Minggu, 01 Mei 2011

Fokus 1

KETIKA DOSA TAK DIRASA

Fenomena umat saat ini, dosa kecil sudah terlalu sering dilakukan dalam interaksi sehari-hari. Mereka sadar bahwa yang dilakukan adalah dosa (kecil), namun tetap dilakukan. Alasannya, dosa kecil tentu akan kecil pula hukumannya. “Toh, dosa-dosa tersebut sudah dapat digugurkan oleh dzikir dan istighfar, tentu kita tidak akan kesulitan bertobat darinya,” demikian dikatakan sebagai alibi.

Adapun dosa besar, yang semula menjadi beban berat, sekarang sudah tidak terasa seberat dulu. Melihat banyak orang yang melakukan dosa (besar) serupa, hal tersebut kemudian dianggap lumrah dan bahkan tidak dianggap sebagai dosa lagi.

Pertanyaanya, mengapa sampai hal tersebut bisa terjadi? Hal tersebut terjadi tidak lain karena cahaya akidah dan hati nurani yang telah mati.

Perlu diketahui bahwa kondisi hati seorang mukmin terbagi menjadi tiga. Pertama adalah qalbun salim atau hati yang sehat, dengan ciri berorientasi akhirat, mencintai Allah dan Rasul-Nya lebih dari apa pun, sedih bila kehilangan kesempatan untuk beribadah kepada-Nya, serta senantiasa rindu kepada Allah dan Rasul-Nya juga pada ayat-ayat Al-Quran. Kedua adalah qalbun marid atau hati yang sakit yang kurang berfungsi dalam memahami antara yang haq dan bathil. Ketiga adalah qalbun mayyit atau hati yang mati dan sudah tidak dapat digunakan untuk membedakan antara yang haq dan yang bathil.

Nah, orang yang hatinya telah mati inilah yang tidak akan merasa berdosa ketika dirinya melakukan maksiat kepada Allah Swt. Hal ini diamini oleh KH. Zaenudin MZ. Menurut beliau, seorang muslim yang telah terbiasa berbuat dosa dan karenanya tidak ada lagi rasa penyesalan di dalam hatinya, perlu dipertanyakan keimanan dan ketakwaannya.

Dai sejuta umat ini pun kemudian mengumpamakan bahwasanya orang munafik menganggap perbuatan dosa yang telah dilakukannya seperti lalat yang kecil. Sedangkan, orang beriman menganggap dosanya seperti gunung besar diletakkan di atas kepalanya.
Kalau berbicara mengenai dosa besar, tentu sebagian besar dari kita telah memahaminya. Dalam hal ini, Prof. Maman Abdurahman., MA menerangkan beberapa jenis dosa besar yang harus kita waspadai.

Dosa-dosa tersebut adalah menyekutukan Allah (syirik), melakukan sihir, membunuh jiwa yang diharamkan oleh Allah Swt. kecuali dengan cara yang hak, memakan harta riba, makan harta anak yatim, keluar dari medan perang karena takut kepada musuh, dan menuduh zina kepada mukminat yang telah bersuami.

Berbeda halnya dengan dosa kecil yang terkadang tidak--atau kurang--terdeteksi oleh hati nurani kita. Mengapa? Tidak lain adalah karena bentuknya yang ringan dan senantiasa dianggap remeh. Padahal, sekecil apa pun dosa, jika tidak ditobati maka dia akan membesar juga.

Kalau sudah begini, tidak ada jalan lain bagi kita sebagai umat Islam kecuali membersihkan diri dengan taubatan-nasuha, tidak peduli apakah dosa yang kita lakukan besar ataupun kecil.

Banyak perangkat yang kita butuhkan untuk mendukung taubatan-nasuha dan salah satunya, menurut Prof. Dr. H. Dadang Kahmad, M.Si., adalah dengan memperbanyak membaca dan menyimak kajian Al-Quran. Ya, Al-Quran sengaja diturunkan salah satunya sebagai obat bagi hati manusia sebagaimana diterangkan dalam ayat ke-82 surat Al-Israa. “Dan Kami turunkan dari Al-Quran sesuatu yang menjadi obat dan rahmat bagi orang-orang yang beriman.”

Memang, membaca Al-Quran dapat melembutkan hati yang mengeras karena banyaknya noda dosa yang menempel di dalamnya. Hati yang lembut adalah semua yang kita butuhkan untuk dapat menerima cahaya kebaikan yang akan menuntun kita dalam membedakan yang haq dan yang bathil.

Mengingat tidak ada manusia yang steril dari dosa, alangkah bijaknya bila setiap hari kita mengazamkan diri untuk taubatan-nasuha. Bila dosa yang kita kerjakan termasuk dosa kecil, jangan tunggu hingga dosa tersebut menggunung.

Bila dosa yang kita kerjakan termasuk dosa besar, tentu sudah menjadi keharusan bagi kita untuk berhenti, menyesali, berjanji tidak akan mengulangi, serta mengimbangi dosa tersebut dengan amal saleh. Jika tobat yang kita lakukan benar-benar ikhlas demi mengharap ridha illahi, pintu maaf-Nya akan senantiasa terbuka lebar. Insya Allah. [Muslik]

Fokus 2

JANGAN REMEHKAN DOSA KECIL

Dalam menjalani hidup, kita pasti pernah melakukan kesalahan. Setiap melakukan kesalahan tersebut, berarti kita telah melakukan perbuatan dosa yang tidak disukai oleh Allah Swt. Menurut istilah fukaha (ahli hukum Islam), dosa adalah dampak dari pelanggaran ajaran agama yang dilakukan dengan sengaja, sadar, dan tidak ada paksaan. Dapat dikatakan bahwa dosa adalah buah dari tidak menjalankan perintah Allah dan tidak menjauhi larangan-Nya.

Islam membagi dosa dalam dua kelompok; besar dan kecil. Dosa besar adalah suatu pelanggaran terhadap perintah dan larangan-Nya. Pelanggaran tersebut menimbulkan kerugian dan kerusakan terhadap orang lain dan bersifat besar serta yang hanya dapat dihapus dengan taubatan nasuha. Taubatan nasuha adalah tobat yang sungguh-sungguh dan sebenar-benarnya kepada Allah Swt. dan berjanji tidak mengulangi kesalahan yang sama. Khusus di negara yang memiliki syariat Islam, dosa besar dikenai hukum hudud atau qishash.

Dalam salah satu hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim, Rasulullah Saw. menyebutkan tujuh dosa yang termasuk ke dalam kategori dosa besar, yaitu (1) menyekutukan Allah (syirik), (2) melakukan sihir, (3) membunuh jiwa yang diharamkan oleh Allah Swt. kecuali dengan cara yang hak, (4) memakan harta riba, (5) makan harta anak yatim, (6) keluar dari medan perang karena takut kepada musuh, dan (7) menuduh zina kepada wanita mukminat yang telah bersuami.

Sedangkan, dosa kecil ialah dosa yang tidak ditentukan hukumannya ketika di dunia dan tidak diberi ancaman azab keras di akhirat. Selain itu, dosa kecil dapat dihapus dengan cara-cara berikut ini, yaitu memperbanyak istighfar dan dzikir kepada Allah Swt., melakukan ibadah wajib dan sunat, bersedekah, serta menunaikan amalan dan kebajikan.

Contoh nyata dosa kecil adalah zina mata dan zina hati. Abu Hurairah berkata bahwa Rasulullah Saw. bersabda, “Sesungguhnya Allah telah menetapkan terhadap anak-anak Adam bagian dari zina yang bisa jadi dia mengalaminya dan hal itu tidaklah mustahil. Zina mata adalah pandagan, zina lisan adalah perkataan di mana diri ini menginginkan dan menyukai, serta kemaluan membenarkan itu semua atau mendustainya.” (H.R. Bukhari)
Hadits tersebut menyebutkan mukadimah (pembuka atau tahap awal) zina. Orang yang melakukannya berarti telah mendekati zina. Bagi orang yang memandang wanita yang bukan mahramnya, bersalaman, atau menyentuh; di dunia tidak ada hukumannya, juga tidak dilaknat oleh Allah dan Rasul-Nya. Dosa semacam inilah yang dikategorikan sebagai dosa kecil.

Meski kecil, kita tidak boleh menyepelekan kelompok dosa yang satu ini. Dosa kecil yang dilakukan berulang-ulang sebaiknya kita hindari karena akan terangkum menjadi satu dosa yang besar. Nabi Muhammad Saw. bersabda, “Tercatat atas anak Adam nasibnya dari perzinaan dan dia pasti mengalaminya. Kedua mata zinanya melihat, kedua teling zinanya mendengar, lidah zinanya bicara, tangan zinanya memaksa (memegang dengan keras), kaki zinanya melangkah (berjalan) dan hati yang berhasrat dan berharap. Semua itu dibenarkan (direalisasi) oleh kelamin atau digagalkannya.” (H.R. Bukhari)

Ya, dosa kecil yang terus ditumpuk akan menimbulkan kegelapan hati. Kegelapan itu akan benar-benar nyata dalam hati seperti halnya melihat dan merasakan gelapnya malam. Sesungguhnya, ketaatan itu cahaya dan dosa itu kegelapan. Semakin banyak dosa yang dilakukan, akan semakin gelap hati seseorang. Akibatnya, orang yang terus menerus melakukan dosa, pasti akan jatuh ke dalam kekafiran kerena hatinya sudah terhijab (tertutup) oleh kemaksiatan, dan kebenaran (al-haq) tidak mungkin lagi dapat menyentuh hati.

Bila hati telah sepenuhnya tertutup noda, tidak akan ada petunjuk yang dapat menembus gelapnya dan si empunya hati tidak akan mendapat manfaat dari peringatan-peringatan yang terdapat di dalam Al-Quran. Seharusnya kita merasa khawatir akan kehilangan nikmat hidayah ini, sehingga tidak boleh meremehkan dosa kecil.

Sekali lagi perlu ditegaskan bahwa dosa kecil tidak selamanya kecil. Dalam kondisi tertentu, dosa kecil akan menjadi dosa besar. Apa sajakah indikasinya?

Pertama, dosa kecil yang dilakukan terus-menerus. Hal ini terjadi karena pengaruh kerasnya jiwa dan adanya bercak di dalam hati.

Allah Swt. berfirman, “Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain daripada Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui.” (Q.S. Ali Imran [3]: 135)

Ibu Abbas pernah berkata, “Tidak ada dosa kecil apabila dilakukan dengan terus menerus dan tidak ada dosa besar apabila disertai dengan istighfar.”

Kedua, menganggap remeh dosa kecil. Rasulullah Saw. telah bersabda, “Berhati-hatilah kalian terhadap dosa kecil, sebab jika berkumpul dalam diri seseorang, ia (dosa kecil itu) akan membinasakannya.” (H.R. Ahmad dan Thabrani dalam Al-Ausath)

Ketiga, bergembira dengan dosa. Orang yang bangga dengan dosa berarti sudah begitu lupa dengan bahaya dosa. Sehingga, malah senang tatkala dapat melampiaskan keinginannya yang terlarang. Perasaan senang terhadap suatu kemaksiatan menunjukkan adanya keinginan untuk melakukannya serta tidak adanya keinginan untuk bertobat. Jika kealpaan dan kelalaian semacam ini telah begitu parah, akan menyeret kita untuk melakukannya secara terus menerus, merasa tenang dengan perbuatan salah, dan bertekad untuk terus melakukannya.

Kondisi ini adalah jenis lain dari dosa yang jauh lebih berbahaya daripada dosa yang dilakukan sebelumnya. Allah berfirman, “Dan apabila dikatakan kepadanya, ‘Bertakwalah kepada Allah’, bangkitlah kesombongannya yang menyebabkannya berbuat dosa. Maka, cukuplah (balasannya) neraka Jahannam. Dan sungguh neraka Jahannam itu tempat tinggal yang seburuk-buruknya.” (Q.S. Al-Baqarah [2]: 206)

Keempat, membongkar dan menceritakan dosa yang telah ditutupi oleh Allah Swt. Seseorang yang melakukan dosa kecil dan telah ditutupi oleh Allah Swt. terkadang malah menampakkan dan menceritakannya. Maka, dosanya justru menjadi berlipat karena telah tergabung beberapa dosa. Dia telah mengundang orang untuk mendengarkan dosa yang dikerjakannya dan bisa jadi akan memancing orang lain untuk ikut melakukannya.
Dosa yang tadinya kecil, dengan sebab ini, bisa berubah menjadi lebih besar. Allah berfirman, “Apakah tiada kamu perhatikan orang-orang yang telah dilarang mengadakan pembicaraan rahasia, kemudian mereka kembali (mengerjakan) larangan itu dan mereka mengadakan pembicaraan rahasia untuk berbuat dosa, permusuhan, dan durhaka kepada Rasul. Dan apabila mereka datang kepadamu, mereka mengucapkan salam kepadamu dengan memberi salam yang bukan sebagai yang ditentukan Allah untukmu. Dan mereka mengatakan pada diri mereka sendiri, ‘Mengapa Allah tiada menyiksa kita disebabkan apa yang kita katakan itu?’ Cukuplah bagi mereka neraka Jahannam yang akan mereka masuki. Dan, neraka itu adalah seburuk-buruk tempat kembali.” (Q.S. Al-Mujadilah [58]: 7)

Kelima, terang-terangan dalam berbuat maksiat. Rasulullah Saw. bersabda, “Semua umatku akan diampuni dosanya kecuali orang yang mujaharah (terang-terangan dalam berbuat dosa) dan yang termasuk mujaharah adalah seorang yang melakukan perbuatan dosa di malam hari, hingga pagi hari Allah telah menutupi dosa tersebut, tetapi kemudian dia berkata, ‘Wahai fulan, semalam saya berbuat ini dan berbuat itu.’ Padahal, Allah telah menutupi dosa tersebut semalaman, tapi di pagi hari dia buka tutup Allah tersebut.” (H.R. Bukhari Muslim)

Keenam, yang melakukan perbuatan dosa itu adalah orang yang menjadi teladan. Yang demikian adalah apabila dia melakukan dosa itu dengan sengaja, disertai kesombongan, atau dengan mempertentangkan antara nash yang satu dengan yang lain; maka dosa kecilnya bisa berubah menjadi besar. Akan tetapi, lain halnya jika melakukannya karena kesalahan dalam ijtihad, marah, atau yang semisalnya; maka tentunya hal itu dimaafkan. Rasulullah bersabda, “Barangsiapa yang memberi contoh di dalam Islam dengan contoh yang jelek, dia akan mendapat dosanya dan dosa orang yang mengikutinya setelah dia tanpa dikurangi dosa tersebut sedikit pun.” (H.R. Muslim)

Jadi, sudah sewajarnya kita lebih berhati-hati dalam menjalani hidup ini agar jangan sampai berbuat dosa kecil yang berakhir menjadi dosa besar. Naudzubillaahi min dzaalik. [Ali]

Fokus 3

HINDARI DOSA; BACA AL-QURAN DAN INGAT MATI
Prof. Dr. H. Dadang Kahmad, M.Si.
(Ketua PP Muhammadiyah & Direktur Program Pascasarjana
UIN Sunan Gunung Djati Bandung)

Rasulullah Saw. bersabda, “Setiap anak Adam senantiasa berbuat salah, dan sebaik-baik orang yang berbuat salah adalah yang senantiasa bertobat.” (H.R. Tirmidzi). Hadits ini menerangkan bahwa hakikat seorang hamba yang baik bukanlah yang tidak pernah berbuat dosa sama sekali. Hamba yang terbaik adalah yang apabila berbuat dosa, dia senantiasa bertobat kepada Allah Swt.

Sudah menjadi tabiatnya bahwa manusia tidak bisa lepas dari khilaf dan dosa. Manusia terus akan digoda setan untuk melakukan perbuatan-perbuatan dosa. Rasulullah pun selalu menerangkan bahwa jalan menuju neraka itu terkesan begitu indah dan menggiurkan. Sementara, jalan menuju surga terkesan sulit dan tidak berjalan mulus. Maka, didatangkanlah agama untuk menuntun manusia. Di sinilah Allah Swt. melalui rasul-Nya memberikan bimbingan agar kecenderungan manusia untuk berbuat dosa dapat dikendalikan sehingga mereka tetap berada dalam aturan-Nya.

Dosa atau suatu perbuatan yang bertentangan dengan yang diperintahkan dalam agama selalu bernilai negatif dan berdampak buruk bagi pelakunya, baik di kehidupan dunia maupun kelak di alam akhirat. Kecenderungan seseorang berbuat dosa dipengaruhi oleh faktor hawa nafsu dan sifat egois atau angkuh. Semua pelanggaran atas peraturan Allah Swt. adalah dosa.

Jika mau dikelompokkan, dosa itu ada yang masuk kategori dosa kecil dan dosa besar. Dosa itu ada yang berdampak hanya kepada pelakunya sendiri dan ada juga yang berdampak kepada orang lain.

Banyak hadits yang menerangkan tentang dosa besar. Salah satunya dari Abu Hurairah r.a. yang mengatakan bahwa Rasulullah Saw. bersabda, “Jauhilah olehmu tujuh dosa yang membinasakan.” Mereka bertanya, “Apa itu?” Beliau menjawab, “Syirik kepada Allah, sihir, membunuh jiwa yang diharamkan oleh Allah kecuali dengan benar, memakan riba, memakan harta anak yatim, melarikan diri pada waktu peperangan, menuduh berzina wanita-wanita suci yang mukmin dan lalai dari kemaksiatan.” (H.R. Bukhari dan Muslim)
Contoh dosa kecil adalah yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah r.a., Rasulullah Saw., bersabda, “Dicatat atas bani Adam bagiannya dari zina, pasti dia mendapatkannya tidak mungkin tidak; maka dua mata zinanya adalah memandang, dua telinga zinanya adalah mendengar, lisan zinanya adalah berbicara, tangan zinanya adalah memegang, dua kaki zinanya adalah melangkah, dan hati adalah menginginkan dan mendambakan, hal itu dibenarkan oleh kemaluan atau didustakanya.” (H.R. Muslim)

Dampak negatif dari dosa bisa dirasakan oleh pelakunya secara khusus. Entah pada hati ataupun bagi jasmaninya, dan mungkin dapat berimbas kepada orang lain, seperti perbuatan zalim dan fitnah. Di antara dampak dosa yang dapat memperburuk hati adalah terhalangnya cahaya Allah, selalu galau dan gundah hati, terganggu rasa ketakutan berinteraksi dengan orang lain, kesulitan dalam segala urusan, menjauhkan dari ketaatan, dan membuka pintu kemaksiatan yang lain. Naudzubillahi min dzaalik.
Tidak mau terjebak dalam kondisi seperti itu, sudah selayaknya kita memperbanyak beristighfar dan bertobat. Diriwayatkan dari Umar, Ibnu Abbas dan yang lain bahwasanya mereka berkata, “Tidak ada dosa besar dengan beristighfar dan tidak ada dosa kecil (jika dilakukan) dengan terus-menerus.”

Nabi Muhammad Saw. bersabda, “Ketika seorang mukmin berbuat suatu dosa, dosa itu menjadi sebuah noda hitam pada hatinya. Jika dia menyesalinya (memohon ampunan) hilanglah noda itu. Jika dia tidak menyesali perbuatan itu maka noda itu akan membesar dan membesar sehingga menutupi seluruh hatinya.”

Bila hati telah sepenuhnya tertutup oleh noda, tak satu pun petunjuk dapat menembus ke dalam hati. Dia tidak akan mendapat manfaat dari peringatan-peringatan yang terdapat di dalam Al-Quran dan hadits.

Sebenarnya banyak jalan untuk meminimalisasi dan menghapus dosa. Satu di antaranya adalah dengan memperbanyak membaca dan menyimak kajian Al-Quran. Ya, Al-Quran sengaja diturunkan salah satunya sebagai obat bagi hati manusia sebagaimana diterangkan dalam ayat ke-82 surat Al-Israa. “Dan Kami turunkan dari Al-Quran sesuatu yang menjadi obat dan rahmat bagi orang-orang yang beriman.”

Selanjutnya, banyak mengingat mati juga merupakan benteng agar kita terhindar dari dosa. Mengingat mati bisa mendorong kita untuk menghindarkan diri untuk melakukan perbuatan dosa dan dapat melunakkan hati kita yang keras. Oleh karena itu, Rasulullah Saw. menganjurkan, “Banyak-banyaklah mengingat pemutus segala kenikmatan, yakni kematian.” (H.R. Tirmidzi) [Ahmad, disarikan dari hasil wawancara]

Fokus 4

DOSA-DOSA TAK TERASA JADI DOSA BESAR
Prof. Maman Abdurahman, MA (Ketua PP Persis)

Bila perbuatan baik tempatnya surga, maka perbuatan dosa sarananya neraka. Manusia tinggal memilih satu di antaranya, lebih suka beramal saleh atau lebih suka melakukan dosa. Demikian dinyatakan oleh Maman Abdurahman kepada MaPI beberapa waktu yang lalu.
Selanjutnya, Maman menegaskan bahwa tidak ada seorang pun yang beriman dan bertakwa kepada Allah Swt. yang ingin melakukan perbuatan dosa. Sebab, dosa adalah segala perbuatan yang bertentangan dengan kehendak dan perintah Allah Swt.

Lebih lengkap, berikut kutipan wawancara MaPI dengan Maman.

Ustadz, jenis dosa besar apa saja yang harus kita waspadai?

Banyak keterangan mengenai dosa besar dalam Al-Quran dan hadits. Abu Hurairah r.a. berkata, Nabi Saw. bersabda, “Tinggalkan tujuh dosa yang dapat membinasakan.” Sahabat bertanya, “Apakah itu ya Rasulullah?” Jawab Nabi Saw., “Syirik mempersekutukan Allah, berbuat sihir (tenung), membunuh jiwa yang diharamkan oleh Allah kecuali dengan haq, makan harta riba, makan harta anak yatim, melarikan diri dari perang jihad pada saat berperang, dan menuduh wanita mukminat yang sopan (berkeluarga) dengan zina.” (H.R. Bukhari dan Muslim)

Masih dari hadits Bukhari dan Muslim, seseorang bertanya kepada Rasulullah Saw. perihal dosa besar. Jawaban beliau adalah menyekutukan Allah Swt., membunuh anak-anak karena khawatir atas tanggung-jawab memberi makan, dan berzina dengan istri tetangga.
Bagaimana halnya dengan dosa kecil?

Begitu banyak kita mengenal bentuk dosa kecil, misalnya membicarakan orang lain (bergunjing), menghina orang, dan lain sebagainya. Pada prinsipnya, dosa kecil bisa menjadi dosa besar manakala dilakukan terus menerus, dianggap sepele, dan dilakukan dengan bahagia.

Dalam hal ini, Rasulullah Saw. bersabda bahwa tidak ada dosa kecil apabila dilakukan dengan terus menerus dan tidak ada dosa besar apabila disertai dengan istighfar.
Allah Swt. berfirman,

“Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui.” (Q.S Ali-Imran [3]: 135)

Lalu bagaimana jalan untuk menghapus dosa-dosa itu?

Dengan beristighfar dan bertobat yang merupakan ciri dan keistimewaan umat Muhammad Saw. Istighfar dilakukan untuk menghapus dosa-dosa kecil kepada Allah, sedangkan dosa yang berkaitan dengan manusia cara menghapusnya adalah dengan meminta maaf kepada yang bersangkutan.

Dalam sebuah hadits juga disebutkan bahwa manakala seseorang berwudhu dengan membasuh bagian-bagian kepala dan anggota badan lainnya, dosa-dosa yang berhubungan dengan bagian-bagian yang dibasuhnya itu pun hanyut oleh air wudhu bagaikan dedaunan kering di pepohonan yang berguguran diterpa angin.

Bagaimana seharusnya tobat dilakukan?

Hakikat tobat yaitu menyesal, meninggalkan perbuatan dosa, dan berazam untuk tidak mengulanginya lagi. Juga penting dilakukan dalam rangka bertobat adalah menghindar dari lingkungan atau pengaruh yang mendorong untuk melakukan perbuatan dosa. Selanjutnya, membaca Al-Quran dan mentadaburinya serta senantiasa berdoa meminta ampun adalah perbuatan yang mutlah harus dilakukan agar dosa terampuni.
Dosa adalah keburukan, sementara tobat adalah kebaikan. Kebaikan bisa menghapus keburukan sebagaimana air bisa membersihkan kotoran.

Dari Abu Dzar Jundub bin Junadah dan Abu Abdirrahman Mu’adz bin Jabal r.a. bahwasamya Rasulullah Saw. bersabda, “Bertakwalah kamu kepada Allah Swt. di mana pun kamu berada, iringilah kesalahanmu dengan kebaikan (misalnya, tobat) niscaya ia dapat menghapuskannya dan pergaulilah semua manusia dengan budi pekerti yang baik.” (H.R. Tirmidzi)

Ketika seseorang melakukan perbuatan baik dengan ikhlas (termasuk juga tobat), sebenarnya perbuatan baiknya tersebutlah yang akan menghapuskan dosa-dosanya. Jika seseorang benar-benar hendak menghapus dosa-dosanya setelah memahami dalil tersebut, amalkan rukun Islam dengan sebaik-baiknya.

Amalan apa saja yang perlu kita lakukan dalam rangka bertobat?

Pertama, shalat. Di samping merupakan perkara wajib, shalat juga merupakan aplikasi pelebur dosa yang paling menakjubkan. Abu Hurairah r.a. mengatakan bahwa dia mendengar Nabi Saw. bersabda, “Bagaimana pendapatmu seandainya di depan pintu salah seorang di antara kamu ada sungai yang dia mandi lima kali tiap hari di dalamnya, apakah kamu katakan, ‘Kotorannya masih tinggal?’” Mereka menjawab, “Kotorannya sedikit pun tidak bersisa.” Beliau bersabda, “Itulah perumpamaan shalat yang lima waktu. Allah menghapus kesalahan-kesalahan dengannya.” (H.R. Bukhari)
Dalam salah satu ayat Al-Quran, Allah Swt. berfirman,

“Dan dirikanlah shalat itu pada kedua tepi siang (pagi dan petang) dan pada bagian permulaan malam. Sesungguhnya perbuatan-perbuatan yang baik itu menghapuskan (dosa) perbuatan-perbuatan yang buruk. Itulah peringatan bagi orang-orang yang ingat.” (Q.S. Huud [11]: 114)

“Laksanakanlah shalat dengan sebaik-baiknya dengan cara berjamaah di masjid, khususnya bagi laki-laki. Barangsiapa yang bersuci (berwudu) di rumahnya lalu pergi ke masjid untuk melaksanakan shalat wajib yang difardukan oleh Allah Swt., maka satu langkah baginya akan menghapuskan kesalahan (dosa) dan langkah berikutnya akan menaikkan derajatnya.” (H.R. Muslim)

Kedua, zakat. “Sesungguhnya Allah telah mewajibkan kepada kaum muslimin untuk mengeluarkan zakat (sedekah) dalam harta benda kaum muslimin, yang diambil dari mereka yang kaya lalu diserahkan kepada fakir miskin dari mereka.” (H.R. Bukhari dan Muslim)

Ketiga, shaum. Perhatikan keterangan berikut, “Barangsiapa shaum Ramadhan karena dorongan iman dan mengharap pahala maka diampuni baginya apa yang telah lalu dari dosanya.” (H.R. Bukhari dan Muslim)

“Puasa Ramadhan hingga Ramadhan berikutnya adalah penghapus dosa-dosa antara keduanya jika seseorang melakukan dosa besar.” (H.R. Muslim)

Keempat, haji. “Barangsiapa yang berhaji karena Allah dengan tidak berkata jelek dan tidak berbuat dosa, dia seperti baru keluar dari perut ibunya (yakni, diampuni dosa-dosanya).” (H.R. Bukhari Muslim). [Ahmad]

Fokus 5

PERKOKOH AKIDAH AGAR TERHINDAR DARI DOSA
K.H. Zaenudin MZ

Sudah menjadi fitrah manusia bahwa dalam menjalani hidupnya di dunia akan senantiasa dihadapkan pada pahala dan dosa. Muslim yang memahami Islam dengan benar adalah mereka yang sudah mengetahui perbedaan perbuatan baik yang benilai pahala dan perbuatan buruk yang bernilai dosa. Demikian dikatakan Zaenudin MZ di suatu kesempatan khusus bersama MaPI.

Lebih lanjut, dai sejuta umat ini mengatakan bahwa tidak ada seorang manusia pun yang bersih dari dosa. Namun demikian, manusia dibekali akal agar dapat mencari dan memahami agama dengan sebaik-baiknya. Dengan begitu, manusia tidak mudah terjebak dalam perbuatan dosa dan selamat dari hukuman-Nya.

Dalam Al-Quran, Allah Swt. mengabadikan jenis manusia yang suka melakukan perbuatan dosa sekaligus ancaman-ancamannya. Hal ini semata-mata bukan untuk menakuti hamba-Nya, melainkan untuk dijadikan pelajaran dan contoh bahwa perbuatan tersebut perlu dijauhi. Begitu juga dalam keterangan sebuah hadits bahwa Rasulullah Saw. mewanti-wanti agar umat Islam menghindari dosa dan segera bertobat apabila telah terlanjur melakukannya.

Mari kita simak Firman Allah Swt. berikut ini.

“Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui.” (Q.S Ali-Imran [3]: 135)
Ayat tersebut berlaku untuk perbuatan dosa besar dan kecil. Sebab, ukuran dosa yang diampuni terletak pada kesadaran dan penyesalan serta taubtan nasuha yang dilakukan dengan segera. Selain itu, kita juga harus berjanji untuk tidak mengulangi perbuatan dosa itu di kemudian hari.

Dosa besar pasti merusak diri, begitu juga dosa-dosa kecil yang dilakukan dengan sengaja dan terus-menerus. Rasulullah Saw. bersabda, “Hati-hatilah kamu terhadap dosa kecil, karena apabila sering dilakukan oleh seseorang, maka pasti akan merusakkannya (akan menjadi dosa besar).” (H.R. Ahmad)

Merujuk pada hadits tersebut, sebagian ulama berpendapat, “Bandingkanlah kerusakan yang diakibatkan oleh dosa itu dengan dosa besar yang sudah ada nasnya. Apabila pada kenyataannya kerusakan yang ditimbulkan itu hanya sedikit, yang demikian adalah dosa kecil. Akan tetapi, apabila kerusakan yang diakibatkan itu sebanding atau lebih besar, yang demikian itu adalah dosa besar.”

Saat ditanya kenapa manusia acapkali terjebak dengan perbuatan dosa, Zaenudin MZ menjawab bahwa dalam diri orang tersebut pasti tidak ada iman yang kokoh. Selain itu, dia pasti tidak memiliki rasa malu dan tidak takut dengan ancaman azab Allah Swt. Maka, untuk membentengi diri dari perbuatan dosa tidak lain adalah dengan memperkokoh keimanan dan ketakwaan.

Orang yang memiliki keimanan dan ketakwaan yang kuat, niscaya tidak berkenan melakukan dosa kecil, apalagi dosa besar yang jelas-jelas berat azabnya. Pribadi yang senantiasa menjaga keimanan dan ketakwaan juga niscaya akan senantiasa dekat dengan amal saleh, baik dalam hal ibadah maupun muamalah.

Menurut Zaenudin MZ, seorang muslim yang menganggap biasa perbuatan dosa, harus dipertanyakan keimanan dan ketakwaannya. Rasulullah Saw. telah bersabda bahwasanya orang munafik menganggap perbuatan dosanya seperti lalat, sedangkan orang beriman menganggap dosanya seperti gunung besar di atas kepalanya.

Dalam hidup, terkadang kita melakukan dosa kecil secara tidak sadar atau sebenarnya sadar namun mengabaikannya. Karena takaran hukumannya terbilang ringan, acapkali kita melakukannya tanpa ada rasa sesal. Contoh kecilnya adalah saat mata kita mengamati aurat atau melihat sesuatu yang dilarang agama. Jarang sekali hati ini menyesal, apalagi mengikrarkan diri untuk ber-taubatan nasuha.

Menurut Zaenudin MZ, perbuatan (dosa kecil) tersebut akan berdampak besar manakala keimanan dan ketakwaannya sedang turun. Berawal dari mata, bisa saja kita melakukan perbuatan maksiat yang teramat pedih azabnya. Maka, Zaenuddin MZ berpesan agar tidak meremehkan dosa kecil.

Berkaitan dengan hal tersebut, mari kita renungkan hadits berikut. “Bahwasanya seorang hamba, tidaklah akan bisa mencapai derajat ketakwaan sehingga dia meninggalkan apa yang tidak dilarang, supaya tidak terjerumus pada hal- hal yang dilarang.” (H.R. Tirmidzi dan Baihaqi)

Diriwayatkan pula bahwa pada suatu ketika Umar bin Khattab bertanya kepada Ubay bin Ka’ab tentang takwa. Ubay balik bertanya, “Apakah Anda pernah melewati jalan yang banyak durinya?” “Pernah,” jawab Umar. Ubai bertanya kembali, “Bagaimana ketika Anda melewatinya?” Umar menjawab, ”Saya bersungguh-sungguh serta berhati-hati sekali supaya tidak kena duri.” Ubai akhirnya berkata, “Itulah arti takwa yang sebenar-benarnya.”

Sebagai pamungkas, Zaenudin MZ kembali mengingatkan bahwa orang yang maksum (dijaga oleh Allah) seperti Nabi Muhammad Saw. pun masih dituntut untuk menjalankan hidup dengan berhati-hati baik dalam hal perbuatan, perkataan, dan juga dorongan hati agar terbebas dari perbuatan dosa kecil. [Ahmad]

Fokus 6

SYARAT BERTOBAT

Secara bahasa, tobat berarti kembali. Maksudnya, kembali pada kebenaran yang dilegalkan Allah Swt. dan diajarkan Rasulullah Saw. Tobat merupakan upaya seorang hamba dalam menyesali dan meninggalkan perbuatan dosa yang pernah dilakukannya.
Tobat merupakan rahmat Allah yang diberikan kepada hamba agar dapat kembali kepada-Nya. Islam tidak memandang manusia layaknya malaikat yang bersih tanpa kesalahan dan dosa. Namun demikian, Islam tidak membiarkan manusia berputus asa dari ampunan Allah, betapa pun besar dosa yang telah diperbuatnya. Muhammad Saw. telah membenarkan hal ini dalam sabdanya, “Setiap anak Adam pernah berbuat kesalahan (dosa) dan sebaik-baik orang yang berbuat dosa adalah mereka yang bertobat (dari kesalahan tersebut).” (H.R. Baihaqi dan Tirmidzi)

Tobat dalam Islam tidak mengenal perantara. Pintu tobat selalu terbuka luas tanpa penghalang dan batas. Allah Swt. selalu “membentangkan tangan” bagi hamba-hamba yang ingin kembali kepada-Nya.

Imam Muslim dari Abu Musa Al-Asyari meriwayatkan,“Sesungguhnya Allah membentangkan tangan-Nya di siang hari untuk menerima tobat orang yang berbuat kesalahan pada malam hari sampai matahari terbit dari barat.”

Oleh karena itu, merugilah orang-orang yang berputus asa dari rahmat Allah dan membiarkan dirinya terus-menerus melampaui batas. Sungguh, Allah akan mengampuni dosa hamba-Nya karena Dia-lah yang Maha Pengampun lagi Penyayang.

Tobat dari segala kesalahan tidaklah membuat seorang hamba hina di hadapan Tuhannya. Hal itu justru akan menambah kecintaan dan kedekatan seorang hamba dengan Tuhannya. Allah berfirman dalam surat Al-Baqarah ayat 222, “Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang tobat dan menyukai orang-orang yang mensucikan diri.”

Perintah Allah supaya kita bertobat dapat dijumpai dalam banyak ayat Al-Quran. Namun, tobat yang dimaksudkan adalah tobat yang sebenar-benarnya yang disebuat taubatan nasuha. Taubatan nasuha adalah keinginan kuat untuk tidak kembali pada kesalahan yang sebelumnya diperbuat dan menggantinya dengan amal ibadah yang banyak. Setiap tobat yang sungguh-sungguh dari dosa, sebesar apa pun, akan dibukakan pintu ampunan oleh Allah. Hal tersebut membuat Allah Swt. berbahagia. Bahkan, Al-Quran menggambarkan kebahagiaan Allah itu seperti seorang gembala yang kehilangan peliharaannya dan menemukannya kembali. Semua itu karena Allah memiliki sifat Ghofurur Rohim, Maha Pengampun.

Lantas, bagaimana praktik taubatan nasuha itu? Mudah saja. Pertama, meminta ampun kepada Allah Swt. Kedua, menyesali perbuatan dosa yang telah dilakukan. Ketiga, berjanji tidak akan mengulanginya. Keempat, jika dosa yang dilakukan menyangkut hak orang lain, hendaknya diselesaikan dengan orang yang bersangkutan.

Untuk mendukung keempat syarat tobat tersebut, ada beberapa hal yang harus ditempuh. Di antaranya adalah harus segera keluar dari lingkungan pergaulan yang membuat kita terjerumus ke dalam kemaksiatan. Lalu, beralihlah bergaul degan orang-orang saleh dan hanya membatasi pergaulan dengan orang-orang yang baik. Hal ini mutlak dilakukan bagi siapa pun yang ingin bertobat dengan sebaik-baiknya. Kita tidak mungkin bisa bertobat jika masih berada dalam pergaulan lingkungan yang tidak baik.

Selain itu, kita juga bisa memperkuat azzam tobat dengan banyak membaca Al-Quran, melakukan amalan-amalan sunah (baik zikir, shaum, shalat, dan lain-lain), memperbanyak berbuat kebaikan, dan selalu berusaha lebih mendekatkan diri kepada Allah Swt.

Semua hal tersebut mungkin pada awalnya akan terasa berat, namun kita harus melakukannya dan bersabar. Dengan kesabaran dan kesungguhan ingin kembali kepada-Nya, insya Allah Dia pasti akan memudahkan jalan bagi kita. Amin. [Ali]

Editorial

DIA BUKAN MUJAHID!

Belum reda teror bom buku yang terjadi beberapa waktu yang lalu, kini kita dikejutkan dengan peristiwa bom bunuh diri di Masjid Al-Dzikra, kompleks Mapolresta Cirebon, pada Jumat (15/4) lalu. Peristiwa tersebut menewaskan pelaku bom bunuh diri dan melukai puluhan orang lainnya, termasuk Kapolres Cirebon Kota (Ajun Komisaris Besar Herukoco) dan iman sekaligus khatib Jumat, Ustadz Abas Sudinta.

Mengapa sangat mengejutkan? Tidak lain karena sasarannya adalah polisi (dan juga anggota masyarakat lainnya) yang berada di masjid saat menunaikan shalat Jumat. Selama ini, persepsi yang terbangun dalam benak khalayak adalah pelaku bom selalu berafiliasi pada organisasi keislaman. Dengan demikian, mereka dinilai sangat menghormati tempat ibadah umat Islam dan tidak akan menyerang sesama muslim.
Selama ini, insiden pengemboman ditujukan pada berbagai kepentingan yang berbau Amerika Serikat; misalnya gedung kedubes, hotel, sampai pada tempat-tempat yang tidak jauh dari mutasi budaya Barat. Objek-objek tersebutlah yang dibidik sebagai sasaran penyerangan dan karenanya senantiasa dijaga ketat oleh aparat. Pada perkembangannya, terjadi pergeseran sasaran pemboman, yaitu siapa saja yang dianggap menghalang-halangi “perjuangan” mereka.

Sasaran pertama yang akhirnya diburu adalah polisi. Sebab, polisilah yang selama ini menceraiberaikan kelompok dan jaringan mereka. Oleh polisi, satu per satu para pelaku pengeboman tewas dalam penggerebekan atau tertangkap dan diadili. Mereka menganggap polisi sebagai bagian dari pemerintahan yang toghut dan kafir sehingga halal hukumnya untuk dibunuh. Dalam konteks ini, polisi yang tengah menunaikan shalat Jumat menjadi pertimbangan yang mereka abaikan. Masjid di kompleks Polres Cirebon Kota juga mereka anggap sebagai masjid dhirar, yaitu tempat ibadah yang dibangun sebagai simbol semata dan bukan atas dasar keimanan.

Bom yang diledakkan di masjid, bahkan tepat pada saat shalat Jumat, terasa aneh dan jelas menjadi “fitnah” yang membingungkan banyak orang. Menurut Koordinator Tim Pembela Muslim (Mahendradatta) kejadian ini di luar kebiasaan. Sudah ada pergeseran konsep. Pelakunya pasti berbeda dengan pelaku bom sebelumnya. Bahkan, patut diduga bahwa pelaku adalah kelompok baru yang berbeda konsep dengan para pelaku bom yang dibelanya selama ini.

Dari kejadian ini dapat disimpulkan bahwa pelaku bom bunuh diri di Masjid Al-Dzikra adalah orang yang sakit jiwa. Tidak ada dalilnya melakukan aksi bom bunuh diri di dalam masjid. Orang-orang yang sedang shalat berarti sedang berjihad. Jika orang tersebut mendalami fikih jihad, dia tidak mungkin mengebom masjid. Semilitan-militannya mujahidin, merusak masjid tentu dilarang. Di sini perlu ditegaskan bahwa pelaku bom di Masjid Al-Dzikra yang belakangan diidentifikasi sebagai Muhammad Syarif Astanagarif bukanlah seorang mujahid. [Ali]

Opini 1

PEMBANGUNAN YANG MELUKAI HATI RAKYAT
Abu Ulya

Syahwat mayoritas anggota DPR RI untuk memiliki gedung baru ternyata tak terbendung oleh siapa pun. Meski mendapat tentangan luar biasa dari berbagai elemen masyarakat saat wacana itu terlontar pada pertengahan 2010 lalu, para anggota dewan yang terhormat tetap ngotot akan membangun gedung baru tersebut. Kritikan pedas atas rencana pembangunan gedung bernilai Rp 1,1 triliun itu hanya dianggap angin lalu. Bahkan, imbauan presiden pun tidak mereka indahkan.

Sang pemimpin DPR sendiri bertekad untuk menggolkan rencana itu. Padahal, sudah ada beberapa fraksi dalam pernyataan politiknya di media massa yang telah berbalik badan dan meminta agar rencana pembangunan gedung baru tersebut dievaluasi. Ketua DPR RI, Marzuki Alie, menantang para pengkritiknya dengan lantang, bahkan cenderung melecehkannya dan bersikap angkuh. “Rakyat biasa jangan diajak membahas pembangunan gedung baru. Hanya orang-orang elit, orang-orang pintar, yang bisa diajak membicarakan masalah itu. Rakyat biasa, dari hari ke hari, yang penting perutnya berisi, kerja, ada rumah, ada pendidikan, selesai. Jangan diajak mengurus yang begini. Urusan begini, ajak orang-orang pintar bicara, ajak kampus bicara,” kata politisi Partai Demokrat itu.

Mendengar kata-kata tersebut, kita sebagai rakyat biasa hanya bisa mengurut dada. Mau dibawa ke mana negeri tercinta ini jika para wakil yang dipilih rakyat melakukan tindakan sewenang-wenang dan gemar menyakiti hati rakyat yang seharusnya mereka ayomi. Bagi mereka, memikirkan gedung baru jauh lebih bernilai dan penting dibandingkan nasib rakyat yang diwakilinya, yang kian hari hidupnya makin susah oleh harga-harga kebutuhan pokok yang terus melambung.

Sepertinya, jarak antara anggota dewan yang terhormat dan rakyat yang diwakilinya akan semakin jauh saja. Coba bayangkan gaya hidup bermewah-mewahan para anggota dewan jika gedung itu telah selesai dibangun. Setiap anggota DPR plus enam stafnya, nanti akan menghuni ruangan seluas sekitar 120 meter persegi seharga lebih dari Rp 800 juta! Itu setara dengan harga apartemen mewah di Jakarta. Gedung baru DPR tersebut juga lebih wah daripada gedung lembaga negara mana pun karena akan dilengkapi fasilitas, seperti kolam renang, fitness center, spa, pijat refleksi, pertokoan, koperasi, apotek, dan fasilitas mewah lainnya. Terdengar lebih mirip kompleks hunian mewah ketimbang kantor legislatif, bukan? Apalagi pembangunan ini menggunakan uang rakyat yang diperoleh dari pajak, bukan uang anggota DPR.

Dengan fasilitas mewah yang begitu fantastik, apa yang dihasilkan oleh anggota DPR? Apakah amanat yang diberikan rakyat sudah dijalankan? Apa kerja anggota dewan kita sudah maksimal? Faktanya, sebagian wakil rakyat sering mangkir dari sidang. Kalaupun hadir dalam rapat parlemen, sebagian di antara mereka lebih asyik ber-Facebook, ber-Twitter, menonton video porno melalui komputer tablet, dan bahkan terlelap dalam mimpi. Harus jujur diakui bahwa rakyat sulit sekali menemukan dan merasakan tetes keringat wakil mereka di Senayan yang bekerja berbasiskan komitmen dan integritas. Publik lebih kerap menjumpai anggota DPR metroseksual yang lebih mengutamakan gaya dan wangi penampilan, tetapi nihil keprihatinan sosial. Itulah yang membuat kita miris.

Sungguh tidak patut dan tidak pantas lagi keinginan membangun gedung baru dengan anggaran selangit itu di tengah seratus juta penduduk yang masih hidup dalam kemiskinan. Sementara rakyat masih tercekik dalam impitan ekonomi, anggota DPR kita malah ingin bermegah-megahan. Sungguh, apa pun alasannya, jelas sekali anggota DPR kita tidak nggenah! Tidak patut dan tidak pantas. Tidak berpikir rasional dan telah menyakiti hati rakyat.

Jika begini, apakah anggota DPR masih bisa dikatakan sebagai wakil rakyat? Masih pantaskah mereka diserahi amanat rakyat? Bukankah wakil rakyat seharusnya merakyat dan tidak tidur saat sidang soal rakyat?

Ini adalah bukti kerakusan dan kebodohan manusia dalam memegang amanah sebagaimana yang tercantum dalam Surat Al-Ahzab (33) ayat 72. “Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi, dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh.”
Akhirnya, kita sebagai rakyat tidak bisa melakukan hal lain kecuali berdoa. Semoga para anggota dewan kita kelak menyadari kelemahan dan kesalahannya dalam menjalankan amanah. Amin.

Opini 2

HATI-HATI, NII!
(Pengakuan Mantan Anggota NII)
Abu Hilmy

Sangat dimaklumi bila akhir-akhir ini banyak orangtua mengkhawatirkan putra-putrinya terjebak dalam pemahaman agama yang melenceng dari ajaran Islam. Pasalnya, banyak terkuak kasus penculikan dan pencucian otak bermotif ajakan untuk memahami Islam secara mendalam, tetapi justru malah menjerumuskan. Hal ini, sebagaimana yang kita saksikan dari banyak testimoni mantan anggota kelompok NII. Mereka dibolehkan mencuri, tidak shalat, dan membangkang kepada orangtua yang dianggap tidak sejalan dalam mengimplementasikan ajaran Islam. Tentunya, hal ini patut mendapatkan perhatian dari semua pihak.

Memang, isu NII atau biasa pula disebut N11 (N Sebelas) kini menasional kembali. Kelompok yang sangat mencita-citakan terwujudnya Negara Islam Indonesia ini dikaitkan dengan serangkaian kasus penculikan dan pencucian otak yang marak belakangan ini.
Tak banyak orang yang mengetahui keberadaan kelompok-kelompok NII. Konon, tempat berkumpul kelompok ini selalu berpindah-pindah (nomaden). Gerak-gerik kelompok yang berideologi anti-Pancasila ini pun cukup eksklusif. Maka, wajar bila tidak sembarang orang bisa masuk dan berbaur dengan kelompok ini. Bahkan, seseorang harus dibaiat terlebih dahulu sebelum menjadi anggota. Dia juga dilarang bercerita kepada siapa pun, kecuali kepada sesama anggota kelompok.

Ibarat sebuah negara, NII memiliki struktur pemerintahan sendiri; mulai dari presiden, menteri, gubernur, bupati, hingga RT dan RW. Tak hanya itu, daerah otoritasnya dilengkapi dengan angkatan perang. Konon, angkatan perang tersebut cukup kuat, memiliki loyalitas tinggi, serta dilengkapi persenjataan modern.

Menurut salah satu mantan anggota NII bernama Encep, seorang anggota biasanya tidak dapat mengenal presidennya secara langsung. Sistem komando diterapkan dalam kelompok ini. “Seorang anggota dianggap sebagai ‘rakyat biasa’ seperti saya dulu yang paling banter hanya bisa berhubungan dengan orang yang menjabat sebagai ketua RT. Dan, ketua RT hanya bisa berhubungan dengan ketua RW yang memiliki jenjang jabatan satu tingkat di atasnya,” ungkap Encep yang merupakan warga Bandung Barat.

Dari waktu ke waktu, NII mengalami perkembangan yang cukup signifikan sejak keberadaannya pertama kali diproklamasikan oleh Sekarmaji Marijan Kartosuwiryo pada 7 Agustus 1949. Daerah Tasikmalaya (Jawa Barat) menjadi basis pertama NII. Gerakan serupa kemudian meluas ke Sulawesi Selatan di bawah pimpinan Kahar Muzakar pada 20 Januari 1952. Disusul pembentukan NII di Aceh oleh Abu Daud Beureuh pada 21 September 1953.

Upaya NII untuk mendirikan Negara Islam Indonesia terus digalang. Konon, setidaknya terdapat 14 faksi yang setia memperjuangkan berdirinya kembali NII. Semisal Faksi Abdullah Sungkar, Faksi Abdul Fatah Wiranagapati, Faksi Mahfud Sidik, Faksi Aceh, Faksi Sulawesi Selatan, Faksi Madura, Faksi Kahwi 7, Faksi Kahwi 9, serta beberapa faksi lainnya. Basis NII sendiri ada di tiga tempat. Wilayah Jawa berbasis di Garut, wilayah Sumatera berbasis di Aceh, dan untuk bagian Indonesia Timur berbasis di Sulawesi. Jumlah penganut ideologi NII kini telah mencapai sekitar puluhan juta orang yang tersebar di seluruh Indonesia dan Asia Tenggara.

Sejumlah kampus di Bandung berhasil disusupi oleh kelompok ini. Mahasiswa menjadi ladang garapan yang mudah karena mereka tengah dalam proses pencarian jati diri. Menurut Encep, mereka diperbolehkan melawan orangtua, mencuri, bahkan meninggalkan shalat. Tak hanya itu, mereka juga diwajibkan membayar iuran bulanan yang berjumlah ratusan ribu hingga jutaan rupiah. Akibatnya, tak jarang para anggota yang kebanyakan mahasiswa itu, harus berutang ke sana kemari atau bahkan mencuri.

Namun demikian, kata Encep, tidak semua faksi NII melegalkan hal tersebut. Sepengetahuan Encep, dalam tubuh NII terdapat faksi-faksi yang berbeda ideologi. Ada faksi yang menjalankan tujuannya secara radikal dengan mengajak anak muda untuk melakukan segala cara yang tidak terpuji untuk menghimpun dana, mengkafirkan orang, ataupun memusuhi orang yang berbeda pemikiran. Encep sendiri waktu itu tidak masuk dalam kelompok NII radikal.

Dia hanya sempat mendapatkan pembinaan diri sebagai pribadi muslim dan pembinaan rumah tangga agar dapat menjalankan keluarga yang sakinah. Tugas Encep waktu itu adalah membentuk organisasi, menyelenggarakan kongres, berintegrasi dengan masyarakat, berdakwah dengan cara kekeluargaan, dan menyampaikan hakikat demi tegaknya syariat Islam.

Kembali maraknya kasus penculikan dan pencucian otak oleh kelompok NII saat ini, seperti yang dilaporkan stasiun televisi swasta nasional kita, memang memunculkan keprihatinan tersendiri. Sebut saja kasus sembilan mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang yang dilaporkan diculik kelompok ini. Para mahasiswa diajak bergabung dalam kelompok perjuangan yang mendirikan Negara Islam Indonesia.

Tudingan tersebut tidak mengada-ada. Terbukti, salah seorang anggota NII di Bandung mengakui hal tersebut. Adnan Fahrullah (40 tahun) sudah lima belas tahun bergabung dengan NII KW 9. Dalam wawancaranya dengan detikbandung, dia mengaku telah mencuci otak 5.000 orang. Namun demikian, menurut Adman, hanya 15 persen dari jumlah tersebut yang telah sadar serta memiliki pekerjaan. Perlu diketahui bahwa ketika bergabung dengan NII, mereka meninggalkan pekerjaan dan keluarga mereka.

“Tapi ada juga yang bekerja terpaksa (seadanya, red.) demi kehidupan anak-anaknya. Contohnya, saat ini ada wanita mantan NII yang menjadi PSK. Ya, jumlahnya tidak lebih dari lima dan berdomisili di kota dan kabupaten Bandung. Untuk domisili yang sama, tercatat sekitar 50 orang depresi, dua di antaranya menjadi gila dan berkeliaran di jalan,” ungkap Adnan saat berbincang di sebuah tempat di kawasan Bandung Selatan.

Setelah memutuskan keluar dari kelompok NII KW 9 pimpinan Panji Gumilang, lanjut Adnan, dia bertobat dan sering menangani para korban NII. Sebagai orang yang pernah malang melintang di NII KW 9, dia mengaku sedih dengan kondisi para korban. “Saya memang merasa dosa saat merekrut ribuan korban kala itu. Saya cuci otaknya. Tapi, jika ada racun, pasti ada penawarnya juga. Maka itu, ada cara dan trik jitu untuk memulihkan korban NII,” ujarnya, tetapi merasa keberatan membeberkan penawar yang dimaksud.

Namun demikian, salah satu cara untuk menolong mantan anggota NII menurut Adnan adalah dengan menyediakan pekerjaan. Selain itu, polisi juga harus bertindak tegas terhadap NII gadungan dan sempalan yang hingga kini masih berkeliaran mencari calon korban.

Pola cuci otak yang kini marak dilakukan terhadap karyawati dan mahasiswi mirip dengan cara lama yang dulu dilakukan para pengikut NII di Jawa Barat yang dipimpin Panji Gumilang. Mereka melakukan rekrutmen melalui dakwah secara keliling ke beberapa tempat keramaian seperti mal dan tempat keramaian lainnya. Selanjutnya, calon warga NII tersebut dibawa ke suatu tempat sehingga hilang dari pantauan keluarganya. Namun demikian, menurut Adnan, yang terjadi saat ini bukanlah ajakan masuk ke NII secara murni. Dari cara-caranya, ada kejanggalan, seperti menghipnotis dan mengambil barang-barang korban.

Sebagai mantan NII, Encep dan Adnan menyesal dan menyadari kesalahan perbuatan mereka di masa lalu. Mereka berharap masyarakat waspada dengan beberapa ajakan, meski berkedok dakwah sekalipun. Ya, semoga saja korban NII tidak bertambah banyak dan kita doakan pula agar saudara-saudara kita yang sudah kadung menjadi anggota NII segera sadar sebagaimana Encep dan Adnan.

An Nisa

AGAR NYAMAN BERGAUL
Sasa Esa Agustiana

Bismillaah. Teh Sasa, saya ingin minta masukan mengenai cara membuat orang lain nyaman bergaul dengan kita. Jawabannya sangat saya tunggu. Terima kasih sebelumnya.
Ukhti yang dirahamati Allah Swt., manusia adalah makhluk sosial. Mereka senantiasa ingin saling berkomunikasi, tidak bisa hidup sendiri, saling membutuhkan, saling memperhatikan, dan tentunya normal bila ada hasrat ingin saling mengenal dan saling menyenangkan satu sama lain. Bahkan dalam Islam, antara sesama mukmin terikat tali ukhuwah Islamiyah; persaudaraan sesama muslim dengan ikatan keimanan yang sama.
Dalam proses interaksi tersebut, kenyamanan akan hadir bila kita berupaya membina komunikasi, silaturahmi, dan tidak ada perbedaan persepsi terhadap arti persaudaraan yang dimaksud. Secara rinci, berikut sejumlah tips yang bisa dijadikan pegangan agar kita nyaman bergaul dengan saudara seakidah.

Jauhi berburuk sangka dan menggunjing.
Allah Swt. berfirman,
“Wahai orang-orang yang beriman!Jauhilah bannyak dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa dan jangan kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah ada di antara kamu menggunjing sebagian yang lain. Apakah ada di antara kamu suka memakan daging saudaramu yang telah mati? Tentu kamu merasa jijik. Dan bertakwalah kepada Allah, sungguh Allah Maha Penerima Ttobat dan Penyayang.” (Q.S. Al-Hujuurat [49]: 12)

Menjauhi teman yang buruk akhlaknya.
Allah Swt. mengingatkan kita bahwa ada sebagian manusia pada hari kiamat yang menyesali pergaulan dengan temannya yang ternyata hanya membawa keburukan.
Firman-Nya,

“Dan (ingatlah) hari ketika itu orang yang zalim menggigit dua tangannya seraya berkata, ‘Aduhai kiranya (dulu) aku mengambil jalan bersama-sama Rasul. Kecelakaan besarlah bagiku, kiranya aku (dulu) tidak menjadikan si fulan itu teman akrab(ku). Sesungguhnya dia telah menyesatkan aku dari Al-Quran ketika Al-Quran telah datang kepadaku.’ Dan adalah setan itu tidak mau menolong manusia. Berkatalah Rasul, ‘Ya Rabbku, sesungguhnya kaumku menjadikan Al-Quran ini suatu yang tidak diacuhkan.’” (Q.S. Al-Furqaan [25]: 27-29)

Dalam ayat yang lain, Allah Swt. menerangkan, “Teman-teman akrab pada hari itu sebagiannya menjadi musuh bagi sebagian yang lain kecuali orang-orang yang bertakwa.” (Q.S. Al-Zukhruf [43]: 67)

Diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim, Nabi Muhammad Saw. bersabda, “Perumpamaan teman yang baik dan teman yang buruk sama seperti penjual minyak wangi dan tukang pandai besi. Adapun penjual minyak wangi, dia akan memberimu atau engkau membeli minyak wangi darinya atau engkau akan mendapat bau yang wangi darinya. Sementara tukang pandai besi, dia akan membakar pakaianmu atau engkau akan mendapat bau yang buruk darinya.”

Miliki sifat pemalu seperti Rasulullah Saw.
Ketahuilah bahwa Rasulullah Saw. lebih pemalu dari gadis perawan dan apabila beliau tidak menyukai sesuatu hal itu terlihat dari wajahnya. Sifat haya (pemalu) itu termasuk bagian dari iman. Sifat haya dapat menghalangi kita dari sifat berdusta. Contoh sifat pemalu di sini adalah menghormati orangtua dan menjaga diri agar tidak terjerumus pada perbuatan maksiat.

Ucapkan perkataan yang baik.
Mari kita perhatikan ayat berikut.

“Hai istri-istri Nabi, kamu sekalian tidaklah seperti wanita yang lain, jika kamu bertakwa. Maka, janganlah kamu tunduk dalam berbicara sehingga berkeinginanlah orang yang ada penyakit dalam hatinya,dan ucapkanlah perkataan yang baik.” (Q.S. Al-Ahzab [33]: 32)

Bertakwa kepada Allah dengan muraqabah kepada-Nya.
Hal ini dapat membuat kita waspada terhadap kemaksiatan, baik yang kecil maupun yang besar. Dan, Allah telah menjanjikan bagi orang yang meninggalkan dosa-dosa besar bahwa akan dihapuskan dosa-dosa kecilnya dan akan dimasukkan ke dalam tempat yang mulia sebagaimana firman-Nya,

“Jika kamu menjauhi dosa-dosa besar di antara dosa-dosa yang dilarang, niscaya Kami hapus kesalahan-kesalahanmu (dosa-dosamu yang kecil) dan Kami masukkan kamu ke tempat yang mulia (surga).” (Q.S. An-Nisaa [4]: 31)

Senantiasa berbuat ihsan.
Ihsan adalah menyembah Allah seakan-akan kita melihat-Nya dan jika kita tidak melihat-Nya, maka sungguh Dia telah melihat kita. Mengenai hal ini, Allah Swt. menerangkan,

“Tidakkah engkau perhatikan bahwa Allah mengetahui apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi? Tidak ada pembicaraan rahasia antara tiga orang, melainkan Dia-lah yang keempatnya. Dan tidak ada lima orang, melainkan Dia-lah yang keenamnya. Dan tidak ada yang kurang dari itu atau lebih banyak, melainkan Dia pasti ada bersama mereka di manapun mereka berada. Kemudian Dia akan memberitakan kepada mereka pada hari kiamat apa yang telah mreka kerjakan. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (Q.S. Al-Mujaadilah [58]: 7)

Gemar bersedekah dan memberi hadiah kepada sesama.
Perhatikan kedua ayat berikut.

“Tidak ada kebaikan pada kebanyakan bisikan-bisikan mereka, kecuali bisikan-bisikan dari orang yang menyuruh (manusia) memberi sedekah, atau berbuat makruf, atau mengadakan perdamaian di antara manusia. Dan barangsiapa yang berbuat demikian karena mencari keridhaan Allah, maka kelak Kami memberi kepadanya pahala yang besar.” (Q.S. An-Nisaa [4]: 114)

“Katakanlah, ‘Sesungguhnya Tuhanku melapangkan rezeki bagi siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya dan menyempitkan bagi (siapa yang dikehendaki-Nya).’ Dan barang apa saja yang kamu nafkahkan, maka Allah akan menggantinya dan Dia-lah Pemberi rezeki yang sebaik-baiknya.” (Q.S. Saba’ [34]: 39)

Menurut Ibnu Qayyim, “Memberi hadiah serta bersedekah adalah perbuatan yang paling dicintai oleh Nabi Muhammad Saw. dan kesenangan beliau saat memberi lebih besar dari kesenangan orang yang mengambil pemberian yang diberikan kepadanya. Beliau adalah orang paling dermawan dengan kebaikan, tangan kanan beliau bagaikan angin yang berembus kencang. Apabila ada orang yang membutuhkan datang meminta maka beliau mendahulukannya dari kepentingan pribadinya, mendahulukan mereka dengan makanan, dengan pakaian.”

Nabi Muhammad Saw. memerintahkan umatnya untuk bersedekah, baik dengan harta maupun perkataan. Beliau adalah manusia ciptaan Allah yang paling lapang dadanya, yang paling baik kehidupannya, paling halus hatinya. Dan, sedekah memiliki dampak yang sangat mengagumkan dalam mengasah jiwa lapang dada. Sedekah pahalanya tetap mengalir walaupun yang bersangkutan telah meninggal dunia. Wallahu a’lam

Profil

Bilal Philips:
MANTAN MUSISI YANG TELAH MENGISLAMKAN RIBUAN TENTARA AS

Beberapa waktu yang lalu di Eropa, khususnya Denmark, telah terjadi perdebatan hangat di kalangan politisi dan anggota dewan mengenai kedatangan seorang dai bernama Bilal Philips. Dia diundang sebagai pembicara utama dalam suatu konferensi Islam yang diadakan oleh departemen kepemudaan Islam Denmark. Para politisi dan anggota dewan tersebut resah karena Philips dianggap sebagai tokoh muslim garis keras. Bahkan, Philips telah dilarang masuk ke Inggris dan Australia yang menganggapnya sebagai ancaman potensial bagi masyarakat di kedua negara tersebut.

Tudingan juga datang dari Amerika Serikat (AS). Oleh seorang pakar terorisme asal AS, Lorenzo Vidino, Philips dinilai sebagai sosok garis keras yang memiliki hubungan dengan kelompok-kelompok radikal di seluruh dunia. Oleh sebab itu, Vidino menilai bahwa mengundang Philips sebagai pembicara dalam konferensi muslim di Denmark adalah sebuah ide yang buruk.

Vidino mengatakan hal tersebut setelah melihat video ceramah Philips di YouTube. Dalam video-videonya, Philips mempromosikan hukum syariah dan mengutuk Syiah serta homoseksual. Dalam salah satu videonya, Philips juga menjelaskan bahwa AIDS adalah hukuman Tuhan untuk kaum homoseksual dan dia mendukung hukuman mati bagi homoseksual. Dalam video yang lain, Philips membela aksi-aksi bom bunuh diri dengan alasan bahwa serangan tersebut harus dipandang sebagai bentuk sah dari perang.

Siapa sebenarnya Bilal Philips dan apa latar belakangnya sehingga dia dicap sebagai penganut Islam garis keras oleh negara-negara Barat?

Bernama lengkap Abu Ameenah Bilal Philips, muslim yang satu ini lahir di Kingston (Jamaika) pada 7 Januri 1947 dari keluarga Kristen yang taat. Pada usia sebelas tahun, dia berimigrasi ke Kanada bersama kedua orangtuanya untuk mencari penghidupan yang lebih layak. Seperti kita ketahui, Jamaika merupakan negara miskin di daerah Karibia (AS) yang sampai saat ini perekonomiannya masih terbelakang.

Sebelum memeluk agama Islam, Philips berprofesi sebagai musisi, atau lebih tepatnya seorang gitaris profesional. Ketika berkuliah di Universitas Simon Frasier di Vancouver (Kanada), Philips memainkan gitar dalam pertunjukan musik di klub-klub malam. Setelah sekian lama malang melintang di Kanada, Philips pindah ke negeri Jiran mengikuti ayahnya yang menjadi penasihat menteri pendidikan Malaysia. Di Malaysia, dia semakin populer karena kepiawaiannya memainkan gitar. Bahkan, publik Malaysia menjulukinya sebagai Jimmy Hendrix-nya Sabah.

Di puncak popularitas, jiwanya gelisah. Philips pun memutuskan mengasingkan diri dari hiruk-pikuk dunia entertainmen. Pada 1972, dia masuk Islam dan meletakkan gitar untuk selamanya. Proses masuk Islamnya terbilang cukup singkat, hanya enam bulan setelah membaca buku-buku Islam dan berdiskusi tentang ajaran yang dibawa Muhammad Saw. tersebut.

Dalam biografi di situsnya dia mengatakan, “Ketika menjadi seorang muslim, saya merasa tidak nyaman melakukan hal ini (bergelut dalam dunia entertain, red.) dan menyerah baik secara profesional maupun pribadi.” Bagi banyak orang, musik menjadi sumber hiburan obat penawar kegundahan. “Quran, kata-kata Allah yang penuh dengan bimbingan, juga bisa memainkan peran itu,” tegas Philips.

Setahun setelah mengucapkan dua kalimat syahadat, Philips berkeinginan memperdalam ajaran Islam. Dia pun mendaftarkan diri ke jurusan studi Islam di Universitas Islam Madinah (Arab Saudi). Setelah menyelesaikan studi strata satu, dia melanjutkan pendidikan ke Universitas Riyadh. Sambil menyelesaikan kuliah untuk meraih gelar MA-nya, Philips menjadi host (pembawa acara) program Why Islam? di stasiun televisi Saudi, Channel Two.

Acara tersebut merupakan program wawancara dengan para mualaf dari berbagai latar belakang untuk mengetahui alasan mereka memilih Islam. Selain itu, Philips juga melakukan riset dan menulis buku yang berjudul Polygamy in Islam dan Fundamentals of Islamic Monotheism.

Setalah menyelesaikan gelar pasca-sarjananya, Philips dipekerjakan di Departemen Agama Markas Besar Angkatan Udara Arab Saudi di Riyad. Tugasnya adalah mengajarkan agama Islam pada pasukan AS di basis-basis militer mereka di Bahrain dan provinsi bagian timur Arab Saudi. Pada saat itu, di sana sedang terjadi perang teluk antara pasukan koalisi pimpinan AS melawan tentara Irak. Berkat kepiawaiannya dalam berceramah, Philips berhasil mengislamkan sekitar 3.000 tentara dari total 500.000 tentara AS yang berada di kawasan Teluk saat itu.

Tidak berhenti sampai di situ, Philips kemudian pergi ke AS untuk membantu memberikan bimbingan rohani bagi para tentara yang baru masuk Islam. Selama di AS, perjuangan Philips dibantu oleh sebuah organisasi Islam bernama Muslim Members of the Miltary (MMM). Berkat bantuan organisasi tersebut, Philips berhasil mendesak militer AS untuk membangun fasilitas mushala di seluruh basis militernya. Selain itu, pemerintah AS juga berkewajiban untuk meminta komunitas muslim mengajukan kandidat ulama yang akan menjadi pembimbing rohani bagi tentara muslim di kemiliteran AS.

Keberhasilan Philips dalam membangun komunitas tentara muslim di AS tidak lantas membuatnya cepat puas. Philips tertarik untuk pergi berdakwah ke Filipina, tepatnya di Mindanao. Di negara yang mayoritasnya beragama Katolik ini, dia mendirikan universitas berbasis Islam. Di universitas ini, dia membuka jurusan studi Islam sampai level MA dan menyiapkan tenaga pengajar yang berorientasi pada Islam.

Pada 1994, Philips diundang oleh amir Uni Emirat Arab (Syaikh Salim Al-Qasimi) untuk berkerja sama dengan lembaga amal Dar Al Ber. Selain itu, dia juga membentuk Pusat Informasi Islam yang bertujuan untuk meluruskan pandangan-pandangan yang salah tentang Islam. Di sini, dia dibantu oleh para mualaf dari berbagai negara. Tidak puas mendirikan Pusat Informasi Islam, Philips membuat sebuah penerbitan yang berisi tentang literatur-literatur Islam sebagai media untuk memberikan edukasi kepada para mualaf yang baru belajar Islam.

Perjuangan Bilal Philip dalam berdakwah sangat luar biasa dan dia tidak pernah kenal menyerah. Banyak suka dan duka yang telah dialaminya, tetapi satu yang membuatnya sangat gembira adalah ketika kedua orangtuanya masuk Islam pada usia sekitar 70 tahun. Mereka memutuskan masuk Islam karena menyaksikan langsung rusaknya moral masyarakat AS. [Ali, dari berbagai sumber]

Tafakur

Time Lessons

A businessman said that time is money
If you spend it right, you’ll be rich
If you waste it, you’ll be trapped in debt.

A warrior said that time is a sword
You can kill your enemy with it
Or you can also get killed by it.

A pretty woman said that time is stealer
It’s stole your beauty once you proud of
It’s left you nothing but wrinkles and curves.

A philosopher said that time is now
You don’t have to worry about the future because it’s still a mystery
You don’t have to regret about the past because it’s already become a history.

And a dying man said that time is priceless
You can’t trade it with your wealthiness
You can’t turn it back with your authority.

[By Sly]

***

Pelajaran Waktu

Seorang pebisnis berkata bahwa waktu adalah uang
Jika kau membelanjakannya dengan benar, kau akan kaya raya
Jika kau menghambur-hamburkannya, kau akan terperangkap jerat utang.

Seorang kesatria berkata bahwa waktu adalah pedang
Kau dapat membunuh musuhmu dengan pedang itu
Pun kau bisa terbunuh oleh pedang tersebut.

Seorang wanita cantik berkata bahwa waktu adalah pencuri
Ia akan mencuri kecantikan yang pernah kau bangga-banggakan
Tak satu pun tertinggal kecuali kerut dan keriput di wajahmu.

Seorang filosof berkata bahwa waktu adalah saat ini
Kau tidak harus mengkhawatirkan masa depan karena hal tersebut masih merupakan misteri
Kau tidak harus menyesali masa lalu karena hal tersebut sudah menjadi sejarah.

Dan seorang laki-laki yang sekarat berkata bahwa waktu adalah sesuatu yang sangat berharga
Kau tidak dapat menukarnya dengan kekayaan
Kau tidak dapat memutar kembali waktu dengan kekuasaanmu.

[Oleh Sly]

Resensi Musik

DEBU DIANGGAP GILA DI ALBUM KELIMA

Pertama kali mendengar musik Debu, kening Anda pasti berkerut. Ini nasyid atau kasidah? Mereka sedang berdendang atau berceramah? Mereka itu artis atau kaum sufi? Penulis sendiri sempat bertanya, apa yang bule-bule itu lakukan dengan rebana dan biola itu?

Lepas dari semua tanda tanya tersebut, Debu tetap eksis di belantika nasyid Tanah Air. Hal ini terbukti dengan keluarnya album (berbahasa Indonesia) kelima mereka yang diberi judul Dianggap Gila pada 2010 lalu. Sebelumnya, Debu telah menelurkan album Mabuk Cinta (2003), Makin Mabuk (2004), Nyawa dan Cinta (2006), dan Gubahan Pecinta (2007).

Sama seperti di album mereka terdahulu, di album ini Debu menyajikan lantunan syair yang dalam dan penuh kontemplasi. Sebagai pembuka, Debu menyajikan nasyid berjudul Bahtera Mustafa yang berirama riang mengajak kita berlayar bersama menafakuri keindahan alam ciptaan-Nya. Simak saja bagian refrain-nya yang berbunyi:
Dalam bahtera Mustafa
Kita berlayar bersama
Dalam bagan jagat raya
Sama mukmin ramah tamah

Tren nasyid yang digabungkan dengan beberapa jenis musik sepertinya juga diikuti oleh Debu. Pada nasyid yang berjudul Salawat, Debu memasukkan unsur rap dengan lirik berbahasa Inggris. Tentu saja, hal ini membuat nasyid tersebut ear-friendly di telinga pendengar muda yang sudah akrab dengan musik-musik dari Barat. Brillian!
Keprihatinan tentang global warming juga turut disampaikan Debu melalui nasyid berjudul Amanat. Melalui nasyid ini, Debu mengajak kita untuk merenungkan penyebab terjadinya bencana yang kerap melanda negeri kita akhir-akhir ini. Menurut Debu, semua bencana tersebut terjadi karena manusia tidak amanah dalam menjalani hidup di dunia ini. Karenanya, Debu pun mengajak kita untuk mencintai bumi ciptaan-Nya ini dengan memperbaiki akhlak kita.

Nasyid favorit penulis adalah Doa Rakyat yang kental dengan irama padang pasir. Mendengar lagu ini, penulis serasa berada di atas punggung unta yang berjalan perlahan menyusuri luasnya Padang Sahara. Tentu saja, dalam imajinya, penulis membayangkan diri serupa Aladin yang memiliki istri secantik Putri Jasmin. Ah…, sepertinya penulis sudah terlalu banyak menonton dongeng kartun.

Secara keseluruhan, ketujuh track dalam album ini sangat enak untuk disimak. Secara pribadi, penulis menyarankan album ini dinikmati sambil menamatkan buku kesayangan atau saat bersantai melepas lelah sepulang kerja atau kuliah.

Beranggotakan enam orang ikhwan (Daood Abdullah, Dhimas Ramadhan, Ali Mujahid Abdullah, Mustafa Ibn Daood, Abdul Wahab, dam Muhammad Saleem) dan enam orang akhwat (Fatimah Husniah, Layla Wafiyah, Naimah Mahmoud, Najmah Hakimah, Naseem Nahid DeVoe, Syakura Yasirah) yang berasal dari berbagai etnis dan negara, Debu berharap musik yang mereka mainkan dapat menjadi setetes embun penyegar bagi semua golongan tanpa membedakan ras atau kelas. Ya, semoga saja kehadiran Debu di negara yang terdiri atas beragam suku ini bisa menjadi simbol pemersatu bangsa. Bukankah meski berbeda suku, kita memiliki satu akidah yang sama, yaitu Islam? [Muslik]

“Dianggap Gila” track list:
01 Bahtera Mustafa 4:43
02 Salawat 5:10
03 Malam Ini 4:29
04 Macan Hutan 3:39
05 Dianggap Gila 3:47
06 Amanat 5:00
07 Doa Rakyat 3:39

Resensi Situs

AYO BERBURU VIDEO DAKWAH DI YOUTUBE
Yudha Yudhanto

Internet telah menjadi salah satu bagian terpenting dalam hidup manusia di zaman serba-modern dan high-tech seperti sekarang ini. Menurut data statistik, jumlah masyarakat online di seluruh dunia (data tahun 2007) adalah 1,2 miliar dan diperkirakan bertumbuh menjadi 1,8 miliar pada 2011. Pertumbuhan pengguna internet yang amat pesat nampak di seluruh benua, dan Asia menempati urutan pertama. Sungguh, internet adalah media mujarab di era sekarang dan mendatang.

Pengguna internet pasti sangat familiar dengan situs yang satu ini: www.youtube.com. Didirikan pada Februari 2005, situs ini digagas oleh tiga orang mantan karyawan PayPal; Chad Hurley, Steve Chen, dan Jawed Karim. YouTube adalah sebuah situs web video sharing (berbagi video) paling populer saat ini. Para pengguna dapat mengirim, melihat, dan berbagi klip video secara gratis. Umumnya, video-video di YouTube adalah klip musik, film, acara TV, serta video amatir buatan para pengguna yang berformat .flv.

Beberapa puluh tahun yang lalu, seorang seniman bernama Andy Warhol pernah berkata, “Di masa mendatang, seseorang bisa terkenal hanya dalam waktu 15 menit.” Pernyataan itu bisa jadi benar karena saat ini seseorang bisa terkenal bahkan kurang dari 10 menit saja.

Dengan menggunakan situs video YouTube, seseorang bisa membuat videonya sendiri dan mengunggahnya secara gratis. Jika menarik, orang-orang di seluruh dunia akan melihat dan memutar video tersebut hingga akhirnya si pembuat video dan isi videonya menjadi terkenal. Fenomena Sinta Jojo dan Briptu Norman adalah bukti jitu bahwa Youtube mampu memberikan ketenaran hanya dalam hitungan detik.

Saat ini, diperkirakan 20 jam durasi video diunggah ke Youtube setiap menitnya dengan 6 miliar viewer per hari. Alhamdulillah, dari jumlah tersebut terdapat video dakwah dalam berbagai bahasa. Penulis pun mencoba melakukan pencarian dengan kata kunci “aam amiruddin” dan keluarlah tampilan sembilan video.

Jika mengetikkan kata kunci “kuliah shubuh”, maka Anda akan beruntung karena mendapatkan video dari ustadz tempoe doeloe (semisal Hamka) sampai dengan ustadz masa kini dengan total 488 buah video.

Kemudian, penulis tertarik untuk mendapatkan video sains Islam. Penulis pun mengetik kata kuci “harun yahya” dan subhanallah, ada 46.500 macam video yang siap dinikmati sesuai topik dan bahasan yang diinginkan.
Lebih lengkap, berikut hasil pencarian konten video dakwah di YouTube yang berhasil dihimpun oleh penulis.

Tentu saja, Anda bisa mencari sendiri video-video dakwah dengan kombinasi kata kunci yang lain. Salah satu triknya adalah dengan langsung menuliskan nama ustadz yang diinginkan.

Kendala utama dalam menikmati konten video di internet di Indonesia saat ini adalah kualitas koneksinya. Melihat (mengunduh/download) dan mengunggah (upload) video masih relatif lama, apalagi dilakukan dari daerah-daerah (bukan kota besar). Namun demikian, hal tersebut diprediksi akan membaik dalam lima tahun ke depan.

Jadi, tidak ada salahnya kita mengoptimalkan dakwah dengan cara membuat, membagi, melihat, dan menampilkan video dakwah melalui internet, khususnya Youtube. Suatu saat, ketika jaringan multimedia via internet sudah menjadi keumumam, umat Islam bisa menggunakan media ini sebagai media dakwah yang lebih efektif karena bisa diakses dari mana pun dan kapan pun. Amin. Jangan lupa untuk tetap waspada terhadap materi-materi (dakwah) yang menyimpang dan meragukan.

MaPIKLOPEDI

MASJID; DIHORMATI BUKAN DIJAUHI
DIMAKMURKAN BUKAN DICEMARKAN

Sebuah anekdot, atau mungkin lebih tepatnya adalah sindiran bernada sinis, menyatakan bahwa masjid adalah tempat yang paling tidak aman di negeri yang mayoritas beragama Islam ini. Apa sebab? Tidak lain karena seringnya kita menemukan kasus hilangnya alas kaki di masjid. Semoga saja, ini bukanlah gambaran mengenai bobroknya moral muslim di negara kita yang berani mencuri bahkan di tempat yang kita sebut sebagai baitullah atau rumah Allah. Oknum! Itulah yang kita katakan sebagai pembelaan. Mungkin hal itu benar adanya, tetapi terpikirkah dalam benak kita bahwa mungkin ada yang salah dalam manajemen atau cara kita memperlakukan (atau berperilaku di) tempat ibadah agama kita ini?

Sebagian dari kita beranggapan bahwa masjid adalah tempat suci yang karenanya hanya digunakan sebagai tempat shalat dan pengajian. Tidak sembarang kegiatan boleh dilakukan di masjid dengan alasan untuk menjaga kesakralan baitullah. Dengan alasan keamanan, pintu masjid senantiasa dikunci dan hanya dibuka pada jam-jam tertentu saja, seperti ketika tiba waktu shalat atau pengajian. Dengan alasan menghindarkan (lantai) masjid dari najis, anak-anak di bawah umur tidak diperbolehkan dibawa oleh orangtuanya ke teras, terlebih ke dalam masjid karena bisa saja tiba-tiba anak-anak tersebut buang air besar atau kecil. Karenanya, umat pun lantas segan untuk sekadar bertandang atau mengobrol panjang lebar di masjid atau membiasakan anaknya berada di baitullah.

Sebagian yang lain menganggap bahwa sudah sepantasnya masjid dimakmurkan dengan berbagai kegiatan, dari difungsikannya masjid sebagai Taman Pendidikan Al-Quran (TPA) bagi anak-anak, perpustakaan umum, tempat melaksanakan diskusi ringan atau seminar, sampai tempat acara family gathering orangtua siswa TPA yang salah satu agendanya adalah makan bersama. Bukankah di zaman Rasul, masjid pun difungsikan sebagai tempat latihan perang?

Tidak ada yang salah dengan kedua pendapat tersebut. Masing-masing cukup beralasan dan karenanya tidak perlu dipersalahkan. Yang perlu ditekankan di sini adalah bagaimana sebaiknya kita bersikap atau beretika ketika berada di dalam masjid sehingga dapat memakmurkan masjid sesuai dengan ketentuan yang telah digariskan Allah dan Rasul-Nya.

Nah, berikut beberapa adab yang harus diperhatikan.

Berdoa saat hendak pergi ke masjid.
Ibnu Abbas menyatakan, “Adalah Rasulullah Saw. apabila dia keluar (rumah) pergi shalat (di masjid) berdoa, ‘Ya Allah, jadikanlah cahaya di dalam hatiku, cahaya pada lisanku, jadikanlah cahaya pada pendengaranku, cahaya pada penglihatanku, dan jadikanlah cahaya dari belakangku dan cahaya dari depanku, dan jadikanlah cahaya dari atasku dan cahaya dari bawahku. Ya Allah, anugerahilah aku cahaya.’” (Muttafaq ‘alaih)

Memakai pakaian yang rapi.
Allah Swt. berfirman, “Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap (memasuki) masjid…” (Q.S. Al-Araf [7]: 31)

Berjalan menuju masjid dengan tenang dan khidmat.
Rasulullah Saw. pernag bersabda, “Apabila shalat telah diiqamatkan, janganlah kamu datang menujunya dengan berlari, tapi datanglah dengan berjalan dan memperhatikan ketenangan. Maka apa (bagian shalat) yang kamu dapati ikutilah dan yang tertinggal sempurnakanlah.” (Muttafaq ‘alaih)

Masuk dengan kaki kanan dan keluar dengan kaki kiri serta senantiasa membaca doa saat masuk dan keluar masjid.
Disunatkan bagi orang yang masuk masjid mendahulukan kaki kanan, kemudian bershalawat kepada Nabi lalu mengucapkan, “Allahummaf tahlii abwaaba rahmatika (Ya Allah, bukakanlah bagiku pintu-pintu rahmat-Mu).”

Melaksanakan shalat sunnah Tahiyatul Masjid.
Rasulullah Saw. bersabda, “Apabila seseorang di antara kamu masuk masjid, hendaklah shalat dua rakaat sebelum duduk.” (Muttafaq ‘alaih)

Dilarang melakukan jual-beli dan mengumumkan barang hilang di dalam masjid.
Rasulullah Saw. bersabda, “Apabila kamu melihat orang yang menjual atau membeli sesuatu di dalam masjid, doakanlah, ‘Semoga Allah Swt. tidak memberikan keuntungan bagimu’. Dan Apabila kamu melihat orang yang mengumumkan barang hilang, doakanlah, ‘Semoga Allah Swt. tidak mengembalikan barangmu yang hilang’.” (H.R. Tirmidzi dan disahihkan oleh Al-Albani)

Dilarang masuk ke masjid bagi orang makan bawang putih, bawang merah, atau yang badannya bau tidak sedap.
Rasulullah Saw. bersabda, “Barangsiapa yang memakan bawang putih, bawang merah, atau bawang daun, maka jangan sekali-kali mendekat ke masjid kami ini, karena malaikat merasa terganggu dari apa yang dengannya manusia terganggu.” (HR. Muslim)
Dilarang keluar dari masjid sesudah azan.

Rasulullah Saw. bersabda, “Apabila tukang azan telah azan, maka jangan ada seorang pun yang keluar sebelum shalat.” (H.R. Baihaqi dan disahihkan oleh Al-Albani)
Tidak lewat di depan orang yang sedang shalat.

Rasulullah Saw. bersabda, “Kalau sekiranya orang yang lewat di depan orang yang sedang shalat itu mengetahui dosa perbuatannya, niscaya dia berdiri dari jarak empat puluh tahun lebih baik baginya daripada lewat di depannya.” (H.R. Muttafaq ‘alaih)
Tidak menjadikan masjid sebagai jalan.

Rasulullah Saw. bersabda, “Janganlah kamu menjadikan masjid sebagai jalan, kecuali (sebagai tempat) untuk berdzikir dan shalat.” (H.R. Ath-Thabrani dan dinilai hasan oleh Al-Albani)

Tidak menyaringkan suara di dalam masjid dan tidak mengganggu orang-orang yang sedang shalat.
Inilah yang dijadikan alasan sebagian orang untuk melarang seorang mukmin membawa anak-anak ke masjid karena bisa saja anak-anak tersebut berkelahi, berteriak, atau menangis dan hal itu menggangu kekhusyukan orang yang tengah menjalankan shalat.
Hendaknya wanita tidak memakai parfum atau berhias bila akan pergi ke masjid.
Rasulullah Saw. bersabda, “Apabila salah seorang di antara kamu (kaum wanita) ingin shalat di masjid, maka janganlah menyentuh parfum.” (H.R. Muslim)

Senantiasa menjaga kebersihan masjid.
Memang tidak dilarang kita berlomba-lomba memperindah masjid, selama hal itu tidak diniatkan untuk pamer atau riya. Namun, yang lebih penting dari itu adalah menjaga kebersihan masjid. Tempat wudhu dan kamar kecil harus mendapatkan perhatian ekstra karena kedua tempat ini biasanya menjadi barometer kebersihan sebuah masjid. Bukankah Allah itu indah dan menyukai keindahan? Hal yang sama tentu harus diberlakukan pada rumah-Nya.

Orang yang junub serta wanita haid atau nifas tidak boleh diam di masjid.
Perlu ditekankan di sini bahwa yang dilarang adalah diam, duduk, atau melakukan aktivitas di dalam masjid. Namun untuk sekadar mengmbil atau menaruh sesuatu di masjid atau melakukan sesuatu yang hanya membutuhkan waktu selintas, maka hal tersebut masih diperbolehkan.

Allah Swt. berfirman, “(Dan jangan pula menghampiri masjid), sedang kamu dalam keadaan junub, kecuali sekadar berlalu saja, hingga kamu mandi.” (QS An-Nisaa [4]: 43)

Aisyah meriwayatkan bahwa Rasulullah Saw. telah bersabda kepadanya, “Ambilkan buat saya kain alas dari masjid.” Aisyah menjawab, “Sesungguhnya aku haid.” Nabi bersabda, “Sesungguhnya haidmu bukan di tanganmu.” (H.R. Muslim). [Muslik]

Resensi Buku

BERSENANG-SENANG DENGAN MATEMATIKA

Menguasai matematika dasar sangat penting bagi semua orang. Anak-anak yang mampu menguasai matematika dasar menjadi lebih mudah mempelajari pelajaran lain. Guru yang menguasai matematika dasar berhasil menampilkan pelajaran yang dianggap paling sulit menjadi menyenangkan. Orangtua yang menguasai matematika dasar dapat menjadi lebih akrab mendampingi putra-putri tercinta belajar.

Buku SUKSES MATEMATIKA DASAR ini berusaha menampilkan matematika dengan cara yang kreatif dan asyik. Meminjam istilah Paman APIQ, buku ini terdiri dari tiga bagian utama sesuai nama anak kandung matematika: aljabar, geometri, dan aritmetika.
Bagian I membahas aritmetika berhitung cepat. Kita akan berkenalan dengan Rumus Ekspres Kreatif APIQ yang cepat dan mudah. Mulai dari berhitung cepat jurus bintang sampai berhitung cepat FPB KPK. Seperti kita tahu FPB KPK selalu menjadi soal paling rumit. Tetapi dengan rumus ekspres, kita akan dapat menguasai FPB KPK dengan intuitif dan menyenangkan.

Bagian II membahas geometri. Cara cepat menghitung luas dan keliling lingkaran kita bahas dengan rumus ekspres. Umumnya, anak-anak cukup sulit memahami konsep bilangan irasional. Tapi dengan rumus ekspres, kita akan menikmati bilangan.

Bagian III membahas aljabar. Paman APIQ mengenalkan konsep “kantong ajaib aljabar” yang sangat memudahkan belajar hitung cepat perbandingan. Semua tema dalam buku ini telah diperkaya dengan contoh-contoh soal ujian nasional (UASBN SD).

Judul:
RUMUS CEPAT KREATIF DAN SUKSES MATEMATIKA DASAR
Penulis:
Ir. Agus Nggermanto
ISBN:
978-979-38386-30-4
Ukuran:
17.6 x 25 cm
Halaman:
vi + 116 hlm
Terbit:
Februari 2011
Penerbit:
Ide Publishing

Hikmah

DALAM SUJUD HAMBA
Yogi P. Sugiar

Dahulu, begitu pertama kali menginjakkan kaki di Masjidil Haram, kita akan terpana melihat kemegahan Kabah. Namun, sekarang hal tersebut akan sedikit berubah. Mata kita akan terpesona melihat bangunan megah setinggi 662 m dan memiliki 95 lantai yang berada tepat di seberang Masjidil Haram.

Di dalam bangunan tertinggi kedua dunia tersebut terdapat hotel yang biasa dijadikan tempat menginap jamaah haji dan umrah dari berbagai negara, termasuk Indonesia. Selain hotel, terdapat juga pertokoan modern, apartemen, dan perkantoran. Abraj Al-Bait, begitulah nama bangunan megah tersebut. Abraj Al-Bait disebut juga dengan nama Royal Clock Tower yang saat ini merupakan menara jam tertinggi di dunia, mengalahkan Big Ben di London yang ukurannya 6 kali lebih kecil.

Melihat kemegahan bangunan tersebut, saya pun tertegun dan teringat akan hadits Rasulullah Saw. yang diriwayatkan oleh Bukhari dari Abu Hurairah r.a., “Kiamat tidak akan terjadi sebelum manusia berlomba-lomba menginggikan gedung...”

Dengan jelas, hadits tersebut menyatakan bahwa salah satu ciri kiamat adalah ketika manusia berlomba-lomba membuat bangunan yang tinggi menjulang. Sungguh tidak disangka bahwa yang disampaikan Rasulullah Saw. tersebut salah satunya justru terjadi tepat di depan Masjidil Haram.

Begitu banyak umat Islam dari berbagai penjuru dunia yang datang ke Masjidil Haram untuk beribadah tentunya memerlukan sarana yang memadai, misalnya penginapan. Membangun penginapan yang memadai di sekitar Masjidil Haram yang sangat padat penduduknya tentu bukan perkara mudah. Sangatlah wajar ketika kemudian banyak hotel dibangun bertingkat di sekitar Masjidil Haram.

Bagi sebuah negara, membangun gedung-gedung tertinggi merupakan sebuah prestasi dan sekaligus prestise tersendiri. Disebut sebuah prestasi karena gedung pencakar langit merupakan manifes kecerdasan otak manusia yang mampu menciptakan gedung menjulang namun tetap kokoh berpijak di bumi.

Dianggap sebuah prestise karena negara yang bersangkutan dapat menunjukkan kepada dunia bahwa ia mampu menciptakan sesuatu yang hebat dan spektakuler. Abraj Al-Bait bisa dibilang sebagai perlambang kecerdasan otak manusia yang saat ini tengah dibangga-banggakan.

Namun, kecanggihan daya cipta otak manusia tersebut hendaknya tidak lantas membuat manusia lupa diri. Janganlah terlalu membangga-banggakan prestasi otak manusia sementara hati dan spiritualitas dibiarkan kering tanpa makna.

Kita seharusnya bisa mengambil hikmah dari peristiwa gempa bumi Jepang yang terjadi Maret lalu. Gempa bumi yang diikuti gelombang besar tsunami tersebut telah meluluhlantakkan sebagian wilayah Jepang.

Begitu jelas kita menyaksikan puluhan perahu canggih, puluhan jembatan, ratusan mobil mewah, serta ribuan rumah dan lahan perkebunan hancur seketika. Bahkan, reaktor nuklir canggih (yang dibangun bertahun-tahun lamanya) hancur seketika hanya oleh gempa bumi yang terjadi beberapa saat saja. Bisa dibilang, Jepang adalah simbol dari kemajuan teknologi di kawasan Asia, bahkan dunia.

Namun, ternyata kecanggihan teknologi yang dihasilkan otak manusia itu tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan kekuasaan Allah Swt. Lalu, mengapa sebagian manusia masih saja bangga dengan kecerdasan otaknya yang tidak jarang malah memunculkan sifat sombong dan takabur?

Memang, manusia diberi kesempatan oleh Allah Swt. untuk mengelola bumi melalui beragam potensi dalam dirinya. Secara tegas dan berulang-ulang, Al-Quran menyatakan bahwa alam raya diciptakan dan ditundukkan oleh Allah Swt. untuk manusia.
Perhatikan salah satu firman-Nya berikut ini.

“Dan Dia menundukkan untukmu apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi semuanya, (sebagai rahmat) daripada-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang berpikir.” (Q.S. Al-Jaatsiyah [45]: 13)

Sedikit pun manusia tidak berhak sombong dan takabur. Bukankah dalam setiap shalat kita mengucapkan Allahu Akbar yang menegaskan bahwa Allah Swt. Mahabesar dan tidak ada dzat yang melebihi kebesaran-Nya?

Seberapa pun pintar dan cerdasnya otak kita, saat sujud posisinya sejajar dengan kaki. Pada saat itu kita pun mengucapkan Subhaana rabbiyal a‘la, Mahasuci Tuhanku Yang Mahatinggi. Dalam sujud, pupuslah segala hal yang menjadi kebanggaan duniawi. Dalam sujud, hilanglah segala prestasi duniawi. Dalam sujud pula, bisa terlihat rendahnya posisi kita di hadapan Allah Swt. Sudah semestinya kita tidak melupakan hal ini di luar sujud (shalat). Semoga bermanfaat.

Bedah Hadits

LIDAH; SURGA ATAU NERAKA?
(Bagian Tiga)
Tate Qomarudin

Rasulullah bersabda, “Inginkah engkau aku beri tahu tentang kepala (pokok) segala urusan, tiangnya dan puncaknya?” Aku menjawab, “Ya, wahai Rasulullah.” Beliau bersabda, “Kepala segala urusan adalah Islam, tiangnya adalah shalat, dan puncaknya adalah jihad.” Rasulullah Saw. mengatakan lagi, “Inginkah engkau aku beritahukan tentang penguat itu semua?” Aku menjawab, “Ya, wahai Nabi Allah.” Maka Rasulullah Saw. memegang lidahnya seraya mengatakan, “Tahanlah (peliharalah) ini (lidah) olehmu.” Aku mengatakan, “Wahai Nabi Allah, akankah kita dibalas gara-gara omongan yang kita ucapkan?” Rasulullah Saw. menjawab, “Ibumu telah kehilangan kamu! Tidaklah manusia dibenamkan ke dalam neraka -dimulai dengan wajah mereka atau lubang hidung mereka- melainkan buah dari lidah-lidah mereka?”
(H.R. At-Tirmidzi, hadits hasan)

***

Hal yang dikemukakan pada tulisan terdahulu adalah beberapa contoh tentang pekerjaan lidah yang dapat membawa pemiliknya ke surga. Lalu, hal apakah yang harus dihindari lidah agar tidak membawa pemiliknya ke neraka?

1. Menyekutukan Allah
Hal terburuk yang dilakukan manusia dalam hidupnya adalah kemusyrikan (menyekutukan Allah dengan makhluk). Lidah mempunyai peran besar dalam menjerumuskan seseorang ke dalam kemusyrikan. Allah berfirman dalam salah satu ayat-Nya,

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik (mempersekutukan Allah dengan sesuatu), dan Dia Mengampuni dosa selain itu bagi siapa yang Dia Kehendaki. Dan barangsiapa mempersekutukan (sesuatu) dengan Allah, sungguh dia telah tersesat jauh sekali.” (Q.S. An-Nisaa [4]: 116)

Lidah menjadi salah satu alat pembuktian iman. Sebagaimana sering dijelaskan, iman adalah membenarkan dengan hati, mengucapkan dengan lidah, dan melaksanakan dengan anggota badan. Maka, lidah juga bisa menghancurkan iman itu sendiri.

Banyak bentuk kemusyrikan yang dilakukan oleh lidah. Jika seseorang secara eksplisit mengatakan, misalnya, “Waduh gelang ini telah menyelamatkan hidup saya,” atau “Jika saya waktu itu tidak pakai gelang ini, pasti saya sudah mati,” maka dia telah menyekutukan Allah. karena pada hakikatnya tidak ada yang dapat memberi manfaat dan bahaya selain Allah Swt.

Ketika seseorang berdoa dan meminta kepada orang yang sudah meninggal dunia dengan mengatakan, “Duhai Syekh Fulan, tolonglah kami dan keluarkanlah kami dari segala kemelut kehidupan ini. Kami menyimpan harapan begitu besar kepada engkau...,” itu pun bentuk kemusyrikan. Allah Swt. telah berfirman:

“Dan jangan engkau menyembah sesuatu yang tidak memberi manfaat dan tidak (pula) memberi bencana kepadamu selain Allah, sebab jika engkau lakukan (yang demikian), maka sesungguhnya engkau termasuk orang-orang zalim.” (Q.S. Yunus [10]: 106)
Bahkan, kita dilarang mengatakan: “Sesuai kehendak Allah dan kehendak engkau.”

Yang benar adalah: “Sesuai kehendak Allah kemudian kehendak engkau.”
Apa perbedaan kedua kalimat di atas? Kalimat pertama menyandingkan kehendak Allah dengan kehendak manusia dan menempatkan keduanya pada posisi yang sama. Itulah kemusyrikan. Sedangkan kalimat kedua menjadikan kehendak manusia berada di bawah kehendak Allah Swt.

2. Ghibah
Kejahatan lidah lainnya adalah ghibah alias menggunjing atau membicarakan keburukan orang lain. Buruknya ghibah diibaratakan seseorang yang memakan daging bangkai saudaranya.

Allah Swt. mengingatkan kita dengan firman-Nya:

“…Dan janganlah ada di antara kamu yang menggunjing sebagian yang lain. Apakah ada di antara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Tentu kamu merasa jijik. Dan bertakwalah kepada Allah, sungguh Allah Maha Penerima tobat, Maha Penyayang.” (Q.S. Al-Hujurat [49]: 12)

Berkaitan dengan hal tersebut, marilah kita simak hadits berikut.

Rasulullah Saw bersabda, “Tahukah kalian apa ghibah itu?” Para shahabat berkata, “Allah dan Rasul-Nya yang lebih tahu.” Kemudian beliau mengatakan, “Engkau menyebut-nyebut saudaramu tentang sesuatu yang dibencinya.” Ditanyakan, “Bagaimana bila (yang saya katakan itu) benar adanya pada saudaraku?” Beliau menjawab, “Jika yang engkau katakan itu benar-benar ada pada saudaramu sungguh engkau telah berbuat ghibah, sedangkan jika itu tidak benar maka engkau telah memfitnahnya.” (H.R. Muslim)

Ibnu Qudamah Al-Maqdisy (rahimahullah) dalam kitabnya (Minhajul Qasidin) menyebutkan bahwa makna ghibah adalah menyebut-menyebut saudaramu yang tidak ada di sisimu dengan perkataan yang tidak disukainya; baik yang berhubungan dengan kekurangan badannya, seperti pernglihatannya yang kabur, buta sebelah matanya, kepalanya yang botak, badannya yang tinggi, badannya yang pendek, dan lain sebagainya.

Juga termasuk ghibah adalah membicarakan hal-hal yang menyangkut nasab; seperti berkata, “Ayahnya berasal dari rakyat jelata,” “Ayahnya orang India,” “Ayahnya orang fasik,” dan lain sebagainya.” Atau, yang menyangkut akhlaknya, seperti perkataan, “Dia akhlaknya buruk dan orangnya sombong.”

Atau, yang menyangkut pakaiannya, seperti perkataan, “Pakaiannya longgar,” “Lengan bajunya terlalu lebar,” dan lain sebagainya. Beliau juga menambahkan “Ketahuilah bahwa setiap sesuatu yang dimaksudkan sebagai celaan, maka itu dikategorikan ghibah, baik dalam bentuk perkataan ataupun yang lainnya; seperti kedipan mata, isyarat, ataupun tulisan. Sesungguhnya, tulisan merupakan salah satu dari dua lisan. (dikutip dari koranmuslim.com)

Intinya adalah perkataan apa pun yang menginformasikan keburukan orang lain adalah masuk dalam kategori ghibah. Memang ada pengecualian yang artinya dosa (ghibah) akan diampuni jika pertama, orang yang menyebut-nyebut keburukan orang lain dalam rangka mencari solusi untuk melakukan perbaikan dan menasihatinya. Dalam kasus ini, jika dimungkinkan, tidak menyebut nama tentu lebih baik. Akan tetapi, jika tujuan tidak tercapai dengan tanpa menyebut nama, hal itu boleh dilakukan.

Kedua, mengingatkan saudara agar tidak tertipu oleh kebusukan orang lain. Dalam hal ini tentu saja orang yang sedang mengingatkan itu harus menyebutkan nama dan keburukan orang tersebut. Jika tidak menyebutkan nama, boleh jadi yang muncul adalah saling curiga dan justru akan menimbulkan petaka berikutnya yang lebih dahsyat.
Ketiga, dalam proses pengaduan dalam persidangan atau peradilan. Jika seseorang sedang mencari keadilan atas kezaliman yang diterimanya, tentu saja tujuan itu tidak akan tercapai tanpa menjelaskan bentuk kezaliman dan siapa pelakunya. (Bersambung)

Bedah Masalah

CARA ELEGAN MENGHADAPI UJIAN
Aam Amiruddin

Ustadz, saya selalu merasa hidup saya penuh dengan ujian. Saya sering merasa putus asa dan sering berpikiran kalau Allah tidak sayang kepada saya. Ustadz, adakah tips atau solusi agar saya bisa bersabar saat menghadapi ujian?

Setiap orang pasti akan menerima ujian dalam hidupnya. Allah akan memberikan ujian kepada semua hamba-nya, baik itu yang taat maupun yang ingkar. Hanya saja, porsi ujian kepada hamba-Nya yang taat biasanya lebih besar. Jadi, berbahagialah jika Anda selalu menerima ujian karena itu artinya Allah sangat menyayangi Anda.

Dalam sebuah hadits dijelaskan bahwa seorang sahabat bertanya, “Siapakah paling keras mendapatkan ujian?” Rasulullah Saw. bersabda, “Nabi dan pengikutnya. Seseorang itu akan diuji sesuai dengan kadar agama, jika kadar beragamanya kuat, ujiannya semakin keras. Jika kadar beragamanya lemah, dia diuji sesuai dengan kadar agamanya. Seorang hamba akan sentiasa diuji sampai dia akan dibiarkan berjalan di muka bumi tanpa membawa dosa kesalahan.” (H.R. Tirmidzi)

Lalu, pertanyaannya, bagaimanakah agar kita bisa melalui ujian tersebut dengan ikhlas? Tentu saja, Anda harus menghadapinya dengan tenang dan tetap berpegang teguh kepada kehendak Allah Swt.

Untuk membantu Anda mencapai hal itu, berikut ini akan dipaparkan beberapa trik untuk menghadapi ujian.

1. Jangan putus asa dalam berdoa
Allah berjanji, “Berdoalah kepadaku niscaya akan kukabulkan doamu.” (Q.S. Al-Mu’min [40]: 60)

Harus dicatat, saat memanjatkan doa kepada-Nya kita harus menyertakan juga jiwa optimistis, jangan bersikap pesimis. Belum apa-apa sudah berkesimpulan kalau Allah tidak akan mengabulkan doa yang dipanjatkan.

Rasulullah Saw. bersabda, “Wahai manusia, jika kamu memohon kepada Allah Swt., mohonlah langsung ke hadirat-Nya dengan keyakinan bahwa doamu akan dikabulkan karena Allah tidak akan mengabulkan doa yang keluar dari hati yang pesimis” (H.R. Ahmad)

Berbaiksangkalah, Allah pasti akan mengabulkan doa kita.

2. Jangan putus asa dalam rahmat Allah
Abu Hurairah r.a. berkata bahwa Rasulullah Saw. bersabda, “Biasakanlah kalian dalam mendekatkan diri kepada Allah Swt. dan berpegangteguhlah pada keyakinan kalian. Ketahuilah, tidak ada seorang pun di antara kalia yang selamat karena amal perbuatannya.” Sahabat bertanya, “Tidak juga engkau wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Tidak juga aku, kecuali jika Allah melimpahkan rahmat dan karunia-Nya.”

Secara eksplisit, keterangan tersebut menegaskan bahwa yang akan menyelamatkan kita adalah rahmat Allah Swt. bukan amal semata. Artinya, seandainya memerlukan amal saleh, belum tentu amal saleh tersebut bisa menyelamatkan kita kalau tidak disertai dengan rahmat Allah. Apa yang dimaksud dengan rahmat Allah? Yaitu, cinta kasih-Nya yang tiada batas.

3. Sabar dalam menghadapi musibah
Ketika ujian datang, janganlah terus-terusan mengeluh dan mengasihani diri sendiri. Bangkitlah, hadapi semua dengan tenang dan sabar. Berbaiksangkalah kepada Allah. Pasti ada hikmah di balik musibah. Kesabaran dalam menghadapi musibah bisa menjadi penggugur dosa-dosa kita.

“Dan sesungguhnya, Kami akan menguji kamu dengan sedikit perasaan takut (kepada musuh) dan kelaparan, dan kekurangan dari harta benda dan jiwa serta hasil tanaman. Dan, berilah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar.” (Q.S. Al-Baqarah [2]: 155)

4. Syukur
Syukur adalah menggunakan nikmat Allah secara proporsional. Dengan kata lain, nikmat yang kita terima harus dimanfaatkan sesuai dengan tujuan yang dikehendaki-Nya. Misalnya, nikmat harta harus diinfakkan, ilmu harus diamalkan, umur harus digunakan untuk ibadah, dan sebagainya.

Jadi, syukur mempunyai makna yang sangat luas, bukan sekadar getaran terima kasih yang terungkap dalam hati, mengucapkan dalam lidah, atau mengadakan syukuran. Hal terpenting adalah memanfaatkan semua karunia Allah pada jalan yang diridhai-nya.

Insya Allah, jika keempat poin tersebut dijalankan, tidak akan ada lagi perasaan putus asa atau merasa diabaikan oleh Allah Swt. Allah menyayangi semua makhluk-Nya. Dan, kadar cinta itu menjadi lebih besar kepada orang-orang yang sabar. Yaitu, mereka yang senantiasa bisa mengambil hikmah dari setiap musibah yang dihadapinya.

Ingatlah, Allah tidak akan memberikan cobaan yang tidak bisa dihadapi oleh hamba-Nya. Wallaahu a’lam.

***

SHALAT ISTIKHARAH

Ustad, saya masih bingung dengan perkara shalat Istikharah. Apakah shalat Istikharah hanya dilakukan saat memilih jodoh, ataukah ada perkara lain yang bisa diselesaikan dengan melakukan shalat Istikharah?

Kata istikharah berasal dari bahasa Arab dengan akar kata khairan yang merujuk pada arti “kebaikan dan pilihan”. Akar kata tersebut kemudian berkembang menjadi khiyar dan ikhtiar. Baik istikharah, khiyar, dan ikhtiar sama-sama memiliki pengertian kebahasaan “memilih untuk suatu kebaikan”.

Dari definisi tersebut saja, sudah jelas jika urusan shalat Istikharah tidak melulu urusan jodoh. Memang, yang berkembang dalam masyarakat hanya urusan jodoh yang berhubungan erat dengan Istikharah.

Perhatikan keterangan berikut ini. Dari Jabir bin Abdillah r.a. berkata, “Rasulullah Saw. mengajari kami tentang Istikharah dalam segala urusan, sebagaimana beliau mengajarkan Al-Quran kepada kami. Beliau bersabda, ‘Apabila kalian merasa bimbang dalam suatu urusan, maka shalatlah dua rakaat selain shalat fardhu…” (H.R. Bukhari)

Saya ulangi, mencermati hadits tersebut, tidak ada tersirat penekanan jika shalat Istikharah hanya dikhususkan untuk dimudahkan dalam memilih jodoh. Jadi, intinya dalam pilihan apa pun yang dirasa sulit menemukan jawabannya, maka dibolehkan untuk melakukan shalat Istikharah.

Pilihan yang bagaimana yang bisa diikhtiarkan jawabannya dengan shalat Istikharah? Perhatikan kembali penggalan dalam hadits tersebut Rasulullah Saw. mengajari kami tentang Istikharah dalam segala urusan. Jadi, semua urusan yang dirasa sangat memberatkan dan membingungkan, tak ada penggolongan urusan ringan atau urusan berat, pokoknya segala urusan.

Namun, walaupun begitu ada beberapa batasan yang diberikan ulama mengenai shalat Istikharah. Salah satunya Ibnu Hajar Al-Atsqalani yang menuturkan bahwa urusan yang diistikharahi adalah suatu urusan yang bersifat mubah atau di luar ketentuan yang bersifat kewajiban, sunah, atau anjuran, baik urusan yang besar maupun urusan yang kecil, misalnya kita tidak perlu melakukan Istikharah untuk menentukan akan shalat Tahajud atau tidak. Karena shalat Tahajud hukumnya sunah.

Rasulullah Saw. mengajarkan kepada kita untuk senantiasa menyandarkan urusan dalam hidup hanya kepada Allah Swt., baik itu urusan kecil maupun urusan yang besar. Bukan berarti urusan kecil adalah masalah yang sepele. Urusan yang tampak kecil tidak selamanya berarti urusan tersebut tidak membawa dampak yang besar. Tidak jarang kita menyaksikan terjadinya peristiwa besar akibat urusan kecil yang disepelekan.
Selain itu, shalat Istikharah tidak hanya disyariatkan ketika sedang bimbang atau ragu antara dua pilihan atau beberapa pilihan, tetapi bisa juga dilakukan saat kita memiliki tekad untuk menginginkan sesuatu.

Marilah mencari jalan dalam mengambil keputusan yang terbaik dengan jalan Istikharah. Jika di hadapan kita terdapat dua atau banyak pilihan, pilihlah melalui jalan Istikharah. Bila kita mempunyai keinginan dan harapan mengenai sesuatu, mintalah petunjuk melalui Istikharah. Hal tersebut bukan hanya sebatas yang berhubungan dengan jodoh. Perkara apa pun bisa dimintai jalan melalui shalat Istikharah. Wallaahu a’lam.

***

MENJADI SUAMI YANG ROMANTIS

Ustadz, saya ingin menjadi suami yang romantis. Hanya saja, saya canggung dan malu. Dari literatur yang saya baca, Rasulullah adalah orang yang romantis. Bolehkan saya meminta contoh perilaku romantis yang ditunjukkan Rasulullah Saw. kepada istri-istri beliau?

Sebagian orang menganggap perilaku romantisme adalah perbuatan yang tidak perlu. Alasannya, masih terlalu banyak pekerjaan lain yang lebih penting. Menjadi manusia romantis tidak akan memakan banyak waktu. Bahkan, perilaku “sepele” ini bisa menjaga keutuhan rumah tangga.

Perilaku yang bisa ditunjukkan sederhana saja, tidak harus berlebihan. Tidak perlu juga Anda memaksakan membeli hadiah mewah agar pasangan menjadi senang. Sekuntum mawar pun bisa Anda jadikan sarana untuk membangun komunikasi romantis itu. Dijamin, hanya dengan sekuntum mawar senyuman akan tersungging di bibir istri Anda. Hasilnya, dia akan semakin mencintai Anda.

Apakah Rasulullah Saw. orang yang romantis? Jawabannya adalah iya. Bahkan, beliau memiliki momen-momen romantis bersama istri-istrinya. Berikut adalah beberapa momen di antaranya.

1. Mandi bersama
Aisyah r.a. berkata, “Aku mandi bersama Nabi Muhammad Saw. dari sebuah bejana, kami menciduk bersama-sama dalam bejana itu.” (H.R. Abdurrazak dan Ibnu Abu Syaibah)

Kejadian Rasulullah mandi bersama istrinya bukanlah sebuah peristiwa fiksi. Beliau mencontohkan kalau mandi bukan sebagai ritual harian biasa. Mandi bersama istri atau suami dapat dijadikan media untuk mempererat intimasi.

2. Saling menyisir rambut
Dari ‘Aisyah r.a. dia berkata, “Saya pernah menyisir rambut Rasulullah Saw. dan saat itu saya sedang haid.” (H.R. Ahmad)

Menyisir rambut adalah pekerjaan yang bisa dan biasa dilakukan sendiri. Namun, tidak ada salanya jika Anda membantu menyisir rambut istri Anda. Sambil menyisir, cobalah memuji keindahan rambut pasangan. Dijamin, mereka akan semakin sayang.

3. Memberi hadiah
Dari Ummu Salamah dia pernah berkata, “Ketika Rasulullah baru menikah dengan Ummu Salamah, beliau berkata kepadanya, “Sesungguhnya aku telah menghantar hadiah kepada An-Najasyi dengan pakaian berharga dan beberapa botol minyak wangi. Aku dapati bahwa An-Najasyi sudah meninggal dunia, menyebabkan hadiah itu dikembalikan kepadaku. Sekiranya dikembalikan, hadiah itu adalah milik kamu.” Berkata (Ummi Kalsum) dalam riwayat lain; seperti bersabda Rasulullah Saw., “Jika hadiah itu dihantar balik, hadiah itu akan diberikan kepada semua istri beliau, dan beliau memberikan Ummu Salamah minyak wangi yang berbaki dan pakaian bernilai itu.” (HR Ahmad)

Agar hadiah yang diberikan memberikan kesan lebih, pilihlah hari yang khusus, misalnya saat ulangtahun pernikahan. Tidak harus mahal, yang penting cara dan waktu Anda memberikan hadiah tersebut.

4. Berbagi tempat makan atau minum
“Ketika saya haid da tubuh saya berkeringat, saya memberikan gelas kepada Rasulullah dan beliau meminumnya ditempat yang saya minum.” (H.R. Muslim)

Selain berbagi tempat makan dan minum, saling menyuapi pun bisa dijadikan sebagai sarana bermesaraan. Malu? Ah, perasaan Anda berlebihan, kalau ABG yang berpacaran saja melakukan hal itu, mengapa Anda yang sudah resmi menjadi suami istri enggan melakukannya?

5. Belaian
“Adalah Rasulullah Saw tidaklah setiap hari melainkan beliau mesti mengelilingi kami semua (istrinya) seorang demi seorang. Beliau menghampiri dan membelai kami dengan tidak mencampuri hingga beliau singgah ke tempat istri yang beliau giliri waktunya, lalu beliau bermalam di tempatnya.” (H.R. Ahmad)

Sesering mungkin, berikan belaian kepada pasangan Anda. Melalui belaian Anda bisa menyampaikan energi positif.

6. Ciuman
Dari ‘Aisyah ra, “Nabi saw biasa mencium istrinya setelah wudhu, kemudian beliau shalat dan tidak mengulangi wudhunya.”(H.R. ‘Abdurrazaq).

Dari Hafshah, putri ‘Umar r.a., “Sesungguhnya Rasulullah Saw. biasa mencium istrinya sekalipun sedang puasa.” (H.R. Ahmad)

Kalau ciuman di pipi, bibir, atau kening sudah terlalu umum, buatlah kesepakatan dengan suami atau istri Anda di bagian yang dia ingin dicium. Jadikan itu ritual yang hanya Anda dan pasangan yang tahu.

7. Berbaring di pangkuan
Dari ‘Aisyah r.a., dia berkata, “Nabi Saw. biasa meletakkan kepalanya di pangkuanku walaupun aku sedang haid, kemudian beliau membaca Al-Quran.” (HR ‘Abdurrazaq)

Kalau biasanya Anda bercakap-cakap dengan pasangan sambil duduk, cobalah lakukan sambil berbaring di pangkuannya. Bahkan, ketika sedang tidak membahas masalah apa pun, komunikasi nonverbal Anda dengan pasangan bisa terjalin dengan cara seperti ini.
Masih sangat banyak contoh dari Rasulullah Saw, yang menunjukkan kemesraan bersama istri-istrinya. Jika beliau saja mampu dan mau melakukannya, mengapa Anda tidak? Percayalah, hal-hal sederhana semacam itu bisa melanggengkan rumah tangga yang sedang Anda bangun. Wallaahu a’lam.