali tiga hal yang salah satunya adalah anak sholeh yang mendoakan kedua orangtuanya. Dan, di antara prestasi islami yang identik dengan indikator kesholehah adalah hafal Al-Quran. Betapa senangnya jika kita bisa memiliki anak yang hafal Al-Quran. Apalagi jika hal tersebut terjadi pada anak usia dini. Ternyata, anak yang dapat menghafal Al-Quran di usia dini bukanlah sesuatu yang mustahil. Hal ini dibuktikan oleh Sayyid Muhammad Husein Tabataba’i yang mulai belajar Al-Quran pada usia dua tahun dan berhasil menghafal 30 juz di usia lima tahun. Luar biasa! Siapakah Sayyid Muhammad Husein Tabataba’i ini? Berikut kisahnya.

Sayyid Muhammad Husein Tabataba’i lahir pada 16 Februari 1991 di kota Qom, sekitar 135 km dari Teheran, Iran. Husein adalah anak ke-3 dari 6 bersaudara. Orangtua Husein menikah ketika mereka masing-masing berusia 17 tahun dan setelah menikah keduanya bersama-sama berusaha menghafal Al-Quran.

Sebelum masa kehamilan, orangtuanya sudah mulai menghafal Al-Quran. Selama hamil dan ketika menyusui, ibu Husein teratur membacakan Al-Quran, selalu berdoa kepada Allah agar dikaruniai anak yang sholeh dan pintar, selalu berwudu sebelum menyusui, rajin pergi ke masjid, berusaha menghafal dan memahami isi Al-Quran, mendekatkan diri pada Al-Quran, menjauhkan diri dari musik-musik yang tidak islami, menghindari percampuran laki-laki dan perempuan dan berbagai bentuk perilaku tidak islami lain yang dapat mengeraskan hati. Setelah Husein lahir, ibunya sering mengajaknya ke kelas dan majlis Quran.

Walaupun saat itu Husein hanya duduk mendengarkan, namun ternyata ia menyerap isi pelajaran. Bahkan, pada usia dua tahun empat bulan, Husein sudah menghafal juz ke-30 secara otodidak yang merupakan hasil dari rutinitas mengikuti aktivitas keluarganya dalam menghafal Al-Quran. Melihat bakat istimewa Husein, ayahnya pun secara serius mengajarkan hafalan Al-Quran juz ke-29 dan memberikan hadiah sebagai pembangkit semangat.

Setelah Husein berhasil menghafal juz ke-29, dia mulai diajari hafalan juz pertama oleh ayahnya. Awalnya, ayahnya menggunakan metode biasa, yaitu dengan membacakan ayat-ayat yang harus dihafal. Biasanya, setengah halaman dalam sehari. Jumlah hafalan pun terus ditingkatkan sampai pada akhirnya ayahnya menyadari kelemahan metode ini, yaitu ketidakmampuan Husein untuk membaca Al-Quran yang menjadikan Husein bergantung pada ayahnya dalam usaha mengulang-ulang ayat-ayat yang sudah dihafalnya. Metode tersebut juga tidak cocok bagi psikologis anak balita.

Selain itu, Husein juga tidak dapat memahami dengan baik makna ayat-ayat yang dihafalnya karena banyak konsep-konsep yang abstrak yang sulit dipahami oleh anak balita. Oleh karena itu, Husein mulai diajari membaca Al-Quran agar dapat mengecek sendiri hafalannya. Ayahnya juga menggunakan isyarat tangan untuk mengajarkan makna ayat-ayat Al-Quran. Husein yang makin lancar memahami isyarat tangan ayahnya kemudian dengan cepat mengucapkan ayat yang dimaksudkan oleh ayahnya. Pada akhirnya, Husein mampu menerjemahkan ayat-ayat ke dalam bahasa sehari-hari dan mampu menggunakan ayat-ayat itu dalam percakapan sehari-hari.

Pada Februari 1998, di Kerajaan Inggris (tepatnya di Hijaz College Islamic University) Husein yang waktu itu baru berusia tujuh tahun menjalani ujian doktoral. Ujian yang harus dilaluinya terdiri dari lima bidang; diantaranya menghafal Al-Quran dan menerjemahkannya ke dalam bahasa ibu (persia), menerangkan topik ayat Al-Quran, menafsirkan dan menerangkan ayat Al-Quran dengan ayat lainya dalam Al-Quran, bercakap-cakap dengan menggunakan ayat-ayat Al-Quran, serta menerangkan makna Al-Quran dengan metode isyarat tangan.

Setelah menjalani ujian selama 210 menit, akhirnya tim penguji memberi nilai 93. Menurut standar yang ditetapkan Hijaz College, peraih nilai 60-70 akan diberi sertifikat diploma, 70-80 diberi sertifikat sarjana kehormatan, 80-90 diberi sertifikat magister kehormatan, dan di atas 90 diberi sertifikat doktor kehormatan (honoris causa). Husein pun dikukuhkan menjadi Doktor Honoris Causa dalam bidang Science of The Retention of The Holy Quran.

Selama di Inggris, Husein juga diundang dalam berbagai majlis yang diadakan komunitas muslim setempat. Umumnya, hadirin ingin menguji kemampuan bocah ajaib tersebut. Uniknya, Husein menjawab semua pertanyaan dengan mengutip ayat Al-Quran. Contohnya, dalam satu forum seseorang bertanya, “Bagaimana pendapatmu tentang budaya Barat?” Husein menjawab, “(Mereka) menyia-nyiakan salat dan memperturutkan hawa nafsunya.” (Q.S. [19]: 59).

Yang lain bertanya, “Apa yang dilakukan Imam Khomeini terhadap Iran?” Husein menjelaskan, “(Dia) membuang dari mereka beban-beban dan belenggu-belenggu yang ada pada mereka.” (Q.S. [7]: 157). Maksudnya, pada masa pemerintahan monarki, rakyat Iran terbelenggu dan tertindas. Lalu Imam Khomeini memimpin revolusi untuk membebaskan rakyat dari belenggu dan penindasan.

Walaupun Husein telah menjadi seorang doktor, ia tetap merupakan anak kecil. Hal ini terlihat ketika ia istirahat ujian. Ia bermain-main seperti layaknya seorang anak kecil biasa. Pada usia Husein yang ke-16, ia menuntut ilmu agama di Hawzan (institut agama Islam negri) di tingkat 8 (setara dengan S1). Menurut Husein, pandangan seorang remaja terhadap Al-Quran harus seperti pandangannya terhadap minyak wangi. Ketika keluar rumah, tentu kita selalu ingin wangi. Maka, kita juga harus mengharumkan jiwa dengan mambaca dan menghayati Al-Quran sehingga kita menjadi insan yang terpuji. Lanjutnya, orang yang selalu bersama Al-Quran tidak akan pernah merasa sedih.

Keistimewaan Husein dibanding anak kecil lain yang hafal Al-Quran adalah kemampuannya memahami makna ayat-ayat Al-Quran dan menggunakannya dalam percakapan sehari-hari. Bahkan, ia mampu memilih ayat tertentu dalam menganalisis suatu masalah. Salah satu nasehat Husein adalah tentang dzikir. Dzikir bermakna menghadirkan Allah baik dalam hati maupun dalam perkataan setiap saat sehingga kita terdorong untuk berbuat baik. Dzikir juga menghidupkan dan menerangi hati manusia, menjauhkan diri dari setan, mengamankan dari kemunafikan, memberi makanan pada jiwa dan memberi kebahagiaan. Ada pun, metode menghafal Al-Quran ala doktor cilik Husein adalah metode isyarat tangan, metode permainan dan metode cerita bergambar.

Ayahanda Husein berpesan, bila orangtua menginginkan anaknya menjadi pencinta dan penghafal Al-Quran, langkah pertama yang harus dilakukan adalah agar orangtua terlebih dahulu mencintai Al-Quran dan rajin membacanya di rumah. Husein, sejak matanya bisa menatap dunia, telah melihat Al-Quran, mendengarkan bacaan Al-Quran dan akhirnya menjadi akrab dengan Al-Quran. [Ali, berbagai sumber]

An-Nisa

SEKELUMIT TENTANG SEKOLAH PRA-NIKAH
Sasa Esa Agustiana

Teh Sasa yang baik hati. Saya Sinta, salah satu peserta sekolah pra-nikah yang teteh bertindak sebagai pembicaranya. Saya ingin mengucapkan terimakasih banyak kepada teteh karena telah memberi pelajaran yang sangat berharga. Dibandingkan pertemuan-pertemuan sekolah pra-nikah sebelumnya, saya pikir tema materi teteh yang paling bagus dan komunikatif.

Satu pelajaran berharga yang saya catat dengan baik adalah bahwa dengan menempatkan (lebih tinggi) cinta kepada Sang Maha Pencipta, masalah (yang seringkali membuat saya  merasa paling menderita di dunia) tidak akan berarti apa-apa. Sekali lagi, terima kasih telah berbagi pengalaman hidup. Semoga teteh mendapat balasan pahala yang berlipat-lipat sehingga dijadikan golongan yang masuk surga. Amin.


Terima kasih atas apresiasinya. Saya juga senang bisa berkenalan dengan teteh Sinta. Semoga kita selalu disayang dan dicintai oleh Allah Swt. Amin.

Pembaca MaPI, sengaja saya kutip e-mail dari salah satu anggota salah satu pelatihan yang pernah saya isi. Tentu saja, hal ini tanpa bermaksud untuk memuji diri sebab sebagus dan sebaik apa pun penilaian kepada saya, tetap yang terbaik dan terbenar adalah Yang Maha Mengetahui segala sesuatu dan uswah atau contoh terbaik adalah Rasulullah Saw. Untuk sekadar berbagi, berikut saya kutip rangkuman materi pelatihan yang saya dan teh Sinta maksud.

Sejatinya, rumah tangga adalah tempat berseminya beberapa hal berikut ini.
1. Sakinah, mawaddah dan rahmah (Q.S. Ar-Ruum [30]: 21).
2. Mitsaqan ghalizha atau perjanjian yang agung antara suami dan istri di hadapan Allah Swt. (Q.S. An-Nisaa  [4]: 21).
3. Sarana meraih pasangan dan keturunan yang menyejukkan mata hati (qurrata ‘ayun) dan melahirkan keturunan dan pemimpin yang bertakwa (Q.S. Al-Furqaan [25]: 74).
4. Hartsullakum atau  ladang  menyemai keeratan batin antara suami dan istri. (Q.S. Al-Baqarah [2]: 223).
5. Libasullahunn atau saling menutupi kekurangan dan kehormatan masing-masing (Q.S. Al-Baqarah [2]: 187).
6. Menjaga diri dan keluarga dari api neraka (Q.S. At-Tahriim  [66]: 6).
7. Berbagi peran (Q.S. An-Nisaa [4]: 34).

Setiap rumah tangga berpotensi timbulnya konflik dikarenakan seribu satu sebab yang  bersumber dari  internal dan eksternal rumah tangga yang bersangkutan. Faktor internal misalnya sikap tidak terbuka, tidak mau berbagai suka-duka, suka berbohong, acuh pada pasangan, tidak mau membantu pasangan, bersaing dengan pasangan, mendiamkan pasangan dan lain sebagainya. Sedangkan faktor eskternal adalah misalnya turut campurnya mertua, ipar dan adanya orang ketiga (wanita/pria idaman lain).

Secara lebih gamblang, berikut beberapa hal yang berpeluang memunculkan konflik dalam rumah tangga. 
1. Pengelolaan keuangan yang tertutup. Masing-masing pasangan mengatur anggaran keuangan sendiri-sendiri tanpa melibatkan atau sepengetahuan pasangannya.
2. Ikut campur keluarga suami atau istri yang hanya memperumit masalah yang tengah dihadapi karena merela akan cenderung membela anggota keluarganya.
3. Tidak saling membantu menyelesaikan permasalah pasangan.
4. Tidak ada kebersamaan. Masing-masing suami atau istri sibuk dengan dunianya dan enggan melibatkan pasangan ke dalam dunianya tersebut.
5. Kurangnya waktu di rumah dengan alasan sibuk bekerja sehingga  tidak ada komunikasi yang intens.
6. Pembagian tugas mengurus dan mendidik anak yang tidak merata (biasanya bapak menyerahkan sepenuhnya hal tersebut kepada ibu).
7. Hadirnya godaan dari pihak ketiga (wanita atau pria idaman lain).

Dalam terminologi Islam, perlakuan suami atau istri yang meremehkan, menjauhi , tidak  menyenangkan, tidak melaksanakn kewajiban, membenci serta mengacuhkan pasangangan disebut nusyuz.

Jika nusyuz dilakukan suami (Q.S. [4]: 128), istri dapat melakukan khulu (Q.S. [2]: 229) yaitu mengembalikan mas kawin pada suaminya atau menggugat cerai terhadap suaminya ke Pengadilan Agama setempat.  Atau, bila khulu dicabut sebelum masa  iddah satu kali quru (istri bersih haidh); maka diharapkan tumbuh perdamaian, perbaikan diri suami untuk menyadari dan memperbaiki diri. Bila lafaz atau ucapan istri ketika meng-khulu suami sama seperti talak suami, maka iddah-nya tiga kali quru. 
Bila nusyuz dilakukan oleh istri (Q.S. [4]: 34), maka jalan keluarnya dilakukan secara bertahap; yaitu suami menasehati istri, suami tidak menggauli istri (tetapi tetap satu ranjang atau satu rumah), suami boleh memukulnya dengan kasih sayang (kalau perlu saja, tapi tidak di daerah yang berbahaya) meski Rasulullah Saw. tidak pernah memukul istrinya, syiqaq (Q.S. [4]: 35) atau melibatkan juru damai yang terdiri dari perwakilan keluarga laki-laki dan dari keluarga wanita untuk mencari perbaikan dan taufik dari Allah, talak atau proses penceraian yang diputuskan oleh  suami (Q.S. [2]: 229-230). 

Saya yakin, artikel ini tidak bisa mewakili dan menggambarkan forum tersebut secara utuh. Tapi, paling tidak penjelasan ini dapat memberikan skema singkat perjalanan harapan, cita dan problematika rumah tangga yang bisa saja saat ini tengah Anda hadapi. Memang, diperlukan sebuah usaha yang keras serta jalan yang berliku untuk bertemu kesejatian cinta Allah Swt. Wallahu ‘alam bishawwab.

Tafakur

RECIPE OF HAPPINESS

Ingredients:
4 glasses of LOVE
2 glasses of PATIENCE
1 glass of FAITH
5 spoons of TENDERNESS
3 glasses of KINDNESS
4 glasses of UNDERSTANDING
1 glass of FRIENDLINESS
5 spoons of HAPPINESS
1 liter of HUMOR
SMILE, QUIETNESS, UNSELFISHNESS and CHEERFULNESS to taste.

Directions:
Take LOVE and PATIENCE, mix with FAITH. Separately combine TENDERNESS, KINDNESS and UNDERSTANDING.
Combine everything and mix with FRIENDLINESS and HAPPINESS.
Sprinkle abundantly with HUMOR.
Bake in sun rays.
Serve every day with generosity of your soul.
Garnish with a SMILE and serve with QUIETNESS, UNSELFISHNESS and CHEERFULNESS.

[Author unknown]

***

RESEP KEBAHAGIAAN

Bahan-bahan:
4 gelas CINTA
2 gelas KESABARAN
1 gelas IMAN
5 sendok KELEMBUTAN
3 gelas KEBAIKAN
4 gelas PENGERTIAN
1 gelas KERAMAHAN
5 sendok KEBAHAGIAAN
1 liter HUMOR
SENYUM, KETENANGAN, KETIDAKEGOISAN dan KECERIAAN secukupnya.

Cara Membuat:
Ambil CINTA dan KESABARAN, campur dengan IMAN. Secara terpisah, gabungkan KELEMBUTAN, kebaikan dan PENGERTIAN.
Kombinasikan semuanya dan bercampur dengan KERAMAHAN dan KEBAHAGIAAN.
Taburi dengan HUMOR.
Panggang dalam sinar matahari.
Sajikan setiap hari dengan kemurahan jiwa Anda.
Hiasi dengan SENYUMdan hidangkan dengan KETENANGAN, KETIDAKEGOISAN dan KECERIAAN.

[Narasi Anonim, diterjemahkan oleh Sly]

Resensi Situs

PANDUAN HAJI & UMRAH ONLINE
Yudha Yudhanto

Haji adalah rukun Islam yang kelima setelah syahadat, salat, zakat dan shaum. Menunaikan ibadah haji adalah bentuk ritual tahunan yang dilaksanakan kaum muslim dari seluruh dunia yang mampu baik secara material, fisik, serta keilmuan. Kegiatan inti ibadah haji dimulai pada tanggal 8 Dzulhijjah ketika jamaah haji bermalam di Mina, wukuf (berdiam diri) di Padang Arafah pada tanggal 9 DZulhijjah, dan berakhir setelah melempar jumrah pada tanggal 10 Dzulhijjah. Masyarakat kita lazim menyebut hari raya Idul Adha sebagai Hari Raya Haji karena bersamaan dengan perayaan ibadah haji ini.

Bagi kita, tekad untuk berangkat haji harus selalu tertanam dalam diri sebagai bagian dari keimanan. Sedangkan, terlaksana atau tidaknya niat ke Tanah Suci tersebut kita serahkan kepada Allah Swt. setelah kita berikhtiar secara maksimal untuk mewujudkannya. Salah satu ikhtiar yang dapat kita lakukan (selain mengumpulkan uang untuk biaya berangkat haji) adalah dengan memperdalam ilmu haji yang saat ini telah banyak dibahas di berbgai media termasuk internet. Sehingga, kita bisa mempelajarinya kapan pun, dimana pun dan dengan siapa pun.

Haji Ifrad, Tamattu, Arbain, Qiran, Thawaf, Jumrah Aqabah, Ula, Wustha, Baqi, Qiblatain, Muzdalifah dan sebagainya merupakan beberapa istilah yang akan sering dibaca dan didengar oleh siapa pun yang sudah atau akan berangkat haji. Untuk mempelajarinya, kita bisa mengikuti pembahasannya melalaui situs-situs berikut ini.

http://www.jurnalhaji.com/
Situs ini merupakan salah satu situs rujukan untuk informasi haji yang favorit dikunjungi. Dari website ini, kita bisa mendapatkan informasi kegiatan ibadah haji yang sedang berlangsung. Di dalamnya kita bisa menyimak berita haji, jadwal shalat, video haji, pengalaman haji, tips haji, hadits tentang haji, peta (digital) kita Mekah dan Madinah serta masih banyak lagi.

http://haji.kemenag.go.id/
Kementrian Agama adalah penanggung jawab dari proses haji penduduk muslim Indonesia. Secara online, mereka juga menyediakan portal khusus haji dan umrah. Kita bisa mendapatkan berita, estimasi keberangkatan haji, galeri haji, multimedia, perundang-undangan tentang haji dan sebagainya.

Video Panduan Perjalanan Haji
Telah datangnya era multimedia membuat belajar tidak hanya dapat dilakukan dengan membaca. Demikian pula halnya dengan haji yang dapat dipelajari dengan cara menonton tayangan VCD/DVD di internet. Dan alhamdulillah, beberapa VCD tersebut bisa kita download atau lihat secara gratis.

Dibawah ini adalah link beberapa video panduan haji dari Depag RI.
1. Persiapan Keberangkatan Jamaah Haji (http://www.kemenag.go.id/index.php?a=artikel&id2=videojhaji1)
2. Barang Bawaan Jamaah Haji (http://www.kemenag.go.id/index.php?a=artikel&id2=videojhaji2)
3. Seragam Jamaah Haji Indonesia (http://www.kemenag.go.id/index.php?a=artikel&id2=videojhaji3)
4. Di Asrama Haji Embarkasi (http://www.kemenag.go.id/index.php?a=artikel&id2=videojhaji4)
5. Di Bandara Indonesia (http://www.kemenag.go.id/index.php?a=artikel&id2=videojhaji5)
6. Keberangkatan Jamaah Haji ke Saudi (http://www.kemenag.go.id/index.php?a=artikel&id2=videojhaji6)
7. Kedatangan Jamaah Haji Di Bandara Jeddah dan Madinah (http://www.kemenag.go.id/index.php?a=artikel&id2=videojhaji7)
8. Shalat Arbain & Ziarah di Madinah (http://www.kemenag.go.id/index.php?a=artikel&id2=videojhaji8)
9. Katering di Madinah (http://www.kemenag.go.id/index.php?a=artikel&id2=videojhaji9)
10. Miqat, Ihram, Thawaf, Sai dan Tahalul (http://www.kemenag.go.id/index.php?a=artikel&id2=videojhaji10)
11. Pemondokan Haji di Arab Saudi (http://www.kemenag.go.id/index.php?a=artikel&id2=videojhaji11)
12. Pengembalian Sisa Uang Pemondokan di Makkah dan Madinah (http://www.kemenag.go.id/index.php?a=artikel&id2=videojhaji12)
13. Wukuf di Arafah (http://www.kemenag.go.id/index.php?a=artikel&id2=videojhaji13)
14. Angkutan Jamaah Haji dan Taraddudi (http://www.kemenag.go.id/index.php?a=artikel&id2=videojhaji14)
15. Mabit di Muzdalifah, Mengambil Batu Kerikil, Serta Melontar Jumrah di Mina (http://www.kemenag.go.id/index.php?a=artikel&id2=videojhaji15)
16. Pemulangan Jamaah Haji Menuju Tanah Air (http://www.kemenag.go.id/index.php?a=artikel&id2=videojhaji16)

Nah, yang ini adalah video bimbingan haji & umroh dari Kementrian Arab Saudi bagi Anda yang ingin mengakses (dan fasih bahasa Arab) panduan haji dalam bahasa Arab.
http://youtu.be/e2sn1UMmYoA
http://youtu.be/vsqcZns_pvc
http://youtu.be/RDLAu7ailpM
http://youtu.be/ze2bG_AXrRc

Peta Digital Kota Mekah dan Madinah
Perlu diakses juga oleh jamaah calon haji adalah peta digital kota Mekah dan Madinah yang akan menjadi lokasi beberapa ritual haji. Anda bisa membukanya di Google.com dan melakukan zooming (pembesaran object) di alamat : http://maps.google.com/maps?ll=21.41454,39.810758&z=14&t=h&hl=en-US

Dengan memperdalam ilmu tentang ibadah haji, diharapkan kita akan lebih termotivasi untuk berhaji. Bagi yang telah berkesempatan melaksanakannya tahun ini, penulis mengucapkan semoga menjadi haji mabrur. Selamat jalan saudara-saudaraku, sampai ketemu lagi di Tanah Air tercinta.

Resensi Musik

PERSEMBAHAN TERBAIK DALAM THE BEST OF OPICK

Di tengah gempuran musisi pop yang coba membawakan lagu bernuansa religi, Opick menjadi semacam antitesis. Betapa tidak, kalau selama ini musik religi (sebagian orang lebih nyaman dengan terminologi nasyid) dikesankan terpisah atau bahkan anti budaya pop, Opick dengan berani memadukan kedua hal tersebut. Hasilnya, lagu-lagu religi Opick pun dapat bersanding dengan lagu-lagu pop pada umumnya. Tidak heran kalau kemudian sejumlah stasiun TV swasta nasional kita mengundangnya tampil bernyanyi bersama dengan musisi pop dalam acara musik yang mereka tayangkan.

Tombo Ati mungkin adalah tonggak sejarah kesuksesan Opick dalam berkarir di belantika musik Indonesia. Melalui lagu inilah pria bernama asli Aunur Rofiq Lil Firdaus ini mulai dikenal banyak orang. Musiknya yang easy-listening dan syairnya yang dalam seperti memberikan nyawa tersediri pada lagu yang sempat mewabahkan demam Tombo Ati pada 2005 ini. Ya, hampir semua orang suka dan hafal syair lagu yang sebagian berbahasa Jawa tersebut.

Setahun berselang, pria yang dilahirkan di Jember (Jawa Timur) pada 16 Maret 1974 ini kembali mengguncang belantika musik Indonesia dengan duetnya bersama Melly Goeslaw dalam lagu Takdir. Penulis masih ingat ketika suatu hari seorang teman bercerita bahwa ia menangis begitu mendengarkan lagu ini. Betapa tidak, penggalan syair lagu tersebut berbunyi, “Bila mungkin hidup hampa dirasa, mungkinkan hati rindukan Dia. Karena, hanya dengan-Nya hati tenang damai jiwa dan raga.” Menyentuh, bukan?

Bagi Opick, karyanya bukanlah sekadar lantunan musik yang enak didengar. Musik hanyalah kemasan dari pesan lirik yang Opick tawarkan dalam setiap lagunya. Spirit ini pula yang mendasari pria yang sempat menulis buku Opick, Oase Spiritual Dalam Senandung ini merilis single selanjutnya; seperti Tobat (2007), Cahaya Hati (2008), serta Shollu Ala Muhammad (2010). Untuk merangkul penggemar ABG, Opick beberapa kali mengajak Rachel Amanda. Dua lagu popular yang dinyanyikan Opick bersama Rachel Amanda adalah Alhamdulillah (2005) dan Maha Melihat (2009).

Apakah usaha islamisasi musik pop oleh Opick lantas membuatnya meninggalkan gaya khas musik religi yang kental dengan tetabuhan alat musik perkusi? Tentu saja tidak. Dalam beberapa lagunya, Opick masih mempertahankan gaya musik tersebut lengkap dengan backing-vocal lantunan dzikir dan shalawat yang membuat lagu-lagunya semakin bernyawa. Simak saja lagu Astaghfirullah (2005) atau Haji (2007). Sudah pasti, kedua lagu tersebut langsung disukai oleh para penggemar fanatik nasyid.

Secara keseluruhan, pria yang sempat berlakon dalam film Kun Fayakuun (2008) dan Di Bawah Langit (2010) ini telah menelurkan delapan buah album. Dimulai dari album berjudul Tak Ada Habisnya (2003), Istighfar (2005), Semesta Bertasbih (2006), Ya Rahman (2007), Cahaya Hati (2008), Di Bawah Langit Mu (2009), hingga Shollu Ala Muhammad (2010). Dan, pada 2011 ini Opick merangkum semua hits-nya dalam album kompilasi yang diberi judul The best of Opick. Di album ini, Opick menambahkan tiga buah lagu baru di samping 11 lagu hitsnya. Ketiga lagu baru tersebut adalah Maha Penyayang, Keagungan-Mu, serta Rumput Bertasbih yang dijadikan lead single yang tentu saja langsung membuat penulis jatuh hati karena musiknya yang riang namun tetap mengajak kita untuk senantiasa berzikir ingat kepada-Nya.

Tentu saja, ini bukan akhir perjalanan karir bermusik Opick karena setelah ini ia akan menyuguhkan persembahan terbaik lainnya. Kita tunggu saja. [Muslik]

***

The Best of Opic Tracklist
01 Assalammualaikum [02:55]
02 Maha Penyayang [04:11]
03 Maha Melihat (Feat. Amanda) [03:36]
04 Shollu Ala Muhammad (Feat. Finalis FLO) [03:28]
05 Tombo Ati [05:21]
06 Rapuh [04:24]
07 Cahaya Hati [04:04]
08 Astaghfirullah [04:54]
09 Takdir (Feat. Melly Goeslaw) [03:52]
10 Bila Waktu T’lah Berakhir [03:58]
11 Haji [04:08]
12 Keagungan-Mu [04:30]
13 Rumput Bertasbih [04:08]
14 Alhamdulillah (Feat. Amanda) [03:46]

Bedah Al-Quran

ANGAN-ANGAN BANI ISRAIL
(Tafsir Al-Quran Surat Al-Baqarah [2]: 94-96)

Dr. Aam Amiruddin, M.Si

(94) Katakanlah: “Jika kamu (menganggap bahwa) kampung
akhirat (surga) itu khusus untukmu di sisi Allah, bukan untuk orang lain, maka inginkanlah kematian(mu), jika kamu memang benar.
(95) Dan sekali-kali mereka tidak akan menginginkan kematian itu selama-lamanya, karena kesalahan-kesalahan yang telah diperbuat oleh tangan mereka (sendiri), dan Allah Maha Mengetahui siapa orang-orang yang aniaya.
(96) Dan sungguh kamu akan mendapati mereka, manusia yang paling loba kepada kehidupan (di dunia), bahkan (lebih loba lagi) dari orang-orang musyrik. Masing-masing mereka ingin agar diberi umur seribu tahun, padahal umur panjang itu sekali-kali tidak akan menjauhkannya daripada siksa. Allah Maha Mengetahui apa yang mereka kerjakan.

***

“Katakanlah: ‘Jika kamu (menganggap bahwa) kampung akhirat (surga) itu khusus untukmu di sisi Allah, bukan untuk orang lain, maka inginkanlah kematian(mu), jika kamu memang benar.” (Q.S. Al-Baqarah [2]: 94)

Seperti dijelaskan pada ayat-ayat terdahulu bahwa kesombongan Bani Israil membuat mereka enggan mengakui kebenaran ajaran yang dibawa oleh Rasulullah Saw. Mereka merasa bahwa argumentasi mereka lebih kuat daripada penjelasan yang dikemukakan Nabi Muhammad Saw. Menurut mereka, ajaran yang dianut selama ini merupakan ajaran yang tidak dapat diganti. Mereka juga berpendapat bahwa melimpahnya nikmat yang tidak pernah diberikan kepada umat lain adalah petunjuk bahwa merekalah kaum terpilih yang dengan serta merta akan menjadi penghuni surga tanpa melalui proses panjang penghisaban. Karena itu, Allah menantang mereka untuk membuktikan keangkuhan tersebut.

Pada ayat ke-94 ini, Allah menantang Bani Israil untuk menghadapi kematian jika memang mereka yakin bahwa surga khusus diperuntukkan bagi mereka. Mengapa jalan pembuktian (dengan kematian) ini yang harus dipilih? Tidak lain karena kematian adalah ujian paling puncak bagi orang-orang yang menjadikan hidup ini sebagai investasi menghadapi akhirat; orang-orang yang pasrah, tunduk, dan menyucikan hati mereka dari segala bentuk keterikatan; orang-orang yang menanti kehidupan berikut dengan keberanian menerima buah tindakannya. Inilah orang-orang yang betul-betul siap dalam menyongsong kebebasan puncak yang berasal dari kematian. Hasrat menanti kematian dengan hati bersih dan kesadaran jernih mengenai yang telah dilakukan adalah indikator dari bentuk ketidak-terikatan dengan dunia ini dan keberanian menyongsong kehidupan berikutnya.

Lantas, apa yang dilakukan Bani Israil dalam menjawab tantangan tersebut?

“Dan sekali-kali mereka tidak akan menginginkan kematian itu selama-lamanya, karena kesalahan-kesalahan yang telah diperbuat oleh tangan mereka (sendiri), dan Allah Maha mengetahui siapa orang-orang yang aniaya.” (Q.S. Al-Baqarah [2]: 95)

Apatah di kata, mereka sadar betul akan kekufuran dan keangkuhan yang mereka lakukan sendiri sehingga tantangan Allah menjadi mustahil dilakukan sebagaimana dijelaskan dalam ayat ke-95 tersebut. Ibnu Abbas mengatakan: “Seandainya mereka menginginkan kematian itu, niscaya mereka akan mati semuanya.” Selain itu, Ibnu Abbas juga mengatakan: “Seandainya mereka benar-benar menginginkan kematian, niscaya salah seorang di antara mereka akan kembali menelan ludahnya.”

Masih menurut Ibnu Abbas, kedua ayat surat Al-Baqarah tersebut diturunkan berkaitan dengan ajakan mubahalah (sumpah dua pihak yang berselisih untuk dikutuk jika di antara keduanya melakukan dusta atau kesalahan) yang dilakukan Nabi kepada kaum Yahudi yang bersikukuh menolak ajakan Nabi dengan alasan bahwa ajaran yang mereka anut saat itu adalah yang paling benar. Mereka bersikukuh memandang diri sebagai kaum terpandang yang sudah diberi keutamaan oleh Allah dan merasa bahwa merekalah satu-satunya golongan manusia yang layak menjadi penghuni surga. Padahal, dengan jelas disebutkan pada ajaran (asli) yang mereka anut bahwa mereka berkewajiban mengikuti ajaran yang dibawa Nabi terakhir. Tentu saja, Bani Israil enggan melakukan mubahalah tersebut. Ini sekaligus menunjukkan bahwa mereka memang betul-betul melakukan dusta.

Tercatat dalam sejarah bahwa ajakan mubahalah yang dilakukan Nabi kepada kaum kuffar terjadi beberapa kali, di antaranya dilakukan kepada delegasi Nasrani Najron yang meski argumentasinya dipatahkan, tetap saja mereka ingkar. Sehingga, akhirnya Nabi mengajak mereka ber-mubahalah untuk membuktikan kebenaran yang sesungguhnya. Kisah ini tertuang dalam ayat berikut ini.

“Siapa yang membantahmu tentang kisah Isa sesudah datang ilmu (yang meyakinkan kamu), maka katakanlah (kepadanya): ‘Marilah kita memanggil anak-anak Kami dan anak-anak kamu, istri-istri Kami dan istri-istri kamu, diri Kami dan diri kamu; kemudian marilah kita bermubahalah kepada Allah dan kita minta supaya laknat Allah ditimpakan kepada orang-orang yang dusta’.” (Q.S. Ali Imran [3]: 61)

Delegasi Nasrani Najron pun akhirnya tidak bisa berkutik dan mereka enggan melayani tantangan Nabi tersebut. Seorang di antara mereka mengatakan kepada yang lain, “Jika kalian menerima tantangan Muhammad, niscaya kalian akan mati semuanya.” Untuk menutupi rasa malu, akhirnya mereka bersedia membayar jizyah (pajak).

Demikianlah, betapa pun licik dan banyaknya akal bulus yang dilakukan kaum Yahudi dan Nasrani dalam menyembunyikan kebenaran, Allah Mahatahu atas yang mereka lakukan. Mustahil mereka menginginkan (mempercepat) kematian karena dalam dirinya tertanam sifat tamak pada dunia dan menginginkan umur sepanjang-panjangnya. Kedustaan mereka pastilah berbalas azab yang sepedih-pedihnya sebagai balasan atas kezaliman yang dilakukannya. Hal tersebut ditegaskan dalam ayat selanjutnya.

“Dan sungguh kamu akan mendapati mereka, manusia yang paling loba kepada kehidupan (di dunia), bahkan (lebih loba lagi) dari orang-orang musyrik. Masing-masing mereka ingin agar diberi umur seribu tahun, padahal umur panjang itu sekali-kali tidak akan menjauhkannya daripada siksa. Allah Maha Mengetahui apa yang mereka kerjakan.” (Q.S. Al-Baqarah [2]: 96)

Sungguh bertolak belakang yang dikatakan oleh kaum Yahudi dan Nasrani dengan keadaan yang sesugguhnya. Di lidah, mereka dengan percaya diri mengatakan tidak takut mati karena menganggap diri sudah dipastikan masuk surga. Namun pada kenyataannya, mereka sama sekali enggan bersentuhan dengan kematian. Bahkan kalau bisa, mereka ingin seribu tahun lagi hidup di dunia ini. Bagi mereka, umur panjang adalah untuk menikmati keindahan dunia lebih lama dan tidak ada kaitannya dengan perbaikan iman dan peningkatan kualitas amal. Mereka tidak menyadari bahwa umur panjang yang mereka angan-angankan tidak akan membantu mereka lepas dari azab Allah yang sangat pedih.

Dalam Islam, panjang pendeknya umur bukan jaminan hidup semakin berkualitas. Kualitas hidup ditentukan dari bagaimana yang bersangkutan mampu mengatur setiap waktunya untuk menambah bekal yang hendak dibawa pergi menuju tempat kembali (akhirat). Mari kita cermati sabda Rasul Saw. berikut ini. Dari Abdullah bin Busr, seorang badui bertanya: “Wahai Rasulullah, siapa orang terbaik itu?” Rasulullah Saw. menjawab: “Orang yang panjang umurnya dan baik amalnya.” (H.R. Tirmidzi)

Jadi, orang beriman hendaknya tidak usah takut akan datangnya kematian sebagaimana kaum Yahudi dan Nasrani. Yakinlah bahwa usaha maksimal kita dalam menjauhkan diri dari larangan-Nya dan mendekatkan diri pada perintah-Nya akan berbuah surga di akhirat kelak. Amin. Wallahu a’lam.

Bedah Hadits

ORANG PINTAR, MUHASABAH DIRI
Tate Qomaruddin

Rasulullah Saw. bersabda, “Orang yang cerdas adalah orang yang mengendalikan hawa nafsunya dan beramal untuk menghadapi kehidupan setelah kematian. Dan, orang yang lemah adalah orang yang mengikuti nafsunya seraya berangan-angan kepada Allah.” (Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi dan ia menyatakan hadits hasan)

Allah telah menetapkan perjalanan hidup yang seharusnya ditempuh manusia di dunia. Dia juga telah menetapkan tujuan yang semestinya dicapai manusia. Dan, kesuksesan seseorang diukur dengan hasil akhirnya. Allah Swt. menegaskan,“Setiap jiwa akan merasakan mati. Maka siapa yang dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke surga sungguh ia telah beruntung. Dan, tidaklah kehidupan dunia itu melainkan kesesenangan tipuan.” (Q.S. Ali Imran [3]: 185)

Tentu saja hal itu terjadi di hari akhirat. Sehingga, seseorang tidak dapat menunggu yang akan didapatkan di akhirat untuk kemudian melakukan perbaikan (di dunia) karena itu merupakan hasil akhir. Dan, kesempatan untuk mengubah dan kembali sudah tidak ada lagi. Karena, hasil apa pun yang diperoleh pada hari akhirat adalah balasan atas yang dilakukan selama hidup di dunia. Masa beramal sudah usai dan hari akhirat adalah masa menerima balasan. Allah berfirman:

“Maka barangsiapa mengerjakan kebaikan seberat zarah, niscaya dia akan melihat (balasan)nya. Dan barangsiapa mengerjakan kejahatan seberat zarah, niscaya dia akan melihat (balasan)nya.” (Q.S. Al-Zalzalah [99]: 7-8)

Allah Swt. berfirman pula, “Dan carilah (kehidupan) negri akhirat pada apa yang Allah berikan kepadamu dan janganlah kamu melupakan bagianmu di dunia. Dan berbuat baiklah sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu dan janganlah melakukan kerusakan di bumi sesungguhnya Allah tidak suka kepada para perusak.” (Q.S. Al-Qashash [28]: 77)

Dengan ayat tersebut, Allah memerintahkan kita untuk menjadikan kehidupan dunia sebagai alat untuk mencapai kehidupan akhirat yang bahagia. Oleh karena itu, tidak ada pilihan lain bagi kita yang menginginkan kehidupan bahagia hakiki di hari setelah kematain kelak selain melaksanakan yang disabdakan Rasulullah Saw. itu. Dan, itulah orang yang cerdas. “Orang yang cerdas adalah orang yang mengendalikan hawa nafsunya dan beramal untuk menghadapi setelah kematian. Dan orang yang lemah adalah orang yang mengikuti nafsunya seraya berangan-angan kepada Allah.”

Bisa dimengerti jika Rasulullah Saw. menyebut orang yang mampu mengendalikan hawa nafsu dan berjuang untuk membangun kehidupan setelah kematian sebagai orang yang cerdas. Karena, orang yang mampu mengendalikan hawa nafsu adalah orang yang akalnya merdeka. Dia mampu mengambil hal terbaik dari segala yang dia jalanai dalam kehidupan. Akalnya difungsikan secara baik dalam menilai baik dan buruk. Fikirannya digunakan untuk mentafakuri ayat-ayat Allah baik yang bersifat kauniyyah maupun qauliyyah, sebagaimana digambarkan oleh-Nya:

“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan pergantian malam dan siang terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri, duduk atau dalam keadaan berbaring, dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata), ‘Ya Tuhan kami, tidaklah Engkau menciptakan semua ini sia-sia; Mahasuci Engkau, lindungilah kami dari azab neraka’.” (Q.S. Ali Imran [3]: 190-191)

Dan, dapat difahami pula bila Rasulullah Saw. menyebut orang yang berbuat untuk menghadapi kehidupan setelah kemataian sebagai orang yang cerdas. Karena, orang ini berjalan dan bekerja dalam hidupnya dengan berpegang pada orientasi ke depan yang jauh. Tidak hanya berfikir dan berorientasi pada masa yang pendek. Dia mengukur dirinya dan segala yang akan dilakukannya dengan takaran target yang ingin dicapai. Ia selalu bertanya dalam dirinya saat akan melakukan suatau pekerjaan atau melampiaskan kesenangan, “Adakah hal ini mendekatkan saya ke surga atau menjauhkan saya darinya?”

Sedangkan, orang lemah tak berdaya bertekuk lutut dalam penguasaan hawa nafsu. Dan, dia hanya berangan-angan bahwa Allah akan meberinya sesuatu yang indah dan menyenangkan, tanpa beramal dan berjuang.

Di sinilah arti penting muhasabah. Muhahasabah adalah evaluasi terhadap diri sendiri dan menghitung-hitung yang sudah dan yang belum dilakukan. Muhasabah adalah upaya koreksi atau pelurusan terhadap diri kita agar senantiasa berada di jalan yang diridoi oleh Allah Swt.

Seorang yang beriman bukan berarti tidak pernah melakukan kesalahan dalam hidupnya. Bukan pula yang tidak pernah mengalami penyimpangan dalam hidupnya. Melainkan, orang yang apabila melakukan kesalahan dan mengalami penyimpangan bersegera melakukan perbaikan dan meluruskan arah. Allah Swt. berfirman:

“Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menzalimi diri sendiri, (segera) mengingat Allah, lalu memohon ampunan atas dosa-dosanya, dan siapa (lagi) yang dapat mengampuni dosa-dosa selain Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan dosa itu, sedang mereka mengetahui.” (Q.S. Ali Imran [3]: 135)

Ibarat pilot, dalam satu rute penerbangan ia sangat mungkin melakukan kesalahan. Itu tidak masalah selama dia memiliki tiga hal; rute dan tujuan perjalanan, kompas pemandu, dan selalu kembali dari waktu ke waktu.

Umar bin Khattab mengatakan, “Hisablah (evaluasilah) diri kalian sebelum dihisab (oleh Allah di hari akhirat), dan timbanglah diri kalian sebelum ditimbang (oleh Allah pada hari akhirat). Karena kalian akan lebih baik melakukan hisab hari ini dari pada dihisab kelak. Berhiaslah untuk hari perhitungan terbesar di mana kalian ditampilkan dan tidak ada sesuatu pun yang tersembunyi dari diri kalian.”
Imam Ahmad meriwayatkan dari Wahb, dia menyatakan bahwa di dalam hikmah Nabi Dawud a.s. tertulis, “Hak bagi orang berakal ialah tidak lalai terhadap empat waktu/momentum. Satu waktu ia bermunajat kepada Tuhannya. Satu waktu ia memuhasabah jiwanya. Satu waktu ia bergaul dengan teman-temannya yang menjelaskan aib-aibnya dan meluruskan jiwanya. Dan satu waktu ia menyepi antara jiwanya dengan kelezatannya memikikirkan yang halal dan yang menjadikan jiwanya terlihat indah.” (Kumpulan Tulisan Ibnul Qayyim Al-Jauziyyah, Iqbal kadir, Penerbit Buku Islam Rahmatan, Jakarta).

Al-Hasan berkata, “Orang Mukmin itu selalu mengurusi jiwanya. Ia mengevaluasi dirinya karena Allah. Hisab pada hari kiamat menjadi amat ringan bagi orang-orang yang melakukan perhitungan terhadap dirinya di dunia. Dan hisab tersebut menjadi amat sulit bagi orang-orang yang menjalani hidup ini tanpa evaluasi di dalamnya.” Allahu a’lam.

Bedah Masalah

BOLEHKAH BERHAJI DARI UANG PINJAMAN?

Saya memiliki cita-cita yang cukup sulit dijangkau, yaitu ingin menghajikan kedua orangtua yang memang sangat ingin pergi berhaji. Setiap bulan, saya menyisihkan pendapatan saya. Suatu saat jika jumlahnya cukup, saya akan membuka tabungan haji atas nama ayah ibu saya agar mereka segera mendapatkan seat sehingga tahu kapan dapat segera ke Tanah Suci. Kendalanya adalah, orangtua saya sudah cukup sepuh sehingga kalau terus menunggu (tabungan cukup) saya takut umur mereka tidak sampai. Seorang teman berbaik hati hendak memberikan pijaman untuk mencukupi kekurangan dana (haji) yang saya miliki, namun saya ragu untuk menerimanya. Yang ingin saya tanyakan adalah, bolehkah menunaikan ibadah haji dari uang pinjaman? Mohon penjelasannya, ustadz.

Kewajiban haji datang bila seseorang dipandang telah mampu (istitha’ah) untuk melakukan perjalanan ibadah haji. Allah Swt. berfirman,

“Padanya terdapat tanda-tanda yang nyata, (di antaranya) maqam Ibrahim; barang siapa memasukinya (Baitullah itu) menjadi amanlah dia; mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah. Barang siapa mengingkari (kewajiban haji), maka sesungguhnya Allah Mahakaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam.” (Q.S. Ali Imran [3]: 97)

Ruang lingkup mampu yang menjadi syarat berhaji di antaranya adalah mampu membiayai perjalanan haji dan membekali mereka yang menjadi tanggungan selama berada di Tanah Suci. Biaya yang dimaksud tentunya merupakan hasil ikhtiar, baik dilakukan dengan tangan sendiri atau melalui kebaikan orang lain, sehingga terkumpul biaya setelah semua kebutuhan primer sehari-hari terpenuhi. Itulah yang menjadi alat ukur kemampuan seseorang dalam memenuhi pembiayaan haji. Artinya, selama dia mampu memenuhi kebutuhan haji tanpa meninggalkan beban berat di kemudian hari, maka bisa jadi ia telah memenuhi syarat mampu tersebut.

Demikian pula halnya dengan yang penanya maksudkan mengenai boleh tidaknya menunaikan haji yang pembiayaannya diambil dari hasil pinjaman. Untuk menentukan boleh tidaknya biaya haji dari pinjaman adalah dengan mengembalikannya pada alat ukur tadi. Jika pinjaman tersebut terukur dan sudah diperhitungkan dengan matang mengenai kemungkinan sumber pendapatan untuk membayarnya, maka berhaji dari dana pinjaman tidak menjadi masalah. Namun, jika pinjaman dana haji tersebut dilakukan dengan kondisi ekonomi yang belum matang sehingga setelah berhutang membuat kehidupan ekonomi menjadi morat marit, maka niat berhaji tersebut sebaiknya ditangguhkan sampai keadaan memungkinkan. Wallahu a’lam.

***

KETIKA TITIPAN DOA SAAT HAJI MEMBUAT BINGUNG

Saya adalah jamaah calon haji yang insya Allah tahun ini akan berangkat ke Tanah Suci. Menjelang keberangkatan untuk beribadah haji, tetangga serta sanak saudara banyak sekali yang menitipkan doa ini dan itu. Saya ragu apakah dapat mengingat semua titipan doa tersebut. Selain itu, saya juga ragu apakah hal tersebut memang diperbolehkan dalam Islam. Bagaimana pendapat ustadz tentang titip doa kepada orang yang pergi berhaji?

Doa merupakan bagian dari ibadah yang tata caranya diatur secara tersendiri seperti halnya ibadah yang lainnya. Hanya saja, aturan dan tata cara berdoa lebih fleksibel dan tidak serinci serta mengikat seperti halnya shalat atau haji. beberapa riwayat mengungkap batasan dalam berdoa, meliputi:

Doa dipanjatkan dengan suara pelan karena Allah Maha Mendengar.
Doa dipanjatkan dengan penuh ketawadhuan dan optimisme.
Doa dipanjatkan dengan terlebih dahulu menyebut nama-nama Allah dan memuji-Nya.
Doa dipanjatkan secara santun, baik dilakukan oleh diri sendiri ataupun dibantu orang lain.

Berdasarkan pada batasan doa di atas, maka kebiasaan masyarakat kita menitipkan doa kepada mereka yang berangkat haji tidak menjadi masalah. Jika kemudian ada yang terlewat atau lupa karena banyaknya pesanan doa tersebut, maka mintalah ampun kepada Allah Swt. dengan tetap menyampaikan doa untuk mereka secara global karena Allah Mahatahu yang kita inginkan. Perlu dicatat pula bagi yang akan berangkat berhaji bahwa akan lebih baik jika doa yang disampaikan untuk orang lain tersebut tidak harus menunggu diminta (didoakan) terlebih dahulu oleh orang yang bersangkutan. Wallahu a’lam.

***

BERHAJI SAMBIL LIPUTAN, SAH ATAU TIDAK?

Saya adalah seorang reporter di salah satu stasuin TV swasta nasional. Setiap musim haji, kemi mengadakan program tayangan langsung dari Tanah Suci untuk mengabarkan proses ibadah haji. Tahun ini, alhamdulillah saya bersama dua rekan saya yang terpilih meliput ke Tanah Suci. Yang ingin saya tanyakan adalah apakah boleh saya datang meliput kegiatan haji sambil saya berhaji mengingat tujuan utama kami dikirim ke Tanah Suci adalah untuk bekerja (meliput) dan bukan beribadah (haji).

Kembali pada makna istitha’ah dalam menunaikan haji. Tidak selamanya bahwa kategori mampu berhaji selalu identik dengan ketersediaan bekal dan biaya dengan proses ikhtiar yang lazim dilakukan. Bisa jadi, kesempatan haji itu datang tanpa melalui proses tersebut. Misalnya ketika sedang menempuh kuliah di Tanah Suci, bekerja menjadi TKI, atau ada kesempatan bertugas yang kebetulan berbarengan dengan pelaksanaan ibadah haji. Prinsipnya, selama bisa mencapai Tanah Suci dan cukup waktu untuk melaksanakan haji dengan tetap memperhatikan rukun dan syarat serta substansi haji, maka insya Allah peluang haji mabrur senantiasa terbuka lebar.

***

BERHAJI SEBAIKNYA BERAPA KALI?

Alhamdulillah saya diberi keluasan rezeki sehingga dapat berhaji hampir setiap tahun. Seorang teman pernah berkata kepada saya bahwa berhaji itu wajibnya sekali sehinnga kali kedua dan seterusnya hukumnya sunah sehinnga pahala yang didapat pun pahala sunah. Dia juga berkata bahwa alangkah lebih baik jika saya menghajikan orang lain karena kita akan mendapatkan pahala wajib karena orang yang kita hajikan baru pertama kali berhaji. Ustadz, benarkah pendapat teman saya tersebut?

Ajaran Islam senantiasa menekankan untuk memiliki cara pandang terhadap suatu pekara secara komprehensif. Shalat misalnya, kita dituntut untuk berusaha melihatnya dari beberapa sisi. Tidak dibenarkan jika menilai kualitas shalat hanya dari aspek ritualnya saja yang notabene berurusan dengan fikih. Shalat perlu juga dilihat dari aspek substansi atau spiritualnya yang menyatakan bahwa shalat mencegah seseorang dari perbuat keji dan munkar.

Demikian juga dengan haji. Jika berbicara pahala, berhaji pahalanya sangat besar. Kesan yang terasa ketika berhaji pun sungguh luar biasa sehingga membuat banyak orang rindu pergi haji untuk kedua kali, ketiga kali dan seterusnya. Padahal, sudah jelas bahwa kewajiban haji hanya satu kali dan selebihnya adalah sunah. Di sinilah perlunya kita melihat haji dari beberapa sudut pandang. Berangkat haji berkali-kali tidak dapat dipersalahkan, bahkan mungkin dipandang baik oleh individu yang bersangkutan. Namun, bila kita coba melihatnya dengan pendekatan efektifitas dan skala prioritas, maka akan menjadi lebih bijak jika biaya haji yang kesekian kalinya tersebut disalurkan untuk menangani masalah-masalah umum yang dihadapi masyarakat Indonesia seperti peningkatan kesejahteraan kaum dhuafa dan ibadah sosial lainnya. Dengan cara seperti itu, bisa dipastikan bahwa pahala ibadah haji akan tetap didapat karena Allah Mahatahu yang menjadi keinginan hamba-Nya selain pahala beramal shaleh yang bertendensi sosial pun sudah pasti didapat. Sama halnya jika kemudian biaya tersebut dikeluarkan untuk membiayai haji orang lain, maka sudah barang tentu orang yang memberangkatkan orang lain untuk berhaji akan mendapat pahala berlipat.

Mari kita cermati hadits berikut ini. Rasulullah Saw. bersabda: “Barangsiapa menunjukkan kepada kebaikan maka ia akan mendapatkan pahala seperti orang yang mengerjakannya.” (H.R. Abu Daud). Saya kira, hadits ini cukup untuk menjadi petunjuk bahwa memberangkatkan orang lain untuk berhaji dipastikan akan mendapat pahala seperti yang didapat orang yang berhaji tersebut tanpa mengurangi pahala orang yang bersangkutan. Wallahu a’lam.

***

SAKIT SAAT BERHAJI, HARUSKAH (HAJINYA) DIULANGI?

Tahun lalu, saya berkesempatan pergi ke Tanah Suci untuk melaksanakan ibadah haji. Namun sayang, cuaca di sana yang cukup ekstrem membuat saya dan beberapa jamaah lain dari Tanah Air jatuh sakit sehingga tidak bisa menjalankan ritual haji secara lengkap. Pertanyaannya, apakah ritual ibadah haji yang saya lakukan (yang tidak lengkap) dinilai sah dan dapat dihitung sebagai satu kesatuan ritual haji? Apakah saya harus mengulang ibadah haji (yang tidak lengkap ritualnya tersebut) jika memang ibadah haji yang saya lakukan dianggap kurang syarat dan rukunnya itu?

Para ulama fikih membuat ketentuan bahwa suatu ibadah dikatakan sah jika memenuhi rukun dan saratnya. Jika salah satu bagian dari rukun dan sarat tidak terpenuhi, maka ibadah tersebut menjadi tidak sah dan secara keseluruhan perlu diulangi. Hanya saja dalam ibadah haji (dan juga ibadah lainnya) jika diketahui pada saat itu ada rukun dan sarat yang tidak terpenuhi, ada tata cara khusus untuk menggantikannya atau menyempurnakannya. Alangkah baiknya jika kasus seperti ini dikonsultasikan langsung kepada pembimbing haji Anda untuk meyakinkan apakah haji Anda sempurna atau tidak karena pembimbing pastinya lebih tahu kasus yang menimpa Anda saat itu.

Terlepas dari itu, keinginan untuk mengulangi haji sebagai upaya menyempurnakan haji sebelumnya yang dipandang memiliki kekurangan tentunya lebih baik jika memang mampu melaksanakannya dan tidak memadharatkan yang lain. Jika ternyata kemampuan itu tidak ada, maka memohonlah kepada Allah agar kekurangan itu diampuni dan segeralah untuk mewujudkan kemabruran haji dengan bertransformasi dari keburukan pada kebaikan. Wallahu a’lam.

***

BOLEHKAN PEREMPUAN BERHAJI TANPA DIDAMPINGI MAHROM?

Saya adalah seorang wanita yang telah berkeluarga dan dikaruniai dua orang anak. Beberapa waktu yang lalu saya mendapatkan undian berhadiah pergi harji dari salah satu konten provider. Saya bingung harus mengambil kesempatan itu atau tidak mengingat hadiah tersebut hanya untuk satu orang. Secara pribadi, suami mengizinkan saya pergi berhaji sendirian. Namun demikian, saya ragu juga karena ada yang berpendapat bahwa seorang muslimah harus ditemani oleh mahromnya ketika hendak berhaji. Saya ingin mendapat kepastian, apakah dibolehkan wanita pergi berhaji tanpa ditemani mahromnya? Saya tunggu jawaban ustadz.

Memang ada ketentuan dalam Islam bahwa jika seorang perempuan hendak bepergian, termasuk perjalanan ibadah haji, semestinya ditemani mahrom demi menjaga hal-hal yang mungkin bisa membahayakan keselamatannya. Mengenai siapa saja yang menjadi mahrom dapat dilihat dalam salah satu ayat surat An-Nisaa.

“Diharamkan atas kamu (mengawini) ibu-ibumu; anak-anakmu yang perempuan; saudara-saudaramu yang perempuan, saudara-saudara bapakmu yang perempuan; saudara-saudara ibumu yang perempuan; anak-anak perempuan dari saudara-saudaramu yang laki-laki; anak-anak perempuan dari saudara-saudaramu yang perempuan; ibu-ibumu yang menyusui kamu; saudara perempuan sepersusuan; ibu-ibu istrimu (mertua); anak-anak istrimu yang dalam pemeliharaanmu dari istri yang telah kamu campuri, tetapi jika kamu belum campur dengan istrimu itu (dan sudah kamu ceraikan), maka tidak berdosa kamu mengawininya; (dan diharamkan bagimu) istri-istri anak kandungmu (menantu); dan menghimpunkan (dalam perkawinan) dua perempuan yang bersaudara, kecuali yang telah terjadi pada masa lampau; sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Q.S. An-Nisaa [4]: 23)

Secara kontekstual, diperlukannya mahrom adalah jika diketahui ada bahaya yang mengancam keselamatan perempuan yang bersangkutan. Misalnya ketika seorang perempuan harus pergi pada tengah malam karena suatu keperluan, pergi jauh yang dipandang rawan keselamatan dan lain sebagainya. Jika dalam konteks situasi negri kita saat ini yang terbilang cukup aman, boleh jadi tanpa ditemani mahrom seorang perempuan diijinkan keluar rumah untuk bepergian dalam batas tertentu atas seizin suami atau orangtuanya termasuk melaksanakan ibadah haji. Ini tidak lain dikarenakan ancaman keselamatan atas perempuan tersebut boleh dikatakan sangat minim, bahkan boleh dikatakan tidak ada kecuali menyangkut ketentuan takdir Allah. Maka, boleh saja ibadah haji dilakukan oleh sorang perempuan seorang diri selama memang sistem perjalanan ibadah hajinya dilakukan secara rombongan (yang juga terdiri dari jamaah laki-laki) lengkap dengan pembimbingnya. Secara admintrasif, kaum Adam dalam rombongan bisa dijadikan mahrom bagi perempuan yang berhaji tanpa ditemani mahrom karena memang seorang laki-laki bisa menjadi mahrom bagi beberapa perempuan. Wallahu a’lam.