Senin, 01 Maret 2010

Bedah Masalah

JAUHI KORUPSI!
Aam Amiruddin

Terbongkarnya kasus korupsi yang dilakukan pejabat di negeri ini membuat hati kita miris. Sudah sedemikian parahkah moral bangsa ini? Yang ingin saja tanyakan pada Ustadz adalah bagaimana Islam memandang hal ini? Kalau hukum di negri ini tidak membuat mereka jera, semoga jawaban Ustadz nanti dapat membuat mereka menyadari kesalahannya.

Saudara yang dirahmati Allah, Islam (sebagai agama yang sempurna) memiliki cakupan ajaran yang sangat luas dan komprehensif dalam memenuhi segala kebutuhan di setiap sendi kehidupan manusia. Islam terlahir sebagai agama dengan jaminan mutlak rahmatan lil ’alamin (rahmat bagi seluruh alam). Segala perkara yang muncul di tengah kehidupan manusia akan dengan sempurna diselesaikan dan berujung pada keberkahan.

Kesempurnaan Islam hadir dengan segala peraturan perundang-undangan yang melingkupi segala aspek, baik keyakinan, ketaatan, sampai pada persoalan etika dan moral. Islam menghormati hak-hak umatnya untuk hidup berkembang, namun tidak dengan menghalalkan segala cara seperti berperilaku korup.

Perilaku korup merupakan kezaliman yang luar biasa. Perilaku korup dapat mengakibatkan banyak orang menjadi korban karena hak-haknya diambil secara tidak sah. Islam telah menyediakan sanksi hukum atas perilaku seperti itu. Kalau para pelaku korup tersebut bisa lolos dari tuntutan hukum di dunia, Allah telah menyediakan api neraka yang menyala-nyala tanpa ampun kelak di akhirat.

Kezaliman akan membawa kerugian yang nyata di dunia dan akhirat. Ingatlah, semua orang yang terzalimi akan meminta pertanggungjawaban di akhirat kelak dengan menggerogoti segala amal kebaikan yang pernah dilakukan sang pembuat kezaliman. Na’udzubillahi min dzalik. Allah berfirman, “Sesungguhnya orang-orang yang memakan harta anak yatim secara dzalim, sebenarnya mereka itu menelan api sepenuh perutnya dan mereka akan masuk ke dalam api yang menyala-nyala (neraka).” (Q.S. An-Nisaa [4]: 10)

Marilah kita jauhi perilaku buruk tersebut dengan mengawali segalanya dari diri kita sendiri. Wallahu a’lam.


HUKUM OPERASI BOTOX DAN SEDOT LEMAK

Untuk mempercantik diri, wanita zaman sekarang kerap melakukan operasi botox untuk mengencangkan kulit serta sedot lemak untuk menghilangkan timbunan lemak di beberapa bagian tubuh. Bagaimana hukum keduanya dalam Islam? Apakah hal tersebut diperbolehkan atau tidak?

“Saudara yang dirahmati Allah, Islam sangat menganjurkan keindahan, baik keindahan diri, keindahan lingkungan, dan lain sebagainya. Mempercantik diri merupakan bagian dari keindahan. Karena itu, mempercantik diri dianjurkan dalam Islam. Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, Rasulullah bersabda, “Allah itu indah, karenanya Allah mencintai keindahan.”

Namun demikian, setiap anjuran dan perintah dalam Islam senantiasa diikuti aturan dan batasan untuk menjaga agar tidak terjadi penyelewengan dalam pelaksanaannya. Demikian halnya dalam urusan mempercantik diri. Beberapa aturan dan batasan yang perlu diperhatikan antara lain:
1. Menjaga niat dan tujuan mempercantik diri. Jangan sampai hal tersebut digunakan untuk mencari popularitas, mencari keuntungan duniawi, dan lain sebagainya.
2. Menjaga etika Islam dalam pergaulan. Kecantikan hendaknya tidak melahirkan sikap egois dan mencemooh orang yang kurang atau tidak cantik.
3. Menghindari proses mempercantik diri yang dapat menyebabkannya terbukanya aurat.
4. Menghindari perkara-perkara yang dilarang dalam Islam, seperti menyambung rambut, memakai pakaian yang mencolok, menggunakan wangi-wangian yang menggoda, dan lain sebagainya.
5. Menghindari peralatan atau bahan yang terindikasi bercampur dengan bahan yang haram.
6. Mengutamakan kecantikan untuk menyenangkan suami.

Lantas bagaimana dengan upaya mempercantik diri dengan operasi botox untuk mengencangkan kulit atau sedot lemak untuk menjaga keindahan tubuh? Jawabannya kita kembalikan pada aturan dan prasyarat yang sudah saya sebutkan di atas. Jika ternyata ada bagian yang dilanggar, maka hal itu wajib dihindari. Hal ini ditujukan agar jangan sampai niat awal mencari kebaikan malahan mendatangkan dosa dan kemadharatan. Kalau memang operasi botox atau sedotan lemak tersebut tidak malanggar aturan tersebut di atas dan dilakukan atas dasar keterpaksaan karena kebutuhan medis, maka hal tersebut boleh dilakukan.

Perlu diingat, kecantikan tidak selalu diukur dari segi fisik. Tidak jarang ada orang yang tidak simpati kepada orang lain yang berparas cantik namun berperilaku buruk. Wallahu a’lam.


MENYEKOLAHKAN ANAK DI SEKOLAH NON-ISLAM

Untuk mendapatkan kualitas pendidikan yang bagus, saya memasukkan anak di sekolah Kristen. Setelah berjalan beberapa waktu, saya mulai ragu dengan tindakan tersebut karena tiap pagi, semua anak didik diharuskan berdoa (dengan cara Kristen), termasuk anak saya yang notabene beragama Islam. Bagaimana pendapat Ustadz?

Saudara yang dirahmati Allah, mendidik anak merupakan kewajiban orangtua secara mutlak dan tidak tertawarkan lagi. Beberapa ayat Al-Quran dan hadits menunjukkan adanya isyarat tersebut meski secara teknis tanggung jawab tersebut boleh saja dilimpahkan kepada perorangan atau lembaga yang dianggap lebih memiliki kualifikasi. Karena itu, pilihan orang tua dalam menentukan institusi pendidikan bagi anaknya merupakan sesuatu yang sangat penting.

Allah Swt. berfirman, “Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan di belakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar.” (Q.S. An-Nisaa [4]: 9)
Rasulullah Saw. bersabda, “Sesungguhnya setiap anak terlahir dalam keadaan fitrah, maka kedua orangtuanya yang dapat menjadikannya Yahudi, Nasrani, dan Majusi.” (H.R. Bukhari)

Ayat dan hadits di atas memberi gambaran betapa orangtua memiliki peranan yang sangat penting dalam menentukan masa depan sang anak, baik menyangkut kesejahteraan hidupnya di dunia maupun kualitas keimanan sebagai bekal hidup di akhirat kelak. Boleh jadi, pada saat penghitungan amal di hari akhir, orangtua yang akan pertama kali dimintai pertanggungjawaban atas keyakinan dan keimanan yang dimiliki sang anak. Jangan menganggap remeh pendidikan bagi anak, terutama menyangkut keyakinan dan agamanya. Hal ini akan memiliki implikasi yang sangat luas, bukan hanya di dunia tapi juga di akhirat, bukan hanya pada anak tapi juga pada orangtua itu sendiri. Jadi, pilihlah institusi pendidikan yang dapat menjamin keselamatan akidah serta kesejahteraan mada depan anak.

Yang saudara penanya lakukan, dalam pandangan saya, sudah sampai pada taraf yang menghawatirkan karena menyangkut akidah. Segeralah ambil tindakan terbaik sebelum terlambat.

Sebagai bahan renungan, mari kita cermati ayat berikut. “Adakah kamu hadir ketika Yakub kedatangan (tanda-tanda) maut, ketika ia berkata kepada anak-anaknya: ‘Apa yang kamu sembah sepeninggalku?’ Mereka menjawab: ‘Kami akan menyembah Tuhanmu dan Tuhan nenek moyangmu, Ibrahim, Ismail dan Ishak, (yaitu) Tuhan Yang Maha Esa dan kami hanya tunduk patuh kepada-Nya. ’” (Q.S. Al-Baqarah [2]: 133). Wallahu a’lam.


HUKUM LULURAN

Saya kerap melakukan perawatan tubuh (lulur) untuk menjaga penampilan saya. Kemarin, saya diberitahu oleh seorang kawan bahwa luluran itu haram karena memperlihatkan aurat meski di depan sesama wanita. Menurut Ustadz, apakah benar luluran itu diharamkan? Mohon penjelasannya.

Saudara yang dimuliakan Allah, mempercantik diri merupakan bagian dari keindahan yang notabene disukai Allah. Mengenai luluran yang Anda lakukan, selama hal tersebut tidak menimbulkan madharat dan melanggar etika Islam serta tidak masuk dalam perkara mengubah ciptaan-Nya, maka boleh dilakukan. Namun jika luluran yang Anda maksud merupakan bagian dari perawatan kecantikan di tempat umum (salon) yang mengharuskan terbukanya aurat dan ikhtilat, maka hal tersebut wajib dihindari. Terkecuali jika salon tempat Anda merawat kecantikan betul-betul terjaga dari hal-hal yang dapat mendatangkan dosa dan mudharat (misal salon khusus muslimah), maka Anda dipersilahkan merawat diri dengan luluran. Namun demikian, beberapa proses dalam luluran tersebut harus tetap diperhatikan seperti sebisa mungkin tidak membuka bagian tubuh yang sangat pribadi yang dapat mendatangkan fitnah atau dosa. Meski membuka aurat di depan muhrim tidak mendatangkan dosa, namun secara etika hal tersebut harus tetap dihindari untuk menjaga terjadinya fitnah.

Sebagai bahan renungan, mari kita cermati qaidah fiqhiyyah yang ditetapkan para ulama berikut ini. “Menjauhkan diri dari sesuatu yang mendatangkan mafsadat (dosa, fitnah, dan keruksakan) harus didahulukan dari pada mengambil kebaikan atau keuntungan (dari perkara yang sama).” Wallahu a’lam.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar